Elizabeth Valerie, seorang pembunuh bayaran yang terkenal kejam dan dingin, mati diracun oleh orang-orang kepercayaannya. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru terjebak di tubuh seorang gadis miskin yang mati dengan mengenaskan.
Bersama ingatan dan rasa sakit milik Elijah, Elizabeth bertekad bahwa ia harus membalaskan dendam gadis itu jika ingin pergi dengan damai. Elizabeth pun menjalani kehidupan keduanya yang sulit dan miskin demi membalaskan dendam sang gadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKR 18 — Sesuatu yang Terasa Berbeda
Rumah keluarga Raine masih dipenuhi aroma bunga lili yang mulai layu, bercampur dengan wangi dupa yang samar tertinggal sejak hari pemakaman. Duka belum benar-benar pergi; ia menempel di dinding, di tirai tebal, di lantai marmer yang kini terasa lebih dingin dari biasanya.
Pagi itu, Elizabeth kembali bekerja seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah. Rambutnya terikat rapi, gerakannya tenang saat ia membersihkan meja ruang tamu dengan kain lembut.
Suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Elizabeth tidak langsung menoleh, tetapi ia tahu siapa pemilik langkah itu, telinga Elijah seolah sudah terbiasa menghafal bunyi langkah kaki orang-orang.
Benjamin berjalan memasuki ruang tamu dengan ritme pelan, wajahnya menyimpan sisa lelah yang belum sempat hilang. Begitu Benjamin mengangkat kepala, pandangannya langsung bertemu dengan sosok perempuan yang berdiri beberapa meter darinya.
“Elijah,” gumam Benjamin hampir tak terdengar.
Untuk beberapa detik, waktu seolah melambat baginya. Biasanya, setiap kali mereka berpapasan, Elijah akan menunduk ataupun menghindarinya. Perempuan di depannya itu tak pernah berani menatapnya terlalu lama. Jangankan menatap, melihat bayangan Benjamin saja cukup membuat Elijah langsung bergeser menjauh, mencari sudut aman atau bersembunyi di balik pintu.
Ketakutan itu begitu jelas dan konsisten hingga menjadi sesuatu yang hampir bisa Benjamin prediksi. Namun kali itu, ada yang berbeda.
Elijah tetap berdiri tegak, sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Benjamin. Tatapannya tetap lurus, tidak goyah sedikitpun. Elijah sama sekali tidak merasa gugup ataupun keinginan untuk menghindar.
Benjamin berhenti melangkah. Ada sesuatu yang terasa ganjil, sesuatu yang tidak bisa langsung ia beri nama.
“Elijah,” panggilnya lembut, menggunakan sapaan yang dulu selalu membuat gadis itu mengecilkan diri.
Perempuan itu tetap menatapnya.
Dan di sanalah Benjamin menyadari perubahan itu dengan jelas. Tatapan Elijah padanya bukan hanya menunjukkan keberanian, tetapi juga ketegasan sekaligus kebencian yang terpancar dari caranya menatap Benjamin.
Tatapan itu dingin dan sadar, tidak meledak-ledak, tetapi tajam seperti bilah tipis yang tersembunyi. Untuk pertama kalinya, Benjamin merasa bukan ia yang menguasai situasi. Justru ia yang sedang diamati.
“Elijah?” ulangnya pelan, kini dengan nada lebih hati-hati. “Bagaimana kabarmu hari ini?”
Perempuan itu memiringkan kepala sedikit, seolah sedang menilai sesuatu. Ekspresinya nyaris tak berubah, tetapi atmosfer di antara mereka bergeser halus. Ketakutan yang dulu selalu hadir kini benar-benar lenyap.
“Aku baik,” jawabnya singkat ketika Benjamin bertanya lagi tentang keadaannya.
Benjamin merasakan ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin duka, kehilangan, atau tekanan beberapa hari terakhir telah mengubah banyak hal. Orang memang bisa berubah ketika berada di bawah tekanan.
Namun perubahan seperti itu, terasa terlalu drastis.
Tidak mungkin seseorang yang begitu takut bisa berdiri setenang ini dalam semalam.
Benjamin memperhatikan mata Elijah sekali lagi. Ada kesadaran di sana. Ada keyakinan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Seolah perempuan di hadapannya tahu sesuatu yang tidak ia ketahui.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku,” ucap Benjamin akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap normal.
Perempuan itu hanya mengangguk tipis, lalu kembali pada pekerjaannya seolah pertemuan singkat itu tidak berarti apa-apa baginya.
Sementara Benjamin justru merasa sebaliknya. Ia mengalihkan pandangan lebih dulu, merasakan sesuatu yang asing merayap di dadanya. Ketika ia berjalan melewati perempuan itu dan mulai menaiki tangga, pikirannya tidak berhenti berputar. Ia teringat kematian Jean, luka-luka aneh di tubuhnya, pistol ilegal, kebohongan Chad, dan kini, perubahan drastis pada Elijah.
Sebelum benar-benar menghilang di lantai atas, Benjamin menoleh sekali lagi. Perempuan itu masih berdiri di ruang tamu, gerakannya tenang, wajahnya tak menunjukkan apa pun. Namun bayangan tatapan dingin tadi masih terpatri jelas di benaknya.
Untuk pertama kalinya, Benjamin merasakan kecurigaan merambat ke arah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa Elijah yang berdiri di ruang tamu tadi,
bukanlah Elijah yang selama ini ia kenal.
“Ada yang aneh,” gumam Benjamin, menatap Elijah sekali lagi sebelum akhirnya meneruskan langkah.
***
“Kenapa kau begitu lama, Ben?” Ernest bertanya. Pria itu tengah duduk di tepi ranjang dengan bosan saat Benjamin masuk dan menutup pintu kamar Jean.
“Ya, dari mana saja kau? Kami sudah lama menunggu di sini. Kenapa kau meminta bertemu di sini? Kenapa tidak di apartemenmu saja atau di tempat yang biasanya?” tanya Isaac beruntun.
Mereka berdua sudah menunggu cukup lama.
Ben menarik kursi di depan meja kerja Jean dan duduk di sana dengan ekspresi bertanya-tanya. “Apa kalian sudah bertemu dengan gadis itu?” tanyanya pelan.
Isaac dan Ernest saling berpandangan.
“Maksudmu … Elijah? Ya, aku melihatnya, dia datang ke sini untuk mengantarkan minuman tadi. Kenapa kau bertanya?” tanya Isaac mengernyit.
Ernest mengubah posisi duduknya jadi mengarah ke Benjamin. “Apa kau juga merasa ada yang aneh pada gadis itu, Ben?”
Benjamin menatap kedua temannya bergantian. “Ya, bukankah tingkahnya agak aneh menurut kalian?”
Isaac kemudian menopang dagu, seolah berpikir. “Setelah kuingat-ingat lagi, gadis itu memang terlihat agak berbeda, terutama dari tatapannya. Kupikir hanya aku saja yang merasa begitu,” ucapnya santai.
Sementara Benjamin tampak berpikir keras. “Aku merasa dia bukanlah Elijah yang kita kenal.”
“Mungkin hanya perasaanmu saja, orang-orang bisa berubah, Ben. Termasuk dia juga,” kata Isaac sambil merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal. Ia mengambil segelas jus yang tadi dibawakan Elijah dan meminumnya hingga habis setengahnya.
“Tapi, menurutku, Benjamin ada benarnya juga. Meskipun orang bisa berubah, mustahil seseorang bisa berubah drastis hanya dalam satu malam,” timpal Ernest membenarkan pikiran Benjamin.
Benjamin kemudian mencondongkan tubuhnya. “Elijah yang kita kenal, cenderung takut. Jangankan bertatapan dengan kita, mendengar suara langkah kakinya saja ia akan langsung pergi menghindar. Tapi, saat aku berpapasan dengannya tadi, ada sesuatu yang membuatku merasa tak nyaman, terutama dari caranya menatapku.”
Isaac hampir saja tersedak minumannya saat teringat sesuatu. “Aku baru ingat!” serunya antusias sambil meletakkan kembali gelas yang dipegangnya.
“Apa?” tanya Ernest dan Benjamin hampir bersamaan.
“Bukan hanya Elijah, tapi Chad juga terlihat berbeda semenjak … kau ingat saat Jean mengalami insiden itu, kan? Chad juga tampak aneh sejak saat itu. Dan kurasa, dia pasti habis mengalami sesuatu,” katanya agak ragu.
“Benarkah? Jika itu benar, bukankah gadis itu juga harus kita curigai?” tanya Ernest pelan.