Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terombang-ambing
Pagi-pagi sekali Vallerie merasa kesal karena bingung harus membawa atau meninggalkan adiknya. Vallerie harus bekerja, tidak mungkin membawa anak kecil, yang ada nanti dikira anaknya. Kalau ditinggal juga tidak mungkin, Vallerie akan pulang sore, siapa yang mengurus makannya nanti.
Dengan berat hati Vallerie terpaksa membawa Hugo ke kantor. Berkali-kali Vallerie menghela nafas diperjalanan menuju kantor, dari dulu sampai sekarang, Freya memang hanya bisa merepotkan anaknya saja.
Lift terbuka setelah berbunyi ting, Vallerie berjalan pelan menuju ruangan nya dengan diikuti Hugo yang memakai tas mini bergambar hewan dan juga mainan dinosaurus di tangan nya.
Semua mata tertuju pada Vallerie karena untuk pertama kalinya dia membawa anak kecil.
Vallerie masuk kedalam ruangannya, lalu meminta Hugo duduk di sofa sedangkan dia meletakkan tasnya ke atas meja kerjanya. Vallerie mengambil iPad nya didalam laci dan segera menyerahkan nya kepada Hugo agar anak itu memiliki kegiatan.
"Aku pinjam kan ini, tapi jangan menganggu ku bekerja, jangan berisik. Mengerti?"Hugo mengangguk dan menerima iPad milik Vallerie.
[Ding! Tuan putri! Eleanor bertengkar lagi dengan Aleta di pantry. Masalah awalnya karena Aleta berani melawan Eleanor hingga membuat Eleanor murka dan kembali menghajar Aleta.]
Baru saja duduk di kursinya suara sistem sudah berisik, Vallerie menghela nafas panjang dan kembali berdiri dari duduknya. Sebelum keluar ruangan Vallerie memperingati Hugo untuk tidak kemana-mana dan cukup diam ditempatnya sekarang.
Dengan tergesa-gesa Vallerie berlari kecil menuju Pantry, saat tiba di sana. Benar saja, Eleanor tengah menjambak rambut Aleta yang terduduk dilantai. Melihat itu Vallerie berdiri di pintu sambil menghela nafas jengah. Dasar Eleanor bodoh, tidak tau kah dia, itu trik Aleta agar dia kembali seperti dulu. Batin Vallerie.
Vallerie menggeleng cepat. Dia harus menghentikan Eleanor sebelum Dominic datang dan kembali iba dengan Aleta.
Vallerie menarik lengan Eleanor hingga membuat wanita itu berdiri. "Elea! Kita sudah sepakat untuk tidak meladeni wanita itu, kenapa kamu malah kembali menyerangnya?"kesal Vallerie.
"Vallerie! Kamu tidak tau saja apa yang dia katakan pada ku! Dia mengatai aku murahan karena mengejar Dominic, siapa yang tidak marah!"teriak Eleanor berapi-api.
Vallerie diam menatap Aleta yang menangis dibawah kaki Eleanor, padahal di cerita Aslinya Aleta benar-benar baik dan polos, kenapa sekarang sepertinya berbeda?
Dengan kesal Eleanor menendang kaki Aleta.
Vallerie yang melihat itu menarik Eleanor sedikit menjauh. "Aku tau, pasti dia sengaja, Elea! Akhir-akhir ini Dominic sudah mulai melirik mu lagi, kamu mau nanti Dominic kembali membenci mu karena perempuan itu?"
Eleanor diam lalu menggeleng pelan. "Makanya, kamu harus menjaga emosi mu."
Vallerie beralih menatap Aleta yang masih duduk di lantai. "Aleta, kamu berdiri. Jangan mentang-mentang kamu kekasih Dominic, kamu bisa seenaknya mengatai Eleanor murahan."
Aleta berdiri sambil menunduk dengan Isak tangis yang masih tertinggal. "Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya tidak mau Eleanor terus mengganggu hubungan kami."
Mendengar itu Vallerie dan Eleanor berdecih. "Hubungan mu dengan Dominic seperti apa sih? Kenapa kamu harus takut Elea merebutnya? Atau..."Vallerie menggantung kata-katanya. "Atau kamu tau dia tidak mencintai mu, kamu tau dia hanya kasihan padamu?"
Aleta terpaku, dia dengan cepat menggeleng. "Tidak! Aku yakin dia mencintai ku."ucapnya dengan gelisah.
Vallerie dengan Eleanor menaikkan sebelah alisnya melihat ketegangan Aleta, kenapa respon nya berlebihan sekali? Pikir mereka.
"Sudahlah, cinta atau tidaknya Dominic padanya, biar waktu yang menjawab."ucap Eleanor dan beranjak pergi meninggalkan Aleta yang menunduk dan Vallerie menatap datar Aleta.
★★★
Vallerie menatap pergelangan tangan nya untuk melihat jam, sudah menunjukkan waktu makan siang. Vallerie beralih menatap adiknya yang malah tertidur disofa dengan iPad di pangkuannya.
Vallerie menghela nafas panjang, karena Hugo langkahnya menjadi sulit. Dia belum pernah mengurus anak kecil sebelumnya, malah harus disuruh mengurus adiknya.
Ponsel Vallerie bergetar, tanpa menunggu lama Vallerie langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?"tanya Vallerie datar.
"Aku di lobby, turun."Vallerie mengerutkan dahinya.
"Mau apa lagi?"
"Lupa dengan janji mu?"Vallerie menghela nafas panjang saat teringat janjinya dengan Vernandes.
Vallerie diam menatap adiknya, bagaimana mungkin dia meninggalkan adiknya sendirian disini.
Tepat saat itu, pintu ruangan Vallerie terbuka, Eleanor masuk dengan langkah anggunnya. Dalam langkahnya menuju meja Vallerie matanya terus menatap Hugo.
"Val? Tumben Hugo bersama mu."tanya Eleanor saat sudah berada dihadapan Vallerie.
Vallerie tersenyum penuh arti melihat itu. "Kebetulan sekali kamu disini, aku titip Hugo ya, ada urusan mendadak."dengan tergesa-gesa Vallerie berdiri dari duduknya lalu menyambar tasnya dengan ponsel masih di telinga nya.
Eleanor yang melihat itu mematung, dia menatap kepergian Vallerie dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut.
"Vallerie! Aku tidak bisa mengurus anak kecil!"teriak Eleanor dengan kesal.
***
Eleanor melangkah menuju ruangan Dominic dengan menggandeng tangan Hugo yang ternyata cukup nurut kepadanya, apa pun perkataan Eleanor dia akan menurut, padahal Eleanor termasuk orang asing baginya walaupun sudah beberapa kali bertemu dirumah Dominic.
Eleanor berjongkok saat tiba didepan pintu ruangan Dominic. "Nanti didalam Hugo tidak boleh berisik ya? Kita main disini sama Kak Nic"
Hugo hanya mengangguk patuh, Eleanor tersenyum kecil sambil berdiri dari jongkoknya.
Tanpa menunggu lama mereka masuk kedalam ruangan Dominic. Terlihat Dominic tengah duduk di kursi kebesarannya dengan beberapa berkas-berkas di hadapan nya.
"Nic, sudah waktunya makan siang."ucap Eleanor saat tiba dihadapan Dominic dengan Hugo yang masih dalam bimbingan nya.
Dominic melirik Elea sekilas. "Aku tau, Aleta sudah pergi membeli makanan."jawabnya seadanya.
"Kenapa dia repot-repot pergi, kan bisa delivery saja."
Dominic menaikkan bahu pertanda tidak tahu.
Eleanor terdiam cukup lama, lalu kembali membuka suara. "Nic, aku main dengan Hugo disini ya."
Dominic yang mendengar itu melirik Eleanor kembali, dan beralih melirik Hugo yang tingginya hanya semejanya. "Kenapa dia bisa bersama mu?"tanya Dominic penasaran.
"Tau tuh, Vallerie tiba-tiba saja menitipkan Hugo padaku, dia pergi entah kemana."ucap Eleanor sedikit kesal.
Dominic mengangguk mengerti, dan berdiri dari duduknya. Dia menuntun Eleanor dan Hugo menuju sofa panjang didepan meja kerjanya.
Dominic menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, sedangkan Eleanor membiarkan Hugo yang duduk diam saat Eleanor memintanya duduk disofa disebelahnya.
"Adik Vallerie cukup penurut tau, Nic. Dari tadi dia tidak menangis sama sekali." Dominic mengangguk, matanya menatap Eleanor dan Hugo yang ada disebelahnya.
"Kakak... Lapar."ucap Hugo akhirnya membuka suara.
Eleanor yang mendengar itu tersenyum kecil. "Hugo lapar?"tanya nya yang di angguki Hugo.
"Hugo mau makan apa, biar kakak pesankan."tanya Eleanor lagi.
Hugo menggeleng kecil. "Hugo tidak pemilih, Hugo suka semua makanan."jawabnya.
Eleanor beralih menatap Dominic yang ada disebelahnya untuk meminta bantuan, dia tidak tahu makanan untuk anak kecil. Dominic yang pastinya tidak tahu hanya memalingkan wajahnya, tidak mau menatap wajah memohon Eleanor.
Eleanor menghela nafas panjang, dia beralih mengambil buah apel yang ada di atas meja Dominic, lalu melap nya dengan tisu.
"Hugo makan ini dulu untuk mengganjal laparnya ya."ucap Eleanor sambil mengupas apel nya.
Hugo hanya mengangguk dengan mainan dinosaurus di pangkuannya.
Semua kegiatan Eleanor tidak luput dari pandangan Dominic, saat mengurus Hugo, Eleanor menjadi orang yang berbeda, dia begitu lembut dan ramah kepada anak kecil. Berbanding terbalik saat dia dengan Aleta, pasti Eleanor akan tantrum.
Tanpa sadar sudut bibir Dominic terangkat saat melihat Eleanor mengerjai Hugo dengan pura-pura menyapihnya, tapi apel yang sudah dikupas itu beralih ke mulutnya, yang anehnya Hugo malah tertawa melihat tingkah Eleanor.
Dominic seperti melihat Eleanor yang dulu, Eleanor yang perhatian, Eleanor yang baik, Eleanor yang manja kepadanya. Semenjak kehadiran Aleta, Eleanor berubah total, Dominic seperti tidak mengenalnya lagi.
"Elea..."Panggil Dominic membuat Eleanor menghentikan tawanya lalu menatap Dominic.
Eleanor memberikan apelnya kepada Hugo, lalu sepenuhnya memperhatikan Dominic disebelahnya.
"Ada apa?"tanya nya.
"Aku ingin lihat kamu yang dulu."ucap Dominic tiba-tiba, membuat Eleanor terpaku. Tangan Eleanor terkepal kuat menahan gejolak aneh dihatinya.
"Aku yang seperti apa? Yang tidak emosian?"tanya Eleanor mampu membuat Dominic terdiam. "Nic, selama ini aku seperti ini kamu pernah tau kenapa?"
"Aku tau, karena Aleta kan?"jawabnya.
"Bukan karena Aleta aja Nic, tapi kamu juga. Padahal kamu tau, kamu sadar selama ini aku cemburu, dari kecil kita bareng-bareng, kamu selalu perhatian kepada ku, bahkan melihat aku lecet saja kamu tidak bisa." Eleanor mendekatkan wajahnya sedikit kepada Dominic dengan mata berkaca-kaca, berharap Dominic akan paham dengan isi hatinya. "Apa tidak ada sedikit saja itu dihatimu? Apa cuma aku yang merasakannya?"
Dominic terpaku, dia meneguk silvanya dengan susah payah karena wajahnya dengan Eleanor begitu dekat.
Karena tidak ada jawaban, Eleanor menjauhkan wajahnya. "Sudahlah, benar kata Vallerie, cinta tidak bisa dipaksa. Seperti yang pernah aku bilang..." Eleanor menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa lalu melirik Dominic cukup lama.
"Aku menyerah."lanjut Eleanor.