NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Data yang hilang

Pagi itu, Kota Sagara terbangun dalam keheningan yang aneh. Langit kelabu menggantung rendah, seolah menahan hujan yang enggan turun. Di ruang redaksi kecil tempat Kirana bekerja, suasana tegang terasa begitu kental hingga nyaris bisa disentuh.

Bima duduk di sudut ruangan, menatap layar laptop dengan dahi berkerut. Satu per satu folder dibuka, dicek, lalu ditutup kembali. Tangannya sedikit gemetar.

“Masih belum ketemu?” tanya Kirana pelan, meski ia sudah tahu jawabannya.

Bima menggeleng. “Semua file utama hilang. Rekaman suara, laporan transfer, dokumen gudang… semuanya.”

Dada Kirana terasa sesak. Ia segera membuka komputernya sendiri, memeriksa server internal. Hasilnya sama. Folder yang semalam masih utuh kini kosong, seolah tak pernah ada.

“Ini bukan kesalahan teknis,” gumam Kirana. “Seseorang masuk ke sistem.”

Rasa panik perlahan merayap. Tanpa data itu, laporan investigasi mereka lumpuh. Segala perjuangan berbulan-bulan bisa lenyap dalam sekejap.

“Cadangan di hard disk eksternal?” tanya Bima.

Kirana membuka tasnya, mengeluarkan perangkat kecil itu. Namun saat disambungkan ke laptop, layar hanya menampilkan pesan singkat: File corrupted.

Napas Kirana tercekat. “Mereka benar-benar ingin menghapus semuanya.”

Keheningan menyelimuti ruangan. Di luar, suara klakson dan hiruk pikuk kota terdengar jauh, seolah berasal dari dunia lain.

“Kita masih punya satu salinan,” kata Bima tiba-tiba.

Kirana menatapnya. “Di mana?”

“Di rumahku. Nara membantu menyimpan sebagian data di laptopnya.”

Harapan kecil menyala.

Tanpa membuang waktu, mereka segera meluncur ke rumah Bima. Jalanan terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap lampu merah seolah menjadi penghalang yang menjengkelkan.

Namun saat tiba, wajah Nara yang pucat menyambut mereka.

“Laptopku hilang,” katanya lirih.

Dunia Bima terasa runtuh. “Apa maksudmu, hilang?”

“Kamar aku diacak-acak. Tidak ada barang lain yang diambil, hanya laptop.”

Ibu berdiri di belakang Nara, matanya sembab. “Pintu terkunci, tapi jendelanya terbuka.”

Semua salinan lenyap.

Untuk beberapa detik, tak seorang pun bicara. Hanya detak jam dinding yang terdengar, berdetak lambat seperti menghitung kekalahan mereka.

“Ini akhir,” bisik Nara, hampir menangis.

Namun Kirana menggeleng. “Belum. Selama kita masih hidup, selalu ada cara.”

Bima menarik napas panjang, memaksa pikirannya tetap jernih. Ia menatap sekeliling, lalu teringat sesuatu.

“Pak Damar,” katanya. “Ia sempat menyalin sebagian data untuk analisis forensik suara.”

Mereka segera menghubungi Pak Damar. Pria itu mengangkat dengan suara tenang.

“Aku sudah menduga ini,” katanya. “Salinan datanya masih aman di server terenkripsi. Tapi itu belum lengkap.”

“Cukup untuk memulai?” tanya Kirana.

“Cukup untuk membuka kembali pintu. Tapi kalian butuh bukti tambahan.”

Harapan kembali tumbuh, meski rapuh.

Malam itu, mereka berkumpul di ruang tamu keluarga Wijaya. Kelelahan, marah, dan takut bercampur menjadi satu.

“Mereka ingin kita menyerah,” kata ayah dengan suara serak. “Itu berarti kita sedang berada di jalur yang benar.”

Bima menatap ayahnya, merasakan kembali kekuatan yang nyaris padam. “Aku tak akan berhenti.”

Keesokan harinya, Kirana menerima pesan anonim. Sebuah alamat dan satu kalimat singkat: Kebenaran belum sepenuhnya hilang.

Pesan itu membawa mereka ke sebuah warnet tua di pinggiran kota. Pemiliknya, seorang pemuda kurus bernama Dito, menyambut dengan gugup.

“Aku diretas untuk menghapus data kalian,” katanya. “Tapi aku sempat menyelamatkan sebagian.”

Ia menyerahkan flashdisk kecil.

Di dalamnya, tersimpan rekaman kamera gudang pelabuhan—menampilkan jelas pertemuan rahasia para konspirator.

Air mata Kirana nyaris tumpah. “Ini lebih dari cukup.”

Namun kebahagiaan itu singkat. Saat mereka keluar dari warnet, dua motor matic berhenti mendadak di depan. Pengendaranya mengenakan helm hitam, wajah tertutup.

“Masuk!” bentak salah satu sambil menarik lengan Kirana.

Bima refleks mendorong Kirana ke belakangnya. “Lari!”

Kejar-kejaran pun terjadi. Mereka berlari menembus gang sempit, suara langkah dan teriakan bercampur jadi satu. Napas Bima tersengal, kakinya terasa berat, namun ia tak berhenti.

Di tikungan tajam, sebuah mobil tua mendadak berhenti. Pintu terbuka.

“Cepat masuk!” teriak Pak Damar dari balik kemudi.

Tanpa berpikir panjang, mereka melompat masuk. Mobil melaju kencang, meninggalkan para pengejar dalam debu dan sumpah serapah.

Di dalam mobil, suasana hening. Kirana menggenggam flashdisk itu erat, seolah takut ia menguap.

“Mereka benar-benar tak main-main,” bisik Kirana.

Bima menatap jalanan di depan. “Kita juga tidak.”

Malam itu, mereka tahu, permainan telah berubah.

Data yang hilang memang sempat mematahkan langkah, namun justru membuka jalan menuju bukti yang jauh lebih mematikan.

Dan di balik kelelahan, lahir keyakinan baru: kebenaran mungkin bisa dihapus sementara, tapi ia tak pernah bisa dimusnahkan.

Keyakinan itu menjadi satu-satunya cahaya di tengah gelap yang semakin menebal. Di dalam mobil Pak Damar yang melaju menembus malam, Bima memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tak beraturan. Nafasnya belum sepenuhnya stabil, namun pikirannya sudah kembali bekerja, memutar ulang setiap kejadian dalam kepalanya.

Kirana duduk di sampingnya, menggenggam flashdisk kecil itu seolah sedang memegang nyawanya sendiri. Di balik wajah tegar, ketegangan tak mampu ia sembunyikan. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada kendaraan mencurigakan yang mengikuti.

“Kita harus segera menyalin data ini,” katanya pelan. “Kalau sampai hilang lagi, kita benar-benar habis.”

Pak Damar mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Aku akan membawa kalian ke tempat yang aman. Server rahasia yang tidak terhubung langsung ke jaringan umum.”

Mobil berbelok memasuki kawasan perumahan tua di pinggir kota. Rumah-rumah sederhana berdiri rapat, sebagian tampak kosong. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil bercat putih kusam, nyaris tak mencolok di antara rumah lainnya.

Di dalam, ruangan sempit itu dipenuhi peralatan komputer, kabel-kabel, dan layar monitor. Pak Damar segera menghubungkan flashdisk ke sistem cadangan terenkripsi. Bima dan Kirana menahan napas, menunggu proses pemindahan data yang terasa berjalan begitu lambat.

Beberapa menit kemudian, layar menampilkan pesan: Transfer complete.

Baru saat itu mereka berani bernapas lega.

Kirana bersandar di kursi, menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku hampir berpikir semuanya berakhir malam ini.”

Bima menatap layar monitor, menyaksikan potongan-potongan rekaman yang kini kembali hidup. “Justru ini awal dari segalanya.”

Namun rasa aman itu hanya berlangsung singkat.

Ponsel Bima bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.

Kau terlalu keras kepala. Masih ada waktu untuk berhenti.

Bima menunjukkan layar itu pada Kirana. Mata Kirana mengeras. “Ancaman terakhir sebelum mereka bertindak lebih brutal.”

Pak Damar menepuk bahu Bima. “Kalian harus siap. Setelah ini, serangan akan datang dari segala arah.”

Dan benar saja.

Keesokan paginya, berita tentang dugaan keterlibatan Bima dalam peretasan ilegal menyebar luas. Foto dirinya terpampang di berbagai portal, dengan judul-judul sensasional yang memutarbalikkan fakta. Media sosial langsung bergolak. Komentar pedas, hinaan, dan fitnah membanjiri.

Di rumah, ibu menangis tersedu, memeluk Bima erat. “Ibu takut, Nak…”

Bima mengelus punggung ibunya perlahan. “Percayalah, Bu. Semua ini akan berakhir.”

Namun di dalam hatinya, kecemasan semakin membesar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk keselamatan keluarganya.

Tak lama berselang, ayah kembali dilarikan ke rumah sakit. Tekanan, kurang tidur, dan rasa cemas memperburuk kondisinya. Bima berdiri di lorong rumah sakit, menatap lampu putih yang menyilaukan, merasa seolah dunia menekan dadanya tanpa ampun.

Kirana datang menyusul, membawa kabar yang tak kalah mengkhawatirkan.

“Redaksi mendapat surat somasi. Mereka menuntut aku menghentikan investigasi dan menyerahkan semua data.”

Bima mengepalkan tangan. “Dan keputusanmu?”

Kirana tersenyum tipis. “Aku sudah menandatangani surat pernyataan. Artikel tetap terbit.”

Keputusan itu berarti ia mempertaruhkan karier, bahkan kebebasannya.

Hari-hari berikutnya menjadi perlombaan dengan waktu. Kirana menyusun laporan akhir, menggabungkan data lama dengan rekaman baru. Setiap kalimat ditimbang, setiap bukti diverifikasi berlapis-lapis. Tak ada ruang untuk kesalahan.

Di sisi lain, Bima dan Nara menyebarkan salinan data ke beberapa pihak independen—LSM, aktivis hukum, dan komunitas jurnalis. Jika satu jalur terputus, masih ada jalur lain yang bisa menyelamatkan kebenaran.

Namun para lawan mereka juga tak tinggal diam.

Sebuah mobil mencurigakan mulai sering terparkir di dekat rumah. Nomor-nomor asing menelepon di jam-jam ganjil. Bahkan beberapa teman Bima mendadak menjauh, takut terseret masalah.

Suatu malam, listrik di lingkungan rumah padam mendadak. Dalam gelap, suara langkah kaki terdengar di halaman. Bima langsung bangkit, menggenggam senter dan tongkat kayu.

Bayangan bergerak cepat di balik pagar.

“Siapa di sana?” teriaknya.

Tak ada jawaban, hanya suara lari menjauh. Namun di depan pintu, tergeletak sebuah amplop hitam. Di dalamnya, selembar foto rumah sakit tempat ayahnya dirawat, dengan tulisan merah: Hentikan sekarang.

Tangan Bima bergetar.

Namun ketakutan itu justru berubah menjadi kemarahan yang membara.

“Mereka tak punya batas,” gumamnya.

Kirana menatap foto itu lama, lalu mengangkat wajahnya dengan sorot mata tajam. “Justru karena itu, kita harus menyelesaikannya.”

Malam sebelum artikel diterbitkan, Bima duduk di samping ranjang ayahnya. Suara mesin monitor berdetak pelan, mengiringi detik-detik yang terasa begitu rapuh.

“Ayah percaya padamu,” bisik ayah dengan suara lemah. “Lakukan apa yang menurutmu benar.”

Air mata Bima jatuh tanpa ia sadari. “Aku janji, Yah. Aku akan menuntaskan semuanya.”

Di luar jendela, hujan turun perlahan, membasuh Kota Sagara yang gelisah. Di balik derasnya air, dua anak muda dan sebuah keluarga kecil bersiap menghadapi badai terbesar dalam hidup mereka.

Karena mereka tahu, setelah semua yang terjadi, tak ada lagi jalan pulang selain maju.

Dan ketika kebenaran akhirnya berdiri di hadapan dunia, mereka akan memastikan bahwa tidak ada kekuasaan yang cukup besar untuk kembali menguburnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!