Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Keesokan harinya, fajar belum sepenuhnya menguasai langit saat Arga kembali berdiri di sana. Dari kejauhan, ia mematung, mengunci pandangannya pada sosok wanita yang sedang menyiram bunga di halaman.
Rambut hitamnya yang bergelombang jatuh dengan anggun di atas dress berwarna krem yang membalut tubuh rampingnya. Penampilan yang begitu lembut, begitu tenang,sangat kontras dengan penampilan Ayu saat jadi fotografernya dulu.
"Jadi, ini wajah aslimu yang sebenarnya, Rubah?" gumamnya dalam hati, terpesona sekaligus merasa asing.
Namun, dunia seolah berhenti berputar saat seorang anak laki-laki kecil berlari keluar dari dalam rumah sambil mendekap sebuah kapal mainan.
Napas Arga tertahan di kerongkongan. Detik itu juga, pertahanannya runtuh. Setetes air mata yang tidak ia undang mendadak jatuh, mengalir melewati pipinya yang kaku. Awalnya, Arga menyangkal habis-habisan laporan asistennya tentang "Putra Nyonya Jansen yang berusia empat tahun". Ia menganggap itu hanya bualan atau kesalahan data.
Namun, saat suara cempreng anak itu memecah keheningan pagi dengan panggilan, "Mimi!", dada Arga bergetar hebat. Getaran yang bukan lagi karena amarah, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan menyakitkan. Wajah kecil itu... sangat familiar. Terlalu mirip dengan bayangan cermin yang ia lihat setiap pagi.
Arga mengepalkan tangan di balik saku mantelnya, mencoba meredam gejolak yang nyaris meledak. Ia mengambil napas panjang, menatap tajam ke arah ibu dan anak di kejauhan sana.
"Aku pastikan..." bisiknya dengan suara serak yang bergetar. "Kalian berdua akan menjadi milikku. Selamanya."
Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan tempat itu dengan tekad yang kini jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
***
Arga memacu dirinya habis-habisan. Ia bekerja tanpa jeda, memastikan seluruh urusan bisnisnya di Amsterdam tuntas secepat mungkin. Pikirannya sudah melesat jauh melampaui benua; ada misi yang jauh lebih krusial daripada sekadar angka-angka saham,yaitu membawa pulang Ayu dan putranya ke tanah air.
Namun, sebagai pria dengan integritas tinggi, ia tak bisa begitu saja melepas tanggung jawab. Napas berat namun lega akhirnya terembus saat Arga membubuhkan tanda tangan terakhir pada dokumen kontrak di hadapannya. Selesai.
"Terima kasih, Mr. Alex. Senang bisa bekerja sama dengan Anda," ujar Arga dengan nada bariton yang mantap sembari menjabat tangan rekan bisnisnya.
"Sama-sama, Mr. Arga. Jika tidak keberatan, bagaimana kalau malam ini kita merayakannya dengan minum di club? Anda bersedia?" tawar Alex ramah.
Arga terdiam sejenak, tampak menimbang. Detik berikutnya, ia menggeleng pelan dengan senyum formal.
"Maaf, Mr. Alex. Bukannya saya bermaksud menolak niat baik Anda, tapi saya harus segera pulang. Saya ingin menghabiskan waktu dengan istri dan anak saya," jawab Arga tenang, namun sorot matanya menyimpan kilat posesif yang tersembunyi.
Alex membelalakkan mata, terkejut. "Wow, Anda sudah menikah?"
Arga menyeringai tipis,sebuah seringai yang sulit diartikan. "Sudah."
"Baiklah kalau begitu, saya tidak akan mengganggu waktu berharga Anda. Saya rasa saya juga akan menghabiskan malam ini bersama tunangan saya," balas Alex santai.
"Ah, jangan lupa kirimkan undangannya ke Indonesia jika kalian menikah nanti," tukas Arga basa-basi.
"Tentu! Kebetulan calon istri saya juga berdarah Indonesia."
"Oh, ya?" Arga menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik namun pikirannya tetap terbagi.
"Benar. Kapan-kapan akan saya perkenalkan. Dia wanita yang sangat cantik," puji Alex dengan binar bangga di matanya.
"Baiklah kalau begitu, Mr. Alex. Saya pamit dulu."
Setelah jabat tangan perpisahan, Arga melangkah pergi. Sosoknya yang tegap menyusuri koridor gedung yang dingin menuju deretan lift.
Ting!
Pintu lift terbuka. Arga melangkah masuk ke dalam kotak besi itu dengan pikiran yang dipenuhi rencana penjemputan paksa sang "rubah". Di saat yang bersamaan, tepat di lift sebelahnya, pintu berdenting terbuka.
Seorang wanita melangkah keluar. Kamera seolah melambat, menyorot sepasang high heels mahal yang mengetuk lantai granit dengan anggun, tepat saat pintu lift Arga tertutup rapat dan mulai bergerak turun.
Dua orang di dua lift yang berbeda, hanya terpisah oleh dinding beton, tanpa menyadari bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka.
*
Siang itu, matahari Amsterdam menggantung hangat. Arga melangkah keluar dari sebuah toko mainan dengan sebuah kotak besar di pelukannya,sebuah pesawat kendali jarak jauh (RC) model terbaru yang paling mewah. Langkahnya terasa ringan, bahkan ada binar ceria yang jarang terlihat di wajah dinginnya saat ia menuju taman di dekat kompleks perumahan elite itu.
Senyumnya mengembang saat menangkap sosok kecil yang ia cari. Anak itu sedang asyik dengan pesawat plastik kecilnya yang tampak sederhana. Arga mengatur napas, lalu melangkah menghampiri dengan gaya setenang mungkin.
"Mau main bersamaku? Aku punya pesawat yang jauh lebih besar," tanya Arga sembari menunjuk kotak di tangannya.
Anak itu mendongak, menyipitkan mata mungilnya yang sangat mirip dengan mata Arga. "Uncle siapa?" tanyanya polos namun penuh selidik.
"Anggap saja... aku temanmu," jawab Arga, mencoba melembutkan suaranya.
"Teman? Uncle sudah tua begini mau jadi temanku?"
Arga terhenyak. Mulutnya sedikit menganga, kehilangan kata-kata untuk sesaat. Dada Arga berdenyut,bukan karena marah, tapi karena tak menyangka akan "diserang" secepat ini.
"Sial kau, Ayu... bahkan anakku sendiri memanggilku tua. Apa yang sebenarnya kau ajarkan padanya?" gerutu Arga dalam hati, menahan gemas.
"Hei, Anak Kecil. Jangan panggil aku tua. Begini-begini, aku ini seusia Papamu," balas Arga tak mau kalah, mencoba membela harga dirinya.
Anak itu berkacak pinggang. "Hei, Uncle. Jangan panggil aku anak kecil. Lagipula, Uncle bukan Papaku."
"Kau...!"
Arga mengembuskan napas panjang. Menghadapi replika dirinya sendiri ternyata jauh lebih sulit daripada menegosiasikan kontrak jutaan dolar. Arga memutar otak, lalu mengubah taktik.
"Baiklah kalau tidak mau. Aku main sendiri saja," ujar Arga acuh tak acuh.
Ia duduk di bangku taman, lalu dengan sengaja membuka kotak dus tersebut perlahan. Begitu tutupnya terbuka, sebuah pesawat RC berwarna metalik yang elegan dan gagah terpampang nyata.
Mulut Geo langsung menganga lebar. Matanya berbinar-binar melihat mainan yang ukurannya tiga kali lipat dari miliknya. Ia belum pernah melihat yang sekeren itu seumur hidupnya.
"Wuaaaaa... besar sekali!" seru Geo spontan, kakinya tanpa sadar melangkah mendekat.
Arga melirik dari sudut matanya, menyembunyikan senyum kemenangannya. "Bagaimana? Masih tidak mau main dengan Uncle 'Tua' ini?"
Geo mengangguk cepat, egonya luruh seketika demi pesawat megah itu. "Mau! Aku mau!"
Argapun akhirnya tersenyum penuh kemenangan...
"Kena kau,selanjutnya aku harus menaklukan ibumu yang sok tau itu."Bisik Arga dalam hati.
Bersambung....
Mirip ya Arga dan Geo?
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it