Akibat sebuah kecelakaan, Alea—Ratu Mafia yang ditakuti dunia bawah—bertransmigrasi ke dalam tubuh seorang siswi SMA yang cupu, norak, dan selalu menjadi sasaran perundungan.
Lebih buruk lagi, gadis itu bukan hanya dibenci di sekolah, tetapi juga ditolak oleh keluarganya sendiri. Penampilan lusuh dan tingkahnya yang dianggap memalukan membuatnya hidup tanpa suara, tanpa pembelaan.
Kini, jiwa dingin dan berbahaya milik Alea menempati tubuh yang selama ini diremehkan semua orang.
Sekolah yang dulu penuh ejekan mulai terasa tidak aman.
Keluarga yang dahulu membuangnya perlahan menghadapi perubahan yang tak bisa mereka kendalikan.
Akankah mereka menyesal telah membenci Alea?
Ataukah justru Alea yang tak lagi peduli untuk memaafkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rs_31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Derren
Semua orang langsung terdiam saat melihat kedatangan Ara.Tatapan mereka tertuju pada satu orang dengan ekspresi tidak percaya. Bahkan beberapa dari mereka sampai menggesek-gesek matanya, seolah merasa penglihatannya sedang bermasalah.
" Bentar, kok gue merasa lihat Queen ya," kata seorang pria yang tadi sedang merokok.
Seorang wanita cantik yang tadi menjatuhkan kunci inggris itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia berdiri termenung sambil menatap Ara lekat-lekat.
" Queen, lo beneran Queen kan?" tanya perempuan itu masih dengan nada ragu.
Rafaell yang melihat reaksi mereka hanya menghela napas pelan. Dia sudah menduga semua orang akan bereaksi seperti ini.
" Iya. Dia Queen," jawab Rafaell santai.
Ara masih berdiri diam di depan pintu markas. Matanya menyapu seluruh ruangan seolah sedang mencari sesuatu.Bau oli, suara mesin motor, dan simbol ular hitam yang terpampang di dinding perlahan memicu sesuatu di dalam ingatannya.
Beberapa potongan kenangan mulai muncul di kepalanya.
Ara memejamkan mata sejenak.
" Ra, lo kenapa?" tanya Rafaell sambil menatapnya khawatir.
Ara membuka kembali matanya.
" Nggak apa-apa," jawabnya singkat.
" Cuma tadi gue sedikit ingat tentang markas ini."
Setelah mengatakan itu, Ara melangkah masuk ke dalam gudang.Langkahnya santai, seolah tempat itu memang miliknya.Dia lalu duduk di sofa yang berada di tengah ruangan dengan ekspresi tenang.
Semua anggota Black Mamba masih menatapnya dengan mata membesar.Seolah masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
" Asli, gue nggak salah lihat kan? Itu Queen?" tanya perempuan tadi lagi.
Ara menatap mereka sekilas.
Ekspresinya tetap datar.
" Nggak salah."
Dia bersandar santai di sofa.
" Gue memang Queen."
Meskipun dia belum sepenuhnya mengingat kehidupan Ara yang dulu, tapi sekarang dia sudah berada di tempat ini.Artinya semua yang berhubungan dengan Ara juga menjadi bagian dari dirinya.
" Akhirnya lo kembali Queen!" seru salah satu anggota dengan wajah penuh kegembiraan.
Suasana di dalam markas langsung berubah ramai.Beberapa orang tertawa senang.Ada yang sampai menepuk bahu temannya.
Bahkan ada yang melompat-lompat seperti anak kecil karena terlalu bahagia.Namun di tengah kegembiraan itu,tidak semua orang menyukai kembalinya Ara.Di sudut ruangan, seorang pria berdiri dengan tatapan dingin.
Tangannya terlipat di dada.
Matanya menatap Ara tajam tanpa sedikit pun ekspresi senang.Dia adalah Deren.
Wakil ketua Black Mamba.
Dan satu-satunya orang yang tidak menyambut kembalinya sang Queen.
" Masih ingat balik lo, Queen?" kata Deren sembari menatap Ara dengan tatapan tajam.
Semua orang langsung terdiam saat mendengar ucapan Deren. Mereka tahu siapa Deren.
Dia adalah wakil ketua Black Mamba yang dulu dipilih langsung oleh Ara.
Ara tersenyum miring menatap Deren.
" Kenapa? Lo nggak suka?" tanya Ara santai sembari menaikkan sebelah alisnya.
Deren yang melihat tatapan Ara justru tertawa kecil, seolah merasa lucu dengan situasi itu.
" Selama beberapa tahun ini, gue yang pegang Black Mamba," katanya.
Dia menatap seluruh anggota yang ada di sana sebelum kembali menatap Ara.
" Tapi sekali lo datang, semua orang langsung panggil lo Queen."
Deren menyeringai tipis.
" Menurut lo… itu pantas?"
Rafaell yang mendengar ucapan Deren langsung merasa tidak suka.Bagaimanapun juga Ara adalah Queen Black Mamba.
Bahkan jika dulu tidak ada Ara, mungkin tidak akan pernah ada yang namanya Black Mamba.
" Deren, jaga ucapan lo," kata Rafaell dengan suara tegas dan tajam.
Deren menoleh ke arahnya dengan tatapan santai.
" Kenapa?"
Dia mengangkat bahunya ringan.
" Gue nggak salah ngomong kan?" tanya Deren kepada Rafaell.
Ara masih terdiam di sofa, menyaksikan perdebatan antara Rafaell dan Deren.Dia sengaja tidak ikut campur.Ara ingin melihat sampai sejauh mana Rafaell akan membelanya.
Namun setelah beberapa saat, Ara akhirnya menghela napas pelan.
" Dasar kekanak-kanakan," ucapnya pelan.
Semua orang langsung menoleh ke arahnya.
Ara menatap mereka satu per satu dengan ekspresi datar.
" Kalau sampai musuh tahu sikap kalian kayak gini…" Dia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah tajam.
" Black Mamba bisa pecah sebelum diserang."
Suasana markas langsung kembali sunyi.Tidak ada yang berani bicara lagi.
Setelah Ara mengatakan Black Mamba bisa terpecah, Deren semakin tersulut emosi.
" Justru karena itu gue ngomong," timpal Deren dengan nada tegas.
Deren melangkah mendekat ke arah Ara lalu berdiri tepat di hadapannya.
" Black Mamba sekarang beda, Queen," lanjutnya sembari menatap Ara tajam.
Dia menekankan kata Queen dengan nada sinis.
" Waktu lo menghilang beberapa tahun, gue yang jaga semuanya."
Perkataan Deren barusan membuat semua orang saling pandang satu sama lain.
Karena apa yang dia katakan memang benar. Selama Ara menghilang, Deren yang memimpin mereka dan menjaga Black Mamba tetap berdiri.Itulah sebabnya banyak anggota menghargainya.
Ara hanya menatap Deren dengan santai.
" Terus lo mau apa sekarang?" tanya Ara dengan nada datar.
Tidak ada sedikit pun rasa takut atau gentar di wajahnya, meskipun sedang dihadapkan langsung oleh Deren.Sebaliknya, Ara justru ingin melihat sampai sejauh mana Deren layak menjadi wakil Black Mamba dengan temperamen seperti itu.
" Kalau lo memang benar-benar Queen Black Mamba…"
Deren berhenti sejenak.
Tatapannya menantang.
" Buktikan," tantangnya kepada Ara.
Rafaell yang sedari tadi hanya diam langsung bangkit berdiri.
Tatapannya tajam penuh kemarahan.
" Lo nantang Queen?" tanya Rafaell dengan nada tidak percaya.
Deren menoleh ke arahnya dengan santai.
" Gue cuma mau lihat..."
Dia kembali menatap Ara.
" Apa dia masih pantas disebut Queen."
Suasana markas langsung kembali tegang.Semua anggota Black Mamba menahan napas, menunggu jawaban dari Ara. Sedangkan Ara justru terlihat begitu santai bahkan dia sama sekali terlihat tidak takut sama sekali.
" Jadi apa tantangan Lo?" tanya Ara kepada Derren dengan serius.
" Balapan," jawab Derren dengan penuh percaya diri.
" Gila, berani amat Lo Derren," kata Rafaell dalam hati.
" Belum tahu saja Lo bagaimana Ara saat balapan."