NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:20.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Ki Lurah Damanik terdiam sejenak. Ia menimbang dengan saksama setiap kata yang baru saja didengarnya. Ia tahu betul, kemampuan para pengawalnya belum cukup untuk menghadapi ancaman sebesar itu. Jika benar ada ratusan orang bersenjata berkemah di timur Hutan Jagabodas, maka ini bukan lagi urusan satu desa.

Akan lebih bijak jika perkara ini segera dilaporkan kepada Ki Demang Antasena. Selain meminta bantuan pasukan khusus Pajajaran yang bermarkas di kademangan, langkah itu juga akan membuat situasi ini tercatat secara resmi. Terlebih lagi, perwira pasukan khusus tersebut memiliki jalur langsung ke istana di Pakuan Pajajaran. Jika keadaan memburuk, bantuan dari pusat bisa segera digerakkan.

“Ki Baraya,” ujar Ki Lurah akhirnya dengan suara mantap, “aku rasa aku harus berangkat ke kademangan sekarang juga. Akan lebih baik bila pasukan khusus itu turun langsung untuk mengintai. Wilayah ini masih berada di bawah kuasa Pajajaran, termasuk Hutan Jagabodas yang selama ini dilindungi.”

Ki Baraya mengangguk pelan.

“Itu keputusan yang tepat, Ki Lurah. Semakin cepat bergerak, semakin baik. Jangan beri mereka waktu menyusun kekuatan lebih besar.”

Ia melangkah mundur satu langkah sebagai tanda pamit.

“Kalau begitu, aku mohon diri. Bila nanti Ki Lurah memerlukan bantuanku lagi, kirimlah orang ke rumahku. Aku akan selalu siap.”

Ki Lurah menatapnya dengan penuh harap, sekaligus kecemasan yang belum sepenuhnya sirna.

Malam terasa semakin berat.

Keputusan telah diambil.

Kini tinggal menunggu… apakah fajar esok membawa bala bantuan—atau justru bara peperangan.

Hari itu, bersama para pengawalnya, Ki Damanik berangkat menuju Kademangan Damarjati. Sementara itu, Ki Baraya kembali ke rumahnya dengan langkah cepat, pikirannya masih dipenuhi rencana dan kemungkinan terburuk.

Namun alangkah terkejutnya ia ketika tiba di halaman rumah.

Pasukan tuyul telah mengepung kediamannya.

Di bawah cahaya senja yang mulai redup, tampak Jatisangkar dan Laras bertempur mati-matian. Bahkan Nyi Lestari pun ikut melawan. Senjata mereka bukan keris atau tombak, melainkan apa saja yang ada di tangan—sapu lidi, kayu bakar, hingga penggorengan besi dari dapur.

Beberapa tuyul mengerubungi Laras. Gadis itu mengayunkan sapunya tanpa pola silat yang jelas, sekadar bertahan. Namun perlahan, kabut tipis mulai menyelimuti sekelilingnya. Kabut itu makin lama makin tebal, membasahi udara dengan embun dingin.

Para tuyul mendadak kebingungan.

Mereka bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga menggigil. Unsur air yang mulai terbangun dalam diri Laras, meski belum sepenuhnya terlatih dan belum disalurkan lewat tenaga dalam yang sempurna, telah cukup untuk menahan mereka. Kabut embun itu membuat tubuh-tubuh kecil mereka terasa membeku.

Berbeda dengan Jatisangkar.

Di sekeliling pemuda itu bukan kabut embun yang tercipta, melainkan kabut debu. Tanah yang ia injak bergetar setiap kali kayu bakar dihantamkan ke tanah. Debu beterbangan, bercampur bara api yang menyala. Para tuyul yang menyerangnya kelilipan, sementara percikan bara yang bercampur debu panas membuat kulit mereka terasa seperti terbakar.

Jerit-jerit kecil terdengar bersahutan.

Namun yang paling genting adalah keadaan Nyi Lestari.

Ia tak memiliki ilmu kanuragan ataupun ajian pelindung. Beberapa tuyul kecil telah bergelantungan di tubuhnya, mencakar dan menggigit tanpa ampun. Meski begitu, ia tidak menyerah.

“Plang! Plang! Plang!”

Suara penggorengan besi menghantam kepala-kepala botak itu bergema di halaman. Satu dua tuyul terpental dengan benjolan besar di kepala mereka.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Beberapa telah menggigit kaki Nyi Lestari hingga ia hampir terjatuh.

Melihat itu, darah Ki Baraya mendidih.

Ia tak tinggal diam.

Dengan satu gerakan cepat, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, merapalkan mantra pendek yang tajam. Lalu ia menarik napas dalam dan menyemburkannya ke arah kerumunan tuyul.

Dari mulutnya menyembur asap hitam pekat.

Asap itu melesat seperti makhluk hidup, menyelimuti para tuyul yang mengeroyok istrinya. Mereka terbatuk-batuk keras, tubuh mungil mereka gemetar. Beberapa memuntahkan darah hitam sebelum terpental dan berguling menjauh.

Dalam hitungan detik, kepungan di sekitar Nyi Lestari pun buyar.

Mata Ki Baraya kini menyala oleh amarah.

Dan bagi para tuyul yang tersisa… malam itu berubah menjadi mimpi buruk.

1
culuns
elek
Wilson
👍
Wilson
cerita yg bagus mantap
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
saya rimba
bagus
👁Zigur👁: terima kasih 🙏
total 1 replies
Kasara Edsel
"angaaak hooo"😄👍
ibarumbung
luar biasa
👁Zigur👁: terimakasih 🙏🙏
total 1 replies
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!