NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: KEMENANGAN SUNYI

Api memang telah padam, tetapi malam itu gudang Datuk Maringgih dipenuhi lelaki-lelaki yang pernah mencium bau kematian—dan tahu mereka menang tanpa boleh bersorak.

Malam turun sempurna. Langit hitam tanpa bintang. Angin berdesir pelan, membawa bau tanah basah dari sungai.

Di dalam gudang Maringgih, lampu-lampu minyak dinyalakan satu per satu. Cahaya kuning menerangi tumpukan karung rempah di sudut, bayangan-bayangan panjang menari di dinding kayu.

Pintu belakang terbuka. Seseorang masuk.

Laki-laki muda dengan parang di pinggang—yang ikut pembakaran malam itu. Wajahnya tegang, matanya waspada. Ia melihat sekeliling, lalu duduk di lantai tanpa suara.

Pintu terbuka lagi. Dua orang masuk. Petani tua dengan langkah gontai. Lelaki kurus dengan bekas luka di lengan.

Mereka duduk. Tidak bicara. Hanya saling pandang.

Pintu terus terbuka. Satu per satu, tiga puluh lelaki itu datang. Ada yang terengah, ada yang diam membeku, ada yang tangannya masih gemetar—bukan takut, tapi gelisah.

Dullah berdiri di dekat pintu, menghitung. Setiap wajah ia kenali. Setiap nama ia hafal.

"Tujuh belas... dua puluh tiga... dua puluh tujuh..."

Ia menoleh ke arah Maringgih yang duduk di kursi, tenang seperti biasa.

"Tuan, masih tiga."

Maringgih mengangguk. Tidak gelisah. Matanya tertuju ke pintu.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit.

Pintu terbuka. Tiga lelaki masuk bersama. Yang terakhir menutup pintu rapat-rapat.

Dullah menghitung cepat. "Tiga puluh, Tuan. Lengkap."

Maringgih menghela napas. Bukan lega, tapi semacam... selesai.

---

Tiga puluh lelaki duduk melingkar di lantai gudang. Di tengah mereka, Maringgih duduk di kursi—satu-satunya yang duduk di atas. Bukan karena sombong, tapi karena mereka ingin ia melihat semua wajah.

Sunyi. Hanya suara lampu minyak yang sesekali berderak.

Maringgih memandangi mereka satu per satu. Wajah-wajah yang dikenalnya. Ada yang petani, ada kuli panggul, ada yang sehari-hari jualan di pasar. Malam itu, mereka semua sama: pejuang sunyi.

"Kita berkumpul di sini," suara Maringgih memecah hening, "bukan untuk bersorak. Bukan untuk merayakan. Tapi untuk memastikan satu hal: kita masih hidup."

Diam. Tiga puluh pasang mata tertuju padanya.

"Api sudah padam. Sudah berminggu-minggu. VOC kalang kabut, Van der Berg jungkir balik, dan Sulaiman..."

Ia menjeda. Tersenyum tipis.

"Sulaiman baru saja menandatangani perjanjian di gudang ini dua hari lalu."

Salah seorang petani tua—yang ikut dalam regu kuda malam pembakaran—mengangkat tangan. "Perjanjian apa, Tuan?"

Maringgih berdiri. Berjalan pelan di antara mereka.

"Ia datang ke sini. Bukan sebagai algojo. Bukan sebagai pejabat VOC. Tapi sebagai orang terdesak yang minta tolong." Ia berhenti di depan petani tua itu. "Ia minta rempah. VOC butuh stok pengganti tiga gudang yang kita bakar."

Beberapa dari mereka tersenyum kecil. Puas.

"Aku kasih." Maringgih melanjutkan. "Tapi dengan syarat."

---

Ia kembali ke kursinya. Duduk. Memandangi mereka semua.

"Syarat pertama: mulai sekarang, Sulaiman wajib beli rempah dari kalian—dari petani—dengan harga VOC. Bukan harga murahnya selama ini."

Tiga puluh lelaki itu terkesiap. Beberapa saling pandang tidak percaya.

"Maksud Tuan... harga kami sekarang sama dengan harga VOC?" tanya laki-laki muda dengan parang.

"Sama persis."

Sunyi. Lalu bisik-bisik mulai terdengar. Wajah-wajah yang tadinya tegang mulai berubah. Ada yang matanya berkaca-kaca.

Petani tua itu—yang dulu bilang "mati jalan keluar"—tiba-tiba memegang dada. Napasnya sesak. Bukan sakit, tapi haru.

"Tuan... ini... ini tidak mungkin..."

"Ini nyata." Maringgih tersenyum. "Sulaiman sudah tanda tangan. Kalau ia langgar, aku punya laporan ke Batavia yang akan menghancurkannya."

Seorang lelaki di pojok—yang jarang bicara, yang selalu diam—angkat suara. "Jadi kita... kita tidak akan kelaparan lagi?"

Maringgih menatapnya. "Kalian akan makan. Anak-anak kalian akan kenyang. Istri kalian tidak perlu menangis lagi."

Hening.

Lalu suara tangis pecah dari sudut ruangan. Bukan tangis sedih. Tapi tangis lega. Tangis yang tertahan selama bertahun-tahun.

Laki-laki muda dengan parang itu memeluk petani tua di sampingnya. Yang lain menunduk, bahu mereka bergetar.

Maringgih membiarkan mereka menangis. Ia tahu, mereka pantas.

---

Setelah tangis reda, Maringgih kembali bicara.

"Tapi dengar." Suaranya turun, tapi tegas. "Ini bukan kemenangan yang bisa kita rayakan di luar. Ini kemenangan sunyi."

Mereka diam, mendengar.

"VOC masih ada. Van der Berg masih di sana. Sulaiman mungkin terikat, tapi ia belum kalah. Satu kata bocor, satu isyarat salah—dan mereka akan curiga."

Ia memandangi mereka satu per satu.

"Kalau mereka curiga, mereka akan selidiki. Dan kalau mereka selidiki, mereka akan temukan jejak. Jejak kita. Jejak pembakaran."

Sunyi mencekam.

"Kau," Maringgih menunjuk laki-laki muda dengan parang. "Kau pulang, kau harus tetap jadi petani. Jangan beli barang mewah. Jangan pamer uang."

Ia menunjuk yang lain.

"Kau, tetap jualan di pasar. Jangan ubah kebiasaan. Jangan tiba-tiba kaya."

Ia berdiri. Berjalan ke tengah lingkaran.

"Kita main panjang. Kita nikmati hasilnya sedikit demi sedikit. Uang harian yang kubagi setiap pagi—itu cukup. Jangan serakah. Jangan ambil lebih."

Petani tua itu mengangguk. "Kami paham, Tuan."

"Bagus." Maringgih kembali ke kursi. "Sekarang, sebelum pulang, aku minta satu hal."

Semua menatapnya.

"Angkat tangan kanan kalian."

Tiga puluh tangan terangkat.

---

"Ulangi setelah aku."

Suara mereka serempak, pelan tapi bulat.

"Aku bersumpah..."

"Aku bersumpah..."

"...demi Allah yang memberi kita nafas dan nyawa kita..."

"...demi Allah yang memberi kita nafas dan nyawa kita..."

"...tidak akan bocorkan rahasia ini..."

"...tidak akan bocorkan rahasia ini..."

"...walau nyawa taruhannya."

"...walau nyawa taruhannya."

Maringgih memandangi mereka. Mata mereka tegas. Tidak ada keraguan.

"Tegakkan sumpah ini dalam diam. Kalian boleh pulang, boleh tidur, boleh makan enak. Tapi di luar sana, kalian adalah kalian yang dulu. Petani. Kuli. Pedagang kecil. Bukan pemberani yang membakar gudang VOC."

Mereka mengangguk.

"Pulanglah. Istri kalian menunggu. Anak-anak kalian mungkin masih terjaga."

Satu per satu mereka bangkit. Berjalan ke pintu belakang. Hening, seperti malam-malam lalu.

Sebelum keluar, petani tua itu berhenti. Ia menoleh, menatap Maringgih.

"Tuan." Suaranya serak. "Kalau bukan karena Tuan, kami sudah mati kelaparan. Atau mati di tangan Sulaiman."

Maringgih tersenyum. "Bukan aku. Kalian. Kalian yang berani."

Petani tua itu menunduk. Lalu pergi.

---

Satu per satu mereka menghilang dalam gelap.

Dullah menutup pintu belakang. Menguncinya. Ia berjalan mendekati Maringgih.

"Tuan, semua sudah pulang."

Maringgih mengangguk. Ia mengambil cangkir kopi yang sudah dingin. Meneguknya. Pahit.

"Tuan... kemenangan ini..." Dullah ragu. "Apa benar kita menang?"

Maringgih menatapnya.

"Kita menang, Dullah. Tapi kemenangan ini tidak boleh dirayakan. Karena kalau dirayakan, kita akan kalah."

Dullah mengangguk. Ia mengerti.

Mereka duduk diam. Lampu-lampu mulai diredupkan.

---

Di luar gudang, malam semakin larut.

Tapi di balik pohon besar, sekitar lima puluh meter dari gudang, sesosok bayangan berdiri. Diam. Tidak bergerak.

Ia melihat lelaki-lelaki keluar satu per satu dari pintu belakang. Menghilang ke arah berbeda. Ada yang ke kampung, ada yang ke sungai, ada yang ke kebun.

Matanya menyipit. Mencoba mengenali. Tapi gelap terlalu pekat.

Bayangan itu menunggu. Lama. Hingga lampu terakhir di gudang padam.

Lalu perlahan, ia berbalik. Menghilang dalam gelap.

Di balik pohon, hanya angin yang tersisa.

---

[Bersambung...]

---

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!