Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
darah
Tidak ada firasat, tidak ada mimpi buruk yang membuatku terbangun dengan jantung berdebar. Aku bangun seperti biasa, dengan tubuh yang terasa berat tapi masih bisa kuabaikan. Sampai tiba-tiba, rasa sakit itu datang.
Awalnya hanya nyeri kecil di perut bawah. Aku mencoba menarik napas, berpikir mungkin hanya kram biasa. Tapi rasa itu tidak berhenti. Ia tumbuh, merambat, lalu mencengkeram dengan kekuatan yang membuat kakiku melemas. Sakitnya bukan seperti apa pun yang pernah kurasakan sebelumnya. Ini bukan sekadar nyeri—ini seperti tubuhku sedang berteriak.
Aku membungkuk, memegang perutku, mencoba berjalan ke kamar mandi. Setiap langkah terasa seperti melawan arus. Saat aku sampai di WC dan menurunkan pandanganku, napasku berhenti.
Darah.
Bukan setitik. Bukan sedikit. Tapi berjurang, mengalir di pahaku, hangat dan nyata. Dunia seketika berputar. Suaraku hilang. Kepalaku ringan, pandanganku menyempit. Aku merasa tubuhku tidak lagi sepenuhnya milikku. Ada jeda singkat—tiga atau empat detik—di mana aku tidak yakin aku masih sadar atau tidak.
Aku berteriak.
“Cici!”
"cong, tolongin aku!”
Suaraku pecah, campuran antara panik dan sakit yang tidak bisa kujelaskan. Aku tidak bisa melihat kiri dan kanan dengan jelas. Semua buram. Rasa sakit itu menembus sampai ke tulang, membuatku gemetar tanpa bisa kutahan. Aku duduk di lantai kamar mandi, tubuhku menggigil, tanganku berlumur darah yang bahkan tidak berani kupikirkan asalnya.
Ketika mereka datang, aku hanya bisa menangis. Tidak ada kalimat yang rapi. Hanya potongan kata: “sakit… darah… aku takut.” Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus ke mana. Kepalaku kosong, tapi tubuhku terasa terlalu penuh oleh rasa sakit.
Aku menelepon Grab dengan tangan gemetar. Kata-kataku terputus-putus saat menyebutkan alamat rumah sakit. Sepanjang perjalanan, aku memejamkan mata, mencoba bertahan. Setiap guncangan mobil terasa seperti pukulan di perutku. Aku menggigit bibir, menahan teriakan, menahan ketakutan yang mulai berubah menjadi kepastian yang tidak ingin kuterima.
Di rumah sakit, segalanya berjalan cepat tapi terasa lambat sekaligus. Aku dipindahkan ke ranjang, diperiksa, dipasangi alat-alat yang tidak sempat kuingat namanya. Seorang dokter berbicara padaku dengan suara profesional, datar, seperti membicarakan sesuatu yang biasa. Ia mengatakan tubuhku kekurangan cairan, aku butuh infus.
Aku mengangguk, tapi sebelum semuanya dilakukan, aku merasa perlu mengatakan sesuatu. Entah kenapa, kejujuran itu keluar begitu saja.
“Dok… saya belum menikah,” kataku pelan. “Dan ayah bayi ini tidak ada di sini. Dia di Australia.”
Dokter itu hanya mengangguk. Tidak ada penghakiman di matanya, tapi juga tidak ada penghiburan. Saat itu aku sadar, di ruangan ini, aku sendirian. Secara fisik mungkin tidak, tapi secara batin—sepenuhnya sendiri.
Aku dirawat satu hari.
Satu hari yang terasa lebih panjang dari bulan-bulan sebelumnya. Tubuhku dibersihkan. Proses yang secara medis perlu, tapi secara emosional menghancurkanku perlahan. Aku menatap langit-langit ruangan rumah sakit, putih dan dingin, sambil mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Aku keguguran.
Kata itu tidak langsung terasa nyata. Ia baru menghantamku ketika malam datang, ketika ruangan sunyi, ketika tidak ada lagi suara langkah perawat. Aku menangis dalam diam, memeluk diriku sendiri. Tidak ada lagi yang bisa kupeluk.
Aku pulang ke rumah dengan tubuh yang terasa asing. Seperti ada bagian dariku yang tertinggal di rumah sakit itu, dan tidak akan pernah kembali. Malam-malam setelahnya menjadi waktu yang paling berat. Aku menangis hampir setiap malam. Tangisku tidak meledak-ledak, tapi panjang dan melelahkan, seperti air yang terus menetes tanpa henti.
Rasa bersalah menghantuiku.
Aku menyalahkan pikiranku yang tidak pernah tenang.
Aku menyalahkan diriku yang terlalu sering cemas.
Aku menyalahkan kelelahan, kesepian, dan semua keputusan yang pernah kuambil.
Aku merasa gagal, bahkan sebelum benar-benar sempat mencoba.
Aku tidak tahu harus berbuat apa setelah itu. Aku tidak tahu bagaimana caranya bangun dan melanjutkan hidup seolah tidak ada yang hilang. Aku makan tanpa selera. Kadang aku memaksa diriku makan, kadang aku lupa sama sekali. Tubuhku melemah, tapi pikiranku tetap kejam.
Aku menjadi mudah lelah. Kepalaku sering pusing. Dunia terasa berputar bahkan saat aku hanya duduk diam. Ketika akhirnya aku memeriksakan diri lagi, dokter mengatakan aku mengalami anemia yang parah. Tubuhku kekurangan darah—seperti jiwaku.
Ironisnya, aku tidak terkejut.
Aku sudah merasa kosong sejak lama.
Hari-hari setelah itu berjalan pelan. Terlalu pelan. Aku hidup, tapi tidak sepenuhnya hadir. Aku tersenyum pada orang-orang, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke mata. Aku menjawab pertanyaan, tapi tidak pernah menceritakan kebenaran sepenuhnya.
Karena bagaimana caranya menjelaskan kehilangan yang bahkan belum sempat kaukenalkan ke dunia?
Aku masih belajar menerima. Belajar memaafkan diriku sendiri. Belajar mengakui bahwa aku juga manusia—bisa lelah, bisa rapuh, bisa hancur. Kehilangan ini mengubah caraku memandang hidup, dan terutama caraku memandang diriku sendiri.
Aku tidak tahu apakah luka ini akan benar-benar sembuh.
Yang aku tahu, aku masih di sini.
Masih bernapas.
Masih mencoba bertahan, meski dengan langkah yang tertatih.
Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan bisa mengingat pagi itu tanpa rasa bersalah yang mencekik.
Mungkin.