Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Matahari pagi di Shanghai tertutup oleh kabut polusi tipis yang menyaring cahayanya menjadi semburat abu-abu yang dingin. Di kediaman paviliun keluarga Lin, Xue Xiao berdiri di balkon, membiarkan angin kota yang berbau polusi menerpa wajahnya. Ia merindukan bau tanah basah Shennongjia. Lima tahun di hutan telah membentuk instingnya bahwa udara di kota tidak seindah di hutan, dan pagi ini, ia merasakan getaran yang tidak menyenangkan di udara.
Di lantai bawah, Kapten Arga sedang berdiri di balik pilar marmer, ponselnya menempel erat di telinga. Wajahnya yang kaku tampak tegang, matanya sesekali melirik ke arah tangga, memastikan Lin Qingyan tidak berada di dekatnya.
"Ya, Inspektur. Target tidak memiliki dokumen imigrasi, kartu identitas, maupun catatan kelahiran. Saya curiga Dia adalah ancaman keamanan nasional yang masuk secara ilegal ke jantung Shanghai. Saya memberikan izin akses masuk ke gerbang samping agar Anda bisa melakukan penjemputan tanpa membuat target waspada," bisik Arga dengan nada mendesak.
Setelah menutup telepon, Arga menyunggingkan senyum tipis yang penuh kebencian. Ia tahu Lin Jianhua sedang dalam sesi fisioterapi di gedung medis pribadi, sementara Lin Qingyan sedang berada di ruang kerjanya di sayap barat bangunan. Ini adalah waktu yang tepat. Arga merasa bahwa menyingkirkan manusia liar ini adalah tugas sucinya untuk mengembalikan tatanan di keluarga Lin, dan tentu saja, untuk menyingkirkan saingan yang mulai mencuri perhatian nona nya.
Tak lama kemudian, tiga mobil SUV hitam tanpa plat nomor masuk melalui gerbang samping. Sepuluh pria berseragam taktis dengan rompi anti peluru turun dengan gerakan cepat namun senyap. Arga menyambut mereka di lobi.
"Dia ada di atas," Arga menunjuk ke arah paviliun tamu. "Hati-hati, dia memiliki kekuatan fisik yang tidak wajar. Gunakan prosedur penanganan teroris jika perlu."
Xue Xiao tidak terkejut saat pintu kamarnya dibuka paksa. Ia tidak bergerak dari posisinya di balkon, bahkan ketika moncong senjata laras panjang diarahkan tepat ke punggungnya.
"Tuan Xue Xiao, Anda ditahan atas dugaan masuk ke wilayah negara secara ilegal dan kepemilikan identitas palsu," suara berat seorang perwira polisi bergema di ruangan itu.
Xue Xiao berbalik perlahan. Matanya yang jernih namun dalam menatap kerumunan pria bersenjata itu dengan rasa penasaran yang murni. Ia melihat Arga berdiri di belakang para petugas, mencoba menyembunyikan senyum kemenangannya.
"Hukum?" gumam Xue Xiao pelan. "Jadi ini yang kalian sebut sebagai tatanan dunia?"
Arga melangkah maju sedikit, suaranya dibuat seolah-olah dia prihatin. "Master Xue, saya mohon maaf. Sebagai kepala keamanan, tugas saya adalah melaporkan setiap individu tanpa dokumen resmi kepada pihak berwenang. Ini bukan keinginan pribadi saya, tapi demi keamanan nasional. Mohon jangan melawan, agar semuanya bisa diselesaikan dengan baik di kantor polisi."
Xue Xiao menatap Arga selama beberapa detik. Ia bisa mencium bau busuk kebohongan dari kata-kata pria itu. Namun, alih-alih melepaskan ledakan kekuatan yang bisa menghancurkan seluruh paviliun ini, Xue Xiao justru menurunkan tangannya.
Ia baru berada di peradaban modern ini selama beberapa hari. Jika ia ingin benar-benar hidup di sini dengan nyaman dan damai, ia harus memahami bagaimana "kekuatan hukum" ini bekerja. Jika ia menghancurkan polisi-polisi ini sekarang, ia hanya akan menjadi buronan selamanya persis seperti pelarian yang ia alami di Alam Abadi.
"Baiklah," ucap Xue Xiao tenang. "Aku ingin melihat bagaimana kalian menjalankan apa yang kalian sebut sebagai keadilan."
Arga terkejut melihat Xue Xiao menyerah begitu mudah. Ia segera memberi isyarat kepada petugas untuk memasangkan borgol baja hitam ke pergelangan tangan Xue Xiao. Saat logam dingin itu mengunci kulitnya, Xue Xiao merasakan sensasi yang asing, sebuah penghinaan fisik yang belum pernah ia terima selama ratusan tahun, baik di kehidupan lama maupun barunya.
Mereka membawa Xue Xiao keluar melalui jalur belakang. Saat mobil mulai melaju meninggalkan kediaman Lin, Xue Xiao melihat pantulan bayangan paviliun itu di spion mobil. Ia menebak bahwa Lin Qingyan tidak tahu tentang hal ini. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya ingin tahu, sejauh mana manusia-manusia ini berani mengusik seekor naga yang sedang beristirahat.
Perjalanan menuju Kantor Kepolisian Pusat Shanghai terasa sangat membosankan bagi Xue Xiao. Ia melihat gedung-gedung pencakar langit yang lewat di jendela, merasa heran bagaimana manusia bisa merasa bangga tinggal di dalam tumpukan beton yang menghalangi cahaya matahari.
Sesampainya di kantor polisi, ia tidak dibawa ke ruang administrasi biasa, melainkan langsung ke sebuah lorong bawah tanah yang gelap dan pengap. Bau lumut dan keringat dingin memenuhi udara. Ini bukan ruang interogasi standar; ini adalah sel isolasi khusus yang digunakan untuk para kriminal kelas berat.
Xue Xiao didudukkan di sebuah kursi besi yang dipaku ke lantai marmer yang retak. Di depannya, sebuah lampu meja dengan cahaya putih yang menyilaukan diarahkan tepat ke wajahnya.
Arga masuk ke ruangan itu, melepaskan jas hitamnya dan menggulung lengan kemejanya. Di belakangnya, tiga polisi berbadan besar masuk, menutup pintu besi dengan bunyi dentang yang berat. Arga tidak lagi memasang wajah prihatin. Wajahnya kini penuh dengan kegilaan dan dendam.
"Selamat datang di dunia nyata, Xue Xiao," Arga duduk di depan meja, bayangannya memanjang di dinding yang lembap. "Di hutan, kau mungkin adalah raja. Tapi di sini, kau hanyalah selembar kertas kosong yang bisa aku robek kapan saja."
Xue Xiao menatap borgol di tangannya, lalu menatap Arga dengan ekspresi datar. "Kau membawa aku ke sini hanya untuk menggonggong, Pengawal? Di mana orang yang kalian sebut hakim atau pembela hukum?"
Arga tertawa, suara tawanya memantul di dinding sel. "Hakim? Di ruangan ini, akulah hukumnya. Teman-temanku di sini sudah dibayar untuk memastikan bahwa besok pagi, namamu akan tercatat sebagai tersangka penyerangan petugas. Kau akan membusuk di penjara paling gelap di negara ini, dan Nona Qingyan akan segera melupakanmu."
Arga berdiri, mengambil sebuah tongkat pemukul dari salah satu polisi. "Tapi sebelum itu, aku ingin tahu... sekeras apa sebenarnya tubuhmu itu? Apakah kau masih bisa menangkap peluru jika semua tulang rusukmu sudah hancur?"
Xue Xiao menghela napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, merasakan aliran tipis energi di dalam tubuhnya. Meskipun bumi ini miskin energi spiritual, kekuatan fisik Tubuh Baja miliknya adalah hasil dari pemurnian sumsum selama lima tahun di hutan berkabut.
"Kau punya satu kesempatan untuk membuka borgol ini dan pergi meminta maaf pada majikanmu," ucap Xue Xiao, suaranya rendah namun mengandung tekanan yang membuat lampu di ruangan itu sedikit berkedip.
"Bicara besar!" Arga mengayunkan tongkat pemukulnya dengan kekuatan penuh ke arah bahu Xue Xiao.
BRAKK!
Bunyi benturan keras bergema, namun bukan suara tulang patah yang terdengar. Tongkat baja di tangan Arga justru membengkok menjadi bentuk huruf U setelah menghantam bahu Xue Xiao. Arga terbelalak, telapak tangannya bergetar hebat hingga ia melepaskan tongkat itu ke lantai.
"Apa... apa-apaan ini?!" Arga melangkah mundur, wajahnya memucat. Dia tahu bahwa Xue Xiao memiliki kekuatan fisik yang tidak wajar, namun ia tidak berpikir kekuatan fisiknya akan begitu tak masuk akal. "Cepat! Gunakan taser! Hajar dia!"
Dua polisi lainnya segera mengeluarkan alat kejut listrik dan menembakkannya ke arah dada Xue Xiao. Arus listrik ribuan volt mengalir melalui kabel-kabel kecil itu. Membuat Arga tersenyum puas, menanti saat Xue Xiao kejang-kejang di lantai.
Namun, Xue Xiao hanya duduk diam. Kabel taser itu menempel di dadanya seolah-olah hanya menempel pada patung batu. Ia bahkan tidak berkedip. Listrik yang bagi manusia biasa bisa menghentikan jantung, bagi Xue Xiao hanyalah sensasi geli yang tidak berarti.
"Listrik ini... sedikit lebih hangat daripada sambaran petir di gunung," ucap Xue Xiao tenang. Ia kemudian menggerakkan tangannya sedikit ke samping.
KREKK!
Borgol baja hitam di tangannya hancur berkeping-keping seolah-olah terbuat dari biskuit rapuh. Xue Xiao berdiri perlahan, mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Aura yang menekan di ruangan itu tiba-tiba meledak, membuat suhu udara terasa membeku seketika.
"Sekarang," Xue Xiao menatap Arga yang sudah gemetar di sudut ruangan, "Izinkan aku menunjukkan padamu, bagaimana hukum alam bekerja."