NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Konfrontasi Pahit

Lampu set yang masih menyala redup memberikan efek bayangan yang tajam pada wajah Arlan. Ia berdiri mematung di tengah reruntuhan emosi yang baru saja diledakkan oleh kedatangan Bram. Di sekeliling mereka, kabel-kabel hitam melilit di lantai seperti ular, dan properti ruang interogasi yang tadinya menjadi simbol mahakarya kini terasa seperti penjara nyata bagi mereka berdua.

"Arlan, aku baru mengetahuinya semalam," suara Adelia bergetar, namun ia berusaha berdiri tegak. Ia tidak ingin terlihat seperti pesakitan, meski hatinya mencelos melihat tatapan Arlan yang penuh luka.

"Email dari firma hukum di Paris baru masuk pukul sebelas malam. Aku... aku tidak bermaksud membohongimu selamanya."

"Tapi kamu membiarkanku bangun pagi ini dengan senyum bodoh, Adel!" Arlan melangkah mendekat, suaranya naik satu oktav, bergema di langit-langit studio yang tinggi. "Kamu membiarkanku menyapa kru, mengarahkan Reihan, dan merasa bangga pada film ini—padahal film ini dibiayai oleh uang haram paman kandungku sendiri! Pria yang menghancurkan ibuku!"

Adelia memejamkan mata sejenak, menahan perih. Ia tahu betapa dalamnya trauma Arlan terhadap keluarga Wijaya. "Aku melakukannya karena aku ingin melindungimu, Arlan! Jika aku memberitahumu saat itu juga, kamu akan menghentikan produksi. Kita akan terkena penalti jutaan dolar dari GlobalStream. Kita akan kehilangan segalanya—studio ini, reputasimu, bahkan masa depanmu!"

"Lebih baik kehilangan studio daripada kehilangan harga diri, Adelia!" Arlan menunjuk ke arah pintu keluar. "Kamu tahu persis bagaimana aku membenci mereka. Kamu tahu bagaimana aku berjuang keluar dari lumpur yang mereka buat. Dan sekarang, kamu menyeret aku kembali ke sana dengan tanganmu sendiri?"

"Aku tidak menyeretmu kembali!" balas Adelia, kini amarahnya mulai terpancing oleh ketidakadilan tuduhan Arlan. "Aku sedang mencari cara untuk memutus hubungan itu! Aku sudah menghubungi Sandra, aku sedang mencari celah hukum untuk membeli kembali jaminan saham itu begitu film ini rilis. Aku bertaruh nyawa di sini, Arlan, demi menjaga mimpimu tetap hidup!"

Arlan tertawa sinis, tawa yang terdengar kering dan menyakitkan. "Menjaga mimpiku? Atau menjaga ambisimu sendiri sebagai produser sukses? Jangan-jangan kamu takut miskin lagi, Adel? Kamu takut kita kembali ke titik nol?"

Plak!

Suara tamparan itu memecah kesunyian set. Tangan Adelia gemetar hebat, pipi Arlan memerah. Napas keduanya memburu, saling menatap dalam keheningan yang menyesakkan.

"Jangan pernah... sekali pun kamu meragukan niatku padamu," bisik Adelia, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Aku mengorbankan ketenanganku, aku tidak tidur memikirkan cara menyelamatkanmu dari monster-monster itu sendirian, dan ini balasanmu? Kamu pikir aku menikmati rahasia ini? Aku merasa seperti pengkhianat setiap kali kamu menyentuhku semalam!"

Arlan terdiam, memegangi pipinya.

Amarahnya masih ada, namun tamparan itu seolah menyadarkannya pada kerapuhan Adelia. Ia melihat wanita di depannya—wanita yang selama ini menjadi tamengnya, yang mengurus detail-detail kotor yang ia benci, yang selalu ada saat ia hampir gila karena perfeksionisme.

"Kenapa kamu tidak percaya padaku, Adel?" suara Arlan melembut, namun penuh kekecewaan. "Kenapa kamu tidak membiarkan aku ikut menanggung beban ini? Kita mitra, kan? Tapi kamu memperlakukanku seperti anak kecil yang harus dilindungi dari kenyataan pahit."

"Karena aku takut kamu akan hancur, Arlan," jawab Adelia lirih. "Aku melihatmu begitu bahagia dengan proyek ini. Aku tidak sanggup melihat cahaya di matamu padam hanya karena nama Hendra Wijaya. Aku egois karena aku ingin melihatmu sukses."

Arlan membuang muka, menatap kursi sutradaranya yang terguling. "Hendra tidak pernah memberi secara cuma-cuma. Kamu dengar apa kata Bram tadi? Dia menganggap ini 'investasi'. Dia akan menggunakan film ini untuk mencuci nama keluarganya di kancah internasional. Dia akan mengklaim kesuksesanku sebagai kesuksesan klan Wijaya. Dan aku... aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Adelia, menyeka air matanya. "Berhenti sekarang? Menghancurkan kontrak dengan GlobalStream?"

Arlan menatap kartu nama Bram yang tergeletak di meja. Ia mengambilnya, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil. "Tidak. Kita akan menyelesaikan film ini. Tapi tidak dengan cara mereka."

Arlan menatap Adelia dengan tatapan yang sangat asing—dingin, tajam, dan penuh perhitungan. "Kita akan gunakan uang mereka untuk membuat film yang paling jujur, yang bahkan akan membongkar kebusukan korporasi seperti milik mereka. Dan setelah film ini meledak, aku sendiri yang akan menyeret Hendra Wijaya ke pengadilan dengan bukti-bukti baru yang mungkin terselip di dokumen Paris itu."

"Arlan, itu berbahaya. Mereka bisa menghancurkan kita sebelum film ini rilis."

"Mereka sudah mencoba menghancurkanku sejak aku lahir, Adel," Arlan melangkah menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. "Tapi mulai malam ini, jangan harap ada rahasia lagi di antara kita. Jika aku menemukan satu saja hal yang kamu sembunyikan dariku... kita selesai. Bukan hanya sebagai mitra, tapi sebagai kita."

Arlan pergi, meninggalkan Adelia sendirian di set yang gelap. Adelia terduduk di lantai dingin, memeluk lututnya. Ia berhasil menyelamatkan produksi film, namun ia merasa baru saja kehilangan separuh dari jiwa Arlan yang ia cintai. Kepercayaan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah, kini memiliki retakan besar yang mungkin tidak akan pernah bisa tertutup sempurna.

Di luar, hujan Jakarta kembali turun dengan deras, seolah ikut menangisi konfrontasi pahit yang mengubah segalanya.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!