NovelToon NovelToon
MAHAR KEBEBASAN

MAHAR KEBEBASAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. MENIKAHI GADIS KECIL

Fajar baru saja menyingsing, menyisipkan gurat cahaya keemasan di balik tirai blackout yang tidak tertutup rapat. Dipta Mahendra sudah berdiri di samping ranjang besar itu, mengenakan jubah mandi sutra hitamnya. Tangannya memegang segelas kopi pahit yang asapnya masih mengepul tipis. Matanya ys séang tajam, yang biasanya hanya menatap angka-angka saham dan laporan bisnis, kini terpaku pada satu titik: Keyla.

​Gadis itu—istrinya—tampak sangat kecil di tengah lautan sprei sutra yang berantakan. Rambut hitam panjangnya tersebar seperti benang-benang halus di atas bantal. Wajahnya yang polos tampak sangat damai saat tidur, kontras dengan jejak air mata yang mengering di pipinya. Dipta melihat memar-memar merah di bahu dan leher Keyla yang terekspos, sebuah tanda kepemilikan yang ia torehkan dengan brutal semalam.

​Dipta tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang dingin namun terselip rasa puas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Kau milikku sekarang, sepenuhnya," gumamnya pelan.

​Ia bergegas mandi dan bersiap. Setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Sebelum melangkah keluar kamar, Dipta kembali menghampiri ranjang. Ia membungkuk, mencium kening Keyla dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontradiktif dengan kekasaran yang ia tunjukkan semalam.

**

​Di ruang tengah, Bayu sudah menunggu dengan tablet di tangannya.

​"Bayu," panggil Dipta sambil merapikan jam tangan mahalnya.

​"Ya, Tuan Mahendra?"

​"Siapkan semua berkas pendaftaran untuk Universitas Internasional. Pastikan dia masuk ke jurusan Hubungan Internasional sesuai permintaannya. Aku ingin semuanya beres siang ini. Kirimkan sumbangan pembangunan yang besar atas nama yayasan kita agar mereka tahu siapa yang berdiri di belakang gadis ini."

​"Baik, Tuan. Apakah Anda ingin saya mengantar Nona—maksud saya, Nyonya Keyla siang nanti?"

​Dipta menggeleng. "Tidak perlu. Biarkan dia istirahat. Aku sendiri yang akan membawakan berkasnya nanti siang. Pastikan pengamanan di kampus itu diperketat. Aku tidak ingin ada insiden seperti di klub malam itu lagi."

​**

​Pukul sebelas siang, mobil Rolls-Royce Dipta kembali memasuki pelataran parkir penthouse. Dipta melangkah dengan penuh energi, tangannya memegang map kulit berisi berkas-berkas pendaftaran. Ia membayangkan Keyla mungkin sudah bangun, sedang duduk di meja makan dengan wajah marah namun cantik.

​Namun, saat ia membuka pintu kamar utama, keheningan menyambutnya.

​Dipta terpaku di ambang pintu. Keyla masih di posisi yang sama seperti saat ia tinggalkan tadi subuh. Tubuhnya masih tergulung selimut, hanya menyisakan puncak kepalanya yang terlihat.

​Dipta berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang. Bukannya marah karena istrinya belum menyiapkan apa pun, ia justru merasa ada sesuatu yang menggelitik di dadanya. Ia tersenyum geli melihat bagaimana Keyla meringkuk seperti kucing kecil yang kelelahan.

​"Menikahi gadis kecil memang berbeda," gumamnya pelan. Ia menyadari bahwa semalam ia benar-benar tidak memberikan ampun. Ia telah "menggempur" pertahanan Keyla berkali-kali hingga fajar menyingsing, memastikan tidak ada ruang bagi Keyla untuk berpikir tentang pelarian.

​Dipta mengulurkan tangannya, membelai pipi Keyla yang halus. Gerakan itu membuat Keyla mengerang pelan dan perlahan membuka matanya.

​Keyla mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih terkubur dalam kelelahan yang luar biasa. Begitu sosok Dipta tertangkap oleh retinanya, ia secara insting menarik selimut lebih tinggi, menutup seluruh tubuhnya hingga ke dagu.

​"Kenapa Anda di sini?" tanya Keyla, suaranya parau dan serak.

​"Ini sudah hampir tengah siang, Keyla. Kau benar-benar tidur seperti putri tidur," sahut Dipta dengan nada yang hampir terdengar manis, meski tetap ada kesan dominan di sana.

​Keyla merasakan seluruh sendinya ngilu. Rasa perih di antara kedua kakinya mengingatkannya pada setiap detik pergulatan semalam. Ia menatap Dipta dengan tatapan benci yang tidak ditutup-tutupi.

​"Siapa yang membuatku seperti ini? Anda pikir aku mesin yang tidak bisa lelah?" ketus Keyla. Ia mencoba bangun untuk duduk, namun rasa pening menghantam kepalanya hingga ia kembali jatuh ke bantal.

​Dipta tertawa kecil, suara baritonnya memenuhi kamar. "Itu karena kau terlalu bersemangat menantangku semalam. Tubuhmu memberikan respons yang sangat baik, meski bibirmu terus memaki."

​"Diamlah!" bentak Keyla, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Anda tidak punya hak untuk membahas hal memuakkan itu."

​Dipta meletakkan map kulit itu di pangkuan Keyla yang terbungkus selimut. "Ini berkasmu. Semuanya sudah siap. Kau hanya perlu menandatangani beberapa bagian, dan besok kau sudah bisa mulai orientasi."

​Keyla terdiam. Ia menatap map itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia sangat ingin melanjutkan sekolahnya. Di sisi lain, ia tahu ini adalah rantai emas yang akan mengikatnya lebih dalam pada Dipta.

​"Terima kasih," ucap Keyla singkat, suaranya kembali dingin dan acuh. Ia memalingkan wajahnya, enggan menatap mata pria yang baru saja menjadi suaminya itu.

​"Hanya itu? Tidak ada senyuman untuk suamimu yang sudah mengurus impianmu?" Dipta mendekat, mencengkeram dagu Keyla dan memaksanya menatapnya.

​"Suami? Anda hanya pembeli yang kebetulan sedang ingin memanjakan barangnya," sahut Keyla tajam.

​Dipta tidak terpancing. Ia justru menatap bibir Keyla yang masih sedikit bengkak. Ia teringat betapa liarnya Keyla di bawahnya semalam, betapa lembut rintihannya saat ia mencapai puncak. Ia harus mengakui, Keyla adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatnya merasa setertarik ini.

​"Kau tahu, Keyla... kau bisa membenciku semuamu. Tapi jangan pernah lupa siapa yang memberimu makan, siapa yang memberimu pendidikan, dan siapa yang menyentuhmu setiap malam," bisik Dipta.

​Keyla terdiam. Dalam hati kecilnya yang paling dalam, ada sebuah pengakuan yang menyakitkan. Meskipun Dipta kasar, meskipun Dipta membelinya, pria ini tidak membiarkannya hancur total. Dipta memberinya akses ke pendidikan yang bahkan orang tuanya sendiri hampir renggut. Dipta menjaganya dengan cara yang aneh, posesif, dan mengerikan, namun itu lebih baik daripada dibiarkan membusuk di tangan orang-orang yang tidak peduli padanya.

​"Kenapa Anda melakukan ini?" tanya Keyla tiba-tiba, matanya menatap Dipta dengan penuh selidik. "Kenapa Anda tidak membiarkanku mati saja kemarin?"

​Dipta mengusap ibu jarinya di bibir bawah Keyla. "Karena aku tidak pernah membuang sesuatu yang sudah kubayar mahal. Dan karena aku ingin melihatmu tumbuh di bawah bayang-bayangku. Kau akan menjadi diplomat, atau apa pun itu, tapi kau akan selalu pulang ke tempat tidurku."

​Keyla memejamkan mata, membiarkan sentuhan Dipta di wajahnya. Untuk sesaat, rasa benci itu tertutup oleh rasa lelah yang amat sangat. Ia merasa Dipta jauh lebih kompleks dari sekadar monster. Pria ini adalah penyelamat sekaligus penghancurnya dalam satu waktu.

​"Sekarang, mandi dan makan," perintah Dipta, suaranya kembali otoriter. "Aku akan menunggumu di meja makan. Jika kau tidak keluar dalam lima belas menit, aku sendiri yang akan membawamu ke sana, dan kau tahu aku tidak akan keberatan melakukannya tanpa pakaian."

​Keyla mendengus kesal, namun ia tidak punya pilihan selain menuruti. Ia menatap punggung Dipta yang melangkah keluar kamar, menyadari bahwa hidupnya sebagai Nyonya Mahendra baru saja benar-benar dimulai.

***

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!