NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Titik Balik yang Mematikan

Pagi itu, kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu neon memantulkan bayangan Aruna di lantai marmer, sementara ia berjalan menuju lift dengan langkah mantap tapi hati berdebar. Malam sebelumnya, data yang diamankan sudah dianalisis berkali-kali, namun ancaman baru selalu muncul dari arah yang tak terduga.

Ponselnya bergetar. Nama Calvin muncul di layar.

“Sudah siap?” bunyi pesannya singkat.

Aruna mengetik balasan cepat:

Selalu siap.

Sesaat kemudian, lift menutup pintu, dan perjalanan ke lantai direktur dimulai. Ia menatap pantulan dirinya di pintu lift, wajah yang tampak tenang tapi sarat waspada. Ia tahu, setelah apa yang terjadi kemarin, hari ini bukan lagi soal menjaga posisi. Ini tentang mengambil kendali.

Di ruang direktur, Calvin sudah menunggu, tangan di saku celana, pandangan lurus menatap jendela besar yang memperlihatkan kota. Suasana di sana seperti medan tempur yang menunggu komando.

“Kita punya dua masalah besar,” kata Calvin tanpa basa-basi saat Aruna masuk. “Pertama, Hendra sudah bergerak. Kedua, ada laporan baru tentang transfer internal yang dicurigai. Semua tersimpan di server utama. Aku butuh kamu fokus.”

Aruna mengangguk. “Data yang kemarin kita amankan?” tanyanya.

“Semua aman. Tapi mereka mulai mencari celah untuk menutupi jejak. Dan kalau mereka berhasil… kita kehilangan bukti.” Calvin menatapnya tajam. “Mereka tahu kita punya salinan. Sekarang pertanyaannya, siapa yang akan bergerak duluan?”

Aruna merasakan ketegangan di dadanya naik. Ia duduk di terminal utama, membuka dashboard yang menampilkan log aktivitas internal. Setiap klik, setiap pergerakan data, tercatat dengan rinci. Ini bukan sekadar permainan hukum atau posisi jabatan—ini tentang siapa yang punya kendali terhadap informasi.

Di layar, muncul pola yang mengkhawatirkan: percobaan login yang berulang dari akun anonim. Aruna menelan ludah. “Mereka… mencoba menghapus sesuatu lagi.”

Calvin mencondongkan badan ke depan, tangannya mengepal di meja. “Kalau kita langsung memblokir, mereka tahu kita sadar. Tapi kalau kita diam… mereka bisa menghilangkan jejak.”

Aruna menarik napas panjang. “Kita butuh jebakan.”

Calvin tersenyum tipis. “Itulah yang aku tunggu dari kamu.”

Ia mulai menyusun strategi: jalur penghapusan palsu diaktifkan, menipu sistem agar seolah data berhasil dihapus, sementara salinan yang asli tetap diamankan di server bayangan. Setiap baris kode yang Aruna ketik terasa seperti garis hidup yang menentukan siapa yang akan menang.

Sementara itu, di sisi lain kota, Hendra bergerak dengan tenang. Ia tidak tergesa, tapi setiap langkahnya jelas menunjukkan satu tujuan: menutup celah sebelum kebenaran terbuka. Aruna bisa merasakan pola pikirnya dari akses digital yang mereka pantau—metode yang terencana, licik, dan berbahaya.

Setelah hampir satu jam memantau dan mengatur jebakan digital, Aruna menatap Calvin. “Mereka akan mengambil umpan ini, kan?” tanyanya.

“Benar,” jawab Calvin. “Dan saat mereka bergerak, kita tahu persis siapa yang mengeksekusi. Tidak ada lagi ruang abu-abu.”

Aruna mengangguk, jantungnya berdegup cepat. Ia menyadari satu hal: ini bukan sekadar permainan profesional. Ini serangan terhadap reputasi, kepercayaan, dan integritas—semua yang pernah ia pegang teguh. Sekali salah langkah, semuanya bisa hilang.

Ping.

Satu peringatan muncul di layar: login berhasil dari jalur yang sudah disiapkan sebagai umpan. Aruna menahan napas. Calvin menatapnya dengan tatapan dingin tapi penuh perhitungan. “Mereka mengambil jebakan,” katanya pelan. “Sekarang giliran kita.”

Setelah beberapa detik penuh ketegangan, log aktivitas menunjukkan asal akses. Nama pengguna yang muncul tidak asing—tapi cukup mengejutkan. Aruna menelan ludah. “Dia…?” suaranya hampir tidak terdengar.

Calvin mengangguk. “Ya. Persis seperti yang kita prediksi. Seseorang yang kita curigai… dan ternyata benar.”

Sunyi jatuh di ruang direktur. Kedua mata itu bertemu: Aruna dan Calvin, sadar bahwa titik balik ini bisa mengubah permainan selamanya.

Aruna menatap layar lagi. Bukti mulai tersusun rapi, menampilkan seluruh pola manipulasi—transfer internal, penghapusan dokumen, percobaan menutupi jejak. Tidak ada ruang untuk alasan atau kebohongan. Semua fakta ada di sana.

Ia menoleh ke Calvin. “Sekarang kita punya bukti kuat untuk audit dan direksi.”

Calvin menunduk sejenak. “Ya. Tapi jangan terlalu cepat. Kalau kita buka terlalu dini, mereka akan mencoba menutupi lagi. Kita harus tunggu waktu yang tepat. Kita kendalikan irama permainan.”

Aruna menyadari bahwa kesabaran kini menjadi senjata paling tajam. Ia menekan jari di keyboard, memastikan jalur digital tetap aman, sementara pikiran dan inderanya tetap waspada terhadap setiap kemungkinan.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal:

“Kami tahu kamu di sana. Jangan bermain terlalu jauh.”

Aruna menahan napas, membaca pesan itu berkali-kali. Ini lebih dari sekadar ancaman profesional—ini menandai bahwa mereka mulai mengetahui kedekatannya dengan Calvin, dan potensi pengaruhnya terhadap investigasi.

Calvin menatap pesan itu di layar Aruna, wajahnya dingin. “Mereka mencoba mengintimidasi. Tapi kita tidak akan mundur.”

Aruna mengangguk. Ada rasa lega aneh—di tengah ketegangan ini, mereka masih memiliki kendali. Dan untuk pertama kalinya, Aruna merasa bahwa mereka benar-benar satu tim, menghadapi ancaman yang lebih besar daripada sekadar konflik kantor.

Malam tiba. Kantor mulai kosong, tapi Aruna tetap di ruang direktur, memantau log dan memeriksa jalur cadangan. Calvin berdiri di sampingnya, menatap kota dari jendela, suara kendaraan yang lalu lalang di jalan seperti detak jantung yang tenang di tengah badai.

“Besok,” kata Calvin akhirnya, suaranya rendah tapi tegas, “kita akan membuka semua bukti ke direksi. Dan mereka tidak akan bisa menghindar. Tidak ada lagi yang disembunyikan.”

Aruna menarik napas panjang, menatap layar satu terakhir kali. Semua data, semua bukti, semua strategi yang mereka siapkan—ini bukan sekadar tentang memenangkan permainan profesional. Ini tentang mengambil kembali kendali, menunjukkan siapa yang benar, dan melindungi diri dari orang-orang yang bermain curang.

Dan saat malam menutup kantor, Aruna tahu satu hal:

Besok, titik balik akan terjadi. Permainan ini akan berubah selamanya, dan siapa pun yang salah langkah… akan membayar mahal.

Aruna menutup laptop, menatap Calvin sejenak. Kedekatan mereka terasa lebih dari sekadar profesional. Ada kepercayaan yang lahir dari tekanan, dari rahasia, dan dari strategi yang dijalankan bersama. Mereka siap.

Tidak ada ruang untuk ragu. Tidak ada ruang untuk ketakutan.

Besok, semua akan terlihat jelas.

Dan Aruna siap menghadapi apa pun.

Aruna menutup laptop, tapi matanya tetap menatap layar kosong seolah masih bisa melihat jejak digital yang bergerak di sekelilingnya. Setiap klik yang mereka lakukan hari ini telah meninggalkan jejak—jejak yang akan menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang akan jatuh. Ia menelan napas panjang, merasakan ketegangan yang bukan lagi sekadar pekerjaan. Ini menyentuh kehidupan pribadi, harga diri, dan kepercayaan.

Calvin menoleh sejenak, menatapnya dengan mata yang sulit dibaca. “Kamu tahu, besok bukan hanya tentang bukti,” katanya perlahan. “Ini tentang siapa yang punya keberanian untuk menghadapi konsekuensi. Siapa yang bisa tetap tenang saat badai datang.”

Aruna menunduk, lalu mengangguk. “Aku siap. Tidak peduli seberapa dekat mereka mencoba menyerang… kita akan tetap berdiri.”

Di luar jendela, kota malam berkilau seperti medan perang yang diam. Aruna merasakan adrenalin yang aneh: takut, ya, tapi juga dorongan untuk melawan. Ia menatap Calvin sekali lagi, lalu menutup matanya sejenak, menarik napas dalam. Besok, semuanya akan berubah.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!