Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16
Mobil memasuki pelataran rumah dengan kecepatan yang konstan. Lalu berhenti perlahan dengan bunyi desisan lembut akibat gesekan dari ban dengan paving block.
Cahaya kuning hangat memancar, merambat lurus mengenai wajah. Membuat tidur Lily terganggu. Gadis kecil itu mengerjap pelan, mengeratkan pelukan pada boneka kesayangan. Kemudian menutup matanya lagi. Boneka pemberian Kenzy beberapa waktu lalu itu telah menggantikan boneka beruang pemberian Jeffrey tanpa sadar. Yang kini hanya terpajang rapi diatas kasur. Berbaris dengan boneka-boneka lain.
Ketika mesin mobil telah mati, pintu depan terbuka. Chandra turun dengan senyum mengembang indah. Menatap penuh rindu pada bangunan di depannya.
Rumah orangtuanya.
Rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya itu tak pernah berubah. Masih sama seperti dulu. Setiap sudutnya memiliki cerita. Dari suara langkah kaki yang memenuhi dapur hingga suara tawa riang diruang keluarga.
Rumah itu memiliki halaman yang hijau. Rumput tumbuh subur. Namun tetap rapi. Menandakan selalu dirawat setiap hari. Pohon mangga berdiri kokoh di sudut pagar. Dengan buah yang lebat. Seperti menaungi kolam ikan di bawahnya. Teras yang luas menjadi tempat favoritnya untuk bersantai.
Sarah turun setelahnya. Wajahnya tak seantusias sang suami. Pegangan pada tali tas nya menguat. Bibirnya pucat. Bagaimanapun ia mencoba, rasa tenang itu tak pernah datang. Bahkan saat Chandra sudah berada disisinya kini.
Di dalam mobil, Lily hendak membuka sabuk pengamannya sendiri, tetapi gerakannya terhenti ketika sang kakak yang telah bangun dari tidur, mencondongkan tubuh kearahnya. Satu tangan menahan tubuh Lily agar tetap di tempat, sementara tangan yang lain berusaha meraih sabuk pengaman yang masih terikat.
Lily tak bergerak. Tetap berdiam dengan patuh. Matanya menatap wajah Andra yang begitu dekat. Sementara tangan kecilnya terangkat, menyentuh sudut mata sang kakak, mengambil kotoran mata yang bersarang disana. Tak ada pikiran bahwa itu kotor, tak ada pula rasa jijik. Senyumnya terbit saat kotoran itu berhasil terambil.
"Ayo turun." Kata Andra.
Lily mengangguk. Kemudian bergerak maju. Roknya tertarik, berkumpul menjadi satu di pinggang. Memperlihatkan celana pendeknya. Ia berjalan setengah hati-hati sembari berpegangan pada kursi. Lalu meraih tangan sang kakak yang terjulur padanya.
Saat tubuh semakin dekat, Andra meraih tubuhnya. Kemudian mengangkatnya tinggi, sebelum akhirnya menurunkannya dengan pelan. Penuh kehati-hatian.
Udara disekelilingnya terasa sejuk. Terasa menenangkan ditengah hiruk pikuk kota yang selama ini ia hirup. Masih sangat asri. Masih sangat segar. Rambut Lily berterbangan tertiup angin. Membuatnya menjadi berantakan.
Netranya menatap penuh minat pada lingkungan sekitar. Di kejauhan, Lily bisa melihat anak-anak bermain dengan riang. Dengan sebuah tali terbentang diantara mereka. Yang di pegang oleh satu orang diujung dan satu orang lagi diujung lainnya. Sementara mereka yang tersisa akan melompatinya. Sudut bibir Lily tertarik sempurna.
Di udara, suara burung terdengar bersahutan. Sebagai pengiring tawa. Hinggap di satu pohon ke pohon yang lain. Terkadang saling berkejaran seperti film India.
Saat Lily sedang asik menikmati alam di sekitarnya, tiba-tiba pintu rumah di depannya terbuka. Dengan bunyi yang cukup keras. Seolah dihentak paksa.
Seorang wanita paruh baya muncul dengan sanggul tinggi di rambutnya yang sedikit banyak telah memutih. Matanya yang berbingkai kacamata menyipit tajam, menyesuaikan penglihatannya yang sedikit kabur karena penurunan fungsi akibat usia yang semakin tua. Tubuhnya sedikit membungkuk, dengan tongkat kayu sebagai penyangga.
Suara mesin mobil mungkin telah mengganggunya. Sehingga ia keluar dengan tergesa-gesa untuk melihat.
"Bu, aku pulang." Kata Chandra dari tempatnya berdiri. Menarik perhatian.
Pupil mata wanita itu melebar. Dengan bibir sedikit terbuka karena merasa tak percaya. "Anakku..."
Butiran bening perlahan menggenang. Berkumpul menjadi satu disudut mata. Kaki tuanya menuruni anak tangga dengan cepat. Tongkat di tangan, jatuh ke tanah. Seakan tak lagi penting. Seolah tak lagi di butuhkan. Ia memeluk tubuh sang putra erat. Penuh kerinduan.
"Kamu kenapa baru pulang sekarang nak? Ibu kangen banget sama kamu." Ucap wanita itu disela tangisan.
Chandra mengelus punggungnya lembut, penuh kasih. "Aku baru saja pulang dari tugas Bu. Baru dua hari ini."
Pelukan itu terlepas. Wanita itu menatap putranya dari atas sampai bawah. Mencoba memindai layaknya mesin. Kemudian dahinya mengerut. Meminta penjelasan. Lalu beralih pada seseorang di balik punggung pria itu, dengan nyalang.
Hanya sesaat, namun dapat membuat tubuh Sarah bergetar hebat. Kakinya mundur perlahan, seolah menghindari ancaman.
"Tugas seperti apa sampai selama ini nak? Ini nggak kayak biasanya."
Setelah berkata seperti itu, wanita tua itu kembali mendekatkan tubuhnya pada Chandra, lalu berbisik pelan ditelinga. "Bukan karena wanita sialan itu kan yang melarang kamu?" Tanyanya sengit.
"Bu...!!"
"Baiklah. Ibu sangat bersyukur kalau memang bukan." Wajahnya kembali melembut dengan mata sedikit tertutup. Menyesuaikan cahaya yang terasa menyilaukan.
Lily melihat dalam diam. Menunggu dan terus menunggu. Sang ibu mendekat, menggenggam tangannya erat. Bahkan terlalu erat hingga terasa menyakitkan. Ia yakin tangan itu akan memerah nantinya. Tetapi tak ada protes yang keluar. Seolah genggaman kuat itu adalah perlindungan teraman dari hal yang tidak ia ketahui. Karena entah karena apa, Lily tidak suka berada disini. Antusiasme nya hilang dalam sekejap.
"Sayang, ayo salim sama nenek." Kata Chandra sembari melambaikan tangan, meminta anak-anaknya mendekat.
Andra datang dengan riang. Tangannya terulur ke depan, berusaha meraih tangan nenek. Wanita tua itu menyambut tak kalah senang. Usapan sayang ia berikan pada cucu laki-laki satu-satunya itu. Lalu mendaratkan kecupan ringan di kedua pipinya.
"Cucu nenek udah besar yah sekarang. Lain kali sering-seringlah datang kesini. Kunjungi nenek. Nenek tuh kangen banget sama kamu." Ucap wanita tua itu, penuh harap. Tangan keriputnya bertengger di bahu, seolah enggan melepaskan.
Andra mengangguk. "Iya nenek, lain kali Andra pasti bakal sering kesini." Balasnya.
Nenek tersenyum puas.
Kini, alis Chandra terangkat satu. Merasa kebingungan karena putrinya masih berada ditempat semula, tak bergerak. "Lily..." Panggilnya.
Dengan ragu Lily mendekat. Kakinya berjalan sangat pelan. Ia menatap sang ayah dan neneknya secara bergantian. Kemudian menunduk lagi, merasa takut. Kelopak matanya bergetar. Penuh antisipasi.
Ekspresi dua orang di depannya sangat kontras terlihat. Bagaikan iblis dan malaikat yang berdiri sejajar. Setiap langkah yang Lily ambil, terasa berat. Seolah ia berjalan diatas tanah yang liat.
Perubahan itu sangat terasa. Begitu nyata. Begitu tiba-tiba. Wajah ramah wanita tua itu dan ekspresi lembutnya saat melihat sang kakak, berubah seketika saat melihatnya. Sangat menakutkan.
Tangan kecil Lily yang bergetar, mendekat ke tangan nenek. Berusaha meraihnya. Namun tak ada sambutan. Wanita tua itu justru memiringkan badan. Menghadap ke Andra. Mengabaikan uluran tangannya yang masih menggantung di udara.
"Ayo masuk. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh." Ajaknya. Mendorong tubuh Andra pelan untuk mengikutinya. Lalu menghilang di balik pintu.
Wajah Lily murung. Kepalanya menunduk menghindari kontak mata. Sementara bahunya merosot dengan jemari yang basah oleh keringat.
Sarah segera mendekat. Mendekap tubuh putrinya yang telah bergetar hebat. Isakan kecil terdengar dari mulut kecilnya.
"Lily..." Suara Sarah tercekat di tenggorokan. Apa yang ia takutkan menjadi kenyataan. Sebagai seorang ibu, ia merasa hancur ketika melihat Lily-nya yang kecil dan lucu diperlakukan seperti itu.
"Ma..." Lily menahan lengan ibunya.
"Iya sayang?" Sarah menunduk, mencoba menarik sudut bibirnya. Meski terasa sulit sekali.
Lily tak langsung menjawab. Namun kepalan tangannya menguat. Kukunya menancap keras pada telapak tangannya hingga meninggalkan bekas.
"Aku mau pulang." Ujarnya lirih.
Kini, ia merindukan Jeffrey, merindukan pak Mamat, merindukan kakek dan nenek, juga Kenzy yang menyebalkan.
Tatapan Sarah bertemu dengan Chandra yang berdiam diri. Mulutnya terbuka, berbicara tanpa suara.
'Lihat kan...'
***
Di ruang makan, semua anggota keluarga telah berkumpul. Nenek duduk paling ujung sebagai orang yang dituakan. Di sampingnya ada kakak perempuan Chandra yang pertama berserta suami dan dua anaknya. Sementara di seberang mereka ada kakak perempuan Chandra yang kedua, seorang diri. Sedangkan disampingnya ada Andra yang telah duduk dengan tenang.
Chandra baru saja datang setelah membujuk Sarah dan Lily yang bersikukuh ingin pulang setelah kejadian tadi. Sang istri bahkan berencana untuk pulang sendiri menggunakan kendaraan umum apabila ia tak mau.
"Kalian lama banget sih diluar? Apa kalian nggak lihat semua orang sudah menunggu." Kata nenek tak sabar.
"Maaf semuanya, tadi aku habis ganti ban mobil yang pecah. Sepertinya tertusuk paku." Balas Chandra penuh kebohongan.
"Sini pa, duduk." Andra menepuk kursi di sampingnya dengan binar dimata.
Kebahagiaan kecil yang bisa ia rasakan adalah kembali ke tempat ini. Tempat dimana ia begitu dimanjakan oleh nenek yang begitu baik.
Chandra menarik kursi untuk dirinya dan juga Sarah. Dalam gendongan, Lily terus menempel seperti koala. Tak mau lepas. Terus bersembunyi diceruk leher ibunya.
"Kenapa nggak besok aja dibawa ke bengkel Chan?" Tanya kakak ipar Chandra.
"Nggak papa mas. Udah terlanjur lihat, jadi sekalian."
Semua orang mulai makan dalam diam. Etiket nomor satu yang selalu dijunjung tinggi dalam keluarga ini : Tak satupun boleh bersuara ketika sedang makan.
Sembari mengisi perut, Sarah berusaha untuk menyuapi Lily juga. Tetapi gadis kecil itu tak mau membuka mulutnya sejak tadi.
"Ayo dong sayang, makan dulu. Nanti kita pulang yah?" Bujuk Sarah dengan suara yang sangat pelan. Berharap tak ada satupun yang mendengarnya kecuali Lily.
Gadis kecil itu tetap menggeleng. Menutup rapat mulutnya. Sarah menghela nafas panjang. "Jangan gitu dong, nanti kamu sakit gimana?"
Lily hanya bergerak-gerak tak tenang di pangkuan. Menolak suapan demi suapan. Tangan kecilnya berusaha menyingkirkan tangan Sarah yang mendekat, hingga sendok ditangan jatuh menghantam lantai.
Bunyi yang di hasilkan tidak begitu keras, namun berhasil membuat semua orang menghentikan makannya.
"Maaf semuanya, Lily..."
Belum selesai Sarah bicara, sang mertua telah menggebrak meja. Wajahnya mengeras, matanya berkilat tajam. Wanita tua itu menatap Sarah bagaikan pisau yang siap membelah tubuhnya.
"Kamu bisa nggak sih ngurus anak??!!! Ganggu orang makan aja. Ini juga anak kecil satu." Tunjuk nenek pada Lily.
"Udah nggak sopan, bikin pusing lagi kelakuannya!!! Kamu becus nggak sih jadi orangtua??!!!"