Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kembali nya sang ayah
Pria itu melangkah mendekat, air matanya jatuh tanpa mampu dibendung.
“Ayah pulang, Nak… Ayah kembali…”
Sekuat tenaga, Arga melangkah dan memeluk ayahnya. Tangis keduanya pecah dalam pelukan panjang yang penuh kerinduan.
“Ayah minta maaf… karena meninggalkanmu terlalu lama. Ayah salah, terlalu mengejar ambisi sampai lupa pada keluarga,” ucap sang ayah terisak.
Arga menggeleng pelan.
“Arga tidak pernah membenci Ayah… Arga hanya rindu.”
Pelukan mereka semakin erat.
Alya berdiri beberapa langkah dari mereka, ikut meneteskan air mata haru. Ia menyadari, luka lama Arga akhirnya perlahan sembuh.
Ayah Arga pun menatap Alya dengan mata penuh syukur.
“Kamulah yang menjaga dan menyelamatkan anak ayah. Terima kasih, Nak.”
Alya menunduk hormat.
“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sebagai istri, Yah.”
Sejak hari itu, kehidupan Arga perlahan berubah. Ayahnya memutuskan untuk menetap bersama mereka, membangun kembali hubungan yang sempat terputus, sekaligus membantu Arga mengembangkan usahanya.
Di bawah bimbingan sang ayah, proyek Arga semakin berkembang. Keadaan ekonomi mereka pun berangsur membaik. Rumah sederhana itu perlahan berubah menjadi tempat penuh cinta, tawa, dan harapan.
Namun, jauh di balik dinding penjara, Rayhan menatap langit dari balik jeruji.
“Kalian belum menang…” gumamnya dingin.
Arga pun mulai mengetahui kenyataan pahit tentang usaha ayahnya yang telah dibangun bertahun-tahun.
“Ayah… bagaimana keadaan perusahaan Ayah di Bali? Apakah baik-baik saja?” tanya Arga dengan nada penuh cemas.
Sang ayah terdiam sejenak. Wajahnya menunduk, napasnya berat.
“Tidak, Nak… perusahaan Ayah sudah bangkrut,” ucapnya lirih.
“Apa…?” Arga terkejut. Dadanya terasa sesak.
“Bagaimana bisa, Yah?” tanyanya dengan nada penuh emosi.
“Ayah ditipu,” jawab sang ayah pelan. “Ayah berinvestasi pada sebuah perusahaan besar. Awalnya semua terlihat meyakinkan. Namun perlahan dana ayah menghilang, dan saat ayah sadar… semuanya sudah terlambat.”
Arga mengepalkan tangannya.
“Siapa orang itu, Yah?”
Sang ayah menarik napas panjang.
“Rayhan…”
Nama itu seketika membuat suasana berubah dingin.
“Dia menipuku. Setelah berhasil mengambil seluruh aset perusahaan, dia menghilang. Ayah sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak ada jejak. Sampai akhirnya ayah mendapat informasi bahwa dia kabur ke Jakarta. Itulah sebabnya ayah menyusul ke sini… sekaligus mencari keberadaanmu.”
Arga terdiam. Dadanya bergemuruh menahan amarah.
“Jadi… selama ini semua penderitaan kita… semua luka yang kita alami… berawal dari dia?” gumam Arga dengan suara bergetar.
Sang ayah mengangguk lemah.
“Maafkan Ayah, Nak. Karena kesalahan Ayah mempercayai orang yang salah, hidup kalian ikut terseret dalam badai ini.”
Arga menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak, Yah… Ayah tidak salah. Rayhan lah yang memilih menjadi jahat.”
Di sisi lain, Alya yang sejak tadi mendengar, hanya bisa memejamkan mata, menahan perih di dadanya. Kini semuanya menjadi jelas — dendam Rayhan bukan sekadar karena cinta, melainkan karena ketakutan akan terbongkarnya kejahatan yang telah ia lakukan.
Dan kini, kebenaran mulai menemukan jalannya.
“Tenang saja, Yah. Ayah tidak perlu takut. Untuk saat ini Rayhan sudah ditahan di penjara,” ucap Arga berusaha menenangkan.
Ayah Arga menatapnya dengan raut terkejut.
“Apa? Bagaimana bisa, Nak?” tanyanya penuh heran.
“Dua minggu lalu kami sempat bertikai. Rayhan memiliki dendam besar kepadaku karena Alya menolak lamarannya dan lebih memilih Arga sebagai pendamping hidupnya,” jelas Arga.
Sang ayah menghela napas panjang.
“Jadi semua ini karena persoalan cinta?”
Arga terdiam sejenak. Pandangannya menerawang.
“Atau jangan-jangan… bukan hanya itu, Yah,” ucapnya pelan, penuh tanda tanya.
“Mungkin dendamnya lebih besar karena dia tahu bahwa Arga adalah anak Ayah. Bisa jadi dia takut kejahatannya terbongkar, takut semua yang telah ia lakukan terhadap perusahaan Ayah terungkap.”
Ayah Arga terkejut mendengarnya.
“Jadi selama ini… Rayhan menyimpan dua dendam sekaligus?”
“Ya, Yah,” jawab Arga lirih. “Dendam karena cinta, dan dendam karena ketakutan akan kebenaran.”
Alya yang sejak tadi mendengarkan hanya bisa menggenggam tangan Arga erat. Ia merasakan betapa rumit dan berat beban yang harus mereka hadapi.
“Sekarang semuanya mulai jelas,” gumam Alya pelan. “Rayhan bukan hanya pria yang terluka karena cinta, tapi juga penjahat yang berusaha melindungi kejahatannya.”
Arga mengangguk pelan.
“Dan kini, kebenaran itu mulai menemukan jalannya.”
Perlahan, kejahatan Rayhan mulai terbongkar satu per satu.
Ia bukan hanya tersangka dalam kasus penipuan besar yang menghancurkan banyak perusahaan, tetapi juga terungkap sebagai salah satu tokoh kriminal ternama di Jakarta. Di balik citra pengusaha suksesnya, Rayhan ternyata adalah bos pemasok senjata api ilegal, sekaligus dalang di balik manipulasi data keuangan berbagai perusahaan besar.
Tak segan-segan, ia mengancam siapa pun yang berani menghalangi langkahnya. Dengan uang dan kekuasaan, ia membungkam banyak pihak, menanam ketakutan, serta membangun jaringan kejahatan yang rapi dan terorganisir.
Di ruang penyidikan, Rayhan hanya bisa terdiam. Tatapannya kosong, namun bukan karena penyesalan, melainkan karena kemarahan yang tertahan. Harga diri dan kekuasaannya runtuh dalam sekejap.
Bukti demi bukti terus menguat.
Rekaman transaksi ilegal, laporan keuangan palsu, hingga kesaksian para korban memperjelas bahwa Rayhan bukan sekadar pria patah hati, melainkan penjahat kelas berat.
Akhirnya, jaksa menjeratnya dengan pasal berlapis: penipuan, pemalsuan dokumen, pengancaman, hingga kepemilikan dan distribusi senjata api ilegal.
Vonis berat pun dijatuhkan.
Di ruang sidang, palu hakim diketukkan dengan tegas, menandai berakhirnya kebebasan Rayhan.
Sementara itu, bagi Arga dan Alya, hari itu menjadi awal baru—hari di mana mereka akhirnya benar-benar terbebas dari bayang-bayang masa lalu.
Di balik jeruji besi, kehidupan Rayhan dipenuhi dendam yang tak pernah padam. Ia terus memutar otak, mencari celah untuk melarikan diri. Baginya, hidup tidak akan berarti sebelum ia membalas perlakuan Arga dan Alya yang telah merenggut segalanya.
Dan takdir seolah memberinya kesempatan.
Sore itu, kebakaran hebat melanda area dalam penjara. Api berkobar akibat korsleting listrik, memicu kepanikan besar. Para petugas sibuk memadamkan api dan mengevakuasi para narapidana agar menjauh dari lokasi.
Dalam kekacauan itu, lima orang napi berhasil melarikan diri.
Salah satunya… Rayhan.
Memanfaatkan kelengahan aparat, Rayhan menyelinap keluar dan menghilang di balik kerumunan. Untuk sementara, ia bersembunyi di sebuah tempat terpencil, menyusun rencana baru dengan dendam yang semakin membara.
Tak berselang lama, telepon Arga berdering.
“Halo, selamat malam, Pak Arga,” suara di seberang terdengar serius.
“Ya, Pak. Ada apa?” jawab Arga.
“Kami ingin mengabarkan bahwa seorang narapidana bernama Rayhan telah kabur dari penjara.”
“Apa?” Arga terkejut. Dadanya serasa diremas.
“Bagaimana bisa, Pak?”
“Tadi sore terjadi kebakaran di area penjara akibat korsleting listrik. Saat evakuasi berlangsung, lima napi berhasil melarikan diri, termasuk Rayhan.”
Telepon itu seakan menghentikan detak jantung semua yang mendengarnya.
Alya yang berada di samping Arga langsung pucat.
“Ga… siapa yang kabur?” bisiknya dengan suara gemetar.
Arga menatap Alya.
“Rayhan…”
Suasana seketika membeku.
Baru saja mereka merasakan sedikit ketenangan, ancaman itu kini kembali membayangi. Ketakutan yang selama ini mencoba mereka kubur, perlahan bangkit lagi.
Kini, mereka sadar… perjuangan mereka belum benar-benar usai.
Keesokan harinya, Rayhan mulai menyusun rencana pelariannya dengan penuh kehati-hatian. Ia keluar dari tempat persembunyian mengenakan jaket gelap dan penutup kepala, berusaha menyamarkan identitasnya agar tidak dikenali siapa pun.
Matanya menatap tajam ke setiap sudut jalan, penuh kewaspadaan.
Di sisi lain, Arga pun merasakan firasat buruk. Sejak menerima kabar kaburnya Rayhan, hidupnya dipenuhi kecemasan. Setiap langkah terasa seperti berada di ujung bahaya.
“Al…” panggil Arga pelan.
“Ya, Ga? Ada apa?” tanya Alya dengan nada khawatir.
“Nanti kalau aku tidak ada di rumah, kamu jangan ke mana-mana, ya. Tetap di dalam rumah dan pastikan pintu selalu terkunci,” ucap Arga serius.
Alya menatap wajah suaminya yang tampak tegang.
“Ya, Ga. Kamu tak perlu khawatir. Alya akan berhati-hati,” jawabnya menenangkan, meski di dalam hatinya tersimpan ketakutan yang sama.
Sementara itu, Rayhan mulai bergerak. Ia menyusuri jalanan, bertanya dari satu tempat ke tempat lain, mengumpulkan informasi sekecil apa pun.
“Di mana kalian berdua sekarang…” gumam Rayhan penuh amarah.
“Aku tidak akan berhenti sebelum menemukan kalian.”
Tatapan matanya memancarkan dendam yang belum padam.
Ancaman itu kini semakin dekat.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰