Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Ke pernikahan mantan pacar
"Kamu jadi mau nemenin aku ke pernikahannya Doni sama Nita?" tanya Amel pagi itu ketika dia dan Revan baru bangun dari tidur mereka.
"Ney, dapetnya udah bersih belum?" tanya Revan malah menanyakan sesuatu yang bikin Amel melotot.
"Belum bersih, Van!" jawab Amel sambil menyembunyikan tawanya.
Padahal sudah dari tiga hari lalu datang bulan Amel sudah berhenti, tapi Amel sengaja menyembunyikan fakta itu.
"Kok udah nggak pakai pembalut?" tanya Revan membuat Amel melotot tak percaya.
"Dari mana tahu udah nggak pakai pembalut?" Amel curiga pasti Revan memeriksa keadaan Amel saat Amel tertidur lelap.
"Kemarin aku pegang itu panttat kamu, kamunya nggak pakai pembalut!" jawab Revan santai.
"Revan ih, mesum!" omel Amel sambil bangun dari rebahannya.
"Mau kemana?" Revan menahan tangan Amel.
"Mau pipiss!" jawab Amel langsung loncat dan berlari ke kamar mandi.
Amel dan Revan sudah seminggu lebih tidur di ranjang yang sama, rasa canggung mulai terkikis seiring kebersamaan mereka yang selalu bersama.
Amel masuk kembali ke kamarnya untuk mengambil baju salin, Amel hendak membersihkan diri.
Revan kembali menarik Amel dan mengukungnya di bawah badannya yang besar.
"Menolak suami itu haram hukumnya lho, Ney!" bisik Revan dengan suara baritonnya yang seksi.
Amel selalu terhipnotis saat mendengar Revan berbicara dengan nada rendah itu.
Amel membelai wajah tampan Revan itu. Dengan senyum merekah Amel melabuhkan kecupannya ke pipi pria berstatus suami itu.
Seperti mendapat lampu hijau dari Amel, Revan pun mulai mengakuisisi bibir tipis Amel.
Mereka mencecap dan saling membelit seolah ada magnet yang tertanam dalam bibir mereka.
Meskipun bisa dibilang Amel itu amatiran tapi sejak dia mengenal Revan, Amel mulai pandai membalas ciuman itu.
"Kamu cantik banget, aku suka kalau kamu lagi begini!" bisik Revan membuat wajah Amel tersipu malu.
Revan kembali mencecap bibir manis Amel dan tangannya mulai bergerilya kemana-mana, bahkan tangan itu sanggup meloloskan satu persatu piyama yang dipakai oleh Amel hingga tak ada satu benangpun yang menempel di tubuh Amel.
Amel menggigit bibirnya pelan karena merasakan gairah yang kembali kepermukaan.
Revan kembali mengagumi tubuh seksi Amel yang pernah dilihatnya sekali waktu itu.
Jantung Revan berdegup lebih kencang saat menyaksikan tubuh polos Amel yang begitu indah.
Revan mencecap kedua bukit indah itu dengan gemas, bermain-main disana untuk beberapa saat lamanya lalu mata Revan tertuju ke pertigaan di bawah sana.
Pertigaan yang terawat yang sejak seminggu lalu membuat pikiran Revan terus mengelana dan penasaran ingin menjamahnya.
Revan mengecupnya sekali lali dia mulai memposisikan diri. Amel membuka matanya dan keduanya saling bersitatap dengan intens.
"I love you!" bisik Revan sambil mencoba membuka portal yang masih tersegel itu.
"Argggggg! Sakit, Van!" Amel menjerit saat Revan mencoba membuka portal itu dengan paksa.
Amel mendorong bahu Revan saat Revan tetap memaksa menjebolnya.
"Hiks, hiks, sakit!" bisik Amel lagi.
Revan menahan pinggulnya dan menunggu Amel menyesuaikan diri sebelum Revan melesakkan senjatanya lebih ke dalam lagi.
"Argggggg!" Amel meringis saat Revan menghentakkan pinggulnya hingga senjatanya terbenam sempurna di inti Amel.
Amel memejam dan mencoba menguasai diri lalu dia merasakan Revan mulai memaju mundurkan pinggulnya.
Namanya juga masih minim pengalaman hingga aktivitas itu tak membutuhkan waktu lama sampai Revan mencapai puncaknya.
Revan memuntahkan calon anak-anaknya ke dalam rahim Amel lalu dia mencabut senjata itu secara perlahan.
Revan tersenyum bangga saat melihat senjatanya berlumur dengan darah milik Amel itu.
Revan tahu Amel ternyata memang menjaga diri sebaik itu. "Masih sakit?" tanya Revan saat Amel tidur miring sambil ketap-ketip.
"Jahat tahu, udah dibilangin sakit masih maksa masuk juga!" keluh Amel.
"Habis pengen banget, Ney! Aku udah nahan seminggu lebih lho!" ucap Revan sambil melabuhkan ciuman ke pelipis Amel.
"Tapi nggak harus maksa kayak gitu juga kalik! Ngeselin banget deh!" ucap Amel masih kesal karena ngilu dan perihnya masih terasa di bawah sana.
"Nanti malem jam berapa ke kawinannya si Bangsad itu?" tanya Revan membuat Amel mendelik mendengar nama yang disematkan suaminya untuk lelaki mantan pacar Amel itu.
"Acaranya jam tujuh!" jawab Amel.
"Oke aku temenin!" Revan mengangguk.
"Nanti agak siangan kita ke butik cari baju couplean!" usul Amel.
"Nggak usah dandan terlalu cantik, cantiknya kamu cuman aku yang boleh lihat!" ucap Revan.
"Justru aku harus dandan secantik mungkin, biar dia tahu sama kamu aku bisa bahagia dan semakin cantik!" ucap Amel santai.
Revan mendelik tak setuju. "Nggak usah posesif, aku lho udah kamu unboxing tadi, mau lari kemana juga udah nggak bisa lagi!"
"Sekali lagi deh kalau gitu!"
Mereka pun melakukan hal itu sekali lagi, Revan melakukan hal itu dengan sangat lembut kali ini, Revan tak ingin menyakiti Amel.
Malam harinya Amel dan Revan pergi ke acara pernikahan Doni dan Nita. Ada bersama mereka, Sasi yang datang bersama pacarnya.
"Dih efforts banget dateng ke acaranya si mantan, mana bajunya couple-an lagi!" ledek Sasi saat melihat Amel dan Revan memakai baju couple dengan nuansa batik berwarna kuning cerah.
"Kan gue kudu nunjukin kalau gue bahagia sama laki gue, Si!" sahut Amel santai sambil melirik Revan yang bercengkrama dengan Damar pacarnya Sasi.
"Iya juga ya, keren sih laki lo, Doni pasti bakalan nyesel udah selingkuh di belakang lo!" Sasi mengangguk setuju.
"Iya, gue tahu laki gue keren banget! Gue semakin kesemsem!" Amel mengangguk setuju.
Lalu keempatnya masuk ke dalam tempat acara tentu mereka jalannya dengan pasangan masing-masing.
"Awas ya kalau masih melototin mantan kamu itu!" tegur Revan saat mereka telah selesai menulis buku tamu dan memasuki venue dengan bergandengan tangan.
"Kita salaman aja ya, Ney, nggak usah makan takut kena sawan aku!" bisik Revan membuat Amel terkikik.
"Habis ini kita double date sama Sasi aja ya, Van!" ucap Amel.
"Kirain mau yang kayak tadi pagi lagi!" celetuk Revan.
"Udah dulu deh ya, aku masih nggak nyaman banget nih, ini aja aku usahain jalannya biar bisa biasa!"
"Ngapain jalannya dibiasain, jalan ngangkangg juga nggak papa biar dia tahu aku udah berhasil menembus portal yang kamu pasang!" sahut Revan sambil terkikik.
Mereka naik ke atas panggung, Amel menyalami kedua orang tua Doni yang hampir saja jadi mertua Amel.
"Selamat ya, Om, Tante, selamat bentar lagi mau punya cucu!" Amel dengan sopan menyalami kedua orang tua tersebut.
Kemudian Revan pun menjabat tangan keduanya setelah Amel. Keduanya lalu bergerak menuju ke Doni dan Nita yang ada di tengah-tengah pelaminan itu.
Doni tak menyangka Amel dan Revan bakalan datang ke acaranya. Doni kira Amel belum bisa move on dan memilih menolak undangannya.
"Selamat ya, Don, semoga samawa, bahagia dunia akhirat!" ucap Amel memberi selamat.
Revan menarik Doni ke dalam pelukannya. "Thanks, Bro! Thanks udah kasih cewek spesial itu ke gue! Priwin memang lebih ajib daripada wc umum!" ucap Revan membuat Doni meradang dan siap menghantam Revan dengan bogem mentahnya.
Nita menahan lengan Doni dan dengan gelengan pelan Nita meminta Doni agar tidak mengacaukan acara malam itu.