NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi

Kota Citywon membentang di malam itu seperti permadani kelam raksasa yang dibekukan di bawah kanopi langit berwarna kelabu-susu, tanpa bintang, tanpa bulan. Jalanan batu utamanya, meski tertimbun di bawah hamparan salju tebal yang telah dipadatkan oleh ribuan tapak kaki warga, masih ramai oleh mereka yang bergerak lambat, berdesakan, mencari hiburan di tengah musim dingin.

Mereka bagai sekawanan burung yang putus asa mencari kehangatan, mengalir perlahan di antara toko-toko yang memancarkan cahaya temaram dan mengundang dari jendela-jendela berkabut. Setiap helaan napas mereka melepaskan awan-awan uap kecil yang langsung tercabik-cabik dan dihancurkan oleh gigitan angin malam yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Meski badai salju lebat telah berlalu beberapa hari lalu, dinginnya masih menggigit dengan keganasan yang tak berkurang, menembus lapisan wol paling tebal sekalipun dengan gigi-gigi tajam yang tak kasat mata. Maka, pemandangan malam itu dipenuhi oleh lautan mantel kasar berwarna dengan kerah-kerah yang ditarik tinggi-tinggi hingga hampir menutupi seluruh daun telinga yang mulai memerah dan kebas.

"Lihat itu, Edward," ucap Yuki, berusaha menyemangati dirinya sendiri di tengah keramaian yang asing. Dia menunjuk ke arah jantung alun-alun kota.

Di tengah alun-alun yang luas, menjulang dengan gagah sebuah monumen musim dingin tahunan: Pohon Keberuntungan. Sebatang cemara raksasa yang baru saja diarak dari hutan utara dengan susah payah, tingginya menyamai rumah dua lantai. Dahannya yang menjulang ke langit terlihat sangat berat, ditumpuki dan dihiasi oleh berbagai hiasan yang membuat mata siapa pun enggan berkedip.

"Wahh... Besar sekali, Kak!" Edward menatapnya dengan takjub, mata cokelatnya berbinar-binar menangkap pantulan cahaya dari ribuan lentera. Untuk sesaat yang singkat, semua ketakutannya, semua kesedihannya, terlupakan begitu saja oleh keindahan yang memukau itu.

Bukan hanya lentera-lentera kecil berisi lilin lebah yang menyala dengan nyala temaram dan berkedip-kedip seperti kunang-kunang raksasa, tetapi juga ornamen kaca tiup buatan tangan berwarna-warni yang dengan cerdik menangkap dan memantulkan cahaya itu menjadi ribuan pelangi mini yang menari-nari di salju.

Pita-pita kain brokat sisa-sisa pesta bangsawan, yang warnanya masih mempertahankan kemewahan tuanya—emas tua, ungu, merah darah—menjuntai panjang di antara dahan-dahan. Di sana-sini, gantungan ukiran rotan yang dibentuk dengan teliti menjadi bintang, bulan sabit, dan burung-burung kecil bergoyang-goyang pelan ditiup angin.

"Keren banget, ya..." Yuki bergumam takjub, ikut terpana.

"Iya! Lihat yang di puncak, Kak! Yang paling atas!"

Di puncak tertinggi pohon itu, bersinar dengan megah sebuah hiasan utama yang berbeda dari yang lain—sebuah kepingan kuarsa besar yang dipotong kasar namun cemerlang. Batu alam itu menangkap cahaya dari ribuan lentera di sekelilingnya dan memantulkannya kembali ke segala arah.

Setiap hiasan, setiap pita, setiap lentera di pohon itu adalah sumbangan sukarela, doa yang dipanjatkan, dan harapan rahasia warga Citywon, menjadikannya bukan sekadar dekorasi belaka, melainkan jantung komunal yang berdetak pelan dan berkilauan di tengah kelabu dan dinginnya musim dingin yang tak kenal ampun.

Mereka kini berada jauh dari keramaian dan kemeriahan itu, menyusuri sebuah lorong sempit dan gelap di belakang losmen tua yang sudah lama ditinggalkan. Suasana di sini berubah secara drastis.

Dingin di sini terasa lebih menusuk, lebih dalam, lebih sunyi. Jendela-jendela losmen itu gelap gulita dan buta, mati, beberapa kacanya pecah dan meninggalkan lubang-lubang hitam yang ditutupi oleh lapisan es tebal dari dalam.

"Serammm, Kak..." erang Edward dengan suara bergetar, tubuh kecilnya yang mungil menempel erat ke sisi kaki Yuki. "Kenapa kita harus ke sini, sih, Kak? Aku benar-benar tak suka tempat ini."

"Kakak pikir... mungkin ada sesuatu yang tertinggal di sini. Jejak, atau petunjuk, atau informasi," jawab Yuki. Matanya menyapu cepat dinding kayu yang lapuk dimakan rayap dan pintu-pintu yang terkunci rapat. Wilayah belakang losmen ini sepi mati, benar-benar terisolasi dari gemuruh rendah dan riang keramaian di alun-alun. "Tapi kayaknya tidak ada apa-apa di sini," akhirnya ia mengakui dengan suara kecil dan kecewa.

Keheningan yang rapuh dan mencekam itu tiba-tiba pecah tanpa ampun.

Kres... Kres... Kres...

Suara itu terukur dan sama sekali tidak terburu-buru. Bunyi khas sepatu bot tebal yang dengan sengaja menekan dan memadatkan salju dengan tekanan yang sama persis di setiap langkahnya.

Kakak beradik itu menoleh ke samping serentak.

Di ujung lorong yang gelap, membelakangi cahaya samar dan kusam yang merembes dari jalan utama, berdiri sesosok pria.

Mantel wol panjangnya berwarna biru langit. Rambutnya adalah mahkota putih lebat yang mengagumkan, bukan putih tipis orang tua biasa atau kusut tak terurus, melainkan aliran awan cumulus yang dipotong rapi, terbelah sempurna di tengah dan jatuh lembut hingga menyentuh bahu mantelnya. Tidak ada satu pun petak kulit kepala yang terlihat.

Wajahnya, meski telah diukir oleh waktu dan pengalaman, tetap tampan. Matanya berwarna abu-abu, terlihat begitu menenangkan. Ia memandang langsung kepada mereka.

"Kalian berdua sedang mencari sesuatu?" Suaranya keluar dengan nada yang sangat tenang. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, menyentuh sudut bibirnya yang pucat.

"Ah, itu..." Yuki tercekat. "Kami hanya jalan-jalan sebentar, Pak. Melihat-lihat suasana kota malam ini."

"Jalan-jalan ya?" Pria tua itu menunduk sedikit, tatapannya yang tenang itu beralih ke Edward yang masih mencengkeram erat kain mantel Yuki. "Tempat yang cukup... sunyi untuk sekadar jalan-jalan santai, bukan? Siapa di antara kalian yang menyukai tempat-tempat seperti ini?"

"Su-suka?" Yuki mengulang pertanyaan itu dengan kening berkerut, kebingungan tercetak jelas di wajahnya. "Tentu saja ti—" Ucapannya terpotong paksa di tengah jalan.

Matanya, yang tanpa sengaja menyusuri penampilan pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki, tiba-tiba terkunci dan membeku pada satu titik. Di pundak kirinya tergantung sebuah tas. Bukan tas selempang kecil biasa atau kantong belanja. Tapi sebuah tas perjalanan besar dari kulit sapi yang sudah usang dan lecek namun masih terlihat sangat kokoh. Ukurannya tidak wajar, terlalu besar untuk sekadar berjalan-jalan santai di malam festival.

"Ada apa, Nona?" Pria tua itu langsung mengikuti arah pandangan Yuki. Alisnya yang putih bersih terangkat halus. "Tidak kusangka seorang gadis cantik sepertimu akan terpesona oleh barang tua seperti ini."

Itu... Jantung Yuki tiba-tiba berdegup kencang. Tas perjalanan besar...

Keheningan di antara mereka mengental secara dramatis, berubah menjadi sesuatu yang nyata dan berat, diisi hanya oleh desisan angin malam yang menyusuri celah-celah sempit bangunan tua.

Jari-jari Yuki di dalam sarung tangan wolnya mulai bergetar halus. Edward, yang masih diselimuti rasa takut pada tempat angker itu, belum sepenuhnya menyadari petunjuk yang baru saja terungkap di depan mata.

"Uhm... Maaf sebelumnya, Pak... Apakah Bapak ini orang baru di kota Citywon?" tanya Yuki.

"Tidak, Nona," jawab pria itu. "Aku sudah menetap di sini sekitar tiga tahun lamanya. Ada apa?"

"Ah, tidak, tidak apa-apa, Pak. Hanya penasaran." Tiga tahun. Berarti dia sudah di sini sejak tahun 1497, pikir Yuki.

Kemudian, pria tua itu memalingkan wajahnya dengan tenang ke arah losmen tua yang gelap dan angker. Senyum tipisnya tidak berubah sedikit pun.

"Kalian berdua seharusnya tidak berada di sini," ucapnya pelan, masih tanpa menoleh.

Kalimat singkat itu menggantung di udara dingin. Yuki menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang bebas meraih tangan Edward dan menggenggamnya erat-erat.

Edward, merasakan isyarat panik itu, akhirnya mengalihkan perhatiannya dari bayang-bayang losmen yang menakutkan ke pria tua itu, dan kali ini, matanya yang masih muda juga melihat tas besar yang tergantung di pundak pria itu.

"Maaf, maksud Bapak dengan perkataan itu...?" tanya Yuki.

"Maksudku," kata pria itu, akhirnya berbalik menghadap mereka sepenuhnya, "tempat ini terlalu sunyi untuk seusia kalian. Bukankah generasi muda sekarang ini terkenal sangat mudah takut? Haha..."

Ada yang aneh dengan orang ini, pikir Yuki lagi. Sejak tadi malam ini, tidak satu pun warga yang kami temui membawa tas sebesar itu. Itu wajar, mereka sudah punya rumah dan tak perlu membawa semua barang. Tapi pria ini... Matanya menyapu cepat tubuh pria itu. Tapi tunggu dulu. Mantelnya biru cerah, bukan abu-abu lusuh. Dan dia bilang sudah tinggal di sini tiga tahun lamanya... Berarti dia bukan pendatang baru...

"Baiklah, Nona, saya rasa saya harus pamit duluan," ucap pria tua itu tiba-tiba, mengangguk ringan dengan sopan. "Keluarga saya pasti sudah menunggu saya di rumah. Selamat malam. Semoga kalian berdua baik-baik saja."

Dia lalu berbalik dan mulai berjalan menjauh—Kres... Kres... Kres... Langkahnya tidak tergesa-gesa, meninggalkan mereka berdua berdiri membeku di tempat.

"Ka-kakak..." bisik Edward dengan suara sangat pelan, hampir tak terdengar, menarik-narik lengan Yuki dengan panik. "Tasnya... tas besar itu..."

Yuki hanya bisa mengangguk pelan. Semangat awalnya yang membara untuk memburu petunjuk, untuk membuktikan sesuatu, untuk menemukan kebenaran, tiba-tiba terasa sangat konyol dan menguap begitu saja, meninggalkan rasa hampa dan frustrasi yang dalam mulai merayap naik.

"Sepertinya kita salah orang, Edward. Ayo pulang—"

Tiba-tiba, sesuatu di dalam dirinya memberontak dengan keras. Dia tidak bisa, tidak boleh, menyerah begitu saja hanya karena sebuah detail kecil seperti warna mantel yang berbeda. Itu terlalu mudah, terlalu cepat.

"TUNGGU, PAK!!!" teriak Yuki sekencang-kencangnya, suaranya lebih nyaring dan lebih keras dari yang ia rencanakan, memecah kesunyian lorong.

Kres. Suara langkah kaki itu langsung berhenti.

Pria tua itu berbalik perlahan, wajahnya yang tenang masih menunjukkan sedikit rasa penasaran. "Ada apa lagi, Nona Muda?"

"Yah, anu, Pak, maaf mengganggu..." Yuki melangkah mendekat dengan jantung berdebar kencang, memaksakan senyum canggung. "Kami... kami tidak membawa uang sepeser pun, Pak. Dompet saya tertinggal di rumah. Dan adik saya yang kecil ini," dia menepuk pundak Edward dengan lembut, "sudah sangat lapar."

"Kasihan sekali kalian berdua," ujar pria tua itu, dan ekspresi wajahnya yang tadinya datar berubah menjadi keprihatinan yang tampak tulus dan mendalam. "Dompetmu tertinggal di rumah?"

"I-iya, Pak. Saya ceroboh sekali." Yuki membuat matanya terlihat sebesar dan sememelas mungkin, sambil menatap tas kulit besar yang masih tergantung di pundak pria itu. "Jadi, begini, Pak... Bisakah kami meminjam uang sedikit dari Bapak? Untuk membeli makanan? Saya janji akan mengembalikannya besok."

"Uang? Oh, tentu saja, Nona. Itu bukan masalah besar." Tangannya yang bersarung tangan menyelip ke dalam saku dalam mantel birunya, meraba-raba mencari koin. "Berapa kira-kira yang kalian butuhkan untuk makan malam?"

Ini dia kesempatanku, batin Yuki dengan jantung berdebar semakin kencang. Tapi aku harus meminta jumlah yang besar, cukup besar sehingga dia tidak akan membawa uang sebanyak itu di saku mantelnya. Dia pasti akan terpaksa mengecek isi tasnya.

"Ah, itu, Pak... maaf kalau saya lancang..." Yuki menarik napas dalam, "Sepuluh Flor... Apa Bapak punya uang sebanyak itu?"

Mata pria tua itu membelalak sejenak, nyaris tak terlihat. Sepuluh Flor bukanlah uang receh; itu bisa untuk membeli pakaian baru atau kebutuhan pokok selama sebulan. Namun, entah karena kebaikan hatinya yang luar biasa atau karena sesuatu yang lain, ia mengangguk pelan. "Yah, itu jumlah yang cukup besar untuk dua porsi sup dan roti. Tapi tidak apa-apa. Semoga dengan uang ini kalian bisa makan sampai kenyang, Nona."

Akhirnya! teriak batin Yuki dengan penuh kemenangan. Dia akan membuka tasnya sekarang! Iago bilang ia baru datang dari desa. Seharusnya ada mantel abu-abunya yang lusuh di situ, atau tidak... barang-barang seorang pengembara.

Dengan gerakan yang santai, tanpa keraguan sedikit pun, pria tua itu melepaskan tali pengikat tas kulit besar itu dengan satu tangan, lalu dengan cekatan membuka kancing logamnya. Yuki menahan napas, matanya membelalak, siap menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bukti yang selama ini dicari-cari.

Tas itu terbuka lebar.

Dan di dalamnya... sama sekali tidak ada mantel abu-abu. Yang ada hanya sarung tangan lain yang bersih dan sebuah buku bersampul kulit tebal. Tidak ada mantel. Tidak ada satu pun barang yang tampak mencurigakan. Dan tidak ada satu pun barang-barang yang biasanya dibawa oleh pengembara. Sebagian besar ruang di tas itu kosong.

A-apa...? Pikiran Yuki tiba-tiba blank total. Rasa kemenangan yang tadi membumbung tinggi di dadanya jatuh bebas.

"Ini dia, Nona. Sepuluh Flor, sesuai permintaan." Pria tua itu mengulurkan beberapa keping logam putih yang berkilau redup di bawah cahaya bulan dengan tangan kanannya yang halus, sambil tersenyum lembut. "Tolong dijaga baik-baik, ya. Jangan sampai hilang lagi."

Yuki hanya berdiri terpaku di tempatnya, mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Senyum kemenangan dan harapannya telah membeku dan retak di wajahnya, berubah menjadi ekspresi kebingungan total dan kekecewaan yang mendalam.

"Nona?" panggil pria tua itu, melihat ekspresi aneh di wajah Yuki.

"Kakak?" Edward menarik-narik lengan Yuki dengan cemas. "Kak, kenapa diem aja?"

Sentuhan hangat Edward di lengannya itu akhirnya menyadarkan Yuki dari keterpanaan. "Oh! I-iya, Pak! Terima kasih! Terima kasih banyak, Pak!" ucapnya tergagap, dengan cepat meraih dan mengambil uang itu dari tangan pria tua itu.

"Tidak usah sungkan-sungkan, Nona. Senang bisa membantu. Mungkin lain kali lebih baik kalian membeli makanan yang lebih murah dan menyisakan uangnya," ucap pria tua, sambil sudah berbalik untuk pergi.

Namun kali ini, sebelum benar-benar melangkah, dia melemparkan pandangan terakhir dari atas bahunya. Senyum tipis yang sama masih setia terukir di bibirnya. Namun bagi Yuki yang sedang dilanda kekacauan pikiran, senyum itu terasa seperti sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Lalu dia berjalan pergi dengan tenang.

Begitu sosok pria itu benar-benar hilang dari pandangan, seluruh kekuatan dan energi Yuki seakan luruh seketika. Tubuhnya yang lemas berlutut di atas salju yang dingin. Tangannya yang masih menggenggam erat uang Flor itu bergetar hebat. Lalu, dengan gerakan frustrasi, dia menjambak rambut merahnya sendiri dengan kedua tangan, menariknya kuat-kuat.

"Sial! Sialan!" sumpahnya melalui gigi yang terkunci rapat, suaranya serak. "Dia... Dia itu..."

Edward, dengan cepat dan tanpa ragu, bergegas merangkul kakaknya dari belakang, menempelkan pipinya yang dingin di punggung Yuki yang naik turun tak beraturan oleh isakan dan napas berat. "Sudah, Kak. Sudah tenang. Dia sepertinya memang bukan pria yang kita cari. Hanya orang baik biasa yang kebetulan membawa tas besar."

"Bukan itu masalahnya, Edward!" erang Yuki dengan suara pecah, memutar badan dengan kasar sehingga dia bisa berhadapan langsung dengan adiknya. "Dia mempermainkan kita, Edward! Aku yakin! Senyumnya itu... caranya bicara yang terlalu tenang... semuanya terasa salah! Dia tahu kalau kita mencurigainya, dan dia... dia pasti sedang menikmati permainan ini!"

Edward menatapnya dengan ekspresi terkejut dan sedikit ketakutan melihat sikap kakaknya itu. Yuki menyadarinya dengan cepat, dan akhirnya ekspresi kesalnya mereda, berubah menjadi khawatir.

"Maafkan kakak, Edward. Kakak kehilangan kendali."

"I-iya. Tak apa-apa," jawab Edward sambil tersenyum lembut.

"Terima kasih." Yuki mengelus kepala adiknya sebelum bangkit berdiri lagi. "Untuk sekarang, kita harus berteduh."

"Iya," ucap Edward sambil mengangguk pelan.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!