Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bayang-Bayang Utara
Udara di markas Klan Gong terasa berbeda akhir-akhir ini.
Bukan karena cuaca—musim gugur memang mulai tiba, daun-daun menguning berguguran. Tapi lebih karena ketegangan yang menguar dari setiap sudut. Para pendekar berjaga dengan waspada berlebihan. Para pelayan berbisik-bisik di koridor. Bahkan para tetua yang biasanya sibuk berseteru kini lebih sering terlihat berkumpul, membicarakan sesuatu dengan wajah serius.
Klan Utara.
Namanya saja sudah cukup membuat bulu kuduk merinding. Bukan klan biasa—mereka adalah salah satu dari Empat Klan Besar yang menguasai Murim bagian utara. Konon, wilayah kekuasaannya seluas setengah Pulau Jawa. Pendekarnya puluhan ribu. Dan pemimpinnya, Patriark Utara, dikenal sebagai salah satu dari Tiga Pendekar Tertinggi di Murim.
Dan mereka tertarik pada mesiu.
---
Pertemuan darurat diadakan di Aula Utama malam itu.
Semua tetua hadir. Patriark Gong duduk di singgasana, wajahnya tegang. Gong Jinsung di sampingnya. Aku dipanggil juga—pertama kalinya diundang dalam pertemuan resmi sejak tiba di markas.
"Ini laporan dari mata-mata di utara," Patriark memulai, melambaikan secarik kertas. "Klan Utara sudah mengirim utusan ke tiga klan besar lainnya. Mereka mencari informasi tentang 'bubuk hitam yang bisa meledak'."
Para tetua bergumam.
"Apakah mereka tahu sumbernya?" tanya Tetua Jang.
"Belum. Tapi tinggal masalah waktu."
Semua mata beralih padaku.
Aku diam, menunggu.
"Jin Tae-kyung," Patriark menatapku. "Kau yang paling tahu tentang ini. Apa pendapatmu?"
Aku berdiri, menghadap mereka.
"Klan Utara tertarik karena mereka melihat potensi militer. Mesiu bisa mengubah cara berperang. Siapa pun yang menguasainya akan punya keunggulan besar."
"Kita tahu itu," potong Tetua Jang sinis. "Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan?"
"Ada dua pilihan." Aku menjeda. "Pertama, kita sembunyikan. Jaga rahasia mati-matian. Tapi dengan klan sebesar Utara, rahasia tidak akan bertahan lama. Mereka punya mata-mata di mana-mana."
"Kedua?"
"Kedua, kita tawarkan kerja sama. Jadikan diri kita mitra, bukan target."
Suasana hening.
Tetua Jang tertawa sinis. "Kerja sama? Dengan Klan Utara? Kau tahu reputasi mereka? Mereka tidak punya mitra, hanya bawahan. Setiap klan yang bekerja sama dengan mereka akhirnya ditelan hidup-hidup."
"Aku tahu," jawabku tenang. "Tapi kalau kita tidak melakukan apa-apa, mereka akan datang mengambil paksa. Setidaknya dengan negosiasi, kita bisa dapat sesuatu."
"Seperti apa?"
"Waktu. Informasi. Mungkin aliansi dengan klan lain yang juga takut pada Utara."
---
Perdebatan berlangsung berjam-jam.
Tetua Jang dan faksinya mengusulkan untuk memperkuat pertahanan, menyembunyikan semua bukti mesiu, dan jika perlu, memindahkanku ke lokasi rahasia. Faksi moderat cenderung pada negosiasi. Faksi pendukungku—yang mulai tumbuh—diam, menunggu arahan Patriark.
Akhirnya, Patriark mengangkat tangan.
"Cukup."
Semua diam.
"Aku sudah memutuskan. Kita akan kirim utusan ke Klan Utara. Bukan untuk tunduk, tapi untuk mencari tahu niat mereka. Sambil itu, kita perkuat pertahanan dan produksi mesiu diperbanyak."
Dia menatapku.
"Kau akan ikut dalam rombongan utusan."
Aku terkejut. "Aku?"
"Kau yang paling tahu tentang mesiu. Kalau mereka tanya, kau yang jawab. Tapi ingat: jangan beri semua rahasia. Cukup buat mereka tertarik, tapi tidak cukup untuk mengambil alih."
---
Malam harinya, Hyerin marah.
"TIDAK! Ayahmu gila! Mengirimmu ke sarang serigala!"
Aku duduk di paviliunku, mencoba menenangkannya.
"Ini perintah Patriark. Aku tidak bisa menolak."
"KAU BISA! Kau bilang saja tidak mau! Aku yang akan bicara pada ayah!"
"Hyerin-ah..."
Dia berhenti, menatapku dengan mata basah.
"Oppa, kau tahu apa yang terjadi pada utusan klan lain yang pergi ke Utara? Beberapa tidak pernah kembali. Yang kembali... tidak utuh."
Aku meraih tangannya.
"Aku tahu risikonya. Tapi ini juga kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Kesempatan untuk melihat musuh dari dekat. Untuk memahami mereka. Untuk mencari kelemahan." Aku menatapnya. "Aku tidak akan pergi sebagai domba. Aku pergi sebagai mata-mata."
Dia diam, mencerna.
"Tapi kalau ketahuan..."
"Aku tidak akan ketahuan." Aku tersenyum tipis. "Percayalah, aku sudah berpengalaman menghadapi orang-orang licik. Atasan korporat di duniaku tidak kalah kejamnya dari Patriark Utara."
---
Seminggu kemudian, rombongan berangkat.
Lima belas orang. Dipimpin Gong Jinsung sendiri—kehormatan besar. Dua tetua moderat. Delapan pendekar pengawal level menengah. Empat pelayan. Dan aku.
Hyerin melepas kepergianku di gerbang perak. Dia tidak menangis—putri Patriark tidak boleh menangis di depan umum. Tapi matanya berkata segalanya.
"Aku akan kembali," bisikku sebelum pergi.
"Kau harus."
---
Perjalanan ke utara memakan waktu dua minggu.
Melewati hutan, pegunungan, dan padang rumput yang tak berujung. Semakin ke utara, semakin dingin udaranya. Aku mulai mengerti mengapa mereka disebut Klan Utara—di sini, salju sudah mulai turun meskipun di selatan masih musim gugur.
Kami melewati beberapa klan kecil yang jadi bawahan Utara. Dari luar, mereka tampak makmur. Tapi saat kuperhatikan lebih dekat, ada ketegangan di wajah penduduknya. Seperti orang yang hidup di bawah bayang-bayang gunung berapi—takut meletus kapan saja.
"Mereka diperas," bisik Gong Jinsung suatu malam. "Setiap tahun, setengah hasil panen dan tambang harus diserahkan ke Utara. Yang protes... lenyap."
"Dan tidak ada yang melawan?"
"Pernah. Dua klan coba bersekutu melawan mereka. Hasilnya? Luluh lantak. Pendekar mereka dibantai. Penduduknya dijadikan budak. Sejak itu, tidak ada yang berani."
Aku diam, membayangkan kekuatan yang mampu melakukan itu.
---
Hari ke-15, kami sampai di perbatasan wilayah Klan Utara.
Perbatasannya bukan tembok atau gerbang. Tapi deretan menara pengawas setiap setengah li, dengan pendekar berjaga di setiap menara. Di belakangnya, dataran luas dengan pemukiman teratur. Dan di ufuk utara, sebuah gunung menjulang dengan istana megah di puncaknya.
"Gunung Es," kata Gong Jinsung. "Markas Klan Utara."
Istana itu terbuat dari batu hitam dan es—setidaknya itulah yang terlihat dari kejauhan. Menjulang angkuh, seolah menantang siapa pun yang berani mendekat.
Kami dihentikan di pos perbatasan. Dua pendekar berseragam biru tua memeriksa surat jalan dengan teliti.
"Tujuan?"
"Menghadap Patriark Utara. Ada surat dari Patriark Gong."
Mereka membaca surat itu, lalu saling bertukar pandang.
"Tunggu di sini."
---
Kami menunggu tiga jam di pos perbatasan.
Tiga jam di ruangan dingin dengan pengawas ketat. Tidak boleh ke mana-mana. Tidak boleh bicara dengan penduduk lokal. Hanya duduk dan menunggu.
Aku mengamati sekeliling. Para pendekar di sini berbeda—postur mereka tegap, mata mereka tajam, dan cara mereka bergerak menunjukkan disiplin tinggi. Ini bukan pendekar biasa. Ini prajurit terlatih.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Gong Jinsung.
"Mereka profesional. Bukan sekadar pendekar klan biasa. Ini pasukan."
Dia mengangguk pelan. "Kau perhatian. Iya, Klan Utara punya sistem militer. Semua pendekar dilatih dengan standar sama. Itu salah satu rahasia kekuatan mereka."
---
Sore harinya, seorang perwira tinggi datang.
Pakaiannya lebih bagus, dengan bordiran perak di kerah. Usianya sekitar empat puluhan, wajah tegas tanpa ekspresi.
"Aku Komandan Kang. Akan mengawal kalian ke istana. Ikuti aku, jangan ke mana-mana."
Kami berangkat dengan pengawalan ketat—dua puluh pendekar di depan, dua puluh di belakang. Bukan penghormatan, tapi intimidasi.
Perjalanan ke Gunung Es memakan waktu sehari. Kami melewati desa-desa yang tertata rapi, barak-barak militer, dan ladang-ladang yang diairi dengan sistem irigasi canggih. Aku kagum—mereka tidak hanya kuat, tapi juga terorganisir.
Malam harinya, kami tiba di kaki gunung. Di sini, udara sangat dingin sampai tulang terasa ngilu. Napas keluar sebagai uap putih.
"Kita istirahat di sini malam ini. Besok pagi naik ke istana." Komandan Kang menunjuk barak tamu—bangunan batu sederhana, tapi hangat.
---
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Bukan karena dingin—ruanganku cukup hangat dengan perapian menyala. Tapi karena pikiranku bekerja terlalu keras.
Klan Utara bukan musuh biasa. Mereka terorganisir, disiplin, dan jelas punya sumber daya besar. Kalau mereka menginginkan mesiu, mereka tidak akan berhenti sebelum mendapatkannya.
Aku duduk di dekat jendela, memandangi istana di puncak gunung. Lampu-lampu berkelap-kelip di kegelapan. Di sanalah Patriark Utara berada. Pria yang konon bisa membelah gunung dengan satu tebasan pedangnya.
Apa yang akan kau lakukan, Tae-kyung?
Pertanyaan itu terus bergema.
---
Pagi harinya, kami mulai mendaki.
Jalan setapak berkelok di tebing curam, diapit jurang di kiri dan kanan. Di beberapa titik, jembatan gantung menghubungkan dua sisi tebing. Satu langkah salah, dan kami bisa jatuh ke jurang.
Para pendekar pengawal kami tegang. Mereka tidak takut bertarung, tapi ketinggian dan dingin adalah musuh berbeda.
Aku berjalan dengan hati-hati, memusatkan pikiran pada setiap langkah.
Sekitar tengah hari, kami sampai di puncak.
Istana itu lebih megah dari dekat. Batu hitam berkilauan oleh lapisan es tipis. Menara-menara menjulang dengan ukiran naga dan burung phoenix. Di halaman depan, ratusan pendekar berbaris rapi, sedang latihan.
Komandan Kang memandu kami melewati halaman, masuk ke aula utama.
Aula itu luas, dengan pilar-pilar es yang tidak mencair meskipun ada perapian di sudut-sudut ruangan. Di ujung ruangan, di atas singgasana dari batu es, duduk seorang pria.
Patriark Utara.
---
Dia tidak seperti yang kubayangkan.
Bukan raksasa berotot dengan wajah seram. Sebaliknya, dia pria berusia lima puluhan dengan rambut putih panjang disanggul rapi. Wajahnya tenang, hampir damai. Tapi matanya... matanya seperti danau beku di musim dingin—dalam, dingin, dan tidak terbaca.
Di sampingnya, duduk seorang wanita muda. Mungkin putrinya, atau istri mudanya. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya sama dinginnya.
Di bawah singgasana, berjajar para tetua dan jenderal. Semua diam.
Gong Jinsung berlutut memberi hormat. Kami semua mengikuti.
"Berdiri," suara Patriark Utara dalam dan berat. "Gong Jinsung, sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kakakmu?"
"Baik, Patriark. Beliau mengirim salam hormat."
Dia tersenyum tipis—sangat tipis. "Salam hormat? Atau salam waspada?"
Gong Jinsung tidak menjawab.
Patriark Utara tertawa kecil. "Tidak perlu tegang. Aku tahu kalian datang karena penemuan baru. Bubuk hitam yang bisa meledak." Matanya beralih padaku. "Dan kau pasti penciptanya."
Aku menunduk sopan. "Jin Tae-kyung, Patriark."
Dia menatapku lama. Sangat lama.
"Umurmu masih muda. Tapi matamu... matamu seperti orang yang sudah banyak melihat." Dia mencondongkan tubuh. "Dari mana kau belajar?"
"Dari buku, Patriark. Dan eksperimen."
"Buku apa?"
"Buku kuno. Dari negeri jauh."
Dia tersenyum—tapi senyumnya tidak ramah. "Kau pandai bicara. Tapi aku tidak suka orang yang pandai bicara. Aku suka orang yang pandai bekerja."
Dia menepuk tangannya.
Dari samping, dua pendekar muncul dengan membawa... sebuah batu besar. Seukuran kerbau. Diletakkan di tengah aula.
"Batu ini dari gunung utara. Konon, keras seperti baja. Coba hancurkan dengan bubuk hitammu."
---
Aku menatap batu itu. Granit. Padat. Besar.
Di belakangku, Gong Jinsung tegang. Ini ujian. Kalau gagal, kita pulang dengan tangan kosong. Atau lebih buruk.
Aku mendekati batu, memeriksanya dari dekat. Lalu menoleh pada Patriark Utara.
"Aku perlu waktu untuk menyiapkan."
"Berapa lama?"
"Setengah hari."
Dia mengangguk. "Kau punya waktu sampai matahari terbenam."
---
Aku bekerja di halaman belakang istana, ditemani dua pendekat pengawas.
Bom terbesar yang kubawa hanya seukuran kepala. Tidak cukup untuk menghancurkan batu sebesar itu. Tapi aku punya ide lain.
Bukan satu bom besar. Tapi beberapa bom kecil yang ditempatkan di titik-titik lemah.
Aku memeriksa batu itu lagi, mencari retakan alami. Granit punya struktur kristal. Kalau tekanan diberikan pada titik yang tepat, dia bisa pecah.
Aku menemukan tiga retakan halus. Hampir tidak terlihat.
Dengan hati-hati, aku menempatkan bom-bom kecil di titik-titik itu. Menghubungkannya dengan sumbu panjang. Lalu mundur.
"Semua mundur jauh," perintahku. "Seratus meter."
Para pendekat pengawas menurut—meskipun ragu.
Aku menyalakan sumbu, lalu lari.
Ssst... ssst... ssst...
LEDAK! LEDAK! LEDAK!
Tiga ledakan hampir bersamaan. Debu dan pecahan batu beterbangan.
Saat asap hilang, batu itu masih utuh? Tidak—retak. Retak besar membelahnya menjadi empat bagian. Satu dorongan, dan dia akan runtuh.
Aku mendekat, mendorong bagian atas batu.
KRAAKK!
Batu itu hancur berkeping-keping.
---
Di aula utama, Patriark Utara bertepuk tangan perlahan.
"Luar biasa," katanya. "Bukan kekuatan ledakannya yang besar, tapi ketepatan. Kau tahu di mana menempatkan bom. Kau tahu bagaimana membuatnya bekerja." Dia menatapku dengan rasa ingin tahu. "Kau bukan sekadar tukang bubuk. Kau... ahli."
Aku menunduk. "Terima kasih, Patriark."
"Aku suka orang yang ahli. Mereka berguna." Dia bersandar di singgasana. "Karena itu, aku punya tawaran."
Gong Jinsung melangkah maju. "Kami siap mendengar, Patriark."
"Tinggalkan Klan Gong. Bekerja untukku. Aku akan beri kau semua yang kau butuhkan—uang, orang, laboratorium. Kau bisa mengembangkan penemuanmu tanpa batas."
Aku diam.
Gong Jinsung tegang. Ini jebakan—tawaran yang tidak bisa diterima, tapi menolaknya bisa berbahaya.
"Patriark," kataku pelan, "aku terhormat. Tapi aku sudah terikat janji pada Klan Gong. Dan... pada putri mereka."
Dia mengangkat alis. "Putri Gong? Jadi kau akan menikah?"
"Insya Allah."
Dia tertawa. Bukan tawa marah, tapi tawa geli. "Cinta? Di dunia persilatan, cinta hanya kelemahan. Tapi baiklah, aku hargai loyalitasmu." Dia menjeda. "Tapi kalau begitu, kita buat kesepakatan lain."
"Kesepakatan apa?"
"Klan Utara akan membeli mesiu darimu. Secara eksklusif. Harga berapa pun." Dia menatapku tajam. "Sebagai imbalannya, kami tidak akan mengganggu klan kecilmu. Dan Klan Gong... akan kami anggap mitra, bukan target."
---
Itu tawaran yang tidak bisa ditolak.
Bukan karena uang—tapi karena perlindungan. Dengan kesepakatan ini, desaku aman. Klan Gong aman. Dan aku punya jalur komunikasi dengan kekuatan terbesar di utara.
Aku melirik Gong Jinsung. Dia mengangguk pelan.
"Baik, Patriark. Aku setuju."
Dia tersenyum. Kali ini, senyumnya lebih hangat.
"Bagus. Kita akan bicarakan detailnya besok. Malam ini, kau jadi tamuku. Istirahat, makan enak." Dia menepuk tangan. "Bawa mereka ke paviliun tamu."
---
Malam itu, aku duduk di kamar mewah dengan perapian menyala.
Di luar, salju turun perlahan. Di dalam, hangat dan tenang.
Tapi pikiranku tidak tenang.
Aku baru saja membuat kesepakatan dengan iblis. Klan Utara mungkin mitra sekarang, tapi untuk berapa lama? Cepat atau lambat, mereka akan menginginkan lebih. Dan saat itu terjadi...
Aku menghela napas, menulis surat untuk Hyerin.
"Sayang,
Aku selamat. Kesepakatan tercapai. Tapi ini awal dari sesuatu yang lebih besar. Aku tidak tahu apakah ini baik atau buruk. Yang kutahu, aku akan pulang. Secepatnya.
Rindu padamu,
Tae-kyung"
---
[Bersambung ke Bab 17]