Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Apartemen itu terlalu besar untuk satu orang.
Yuna melangkah masuk dengan kaki yang masih gemetar, matanya menyapu ruangan dengan cepat... lantai marmer hitam mengkilap, langit-langit tinggi dengan lampu kristal besar yang menggantung di tengah, sofa putih besar menghadap jendela kaca dari lantai hingga plafon yang memperlihatkan pemandangan Jakarta malam dengan semua lampunya yang berkilauan seperti bintang jatuh terbalik.
Semuanya putih, hitam, dan abu-abu. Minimalis. Dingin. Sama seperti pemiliknya.
Bastian melepaskan pegangannya di pinggang Yuna, akhirnya... dan berjalan santai menuju bar mini di sudut ruangan, menuangkan sesuatu ke dalam gelas pendek. Yuna berdiri canggung di tengah ruang tamu, tangannya saling menggenggam di depan tubuh, tidak tahu harus berbuat apa.
"Kamar mandi di sana." Bastian menunjuk lorong panjang di sisi kanan tanpa menoleh. "Bersihkan dirimu dulu."
Yuna mengerjap. "S-sekarang?"
Bastian akhirnya menatapnya. Satu alis terangkat. "Kamu mau aku sentuh kamu dalam keadaan seperti itu?"
Wajah Yuna langsung memanas. Ia menunduk dan berjalan cepat ke arah yang Bastian tunjuk, hampir tersandung kakinya sendiri di tengah jalan.
Lorong itu panjang dengan dinding putih bersih dan beberapa pintu tertutup di kiri kanan. Yuna membuka pintu paling ujung... dan terkesiap pelan.
Kamar mandi ini lebih besar dari kamar kosannya.
Lantai keramik putih mulus, dinding setengahnya dilapisi marmer abu-abu gelap, bathtub besar di sudut dengan keran emas mengkilap, shower terpisah dengan kaca bening, wastafel ganda dengan cermin besar yang membentang sepanjang dinding, dan... Yuna hampir tertawa miris... handuk putih yang dilipat rapi seperti di hotel bintang lima.
Ia menutup pintu dan bersandar di sana sebentar, menarik napas panjang.
"Tenang, Yuna. Kamu cuma perlu... mandi. Itu saja. Mandi dulu. Pikirin nanti sisanya."
Tapi tangannya gemetar saat ia melepas gaun hitam itu, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara yang lembut. Ia melepas dalaman sederhana yang ia pakai, bra putih biasa dan celana dalam katun yang sudah mulai melar... dan melangkah masuk ke shower dengan kaki yang hampir tidak bisa menopang tubuhnya.
Air panas mengalir dari atas kepalanya, membawa serta aroma sabun mahal yang bahkan tidak pernah Yuna bayangkan bisa ia pakai lagi. Ia menggosok tubuhnya perlahan, mencoba menenangkan diri, mencoba tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah ia keluar dari sini...
Tapi otaknya tidak bisa berhenti.
"Om Bastian akan menyentuhku."
"Om Bastian akan..."
Yuna menutup mata erat-erat dan membiarkan air panas membasuh wajahnya.
---
Sepuluh menit berlalu.
Lima belas.
Dua puluh.
Yuna sudah selesai mandi sejak lima belas menit lalu. Tapi ia masih berdiri di dalam kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin besar itu dengan wajah pucat.
Ia takut.
Sangat takut.
Bukan takut Bastian akan menyakitinya... entah kenapa instingnya bilang pria itu tidak akan melakukan itu, tapi takut pada dirinya sendiri. Takut ia tidak tahu harus berbuat apa. Takut ia akan mengecewakan. Takut ia akan...
Tok! Tok! Tok!
Yuna hampir melompat kaget.
"Yuna."
Suara Bastian dari luar pintu. Rendah. Tapi dengan nada yang sedikit... tidak sabar?
Yuna membeku. "I-iya Om?"
Pintu terbuka sedikit, hanya beberapa inci... dan sebuah tangan masuk dengan membawa paper bag berwarna hitam mewah dengan tali satin emas di pegangannya.
"Pakai ini."
Lalu pintu ditutup lagi.
Yuna menatap paper bag itu dengan jantung berdebar. Ia mengambilnya dengan tangan gemetar dan membukanya perlahan...
Matanya melotot.
"Tidak."
Di dalam paper bag itu tergeletak satu set lingerie.
Bukan lingerie biasa. Ini adalah lingerie mewah dengan bahan renda hitam transparan, bra dengan potongan yang sangat rendah di bagian dada dan tali-tali tipis yang rumit, dan celana dalam, kalau itu bisa disebut celana dalam... yang hampir tidak ada kainnya sama sekali, hanya renda dan tali-tali kecil yang sepertinya dirancang lebih untuk dilihat daripada untuk ditutup.
Wajah Yuna terasa seperti terbakar.
"Om Bastian..." suaranya keluar lebih tinggi dari biasanya. "Ini... aku tidak bisa..."
"Pakai. Atau aku yang akan memakaikannya untukmu."
Suara Bastian terdengar sangat serius.
Yuna menelan ludah. Tangannya gemetar saat ia mengambil lingerie itu dan mulai memakainya dengan canggung. Bra-nya pas, terlalu pas... mengangkat payudarnya hingga terlihat sangat penuh, dan lebih bulat, Dan celana dalamnya... Yuna hampir menangis saat memakainya, hampir tidak menutupi apa pun.
Ia berdiri di depan cermin dan menatap pantulannya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yuna melihat dirinya sebagai... wanita.
Bukan siswi SMA yang taunya hanya main, nongkrong dan sekolah. Tapi wanita...dengan lekuk tubuh yang indah, payudara yang penuh, pinggang ramping, pinggul melebar, dan bokong yang bulat sempurna.
Tubuhnya... indah.
Yuna tidak pernah menyadari itu sebelumnya.
Ia merasakan sesuatu yang aneh menggelitik di dadanya. Bukan hanya malu. Tapi juga... bangga?
"Aku cantik," bisiknya dalam hati. "Aku punya tubuh yang... seksi."
Tapi kebanggaan itu langsung tenggelam oleh rasa malu yang lebih besar saat ia menyadari... Om Bastian akan melihat ini."
Tok! Tok! Tok!
Lebih keras kali ini.
"Yuna. Keluar. Sekarang."
Nada Bastian sudah berubah. Lebih gelap. Lebih berbahaya.
"Atau aku dobrak pintunya."
Yuna tahu itu bukan ancaman kosong.
Dengan napas yang tertahan, ia berjalan ke pintu dengan langkah kecil-kecil, tangannya meraih handle, memutar perlahan...
... dan membuka pintu.
Bastian berdiri tepat di depan pintu.
Kemejanya sudah dilepas. Sekarang ia hanya mengenakan celana bahan hitam dengan tubuh atas yang telanjang... dada bidang dengan otot yang terdefinisi jelas, perut six-pack yang terpahat sempurna, lengan yang berotot dengan urat yang sedikit menonjol, dan bahu lebar yang membuat Yuna harus mendongak untuk melihat wajahnya.
Tapi Yuna tidak sempat melihat wajahnya.
Karena Bastian sudah membeku.
Matanya melotot... benar-benar melotot dengan cara yang membuat Yuna hampir yakin bola matanya akan keluar dari tempatnya. Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan. Dan tatapannya...
Tatapannya bergerak lambat dari atas ke bawah.
Dari rambut Yuna yang masih basah dan meneteskan air di bahunya. Turun ke wajahnya yang memerah. Turun ke leher. Lalu ke dada...
Bastian berhenti bernapas.
Mata pria itu terpaku pada gunung kembar Yuna yang terekspos hampir sepenuhnya di balik renda hitam transparan itu, biji yang sedikit menonjol terlihat samar, lekuk bulat sempurna yang naik turun mengikuti napas Yuna yang terengah karena gugup
Tatapannya turun lagi. Ke pinggang ramping. Ke pinggul yang melebar. Ke celana dalam yang hampir tidak ada... dan Bastian menelan ludah dengan keras hingga jakun di lehernya bergerak naik turun.
Lalu ke paha mulus. Betis. Kaki.
Dan kembali ke atas. Perlahan. Seperti orang yang tidak percaya apa yang ia lihat.
Hening total.
Bastian tidak bergerak. Tidak bicara. Hanya menatap.
Yuna merasa seperti terbakar di bawah tatapan itu. Wajahnya sudah merah padam, tangannya refleks ingin menutupi tubuhnya tapi ia tahu itu percuma...
"Om B-Bastian?"
Suaranya akhirnya memecah keheningan, dan seperti tersadar dari trance, Bastian mengerjap sekali... dua kali... Lalu matanya bertemu mata Yuna.
Dan Yuna melihat sesuatu di sana yang membuat jantungnya hampir berhenti.
Nafsu.
Nafsu yang gelap, panas, dan berbahaya.
Tanpa kata-kata, Bastian melangkah maju, tangannya langsung meraih pinggang Yuna dan menariknya keluar dari kamar mandi dengan satu gerakan cepat. Tubuh Yuna menabrak dada Bastian dengan bunyi halus, dan sebelum ia sempat bernapas...
Bastian menciumnya.
Keras. Rakus. Seperti orang kelaparan yang akhirnya menemukan makanan.
Bibirnya menghantam bibir Yuna dengan intensitas yang membuat kepala gadis itu terlempar sedikit ke belakang, tapi tangan Bastian sudah menangkap tengkuknya, menahannya di tempat, sementara tangan satunya melingkar erat di pinggang telanjang Yuna... kulit bertemu kulit... panas...
Yuna mengerang kecil di tenggorokannya... suara yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya... dan Bastian langsung menelan suara itu dengan ciumannya yang semakin dalam, lidahnya menerobos masuk, menjelajah, menuntut, mengambil segalanya...
Lalu Bastian menggendongnya.
Yuna terkesiap saat kakinya tiba-tiba terangkat dari lantai, refleks melingkarkan kedua kakinya di pinggang Bastian seperti koala sementara kedua tangannya mencengkeram bahu pria itu untuk mencari keseimbangan...
Tapi Bastian tidak melepaskan ciumannya.
Ia terus mencium Yuna sambil berjalan... Yuna tidak tahu ke mana, ia tidak peduli, otaknya sudah terlalu penuh dengan sensasi bibir Bastian yang terus bergerak, tangan besar yang memegang bokongnya untuk menopang tubuhnya, dada bidang yang menekan gunung kembarnya hingga ia bisa merasakan detak jantung Bastian yang sama cepatnya dengan miliknya...
Brak.
Punggung Yuna menabrak sesuatu yang empuk.
Ranjang.
Bastian menjatuhkannya ke ranjang king size dengan seprai putih mulus, tubuh Yuna memantul sedikit, rambutnya menyebar di bantal...
Dan Bastian merangkak naik di atasnya.
Mata Yuna melebar saat ia melihat sosok pria itu di atasnya... tubuh besar yang menutupi seluruh tubuhnya, mata gelap yang menatapnya dengan tatapan yang membuat Yuna merasa seperti mangsa, dan senyum tipis di bibirnya yang masih basah dari ciuman mereka...
"Sekarang," bisik Bastian dengan suara rendah yang terdengar seperti guntur pelan, "kamu milikku sepenuhnya."
Dan ia mencium Yuna lagi... lebih dalam, lebih panas, lebih berbahaya...
Sementara tangannya mulai bergerak menelusuri tubuh Yuna dengan lambat, membakar setiap inci kulit yang ia sentuh, membuat Yuna menggigil, mengerang, dan akhirnya menyerah sepenuhnya pada sensasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya