Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Titik Balik yang Mematikan
Pagi itu, kantor terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu neon memantulkan bayangan Aruna di lantai marmer, sementara ia berjalan menuju lift dengan langkah mantap tapi hati berdebar. Malam sebelumnya, data yang diamankan sudah dianalisis berkali-kali, namun ancaman baru selalu muncul dari arah yang tak terduga.
Ponselnya bergetar. Nama Calvin muncul di layar.
“Sudah siap?” bunyi pesannya singkat.
Aruna mengetik balasan cepat:
Selalu siap.
Sesaat kemudian, lift menutup pintu, dan perjalanan ke lantai direktur dimulai. Ia menatap pantulan dirinya di pintu lift, wajah yang tampak tenang tapi sarat waspada. Ia tahu, setelah apa yang terjadi kemarin, hari ini bukan lagi soal menjaga posisi. Ini tentang mengambil kendali.
Di ruang direktur, Calvin sudah menunggu, tangan di saku celana, pandangan lurus menatap jendela besar yang memperlihatkan kota. Suasana di sana seperti medan tempur yang menunggu komando.
“Kita punya dua masalah besar,” kata Calvin tanpa basa-basi saat Aruna masuk. “Pertama, Hendra sudah bergerak. Kedua, ada laporan baru tentang transfer internal yang dicurigai. Semua tersimpan di server utama. Aku butuh kamu fokus.”
Aruna mengangguk. “Data yang kemarin kita amankan?” tanyanya.
“Semua aman. Tapi mereka mulai mencari celah untuk menutupi jejak. Dan kalau mereka berhasil… kita kehilangan bukti.” Calvin menatapnya tajam. “Mereka tahu kita punya salinan. Sekarang pertanyaannya, siapa yang akan bergerak duluan?”
Aruna merasakan ketegangan di dadanya naik. Ia duduk di terminal utama, membuka dashboard yang menampilkan log aktivitas internal. Setiap klik, setiap pergerakan data, tercatat dengan rinci. Ini bukan sekadar permainan hukum atau posisi jabatan—ini tentang siapa yang punya kendali terhadap informasi.
Di layar, muncul pola yang mengkhawatirkan: percobaan login yang berulang dari akun anonim. Aruna menelan ludah. “Mereka… mencoba menghapus sesuatu lagi.”
Calvin mencondongkan badan ke depan, tangannya mengepal di meja. “Kalau kita langsung memblokir, mereka tahu kita sadar. Tapi kalau kita diam… mereka bisa menghilangkan jejak.”
Aruna menarik napas panjang. “Kita butuh jebakan.”
Calvin tersenyum tipis. “Itulah yang aku tunggu dari kamu.”
Ia mulai menyusun strategi: jalur penghapusan palsu diaktifkan, menipu sistem agar seolah data berhasil dihapus, sementara salinan yang asli tetap diamankan di server bayangan. Setiap baris kode yang Aruna ketik terasa seperti garis hidup yang menentukan siapa yang akan menang.
Sementara itu, di sisi lain kota, Hendra bergerak dengan tenang. Ia tidak tergesa, tapi setiap langkahnya jelas menunjukkan satu tujuan: menutup celah sebelum kebenaran terbuka. Aruna bisa merasakan pola pikirnya dari akses digital yang mereka pantau—metode yang terencana, licik, dan berbahaya.
Setelah hampir satu jam memantau dan mengatur jebakan digital, Aruna menatap Calvin. “Mereka akan mengambil umpan ini, kan?” tanyanya.
“Benar,” jawab Calvin. “Dan saat mereka bergerak, kita tahu persis siapa yang mengeksekusi. Tidak ada lagi ruang abu-abu.”
Aruna mengangguk, jantungnya berdegup cepat. Ia menyadari satu hal: ini bukan sekadar permainan profesional. Ini serangan terhadap reputasi, kepercayaan, dan integritas—semua yang pernah ia pegang teguh. Sekali salah langkah, semuanya bisa hilang.
Ping.
Satu peringatan muncul di layar: login berhasil dari jalur yang sudah disiapkan sebagai umpan. Aruna menahan napas. Calvin menatapnya dengan tatapan dingin tapi penuh perhitungan. “Mereka mengambil jebakan,” katanya pelan. “Sekarang giliran kita.”
Setelah beberapa detik penuh ketegangan, log aktivitas menunjukkan asal akses. Nama pengguna yang muncul tidak asing—tapi cukup mengejutkan. Aruna menelan ludah. “Dia…?” suaranya hampir tidak terdengar.
Calvin mengangguk. “Ya. Persis seperti yang kita prediksi. Seseorang yang kita curigai… dan ternyata benar.”
Sunyi jatuh di ruang direktur. Kedua mata itu bertemu: Aruna dan Calvin, sadar bahwa titik balik ini bisa mengubah permainan selamanya.
Aruna menatap layar lagi. Bukti mulai tersusun rapi, menampilkan seluruh pola manipulasi—transfer internal, penghapusan dokumen, percobaan menutupi jejak. Tidak ada ruang untuk alasan atau kebohongan. Semua fakta ada di sana.
Ia menoleh ke Calvin. “Sekarang kita punya bukti kuat untuk audit dan direksi.”
Calvin menunduk sejenak. “Ya. Tapi jangan terlalu cepat. Kalau kita buka terlalu dini, mereka akan mencoba menutupi lagi. Kita harus tunggu waktu yang tepat. Kita kendalikan irama permainan.”
Aruna menyadari bahwa kesabaran kini menjadi senjata paling tajam. Ia menekan jari di keyboard, memastikan jalur digital tetap aman, sementara pikiran dan inderanya tetap waspada terhadap setiap kemungkinan.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tak dikenal:
“Kami tahu kamu di sana. Jangan bermain terlalu jauh.”
Aruna menahan napas, membaca pesan itu berkali-kali. Ini lebih dari sekadar ancaman profesional—ini menandai bahwa mereka mulai mengetahui kedekatannya dengan Calvin, dan potensi pengaruhnya terhadap investigasi.
Calvin menatap pesan itu di layar Aruna, wajahnya dingin. “Mereka mencoba mengintimidasi. Tapi kita tidak akan mundur.”
Aruna mengangguk. Ada rasa lega aneh—di tengah ketegangan ini, mereka masih memiliki kendali. Dan untuk pertama kalinya, Aruna merasa bahwa mereka benar-benar satu tim, menghadapi ancaman yang lebih besar daripada sekadar konflik kantor.
Malam tiba. Kantor mulai kosong, tapi Aruna tetap di ruang direktur, memantau log dan memeriksa jalur cadangan. Calvin berdiri di sampingnya, menatap kota dari jendela, suara kendaraan yang lalu lalang di jalan seperti detak jantung yang tenang di tengah badai.
“Besok,” kata Calvin akhirnya, suaranya rendah tapi tegas, “kita akan membuka semua bukti ke direksi. Dan mereka tidak akan bisa menghindar. Tidak ada lagi yang disembunyikan.”
Aruna menarik napas panjang, menatap layar satu terakhir kali. Semua data, semua bukti, semua strategi yang mereka siapkan—ini bukan sekadar tentang memenangkan permainan profesional. Ini tentang mengambil kembali kendali, menunjukkan siapa yang benar, dan melindungi diri dari orang-orang yang bermain curang.
Dan saat malam menutup kantor, Aruna tahu satu hal:
Besok, titik balik akan terjadi. Permainan ini akan berubah selamanya, dan siapa pun yang salah langkah… akan membayar mahal.
Aruna menutup laptop, menatap Calvin sejenak. Kedekatan mereka terasa lebih dari sekadar profesional. Ada kepercayaan yang lahir dari tekanan, dari rahasia, dan dari strategi yang dijalankan bersama. Mereka siap.
Tidak ada ruang untuk ragu. Tidak ada ruang untuk ketakutan.
Besok, semua akan terlihat jelas.
Dan Aruna siap menghadapi apa pun.
Aruna menutup laptop, tapi matanya tetap menatap layar kosong seolah masih bisa melihat jejak digital yang bergerak di sekelilingnya. Setiap klik yang mereka lakukan hari ini telah meninggalkan jejak—jejak yang akan menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang akan jatuh. Ia menelan napas panjang, merasakan ketegangan yang bukan lagi sekadar pekerjaan. Ini menyentuh kehidupan pribadi, harga diri, dan kepercayaan.
Calvin menoleh sejenak, menatapnya dengan mata yang sulit dibaca. “Kamu tahu, besok bukan hanya tentang bukti,” katanya perlahan. “Ini tentang siapa yang punya keberanian untuk menghadapi konsekuensi. Siapa yang bisa tetap tenang saat badai datang.”
Aruna menunduk, lalu mengangguk. “Aku siap. Tidak peduli seberapa dekat mereka mencoba menyerang… kita akan tetap berdiri.”
Di luar jendela, kota malam berkilau seperti medan perang yang diam. Aruna merasakan adrenalin yang aneh: takut, ya, tapi juga dorongan untuk melawan. Ia menatap Calvin sekali lagi, lalu menutup matanya sejenak, menarik napas dalam. Besok, semuanya akan berubah.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/