Katarina Ayudia adalah siswi genius penerima beasiswa yang hidup sederhana, sementara Alarick Valerius adalah putra tunggal konglomerat sekaligus ketua geng motor yang ditakuti. Cinta mereka yang membara harus menghadapi tembok besar bernama Victoria Valerius, ibu Alarick, yang merancang fitnah keji untuk memisahkan mereka. Victoria mengancam masa depan Kate dan memanipulasi Alarick hingga pria itu percaya bahwa Kate adalah gadis oportunis yang telah mengkhianatinya dengan banyak pria.
Perpisahan pahit selama bertahun-tahun meninggalkan luka mendalam, Kate hidup dalam kemiskinan dan kerja keras demi bertahan hidup, sementara Alarick tumbuh menjadi CEO dingin yang menderita trauma psikologis berupa rasa mual hebat setiap kali menyentuh Kate karena bayangan fitnah masa lalu.
langsung baca aja dear😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyatuan di Atas Luka
Berita pengakuan Andrea di depan media massa seolah menjadi bom atom yang meluluhlantakkan kedamaian di kediaman Valerius-Sterling.
Alarick dan Kate, yang selama ini membesarkan Andrea dengan perlindungan ekstra, duduk di ruang kerja mereka dengan wajah yang menegang. Atmosfer di ruangan itu begitu berat, hanya ada suara detak jam dinding yang seakan menghitung mundur ledakan amarah Alarick.
Andrea masuk dengan langkah tetap anggun, tidak ada setetes pun air mata atau gurat penyesalan. Ia berdiri di depan meja ayahnya, menatap lurus ke dalam mata pria yang paling ia takuti sekaligus ia hormati di dunia ini.
"Siapa laki-laki itu, Andrea?" Alarick bertanya, suaranya rendah namun bergetar, pertanda badai besar sedang tertahan di tenggorokannya. "Siapa laki-laki pertama yang berani menyentuh putriku tanpa ijin dariku? Siapa bajingan yang sudah mengambil kehormatanmu sebelum altar?"
Kate hanya bisa memegang tangan Alarick, mencoba meredam emosi suaminya, meski matanya sendiri memancarkan luka yang mendalam.
Andrea menarik napas panjang, lalu dengan kelantangan yang tak tergoyahkan, ia menjawab, "Dia Xavier, Ayah. Xavier Cavanough."
Darah Alarick seolah mendidih seketika. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci mobilnya dan keluar dari rumah dengan kecepatan penuh. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, Xavier Cavanough. Bukan Aldrian si pengkhianat, melainkan keponakannya yang selama ini tampak diam namun ternyata telah melakukan hal paling nekat di belakang punggungnya.
Alarick menyerbu masuk ke gedung Cavanough Group. Para staf tidak ada yang berani menghalangi saat melihat aura membunuh dari CEO Valerius Group tersebut. Ia menendang pintu kantor ruang kerja Xavier hingga terbuka lebar.
Xavier, yang sedang memeriksa laporan di balik meja kerjanya, berdiri dengan tenang. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi sejak Andrea mengeluarkan pernyataan itu di depan media.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat telak di rahang Xavier. Pria muda itu tersungkur ke lantai, namun ia tidak mengeluarkan suara. Alarick tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Xavier dan melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah dan perutnya.
Xavier tidak menghindar, tidak pula mencoba membalas. Ia menerima setiap hantaman itu sebagai bayaran atas apa yang telah ia lakukan di malam pengantin Andrea.
"Kenapa darah Cavanough begitu pengecut?!" raung Alarick sambil mencengkeram leher Xavier. "Kamu meniduri anakku tanpa ikatan janji suci di depan altar?! Kamu mengambil apa yang paling berharga darinya tanpa keberanian untuk meminta ijin dariku?!"
Alarick melepaskan cengkeramannya, napasnya memburu. Ia menatap Xavier yang kini babak belur dengan darah segar mengalir dari bibirnya. "Aku tidak memukulmu karena kamu mencintainya. Aku memukulmu karena kamu tidak memiliki nyali untuk membawanya ke altar secara terhormat sebelum menyentuhnya! Kamu memperlakukannya seolah dia wanita yang bisa kamu ambil kapan saja!"
Xavier tertegun di lantai. Ia cukup kaget. Di balik kemarahan membabi buta itu, ia baru menyadari satu hal, Alarick tidak membencinya karena menyukai Andrea, melainkan karena ia melompati adat dan kehormatan yang selama ini dijunjung tinggi keluarga Valerius.
Alarick hanya meminta sebuah kepastian, sebuah ikrar suci yang mengikat.
Alarick merapikan jasnya yang sedikit berantakan. "Jika kamu benar-benar pria, datanglah ke rumahku dengan cara yang benar. Bukan dengan cara seperti pencuri di malam hari." Setelah itu, Alarick berbalik dan keluar, meninggalkan kesunyian yang mencekam.
Setelah kepergian Alarick, Xavier masih terduduk di lantai kantornya. Ia mengusap darah di sudut bibirnya, merasakan nyeri yang menjalar di seluruh wajahnya.
Namun, ada senyum tipis di wajahnya yang hancur itu. Ia merasa hutang dosanya sedikit terbayar.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja dan menekan nomor Andrea.
"Hey, Sayang..." suara Xavier terdengar parau dan berat.
Di seberang telepon, Andrea yang sedang menunggu dengan cemas langsung menyahut, "Xavier? Suaramu... apa yang terjadi?"
Xavier tertawa kecil, meski itu membuatnya meringis kesakitan. "Ayahmu baru saja memberiku pelajaran yang sangat mahal. Aku sudah mendapatkan pukulan karena memperkosamu di malam itu. Wajahku berantakan, Andrea. Tulang rusukku rasanya ada yang bergeser."
Andrea terdiam sejenak. Ia bisa membayangkan betapa ngerinya amarah ayahnya. Namun, bukannya merasa bersalah, Andrea justru merasakan gelenyar gairah yang aneh saat menyadari Xavier mau menerima semua itu demi dirinya.
"Kemarilah, Sayang..." bisik Andrea, suaranya berubah menjadi rendah dan penuh damba. "Datanglah ke apartemenku. Aku akan mengobati lukamu. Aku menginginkanmu sekarang juga."
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Xavier untuk sampai di apartemen Andrea. Saat pintu terbuka, Andrea tersentak melihat kondisi Xavier yang babak belur, namun matanya memancarkan rasa haus yang luar biasa.
"Ayah benar-benar menghajarmu," gumam Andrea sambil menyentuh memar di pipi Xavier dengan lembut.
"Ini belum sebanding dengan apa yang ingin aku berikan padamu," balas Xavier, menarik pinggang Andrea hingga tubuh mereka menempel tanpa celah.
Andrea tidak mempedulikan luka-luka itu. Baginya, Xavier yang berlumuran darah setelah dihajar ayahnya justru terlihat jauh lebih jantan daripada Aldrian yang berpura-pura baik. Andrea menarik kepala Xavier dan menciumnya dengan liar, mengabaikan rasa besi dari darah yang masih menempel di bibir pria itu.
Malam itu, mereka kembali larut dalam pergulatan yang jauh lebih intens. Xavier bergerak dengan penuh tenaga, seolah ingin membuktikan pada Alarick melalui raga Andrea bahwa ia bukanlah pengecut. Ia mencintai Andrea dengan cara yang kasar namun penuh pemujaan.
Andrea mendesah hebat, menyebut nama Xavier berulang kali, menikmati setiap rasa sakit dan kenikmatan yang bersatu.
Di tengah gairah yang memuncak, Xavier membisikkan sesuatu di telinga Andrea.
"Besok... aku akan datang ke rumah Ayahmu. Aku akan membawamu ke altar, Andrea. Aku tidak akan membiarkan siapa pun lagi mengatakan bahwa aku mencurimu."
Andrea hanya bisa mendekap punggung Xavier erat-erat, membiarkan pria itu memilikinya seutuhnya. Malam itu, bukan hanya raga yang menyatu, tapi juga sebuah janji yang lahir dari darah dan amarah. Andrea tahu, setelah badai ini, ia akan menjadi milik Xavier secara mutlak, di depan manusia, dan di depan Tuhan.
🌷🌷🌷
Happy reading Dear😍