NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: DARAH DI GUDANG TUA

Setelah melangkah keluar dari studio tato dengan perasaan sedikit campur aduk—antara senang memiliki identitas baru dan heran dengan kekerasan kulitnya sendiri—Rimba Dipa Johanson berdiri sejenak di trotoar. Matahari di kota kabupaten mulai bergeser ke arah barat, menyiram aspal dengan cahaya keemasan. Sebenarnya, urusannya di kota ini sudah selesai. Ia bisa saja mencari gang sempit yang sepi, lalu menghilang ke dalam Dimensi Independen dalam sekejap mata.

Namun, saat ia menatap Harley Davidson Fat Boy miliknya yang terparkir gagah, ada rasa sayang yang muncul. Motor gahar ini terlalu indah untuk sekadar disimpan di halaman gubuk dimensi. Ia ingin merasakan sensasi kebebasan di jalan raya sedikit lebih lama.

"Baiklah, kita pulang dengan cara normal sampai dekat desa nanti," gumamnya sambil menghidupkan mesin.

Raungan knalpot yang berat segera membelah keramaian kota. Rimba melaju dengan santai, sosoknya yang tinggi tegap dengan tinggi 193 cm, dibalut kemeja flanel dan wajah yang sangat tampan, menjadi magnet perhatian bagi setiap mata yang memandang. Pejalan kaki menoleh, dan beberapa pengendara lain menyapanya dengan jempol di lampu merah. Rimba membalas mereka dengan senyum ramah yang tulus; kekuatan besar tidak membuatnya menjadi tinggi hati.

Namun, ketenangan itu hancur saat ia melewati kawasan pertokoan tua yang cukup ramai. Di kejauhan, ia melihat kerumunan orang yang tampak panik. Di trotoar, sekelompok pria berwajah sangar tengah menghajar seorang pemuda hingga tersungkur bersimbah darah.

Rimba segera menarik tuas rem. Matanya menyipit saat mengenali wajah yang terkapar itu. "Ilham!"

Rimba melompat turun dari motornya tepat saat para pengeroyok itu melompat masuk ke dalam sebuah mobil minibus hitam dan melesat pergi dengan ban yang mencit keras. Rimba menghampiri Ilham yang meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.

"Ilham! Ada apa ini? Kenapa kamu dikeroyok?" tanya Rimba cepat.

Ilham mendongak, matanya yang bengkak nampak penuh ketakutan dan keputusasaan. "Rimba... Dian... Dian diculik oleh mereka!"

Rimba tersentak. Ilham dan Dian adalah teman sekolahnya. Meski Rimba cenderung tertutup, ia tahu bahwa Ilham dan Dian adalah pasangan paling ikonik di sekolah—pasangan jenius yang romantis dan selalu bergantian menjadi juara umum. Melihat teman sekolahnya dalam bahaya, darah Rimba mulai mendidih.

"Tunggu di sini, aku akan mengejarnya!" perintah Rimba tegas.

Tanpa menunggu jawaban, Rimba melompat ke atas jok motornya. Ia memutar gas hingga maksimal. Suara motornya kini tidak lagi menderu ramah, melainkan mengaum marah seperti binatang buas yang sedang berburu.

---

Lalu lintas sore itu cukup padat, menghambat kecepatan Rimba. Namun, dengan persepsi indranya yang telah ditingkatkan selama latihan di dimensi, Rimba mampu bermanuver di celah-celah sempit dengan akurasi gila. Ia melacak mobil minibus hitam itu melaju menuju pinggiran kota, area industri yang penuh dengan gudang-gudang tua yang terbengkalai.

Mobil itu akhirnya berbelok ke sebuah halaman gudang yang nampak sudah lama tidak digunakan, terdapat ilalang tinggi dan pagar berkarat. Rimba menghentikan motornya beberapa puluh meter sebelum gudang agar suaranya tidak memberikan peringatan prematur. Namun, panca indranya tetap mengunci target.

Dari kejauhan, ia melihat enam pria turun. Salah satu dari mereka yang berbadan paling besar menggendong seorang gadis yang meronta-ronta—itu Dian. Tangan dan kakinya terikat, mulutnya nampak disumbat kain. Pria itu tertawa cabul sambil menepuk bokong Dian, sebuah pemandangan yang membuat buku-buku jari Rimba memutih karena kepalan tangan yang sangat kuat.

Rimba melesat mendekat dalam diam. Begitu sampai di balik pintu besi gudang yang tertutup rapat, indra pendengarannya yang tajam menangkap percakapan di dalam.

"Pesanan Bos sudah ada, Bos," terdengar suara pria yang tadi mengemudi.

"Hahahaha! Kamu dan kelompokmu memang selalu bisa diandalkan," jawab suara lain yang terdengar lebih halus namun penuh dengan nada menjijikkan.

Rimba mengerti sekarang. Ini bukan sekadar penculikan liar; ini adalah orderan dari seorang pengecut yang menggunakan tangan preman.

"Pegang dia," perintah si pemberi order itu lagi. "Nanti kalau aku sudah beres, kalian silakan gunakan dia sepuasnya, hahahaha!"

Suara breettt! dari kain yang robek terdengar, disusul suara "humm... humm..." penuh ketakutan dari Dian.

“Selama ini kamu selalu menolakku, hari ini aku akan mendapatkanmu. Kamu akan menyesal, Dian, hahahaha!”

Itu adalah batas kesabaran Rimba.

BRAAAKKK!

Pintu gudang yang terbuat dari kayu tebal dan besi itu hancur berantakan setelah dihantam oleh tendangan kaki kanan Rimba yang mengandung kekuatan ribuan kilogram Qi. Debu mengepul, dan semua orang di dalam menoleh serentak dengan wajah pucat pasi.

Rimba melihat pemandangan yang memuakkan. Dian dibaringkan di atas meja kayu tua, dua preman memegangi tangannya. Di antara paha Dian, berdiri seorang pemuda berpakaian parlente yang sudah menanggalkan celananya. Alat kelaminnya yang tadi sedang 'siap tempur' seketika layu dan mengerut melihat kedatangan Rimba yang nampak seperti malaikat pencabut nyawa.

"Lepaskan gadis itu," kata Rimba dengan suara datar, namun mengandung tekanan yang membuat udara di gudang itu terasa berat.

"Siapa kau, hah?! Bunuh bocah itu!" teriak pimpinan preman yang memegangi tangan Dian.

Empat orang anggota gang itu segera bergerak mengepung Rimba. Salah satu dari mereka menyambar pipa besi dari lantai dan mengayunkannya dengan beringas. Namun, bagi Rimba, gerakan itu lebih lambat dari gerakan siput.

Belum sempat pipa itu mendarat, Rimba sudah berdiri di depan orang tersebut. Dengan gerakan tangan yang terlalu cepat untuk dilihat mata manusia, pipa besi itu berpindah tangan.

KRAKK!

Rimba menghantamkan pipa itu ke kaki kanan preman tersebut. Tulang kakinya patah seketika, dan pria itu terjerembab menghantam lantai dengan wajah lebih dulu. Langsung pingsan. Tiga orang lainnya menelan ludah. Nyali mereka yang tadinya setinggi langit kini ambruk melihat rekan mereka tumbang hanya dalam satu detik.

Rimba tidak memberi mereka waktu untuk berpikir. Ia bergerak seperti bayangan. Tiga suara derak tulang kembali terdengar hampir bersamaan. Ketiganya tersungkur tak bergerak di lantai gudang.

"Jangan sombong kau, Bocah! Mau jadi jagoan?!" teriak pimpinan preman itu, mencoba menutupi ketakutannya. Ia melepas Dian dan hendak menerjang Rimba.

"Ku bun— AAAGGGHHHH!"

Belum sempat ia menyelesaikan makiannya, pipa besi di tangan Rimba telah meremukkan kedua dengkulnya. Preman terakhir yang mencoba melarikan diri ke pintu belakang pun tidak luput; pipa besi yang dilemparkan Rimba mengenai kakinya dengan akurasi mematikan, membuatnya tersungkur mencium tanah.

Kini, tinggal si pria parlente. Ia melangkah mundur dengan kaki gemetar, tersandung oleh celananya sendiri yang masih melingkar di pergelangan kaki.

"Mau pergi ke mana kamu?" tanya Rimba sambil berjalan pelan mendekat.

"Ti... tidak ke... kemana-mana, Om. Ampuuun... ampunnn!" Pemuda itu menangis histeris, lupa bahwa ia tadi hampir merusak masa depan seorang gadis.

Sekejap, Rimba sudah berada di hadapannya. Terdengar suara renyah saat Rimba menendang bagian selangkangan pria itu, namun itu bukan tendangan biasa. Rimba menekan satu titik saraf mati di bawah pusar pria tersebut dengan aliran Qi yang merusak.

"Selamanya... 'onderdilmu' tidak akan pernah bisa bangkit lagi. Itulah hukuman bagi orang yang menggunakan nafsu untuk merusak orang lain," bisik Rimba dingin. Pria itu langsung pingsan karena rasa sakit dan trauma mental.

---

Rimba berbalik ke arah Dian. Gadis itu sudah terduduk di atas meja, gemetar hebat sambil mencoba merapikan roknya yang robek. Rimba mendekat dan melepaskan ikatan di tangan dan kakinya dengan lembut.

"Sudah, jangan menangis lagi. Mereka tidak akan bisa mengganggu kamu lagi," kata Rimba dengan nada suara yang kini sangat hangat, kontras dengan kedinginannya tadi.

"Te... terima kasih... kamu menyelamatkan aku," ucap Dian terbata-bata di antara isak tangisnya.

"Aku hanya kebetulan lewat," jawab Rimba. "Apa ponselmu masih ada?"

Dian meraba tasnya yang tergeletak di samping meja, lalu menyerahkannya pada Rimba. Rimba segera menghubungi nomor Ilham.

"Ilham, ini aku, Rimba. Dian sudah aman. Aku akan mengirim lokasi kami, jemput Dian sekarang di area gudang industri."

Mendengar suara Ilham di seberang telepon yang panik, tangis Dian kembali pecah. "Ilham, jemput aku... hu hu hu..."

Setelah menunggu Dian agak reda dari tangisnya, Rimba menghampiri Dian.

"Ayo, kita tunggu Ilham di luar saja. Malas aku melihat orang-orang ini," ajak Rimba sambil menunjuk gerombolan preman yang bergelimpangan di lantai.

"Apa... apa mereka mati?" tanya Dian ketakutan.

"Tidak, paling hanya pingsan dan sedikit cacat di kaki," jawab Rimba santai.

Sambil melangkah keluar, Dian menatap profil Rimba dari samping. Ia nampak terkejut melihat motor besar yang terparkir di depan gudang. "Motor kamu, Rimba? Sejak kapan kamu punya motor seperti ini?"

"Ini hadiah dari keluarga ayahku," jawab Rimba berbohong demi menjaga rahasia dimensinya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi. Ilham melompat keluar dan langsung memeluk Dian dengan erat. Keduanya menangis dalam kelegaan yang de

"Sekarang kalian pulanglah. Ham, bawa Dian ke rumah sakit atau lapor polisi jika kalian siap. Luka-lukamu juga harus diobati," saran Rimba.

"Nanti saja, lukaku tidak seberapa dibandingkan keselamatan Dian," jawab Ilham penuh syukur. "Terima kasih banyak, Rimba. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak ada kamu."

"Sama-sama. Oh iya, catat nomor baruku. Jika ada apa-apa atau orang-orang itu mencari kalian lagi, segera telepon aku," kata Rimba sambil memberikan nomor ponsel Aether-nya.

Setelah mobil Ilham dan Dian menjauh, suasana gudang kembali sepi. Rimba menatap ke arah gudang tua itu sekali lagi, memastikan tidak ada bukti yang mengarah padanya. Perasaannya sudah tidak lagi mood untuk berkendara pelan ke desa. Ia merasa lelah secara emosional.

Dengan sekali genggam pada liontin gioknya, ia berbisik, "Masuk."

Dalam sekejap, Rimba dan motor gaharnya menghilang dari dunia luar, kembali ke dalam kedamaian Dimensi Independen, meninggalkan para preman yang merintih kesakitan di tengah sunyinya gudang tua.

1
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!