NovelToon NovelToon
DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

DAO YIN: KEABADIAN YIN–YANG ABSOLUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Budidaya dan Peningkatan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mr.Mounyenk

Di Benua Dao Yin, Kekaisaran Yin berdiri di tengah empat kekuatan besar yang menyimpan ambisi pengkhianatan.
Saat perang pecah dan kekaisaran runtuh, Chen Long—pangeran Utara berdarah naga dan keturunan kesatria kuno—kehilangan segalanya.
Diburu manusia, iblis, dan akhirnya langit itu sendiri, Chen Long menapaki jalur kultivasi terlarang Yin–Yang, sebuah kekuatan yang tak diakui surga. Bersama Putri Yin Sunxin, pewaris darah murni Dewi Bulan, ia membangun kembali tatanan dunia dari reruntuhan, menantang iblis, menghancurkan para pengkhianat, dan menghadapi hukuman alam dewa.
Ketika Yin dan Yang bertabrakan dalam satu tubuh, lahirlah seorang anomali—
penguasa baru yang akan menentukan apakah dunia layak diselamatkan,
atau harus dihancurkan demi keseimbangan sejati.

(Update setiap hari)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: SEBELUM MATAHARI TENGGELAM

Matahari di ibu kota Yin tidak pernah terlihat langsung. Chen Long berdiri di halaman belakang penginapan, memegang dua batu giok putih di tangan kanan, hitam di tangan kiri.

Batu-batu itu berdenyut, bukan bersamaan, melainkan bergantian.

Seolah bernapas.

Seolah menunggu.

Xiao Feng berdiri tiga langkah di belakangnya.

Anak itu tidak lagi memegang batu abu-abu aneh yang ditemukan tadi pagi. Batu itu kini berada di saku Chen Long, dekat jantung, bersama batu giok hitam.

Tiga batu. Tiga frekuensi.

Tiga kunci yang belum tahu cara membuka.

"Berapa lama?" tanya Xiao Feng.

Chen Long tidak menjawab.

Ia menatap langit yang kelabu, mencari matahari yang tersembunyi.

Di halaman, sepuluh batu latihan masih tersebar dalam pola spiral.

Namun kini, di matanya yang bisa membaca resonansi, pola itu terlihat berbeda.

Bukan hanya spiral.

Melainkan jebakan. Node-node yang bisa diaktifkan, bisa diubah, bisa dijadikan sesuatu yang lebih dari latihan.

"Kau akan pergi lagi," kata Xiao Feng. Bukan pertanyaan.

Chen Long mengangguk."Ke bawah. Sebelum matahari tenggelam. Sebelum pria itu datang."

"Apa yang akan kau lakukan di sana?"tanya Xiao Feng.

Chen Long menoleh.

Matanya setengah terpejam, namun bukan karena lelah. Ia sedang "membaca"—getaran dari tanah, dari jaringan, dari dua batu giok di tangannya. "Aku akan mencoba sesuatu," katanya.

"Sesuatu yang wanita itu katakan. Cara lain untuk membuka. Bukan dengan paksaan. Bukan dengan kekuatan. Melainkan dengan..." Ia berhenti, mencari kata yang tepat.

"Dengan mengerti."

Ia berjalan ke sudut halaman, ke tempat batu ke-11 ditemukan.

Tanah di sana masih lembut, masih menunjukkan jejak tangan Xiao Feng yang menggali.

Chen Long berlutut, menempatkan telapak tangan di tanah.

Dingin.

Normal.

Namun di bawahnya, sangat dalam, ada denyut.

Jaringan getaran yang ia temukan dua malam lalu. Wanita yang menunggu di kolam.

Pria yang akan datang dengan alat paksa.

Dua arus di tubuhnya berputar.

Yin dari batu giok putih. Yang dari tulang belakang.

Mereka berputar berlawanan arah, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Seolah mereka tahu bahwa waktu untuk bersembunyi telah berakhir.

"Kau tidak bisa ikut," kata Chen Long, masih berlutut, masih menatap tanah.

Xiao Feng menggigit bibir. "Aku tahu."

"Tapi kau bisa melakukan sesuatu." Chen Long berdiri, mengeluarkan batu abu-abu dari saku, meletakkannya di tangan anak itu.

"Batuku. Yang kau temukan. Kau rasakan sesuatu darinya, kan?"

Xiao Feng mengangguk. "Kosong. Tapi... penuh."

"Seperti kau." Chen Long tersenyum tipis. "Berdiri di sini. Di tempat ini. Dengan batu itu. Dan rasakan. Jika aku..."

Ia berhenti, mencari kata yang tidak terlalu berat. "Jika aku tidak kembali sebelum matahari tenggelam, kau cari Sunxin. Kau berikan batu ini padanya. Dan kau bilang: 'Dua batu tidak cukup. Tiga mungkin.'"

Xiao Feng mengerutkan dahi. "Aku tidak mengerti."

"Kau tidak perlu mengerti." Chen Long sudah berjalan ke arah dapur, ke pintu kecil yang menuju bawah.

"Kau hanya perlu melakukan."

Ia turun.

Tangga batu yang licin, sempit, berbau jamur.

Namun kali ini, Chen Long tidak berjalan dengan hati-hati.

Ia berjalan dengan cepat, dengan tujuan.

Dua batu giok di saku kanan dan kiri berdenyut semakin kencang seolah menariknya, seolah mengatakan: Cepat.

Ia sudah dekat.

Di persimpangan lorong, Chen Long berhenti. Kiri, ke ruang kuno dengan relief.

Kanan, ke gua kolam. Namun kali ini, ada getaran ketiga.

Dari depan.

Dari arah yang tidak pernah ia eksplorasi. Seolah jaringan itu sendiri yang membuka jalan, yang mengundang, yang mengatakan: Di sini. Bukan di kolam.

Bukan di gua.

Di sini.

Ia berjalan lurus.

Lorong menyempit, kemudian melebar, kemudian menyempit lagi.

Dindingnya tidak lagi batu polos. Ada goresan.

Bukan tulisan.

Bukan gambar.

Melainkan bekas.

Bekas getaran yang sangat tua, sangat dalam, yang telah meresap ke dalam mineral selama ratusan tahun.

Seolah seseorang pernah berlatih di sini.

Banyak orang.

Mereka yang juga memiliki dua arus.

Mereka yang juga mencoba keseimbangan.

Lorong berakhir di sebuah ruang.

Bukan gua alami. Bukan kubah megah.

Melainkan ruang latihan.

Dindingnya rata, dilapisi batu hitam yang menyerap cahaya.

Di tengah, ada satu batu.

Tidak besar.

Tidak kecil.

Berbentuk seperti... manusia yang sedang duduk bersila.

Chen Long berhenti di ambang ruang.

Batu giok di sakunya berdenyut sangat kencang, sangat panas, seolah ingin keluar, ingin menyatu, ingin... melengkapi."Kau datang."

Suara itu bukan dari batu.

Bukan dari dinding.

Melainkan dari belakangnya.

Chen Long berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun getaran itu ada.

Sangat familiar.

Sangat dingin.

Sangat Yin.

Wanita dari kolam muncul dari bayangan dinding—bukan berjalan, melainkan menyatu, seolah ia adalah bagian dari batu hitam, bagian dari jaringan, bagian dari ruang ini sendiri. "Ini adalah tempat latihan terakhir," katanya.

"Tempat di mana Petapa Yin-Yang pertama kali menemukan keseimbangan. Sebelum ia menjadi petapa. Sebelum ia menjadi legenda. Ia hanyalah seseorang yang gagal. Seperti kau."

Chen Long menatap batu di tengah ruang. "Itu..."

"Bukan batu." Wanita itu melangkah mendekat, namun berhenti di ambang ruang bisa masuk, namun memilih untuk tidak. "Itu adalah yang tersisa.Dari seseorang yang mencoba. Dua arus. Yin dan Yang. Berputar. Namun pada akhirnya..." Ia berhenti, menatap batu itu dengan mata yang sangat tua, sangat lelah. "Pada akhirnya, ia memilih untuk menjadi kunci. Bukan penguasa. Bukan dewa. Hanya kunci. Yang menunggu. Yang tertinggal. Seperti aku."

Chen Long merasakan sesuatu di dadanya.

Bukan sakit.

Bukan takut.

Melainkan... pengakuan.

Bahwa jalan yang ia tapaki bukan jalan baru.

Bahwa ada yang telah berjalan sebelumnya.

Gagal.

Menjadi batu.

Menjadi kunci.

Menunggu.

"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.

Wanita itu menatapnya.

Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya yang bukan lelah.

Melainkan... harap.

Sangat kecil.

Sangat rapuh. "Duduk," katanya. "Di sampingnya. Bukan di atasnya. Bukan menggantikannya. Melainkan... menemani. Rasakan bagaimana ia berputar. Bagaimana ia menahan. Bagaimana ia..." Ia berhenti, suaranya pecah sedikit. "Bagaimana ia menunggu. Dan ketika kau mengerti, kau akan tahu cara membuka jaringan ini tanpa memecahnya. Tanpa menjadi batu. Tanpa menjadi aku."

Chen Long berjalan ke tengah ruang. Perlahan. Setiap langkah terasa berat, seolah ruang ini menolak kehadiran hidup, seolah lebih nyaman dengan yang statis, dengan yang menunggu, dengan yang... mati.

Ia duduk.

Bukan bersila.

Melainkan bersandar, punggungnya menyentuh batu yang dulu adalah manusia.

Dingin.

Sangat dingin.

Namun di balik dingin, ada getaran.

Sangat lambat.

Sangat tua.

Seolah detak jantung yang tertahan, ditahan, dipaksa untuk tidak berhenti meski tubuh sudah tidak lagi bisa bergerak.

Dua arus di tubuh Chen Long berputar. Yin dari batu giok putih. Yang dari batu giok hitam.

Mereka keluar.

Sangat perlahan.

Sangat halus.

Bukan melonjak.

Melainkan... merembes. Ke batu.

Ke getaran yang tertahan.

Ke yang tersisa.

Dan sesuatu terjadi.

Bukan ledakan.

Bukan cahaya.

Melainkan respons.

Batu di belakangnya bergetar sekali.

Sangat kecil.

Sangat lemah.

Namun cukup untuk Chen Long merasakannya.

Seolah seseorang di dalam sana, yang telah menunggu ratusan tahun, akhirnya... mengangguk.

Akhirnya mengakui.

Akhirnya mengatakan:

Kau mengerti.

Hampir.

Hampir.

Dari kejauhan, dari lorong yang berbeda, dari arah yang tidak Chen Long duga, datang getaran lain.

Bukan Yin.

Melainkan Yang.

Sangat kuat.

Sangat terlatih.

Sangat... marah.

Pria itu datang.

Lebih awal dari yang diharapkan.

Lebih cepat dari yang diperingatkan Sunxin.

Dan ia tidak sendirian.

Di tangannya, alat dari Raja Zhong bersinar dengan cahaya yang salah cahaya yang memaksa, cahaya yang merusak, cahaya yang akan membuka jaringan ini dengan cara yang tidak bisa diubah, tidak bisa diperbaiki, tidak bisa... ditahan.

Chen Long membuka mata.

Dua arus di tubuhnya masih berputar, masih merembes, masih berdialog dengan batu di belakangnya.

Namun ia tahu.

Waktu yang ia pikir punya sampai matahari tenggelam telah habis.

Pria itu tidak menunggu malam.

Pria itu tidak menunggu izin.

Pria itu datang sekarang.

Dengan paksaan. Dengan kekuatan.

Dengan Yang murni yang tidak mengenal Yin.

Dan Chen Long, yang masih duduk di tengah ruang, yang masih belum selesai mengerti, yang masih berdialog dengan yang tersisa, harus memilih.

Sekarang.

Tanpa persiapan.

Tanpa pemahaman sempurna.

Bangkit.

Menghadapi.

Dengan dua batu giok yang belum sepenuhnya sinkron.

Dengan teknik yang belum sepenuhnya mengerti.

Atau... tetap duduk.

Menjadi batu.

Menjadi kunci.

Menjadi yang tertinggal.

Batu giok putih di saku kanannya berdenyut sekali. Sangat kencang. Sangat panas.

Seolah Sunxin, di suatu tempat di atas sana, merasakan sesuatu.

Seolah berkata:

Jangan.

Belum.

Jangan menjadi batu.

Chen Long menarik napas.

Dalam.

Dua arus di tubuhnya berputar lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena... keputusan.

Ia belum siap.

Ia belum mengerti.

Tapi ia tidak akan menjadi batu.

Tidak hari ini.

Ia berdiri.

Perlahan.

Menatap arah datangnya getaran Yang.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Benteng Utara, Chen Long tersenyum.

Bukan senyum percaya diri.

Bukan senyum menang.

Melainkan senyum yang mengatakan: Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku akan mencoba.

Di belakangnya, batu yang dulu adalah manusia bergetar sekali lagi. Lebih keras. Lebih jelas.

Seolah mengangguk.

Seolah berkata: Baik. Coba. Gagal jika perlu. Tapi jangan menjadi aku. Jangan menjadi yang tertinggal.

Getaran Yang semakin dekat.

Cahaya alat Raja Zhong memantul di dinding lorong, merobek kegelapan, merobek kesunyian, merobek keseimbangan yang telah bertahan ratusan tahun.

Dan Chen Long berdiri di tengahnya.

Dua batu giok di tangan.

Dua arus di tubuh.

Satu keputusan yang belum tahu hasilnya.

Matahari di atas sana, di dunia yang tidak melihat apa yang terjadi di bawah, mulai condong ke barat.

Belum tenggelam.

Tapi hampir. Hampir.

...BERSAMBUNG...

...****************...

1
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Ada kumpul-kumpul iblis dan anomali🤭
さくらゆい
keep up the good work
花より
I like kingdom-themed stories
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
Kayu besi Utara dengan kayu Eboni beda kah? 🤔
ᴠͥɪͣᴘͫ ⛩️ ⃝𝕸𝖗.𝕸ཧཱོ࿐☯️: kayu besi atau di kenal dengan temusi atau temusu

berasal dari Eropa Selatan,asia barat daya dan timur, Amerika Tengah dan Utara
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰
jejak
♨ˢᶜ🍾⃝ͩKᴜᷞᴢͧᴇᷠʏᷧ🥑⃟ⰼ⃞☪ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
silakan dibaca😄
🍾⃝ͩֆᷞиͧσᷠωͣflower♕🆒
Semangat berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!