NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Sehari setelah drama haru di bandara, Solo menyambut kami dengan hujan rintik yang romantis—tipe cuaca yang selalu sukses membuatku ingin bersembunyi di balik jaket Arkan. Hari ini adalah kencan resmi kedua kami setelah kepulangannya, dan status pacaran kami yang hampir menyentuh angka dua tahun terasa seperti pencapaian arsitektur yang paling kokoh yang pernah kami bangun.

Arkan menjemputku bukan dengan motor besarnya, melainkan dengan mobil tua milik ayahnya yang ia pinjam. "Biar rambut lo nggak berantakan kena angin, Tuan Putri. Gue mau liat lo cantik seharian," godanya saat membukakan pintu untukku.

Kami tidak pergi ke mal. Arkan membawaku ke sebuah café berkonsep industrial di daerah Colomadu yang dindingnya penuh dengan cetak biru bangunan kuno 

"Dua tahun, Ra," ucap Arkan sambil menyesap kopi hitamnya, matanya menatapku lekat. "Gue inget banget pas pertama kali lo jutek banget di koridor, sampai sekarang lo duduk di depan gue pake kalung kunci pemberian gue."

Aku menyentuh bandul kunci di leherku, tersenyum tipis. "Gue juga inget gimana lo hobi banget naruh susu cokelat di kolong meja. Enam bulan pertama gue kira lo itu stalker yang salah sasaran."

Arkan tertawa renyah, tawa yang kini bisa kudengar tanpa gangguan sinyal provider. Ia mengeluarkan sebuah buku sketsa baru dari tasnya. Di halaman pertama, ada gambar sebuah rumah dengan taman Daisy yang sangat luas di tengahnya.

"Selama di Jakarta, tiap kali gue stres sama tugas maket, gue gambar ini," Arkan menggeser buku itu ke arahku. "Ini bukan tugas kuliah. Ini draf kasar 'asuransi' masa depan kita. Gue mau bangun ini buat lo, buat Mama, dan buat Pandu kalau dia nanti nggak laku-laku dan butuh tumpangan kamar."

Aku tertawa mendengar nama Kak Pandu dibawa-bawa. "Lo udah mikirin sejauh itu?"

"Arsitek itu harus visioner, Nara," Arkan meraih tanganku di atas meja, menggenggamnya erat. "Dua tahun ini bukti kalau tembok lo bukan cuma runtuh, tapi udah gue bangun ulang jadi istana. Gue nggak akan biarin satu bata pun lepas lagi."

Sepanjang sore, kami bercerita tentang banyak hal—tentang dosennya yang galak di Jakarta, tentang ambisiku untuk masuk jurusan Farmasi, hingga tentang Kak Pandu yang ternyata diam-diam sering curhat pada Arkan kalau dia merindukan adik sepupunya yang dulu ceria sebelum Ayah pergi

"Ra," panggil Arkan saat kami berjalan menuju parkiran di bawah payung yang sama. "Makasih ya udah nggak nyerah sama jarak. Makasih udah nunggu asuransi lo balik ke Solo."

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya yang kini terasa lebih lebar dan kokoh. "Makasih juga udah tetep ngetuk pintu gue meski gue berkali-kali pasang gembok, Kan."

Kencan kedua ini terasa lebih tenang. Tidak ada lagi ketakutan akan "pajak kebahagiaan". Karena di samping Arkan, aku sadar bahwa bahagia itu bukan jebakan, melainkan pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari. Dan aku, Nara, memilih untuk terus berjuang bersama Arkan 

Hujan semakin deras saat kami sampai di dalam mobil. Arkan tidak langsung menyalakan mesin. Ia memutar tubuhnya, menatapku dengan binar mata yang lebih tenang, namun penuh dengan emosi yang tertahan selama setahun ini.

"Ra," panggilnya lembut. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan perhiasan mewah, melainkan sebuah gantungan kunci miniatur bola basket yang sudah agak kusam warnanya.

"Lo inget ini?" tanyanya.

Aku mengernyitkan dahi sejenak, lalu mataku membelalak. "Itu... ban kapten lo? Bukan, ini mainan yang ada di tas basket lo pas kita pertama kali ketemu?"

Arkan mengangguk. "Ini jimat keberuntungan gue. Pas gue di Jakarta, tiap kali gue ngerasa mau menyerah sama tugas studio yang gila, gue pegang ini sambil bayangin lo lagi nunggu gue di Solo. Gue sadar satu hal, Nara. Bangunan sehebat apa pun kalau nggak ada isinya, cuma bakal jadi tumpukan semen yang dingin."

Ia meraih tanganku, lalu meletakkan miniatur itu di telapak tanganku. "Gue mau lo pegang ini. Ini bagian terakhir dari 'asuransi' gue yang belum gue kasih ke lo. Hati gue yang paling konyol, yang paling ambisius, dan yang paling bucin. Sekarang semuanya resmi ada di tangan lo."

Aku menggenggam miniatur itu, merasakan permukaannya yang kasar namun memberikan kehangatan yang luar biasa. "Gue nggak punya gedung buat lo, Arkan. Gue cuma punya diri gue yang masih belajar buat berani."

"Itu udah lebih dari cukup, Ra," Arkan mendekatkan wajahnya, mengecup keningku lama. Harum parfumnya yang maskulin bercampur dengan aroma hujan di luar menciptakan memori baru yang kini tidak lagi terasa menyesakkan.

Sepanjang perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara, tapi tangan kami saling bertautan di atas gear stick mobil. Lagu-lagu indie yang terputar di radio mobil seolah menjadi backsound sempurna untuk momen ini. Aku menatap keluar jendela, melihat jalanan Solo yang basah, menyadari bahwa aku tidak lagi takut pada rintik hujan.

Sesampainya di depan pagar rumah, kulihat Kak Pandu sedang berdiri di teras sambil bersedekap, menatap jam tangannya dengan gaya sok tegas—persis seperti sersan penjaga.

"Tepat waktu, Capt!" seru Kak Pandu saat Arkan menurunkan kaca jendela. "Gue udah mau lapor polisi tadi, takut adek gue lo bawa kabur ke Jakarta beneran."

Arkan tertawa lebar. "Sabar, Ndu. Nanti kalau gedungnya udah jadi, baru gue bawa kabur izinnya!"

Aku turun dari mobil, menatap Arkan sekali lagi sebelum ia pergi. "Hati-hati di jalan, Kan. Jangan lupa telepon kalau udah sampai rumah."

"Siap, Tuan Putri!" Arkan memberi hormat dengan jari telunjuk di pelipisnya, lalu melajukan mobilnya menjauh.

Aku melangkah masuk ke teras, disambut oleh rangkulan bahu dari Kak Pandu. "Gimana? Asuransinya makin mantap?"

"Lebih dari mantap, Kak," jawabku sambil tersenyum lebar.

Malam itu, di bawah selimut, aku tidak lagi mencium aroma parfum Arkan dengan rasa takut kehilangan. Aku menciumnya dengan keyakinan bahwa besok, lusa, dan selamanya, dia akan selalu ada. Ketakutan akan "pajak kebahagiaan" itu benar-benar telah sirna, digantikan oleh rasa syukur karena aku memiliki Arkan—arsitek hatiku yang tak pernah lelah membangun kembali apa yang pernah runtuh.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!