NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalung

Mirea berjongkok di tepi kolam, menatap permukaan air dengan cemas. Air kolam tampak tenang, hanya bergelombang kecil karena angin malam.

Beberapa detik berlalu, tapi Kael tak juga muncul ke permukaan.

“Tuan Kael?” panggilnya pelan, nadanya mulai goyah.

“Kael!” suaranya kini lebih keras, tak bisa menyembunyikan kepanikan.

Dari pantulan cahaya lampu taman di permukaan air, ia masih bisa melihat bayangan tubuh Kael di dasar kolam… samar, gelap, dan tidak bergerak.

Mirea semakin merunduk, tangannya hampir menyentuh air.

“Jangan-jangan terjadi sesuatu…” Ia menoleh ke belakang sekilas, refleks, seolah mencari bantuan, lalu kembali menatap kolam dengan wajah tegang.

Byur!

Tiba-tiba Kael muncul ke permukaan tepat di depannya. Rambut hitamnya basah, meneteskan air ke wajah dan lehernya. Kemeja yang ia kenakan menempel pada tubuhnya, memperlihatkan bahu lebar dan postur tegap yang entah kenapa terlihat… sangat menggoda. Aura tenangnya malah terasa seperti seseorang yang baru saja keluar dari pemotretan majalah, bukan dari kolam renang.

Mirea sontak terkejut sampai mundur beberapa langkah.

“Kamu kaget?” tanya Kael sambil mengusap rambutnya ke belakang, air masih menetes dari helaian hitamnya. Senyum tipis terukir di wajahnya, santai seolah tidak terjadi apa-apa.

“Enggak!” jawab Mirea cepat, terlalu cepat. Padahal pipinya sudah memanas, dan detak jantungnya belum juga tenang.

Kael justru tersenyum makin jail. Tatapannya menahan Mirea beberapa detik terlalu tenang, terlalu percaya diri, seolah sedang menikmati reaksinya.

“Aku mau ganti baju dulu,” ujar Mirea buru-buru sambil membelakanginya.

“Kamu juga… cepatlah pulang.”

Ia melangkah pergi, langkahnya sedikit terburu-buru, berusaha menghindari tatapan itu.

Tapi baru beberapa langkah

“Hei,” panggil Kael dari belakang, suaranya terdengar santai tapi jelas.

“Baru saja bikin orang basah, langsung pergi begitu saja?”

Langkah Mirea terhenti.

Entah kenapa, senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirnya. Dadanya terasa hangat, jantungnya berdetak aneh, tidak karuan.

“Memang boleh begitu?” lanjut Kael, nadanya seperti bercanda… tapi ada sesuatu di dalam suaranya yang terasa terlalu personal.

Mirea menarik napas pelan. Ia tidak menoleh.

Dengan wajah yang masih sedikit memerah, ia melangkah lagi, kali ini lebih cepat, meninggalkan Kael sendirian di tepi kolam.

Sementara Kael masih berdiri di dalam air, menatap punggung Mirea yang semakin menjauh, senyumnya sama sekali belum memudar.

Beberapa detik kemudian, ia akhirnya beranjak keluar dari kolam. Air menetes dari ujung jasnya saat ia berdiri di tepi taman, merapikan pakaiannya yang sudah basah kuyup.

Saat menepuk-nepuk saku jas dan melirik ke lantai marmer di sekitarnya, pandangannya tertuju pada sesuatu yang tergeletak di dekat kakinya.

Sebuah kalung.

Kael membungkuk, memungutnya perlahan. Rantai perak itu dingin di jarinya. Liontinnya berbentuk bulan sabit, dan di tengahnya tergantung sebuah bola dunia kecil yang berkilau tertimpa cahaya lampu taman.

Matanya menyipit tipis, seolah mengenali sesuatu.

“Menarik…” gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat samar.

“Wah, wah… apa-apaan ini, Tuan Kael. Di rumah orang lain malah main basah-basahan?”

Suara Farel tiba-tiba muncul dari arah taman dengan nada menggoda. Ia berjalan mendekat sambil menyeringai lebar, matanya menelusuri jas Kael yang basah dari ujung rambut sampai sepatu.

“Kamu bukan tipe yang liar begini, kan?” ledeknya. “Atau jangan-jangan…” Farel mendekat sedikit, nada suaranya dibuat dramatis.

“Cinta pada pandangan pertama sama Nona Mirea?”

Kael hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap kalung di tangannya, memutar-mutar liontin bulan sabit itu di antara jari.

“Daripada dibilang cinta pada pandangan pertama…”

Ia berhenti sejenak, tatapannya menajam.

“Lebih tepat kalau dibilang… dia sudah ketahuan.”

Farel mengernyit.

“Hah? Ketahuan apaan?”

Belum sempat ia mencerna, Kael sudah melempar kalung itu ke arahnya.

Farel refleks menangkapnya.

“Selidiki asal-usul kalung ini,” perintah Kael datar.

“Dan ambilkan aku baju ganti.”

Setelah itu Kael langsung berbalik dan melangkah pergi, seolah tak tertarik lagi melanjutkan percakapan.

Farel menatap punggung Kael yang menjauh, lalu melirik kalung di tangannya.

“Heh! Aku ini bukan sekretarismu!” protesnya keras.

“Kenapa seenaknya nyuruh-nyuruh?!”

Namun Kael sudah keburu menghilang di balik pintu taman, sama sekali tak menggubris omelan Farel.

......................

Sementara itu, Mirea yang sudah terlanjur basah kuyup mau tak mau harus melewati aula utama untuk bisa naik ke kamar di lantai atas. Gaun putihnya masih meneteskan air, langkah kakinya meninggalkan jejak basah di lantai marmer.

Begitu sampai di depan tangga, langkahnya melambat.

Ia berhenti sejenak, merasakan puluhan pasang mata kembali tertuju padanya.

Tentu saja, Rosse dan Adela langsung menyadari kehadirannya. Keduanya berdiri tak jauh dari sana, berpura-pura berbincang dengan tamu lain, tapi jelas tatapan mereka terus mengamati Mirea dari atas sampai bawah.

Seperti biasa.

Mencari celah.

Mirea pura-pura tidak peduli. Ia menegakkan punggung, mempertahankan ekspresi polosnya, lalu berjalan pelan ke arah tangga.

Namun di tengah langkahnya, tanpa sadar tangannya meraba lehernya.

Kosong.

Ia meraba lagi, lebih cepat. Lalu ke saku kecil di gaunnya.

Tetap kosong.

Seketika jantungnya berdegup lebih kencang.

“Gawat…” gumamnya sangat pelan, hampir tak terdengar.

“Benda simbol dunia mafia itu hilang.”

Bayangan kolam langsung terlintas di kepalanya.

Air. Kael. Kekacauan tadi.

“Jangan-jangan jatuh di sana…” batinnya.

Ingatan Mirea langsung melayang ke kejadian di kolam tadi.

Namun alih-alih terbayang kalungnya, yang justru muncul di kepalanya adalah wajah Kael saat keluar dari air, rambut basah yang menempel di keningnya, tatapan tenang yang terlalu percaya diri, dan senyum menyebalkan yang seolah tahu persis sedang mempermainkannya.

Mirea mendecih pelan, kesal pada dirinya sendiri.

“Ah… sudahlah,” gumamnya lirih.

“Hilangnya juga masih di rumah sendiri.”

Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang entah kenapa masih belum stabil.

“Cepat atau lambat pasti ketemu. Sekarang yang penting ganti baju dulu.”

Dengan wajah tetap datar, Mirea melangkah naik tangga.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!