Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Serigala yang Terluka
Tiga hari telah berlalu sejak Selene meninggalkan panti, dan bagi Damian Nicholas, setiap detiknya terasa seperti hukuman mati yang diperlambat. Ruang kantor CEO yang luas dan mewah itu kini terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma kopi mahal yang diseduh sekretarisnya sama sekali tidak bisa menggantikan kehangatan aroma cokelat yang biasa ia hirup dari ceruk leher Selene.
Damian kembali ke setelan awalnya. Jas hitam custom-made yang melekat sempurna di tubuh tegapnya seolah menjadi zirah bagi jiwanya yang sedang kacau. Sifatnya yang dingin kembali ke titik beku, dan aura otoritasnya meningkat hingga ke level yang menyesakkan.
Pagi itu, suasana di kantor pusat Nicholas Group tampak mencekam. Para staf berjalan berjinjit, bahkan suara denting lift pun terdengar seperti lonceng kematian. Bukan hanya karena kekuasaan absolut yang ia miliki, melainkan karena ekspresi wajah Damian yang tampak sangat "lapar".
Matanya yang tajam dan gelap berkilat di balik meja kerja mahoninya. Rahangnya mengeras permanen, dan setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti vonis. Ia terlihat seperti serigala yang telah terlalu lama dipisahkan dari mangsa favoritnya—siap merobek setiap kulit dan daging siapa pun yang berani membuat kesalahan sekecil apa pun.
"Laporan ini sampah," suara Damian yang berat dan dingin memecah keheningan ruang rapat. Ia melemparkan map dokumen ke tengah meja dengan suara braakk yang keras. "Aku memberimu waktu dua jam untuk memperbaikinya, atau kau tidak perlu melihat matahari terbit dari gedung ini lagi besok."
Manajer pemasaran itu gemetar hebat, wajahnya pucat pasi. "B-baik, Tuan Nicholas. Segera saya perbaiki."
Begitu semua orang keluar dari ruangan dengan terburu-buru, Damian menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Tiga hari tanpa kabar dari Selene telah mengubahnya kembali menjadi monster yang tak terkendali.
Meskipun auranya mencekam, Damian tetaplah seorang profesional yang gila kerja. Ia memaksakan dirinya untuk kembali menatap layar monitor yang menampilkan grafik saham dan laporan akuisisi yang rumit. Namun, konsentrasinya hancur berkeping-keping. Setiap kali ia melihat warna putih pada kertas laporan, ia teringat kulit bahu Selene. Setiap kali ia menyesap kopinya yang pahit, ia merindukan rasa manis yang seolah tertinggal di bibir gadis itu.
Damian mencoba membanting pulpen mahoninya ke atas meja. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, seolah oksigen di ruangan luas itu tiba-tiba menipis.
"Sialan," desisnya rendah. "Kenapa wajahmu ada di mana-mana, Selene?"
Bayangan kejadian semalam—saat ia membayangkan Selene 'mengendarainya' di atas ranjang—kembali berputar seperti film rusak di kepalanya. Ia bisa merasakan sisa-sisa gairah itu kembali berdenyut di bawah sana, membuatnya semakin jengkel karena ia tidak bisa melakukan apa pun di tengah jam kantor yang sibuk ini.
Tok! Tok!
"Masuk," desis Damian. Suaranya rendah, namun cukup tajam untuk membuat siapa pun yang mendengarnya ingin segera melarikan diri.
Sekretarisnya, seorang pria muda yang sudah bekerja dengannya selama dua tahun, masuk dengan langkah gemetar. Ia meletakkan sebuah map di atas meja kerja mahoni Damian yang luas.
"I-ini laporan audit mingguan yang Anda minta, Tuan Nicholas," ucapnya dengan kepala tertunduk dalam.
Damian tidak menyentuh map itu. Ia hanya menatap sekretarisnya dengan pandangan predator yang lapar. "Di mana jadwal makan malamku dengan keluarga Wijaya?"
"S-sudah saya konfirmasi untuk besok malam, Tuan. Namun... Nyonya Nicholas berpesan agar Nona Clarissa juga ikut hadir," jawab sekretaris itu dengan suara yang nyaris hilang.
BRAKK!
Damian menghantam meja kerjanya dengan kepalan tangan. Pulpen emas di atas meja melompat jatuh ke lantai. Sekretaris itu tersentak mundur, wajahnya pucat pasi seolah nyawanya baru saja dicabut paksa.
"Batalkan," perintah Damian dengan nada yang sangat tenang, namun aura di sekitarnya terasa mencekam. "Aku tidak butuh wanita ular itu di meja makanku. Dan jika ibuku menelepon lagi, katakan aku sedang berada di neraka."
"B-baik, Tuan. Maafkan saya." Sekretaris itu segera berbalik dan praktis berlari keluar dari ruangan.
Damian kembali menyandarkan tubuhnya, memutar kursi kebesarannya menghadap jendela kaca raksasa yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit. Ia meremas pinggiran kursi kulitnya hingga kuku-kukunya memutih.
Pagi itu ia benar-benar frustasi.