"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dengan mempercepat langkah nya, Seruni berjalan dan hanya menatap lurus ke depan. Ia begitu terburu-buru takut Hamdan menghampiri nya dan membuat masalah.
Seruni ingin cepat kabur dan bertemu dengan Adelia. Tidak sabar rasa nya untuk bertemu dengan wanita yang selama ini sudah menyelamatkan hidup nya dari pria jahat seperti Hamdan.
"Bu Seruni.... Bu.... Tunggu dulu."
Dari kejauhan, Seruni mendengar suara seorang pria yang terus memanggil nya. Ia tidak peduli dan langsung memencet tombol lift dengan berpura-pura tidak mendengar.
Saat ia sudah masuk ke dalam lift, pria itu ternyata ikut masuk juga bersama nya. Seruni yang sudah di tinggal pergi oleh wanita tadi, tidak mungkin menunda untuk bertemu dengan Adelia.
"Bukan kah anda Bu Seruni? Ibu nya Menteri?"
Pria itu kembali bertanya lagi pada nya. Mau tak mau, Seruni pun harus menjawab. Karena pria itu ada hubungan nya dengan anak perempuan nya.
"Benar. Maaf, anda siapa?"
"Saya Pak Restu. Guru seni nya. Apa Ibu sudah lupa?"
"Pak Restu? Oh iya. Saya tahu. Maaf, Pak. Saya benar-benar tidak ingat. Apalagi dengan penampilan bapak yang seperti ini."
"Tidak apa. Saya maklum. Jadi, apa Bu Seruni juga datang karena di undang ke acara nya Adel?"
"Ya. Anda sendiri?"
"Adel adalah sepupu saya."
"Sepupu? Oh, dunia begitu sempit. Saya mengenal Adel sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Dia baik dan sangat baik."
Seruni dan Pak Restu pun akhirnya terus berbincang sambil sesekali tertawa karena membicarakan kisah masa kecil Adelia. Tidak lama kemudian, pintu lift terbuka. Mereka tiba di lantai atas.
Di depan mereka, sebuah aula besar dan luas sudah di dekorasi dengan sangat indah. Biasa nya aula itu akan di pakai jika ada acara terus. Dan di saat seperti ini lah para karyawan sangat senang dan bahagia.
"Kak Runiiiiiiii."
Adelia yang sejak tadi duduk tiba-tiba saja langsung menghampiri Seruni yang baru saja datang. Wanita itu sama sekali tidak memikirkan janin yang ada di dalam kandungan nya.
"Hati-hati, Adel. Kamu ini."
"Maaf, Kak. Runi. Aku begitu senang dan ingin berbagi kebahagiaan dengan kakak."
"Yasudah, hati-hati. Kakak sudah datang."
"Loh, kok sendirian aja? Anak-anak mana?"
"Mereka sibuk dengan kakek dan nenek nya. Kakak tidak bisa memaksa. Lagian pun, kakak tidak bisa lama. Masih banyak orderan yang harus di selesaikan sore ini."
"Waaah, makin sukses aja kakak ku ini. Oke kalau begitu, ayo aku kenal kan dengan Mama dan Papa."
Adelia langsung menarik tangan Seruni dan membawa nya untuk menemui kedua orang tua Adelia.
"Papa, Mama. Ini dia tamu spesial ku. Kak Seruni." Ucap Adel dengan penuh semangat.
Papa dan Mama nya Adel pun langsung melihat ke arah Seruni yang terlihat gugup. Bagaimana ia tidak gugup saat bertemu dengan pemilik perusahaan besar.
"Seruni, kamu cantik sekali nak. Siapa sangka kamu sudah melahirkan anak 6. Apa ni, rahasia nya?" Mama nya Adel malah seperti sudah lama mengenal Seruni.
"Hmm,, saya juga tidak tahu, Bu." Seruni masih malu-malu dan tidak berani menatap wanita itu.
"Sudah, jangan malu. Kamu adalah tamu spesial nya Adel. Jadi, kamu juga tamu spesial kami. Oh ya, anak-anak kok nggak di bawa? Padahal saya rindu sama mereka."
Seruni terdiam. Apa jangan-jangan Mama dan Papa nya Adel sudah bertemu dengan anak-anak nya.
"Mereka sedang bersama dengan kakek dan nenek nya. Tidak mau pergi karena sedang asyik belajar menanam sayuran."
"Seperti nya seru. Baiklah, Saya mau ke belakang dulu. Mau melihat makanan yang sebentar lagi akan di sajikan..Kalau cemilan nya, sudah siap semua, ya?"
"Sudah, Bu. Cemilan nya sudah sejak tadi di bawa oleh beberapa orang ke dapur."
"Bagus. Kalau begitu, saya tinggal dulu ya nak Seruni."
"Baik, Bu."
Seruni dan Adel asyik berbincang. Tanpa mereka sadari, ada tiga pasang mata yang terus memandang ke arah Seruni. Mereka bertiga terlihat pangling dengan Seruni yang sangat cantik hari itu.
Apalagi Hamdan. Ia tidak tahu apa yang telah membuat Seruni menjadi secantik itu. Padahal bertahun-tahun menikah dengan nya, Seruni sama sekali tidak pernah bisa berdandan.
Tapi kini, saat ia tadi sempat berbicara dengan Seruni, wanita itu sungguh sedap di pandang dan juga sangat wangi. Bahkan Hamdan masih mengingat jelas harum tubuh dan juga nafas Seruni saat berbicara dengan nya tadi.
"Oy Hamdan. Lagi lihat siapa sih? Serius amat?"
"Ku-rang ajar! Kaget aku. Tuh, yang lagi bicara sama Bu Adel adalah mantan istri ku."
"Mantan istri mu? Jangan halu deh. Mana mungkin mantan istri mu secantik itu. Bukan nya kamu bilang ia wanita culun dan bau masakan."
"Itu dulu. Setelah berpisah dengan ku, entah kenapa ia jadi semakin cantik. Ah, aku jadi kesal saja."
"Apa kau menyesal? Masih bisa rujuk loh kalau gitu."
"Rujuk? Ogah. Untuk apa aku rujuk dengan wanita yang tidak bisa memberi ku anak laki-laki. Lebih baik cari gadis pera-wan."
"Kalau gadis pera-wan nggak bisa kasih kamu anak? Bagaimana?"
"Ya nikah lagi. Hidup jangan di buat susah. Banyak gadis apalagi janda di dunia ini, kawan."
"Dasar nggak ada akhlak kamu, Dan."
Hamdan hanya tersenyum sendiri saat membayangkan jika ia bisa menikahi seorang gadis cantik. Pasti nanti Seruni akan berlutut dan meminta rujuk.
Dalam pikiran Hamdan, ia masih mengira jika Seruni tidak bisa hidup tanpa nya. Padahal jelas sekali jika wanita itu sudah tidak memiliki rasa apapun terhadap mantan suami nya itu.
Saat Hamdan sedang melihat ke arah Seruni, dia pria tampan menghampiri mereka. Salah satu pria itu, sangat dikenal oleh Hamdan. Dia adalah Pak Adam. Bos besar yang memimpin perusahaan itu.
Pak Adam tampak sangat nyaman berada dekat dengan Seruni. Begitu juga dengan pria asing lain.
"Ku-rang ajar kau, Seruni. Baru juga cerai tapi sudah mencari laki-laki kaya untuk ju-al diri."
Hamdan mencoba mendekat dan mendengar apa yang di bicara kan oleh mereka. Ia tidak berani mendekat karena takut pada Pak Adam. Bos nya itu sangat galak.
Samar, Hamdan mendengar jika Seruni sedang membiarkan Mentari anak kedua nya. Seruni mengatakan jika Mentari sangat hebat dan juga pintar.
Hamdan tidak percaya. Mana mungkin anak perempuan nya itu bisa memiliki jiwa seni. Anak kampung nya Seruni, tidak akan bisa sepintar dan sehebat itu.
"Kak Runiiiiiiii,,, kakak harus menolong kami."
Suara Adel membuat Seruni merasa heran. Ada apa sebenarnya? Mengapa Adelia malah berteriak seperti itu.
Lalu.....
bersinar 😮