Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~16
Sore pun tiba, Marni yang baru selesai mengikuti sholat jama'ah ashar di mushola ia lanjutkan dengan tadarus qur'an karena alangkah baiknya saat bulan suci yang penuh berkah ini jangan biarkan tempat ibadah kosong dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mengejar pahala karena tahun depan belum tentu bisa bertemu dengan ramadhan lagi karena sebaik-baiknya harapan manusia tetap Allah yang menentukan.
Lantunan ayat alquran terdengar begitu merdu wanita itu bawakan hingga bagi siapapun yang mendengarnya pasti akan sedikit terpaku maupun bergetar hatinya, begitu juga dengan pak Lurah yang kebetulan baru datang dan terlambat melaksanakan sholat ashar karena sebelumnya dalam perjalanan jauh.
Setelah mengucapkan salam dan berdoa, pria paruh baya tersebut diam-diam memperhatikan Marni yang akhir akhir ini ia ketahui sedang dekat dengan putranya. Sebelumnya ia memang sudah mengenal keluarga gadis itu, keluarga kurang mampu yang sering mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun ia sendiri.
Kemudian pria itu segera meninggalkan mushola setelah sejenak menikmati lantunan ayat yang dibacakan oleh wanita itu melalui mikrofon mushola, pekerjaannya sebagai Lurah sekaligus pebisnis membuatnya memang lumayan sibuk jadi tak bisa berlama-lama karena ada hal lain yang harus ia urus.
Kini Marni menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima sore, sesuai janjinya dengan Firman jika pria itu akan menjemputnya di jam itu. Sebelumnya ia memang tak melihatnya sholat berjamaah di mushola dan ia pikir mungkin pria itu sibuk, kalaupun mereka tak jadi pergi ia benar-benar tak mempermasalahkannya.
Ketika ia baru keluar dari mushola dilihatnya mobil Firman sudah terparkir diujung halaman, sejak kapan pria itu datang pikirnya? kemudian ia pun segera melangkah mendekatinya setelah sebelumnya memastikan tak ada yang memperhatikan mereka.
Mushola memang berada di area yang sedikit jauh dari pemukiman karena sekeliling mushola digunakan untuk tanaman hidroponik oleh para pemuda masjid untuk dijual dan hasilnya menjadi uang kas mushola jadi setiap kali ada acara maupu biaya operasional disana tak lagi meminta sumbangan dari masyarakat dan itu semua adalah ide dari Firman yang termasuk salah satu pengurus mushola dan juga salah satu donaturnya.
"Mas, jangan turun." Marni melarang Firman saat hendak turun dari mobilnya karena ia tidak ingin kebersamaan mereka terlalu mencolok.
Kemudian ia pun segera naik dan menutup pintunya dari dalam, tak lupa mengenakan safety beltnya sebelum pria itu yang membantu memasangkannya seperti sebelumnya yang membuatnya sampai berpikiran macam-macam padahal hanya perkara sabuk pengaman lagipula ia percaya pada sosok pria itu jika takkan berbuat macam-macam karena berasal dari keluarga alim dan terhormat. Adabnya pun juga sangat sopan karena tak jarang pria tersebut membungkukkan badannya saat bertemu dengan orang yang lebih tua tak perduli orang tersebut hanya orang biasa jadi rasanya tidak mungkin jika akan macam-macam padanya.
Firman tersenyum tipis menatapnya, meskipun tanpa makeup wanita disampingnya itu tetap terlihat cantik alami dan ia lebih menyukainya seperti itu daripada bermakeup tebal namun penuh kepalsuan.
Kini pria itu pun segera mengendarai mobilnya meninggalkan tempat tersebut. "Mas, ini baru setengah lima sore apa tidak terlalu cepat datang ke cafe?" ucap Marni mengingatkan.
"Tidak, nanti kita sampai cafe pas mendekati adzan maghrib." sahut pria itu yang nampak fokus mengemudi.
Marni hanya mengangguk kecil, mungkin mereka akan berkeliling kampung dahulu sembari menunggu waktunya berbuka. Lalu diam-diam ia memperhatikan pria disampingnya tersebut yang entah kenapa hari ini terlihat berbeda dengan kaos dan celana panjangnya karena biasanya lebih sering mengenakan pakaian muslim dan rambutnya juga sepertinya baru di cukur karena nampak rapi hingga membuat kadar ketampanannya bertambah dua kali lipat.
"Sudah mengaguminya?" ucap Firman tiba-tiba hingga membuat Marni langsung memalingkan wajahnya yang telah memerah itu, sial bahkan disaat seperti ini ia tak bisa menundukkan pandangannya sendiri.
"Maaf mas." ucapnya pada akhirnya, pandangannya masih menunduk dengan kedua tangan me re mas ujung pakaiannya sendiri benar-benar ceroboh pikirnya.
Firman pun terseyum melihat reaksinya kemudian diulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala wanita itu sejenak dengan lembut. "Tadi aku tidak sempat sholat ashar di mushola karena harus menyelesaikan kerjaan dahulu," ucapnya mengalihkan pembicaraan hingga membuat Marni memberanikan diri untuk menatapnya kembali.
"Sebenarnya kalau mas banyak pekerjaan bisa lain kali saja perginya," ucapnya lantas kembali menatap jalanan depannya.
Firman kembali tersenyum menatapnya. "Justru karena aku ingin pergi bersamamu makanya aku selesaikan semuanya dengan cepat." sahutnya karena ia tidak ingin saat mereka bersama harus kepikiran dengan pekerjaan lagi, ia ingin benar-benar menikmati kebersamaan mereka tanpa harus terganggu karena belum tentu lain kali wanita itu mau ia ajak pergi lagi seperti ini.
"Mas, sepertinya kita sudah melewati cafe terlalu jauh." tiba-tiba Marni mengingatkan karena sebelumnya ia perhatikan mereka sepertinya pergi kejauhan dari tempat tujuan.
"Masih belum sampai kan mas tidak bilang cafe ujung kampung kita, bisa jadi cafe ujung dekat kota kan?" sahut Firman yang membuat Marni nampak tak percaya mendengarnya sekaligus sedikit khawatir.
Melihat wajah cemas wanita itu membuat Firman nampak gemas. "Jangan takut kita hanya pergi makan dan mencari pakaian muslim untuk anak-anak mushola bukan untuk kawin lari," selorohnya hingga membuat Marni tanpa sadar langsung memukul lengan pria itu.
"Bilang dong mas," ucapnya melayangkan protes karena sebelumnya ia khawatir jika pria itu akan berbuat nekad dengan membawanya kawin lari seperti beberapa tetangganya yang pernah melakukan hal itu karena pernikahan yang tak direstui.
Firman hanya terkekeh menanggapinya dan benar saja mendekati maghrib mereka telah sampai di kota lalu pria itu segera mengajak Marni ke sebuah cafe untuk berbuka puasa.
Marni yang sudah biasa makan di restoran saat berada di kota nampak tak begitu canggung, wanita itu memesan beberapa menu chinese food favoritnya setelah sebelumnya izin dahulu dengan Firman tentu saja namun itu justru membuat pria itu diam-diam memperhatikannya. Wanita dihadapannya itu bersikap seolah bukan wanita yang pernah menjadi pelayan cafe tapi seorang pelanggan yang memesan makanan kesukaannya.
Benarkah sebelumnya wanita itu memang bekerja menjadi seorang pelayan cafe?
"Kenapa melihatku seperti itu mas?" ucap Marni tiba-tiba ketika tak sengaja melihat Firman memperhatikannya.
Pria itu hanya menggeleng kecil. "Tidak, bagaimana dengan makanannya suka?" ucapnya kemudian.
"Hm, ini enak sekali terima kasih ya mas sudah mengajakku makan disini." sahut wanita itu di tengah kunyahannya.
Firman kembali mengangguk sembari tersenyum kecil menatapnya, entah kenapa setiap kali melihat wajah polosnya hatinya rasanya bergetar dan banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ketahui tentang kehidupannya di kota seketika menghilang begitu saja.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu