NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Sisanya Urusan Pedang Prajurit

"Kulo mboten peduli siapa yang akan muntah. Jika kalian mboten sanggup melihat, pintu keluar ada di belakang sana."

Suara Sawitri mengalun dingin tanpa jeda, mengabaikan udara pengap dan aroma busuk yang mulai merambat memenuhi ruangan.

Dengan gerakan lincah, ia menggunakan capit perunggu tipis untuk membalik isi lambung korban yang sudah mulai mencerna.

Brak!

Pintu ruang pemeriksan terbanting keras.

Ki Lurah Wirapati, sang kepala prajurit yang biasanya gagah berani itu, tak kuasa menahan gejolak di perutnya.

Ia berlari keluar dan muntah sejadi-jadinya di pelataran tanah liat, suaranya terdengar bersahut-sahutan dengan muntahan prajurit lain di luar.

Sawitri tak repot-repot mengangkat wajahnya.

Ia fokus memisahkan sisa nasi, kacang hijau, dan potongan tempe bacem di atas nampan perak yang mulai menghitam karena reaksi racun arsenik.

"Pengosongan lambung belum tuntas," analisis Sawitri dengan volume suara datar. "Sisa makanan ini baru dicerna sekitar satu hingga dua jam setelah korban memakannya."

Ia menatap Ki Demang Suryanegara yang pucat pasi namun tetap bertahan berdiri di dekat ambang pintu, berpegangan pada tiang kayu jati penyangga ruangan.

"Ki Demang," Sawitri memanggil tanpa intonasi belas kasihan. "Kapan putra Anda makan malam terakhir kali?"

"Ba'da Isya... sekitar jam tujuh malam, Ndara," jawab Ki Demang dengan suara serak menahan tangis. "Beliau makan bersama kulo dan beberapa kerabat di pendopo."

"Pukul tujuh malam," ulang Sawitri, otak matematisnya langsung bekerja. "Dengan sisa makanan yang belum hancur di lambung, korban mati antara pukul delapan hingga sembilan malam. Bukan mati di pagi buta seperti yang dilaporkan prajurit Kadipaten."

Ki Kerta yang sedari tadi bersandar di sudut ruangan seketika mendengus sinis.

"Kowe jangan membual, bocah! Saksi mata yang kebetulan lewat melihat Raden Mas Danuarga masih duduk membaca lontar di dekat jendela kamarnya sekitar jam dua belas malam!" sergah juru mayat tua itu dengan penuh kemenangan.

Sawitri menghentikan aktivitasnya perlahan, meletakkan capit perunggunya, dan menatap lurus ke arah Ki Kerta dengan tatapan mematikan.

"Saksi mata itu berbohong, Ki," ucap Sawitri tegas. "Atau lebih tepatnya... dia melihat orang lain yang memakai baju korban, duduk di dekat jendela seolah-olah dia masih hidup untuk menciptakan alibi palsu."

Cakrawirya yang berdiri bersilang dada di dekat pintu mendadak tersenyum miring.

Ia menatap Sawitri dengan kilat mata penuh kekaguman.

"Menarik," gumam pemuda itu pelan. "Jika pembunuhnya menyamar menjadi korban untuk menipu saksi, itu berarti pembunuhnya memiliki postur tubuh yang mirip dengan korban."

Sawitri tak mempedulikan analisis Cakrawirya, ia memutar tubuh korban dan memindai bagian belakang lehernya.

"Ada lagi yang janggal," Sawitri menyipitkan matanya, mendekatkan pelita minyak ke area leher belakang korban yang tertutup rambut panjang.

"Tadi kulo bilang ada racun arsenik. Namun, jumlah di dalam lambungnya terlalu sedikit untuk membunuh seorang pria dewasa dalam waktu cepat tanpa membuat korban menjerit kesakitan dan muntah hebat di kamarnya."

Ia meraba tengkuk jenazah itu, lalu berhenti di satu titik kecil yang nyaris tak terlihat oleh mata telanjang.

Sebuah titik kemerahan yang dikelilingi memar kebiruan seukuran jarum.

"Pisau," Sawitri menengadahkan tangannya ke belakang tanpa menoleh.

Cakrawirya dengan sigap mengambil pisau bedah tumpul dari kotak kayu jati dan meletakkannya tepat di telapak tangan gadis itu.

Sawitri menekan pisau itu perlahan di area titik merah tersebut, lalu menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk menekan kulit leher dengan hati-hati.

"Kresek..."

Sebuah benda logam tipis berwarna perak keluar dari balik kulit, patahan jarum sepanjang ruas jari kelingking.

"Ini penyebab utama kematiannya," Sawitri mengangkat jarum patah berlumur darah hitam itu dengan penjepit.

"Jarum perak panjang yang ditusukkan tepat di celah tulang belakang leher, memutus sumsum tulang belakang dan saraf pernapasan seketika. Korban mati mendadak tanpa sempat menjerit."

Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

Bahkan Ki Kerta pun terdiam seribu bahasa, tak mampu membantah bukti fisik yang terpampang di depan matanya.

"Racun arsenik hanya pengalih perhatian, disuapkan setelah korban tak bernyawa untuk memalsukan alasan bunuh diri," simpul Sawitri telak.

Ki Demang Suryanegara jatuh terduduk di lantai tanah, memegangi dadanya yang sesak. "Siapa... siapa yang sekejam itu pada anakku?" rintihnya putus asa.

"Siapa saja yang memiliki postur tubuh mirip dengannya, dan yang mengetahui kebiasaan membaca lontarnya di dekat jendela," sahut Sawitri sambil merapikan kembali pakaian jenazah.

"Adipati," Sawitri menoleh ke arah penguasa Mataram itu yang tampak tercengang. "Panggil semua kerabat Ki Demang yang memiliki postur seukuran korban dan mahir menguasai teknik totok jarum perak."

Adipati Sasongko mengangguk kaku, namun sebelum ia sempat memerintahkan prajuritnya, Ki Lurah Wirapati melangkah masuk kembali ke ruangan dengan wajah sedikit pucat.

"Ngapunten, Adipati. Kulo baru ingat sesuatu," lapor Ki Lurah dengan napas memburu.

"Raden Mas Dananjaya, sepupu korban, tadi siang meminta izin pamit lebih awal untuk kembali ke wilayah timur dengan alasan ibunya sakit keras. Dan... beliau memang sering mengobati warga dengan ilmu susuk urat."

Mata Ki Demang terbelalak ngeri. "Dananjaya? Mboten mungkin! Dia sudah kulo anggap seperti anak sendiri! Kenapa dia harus membunuh Danuarga?!"

"Harta warisan, tentu saja," sambar Cakrawirya santai, suaranya membelah keputusasaan di ruangan itu.

Pemuda itu melangkah maju, memutari meja jenazah dengan gaya aristokratnya yang kental.

"Jika putra tunggal Ki Demang mati bunuh diri karena patah hati, dan Ki Demang terlalu tua untuk memiliki keturunan lagi, siapa pewaris sah berikutnya dari seluruh kekayaan Kadipaten Demak?"

Cakrawirya menatap Ki Demang dengan tatapan menusuk. "Sepupu terdekatnya, Raden Mas Dananjaya."

Ki Demang menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah mengutuk keserakahan keluarganya sendiri.

Sawitri membersihkan pisau bedahnya dengan cairan arak, memasukkannya kembali ke dalam kotak kayu, lalu melepas sarung tangan usus ternaknya.

"Tugas kulo selesai. Keadilan sudah telanjang, sisanya urusan pedang prajurit Adipati," ucap Sawitri mengemas peralatannya.

Ia menoleh ke arah lubang angin di dinding kayu.

Semburat oranye fajar mulai mewarnai langit timur Mataram.

"Kulo harus kembali sebelum Nyi Inggit bangun dan mengira kulo diculik siluman."

Sawitri melangkah keluar dari Balai Pemeriksaan, disambut udara pagi yang menggigit tulang.

Di pelataran, Ki Lurah Wirapati tengah sibuk memerintahkan sepasukan prajurit berkuda untuk memburu Raden Mas Dananjaya ke arah timur.

"Kerja yang brilian, Ndara Tabib."

Cakrawirya menyusul keluar, berjalan menyejajarkan langkahnya dengan Sawitri menuju kereta kuda yang menunggu.

"Analisis yang tajam, eksekusi yang dingin, dan sama sekali tak tersentuh emosi. Jenengan persis seperti malaikat maut tanpa sabit."

"Pujian jenengan sama sekali mboten logis, Raden," balas Sawitri tanpa menoleh, langkahnya tetap cepat dan ritmis.

Namun, sebelum Sawitri menaiki tangga kereta kuda, tanpa aba-aba, ia berbalik cepat dan melemparkan botol arak kosong dari kotaknya tepat ke arah wajah Cakrawirya.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!