NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tidak Menolak

Sejak pertemuan beberapa hari lalu, Nicholas dan Melani sepakat untuk mencari tahu lebih dalam tentang Zivara Amaira. Kesan pertama yang ditinggalkan gadis itu begitu baik, lembut, sopan, dan tulus. Terlebih lagi, Luna yang biasanya selektif terhadap orang baru justru begitu lengket padanya.

Namun, sebagai orang tua, mereka tak ingin gegabah. Pengalaman pahit dengan Julia menjadi pelajaran berharga. Mereka tak ingin kembali salah menilai seseorang yang kelak akan berada di sisi Arga dan Luna.

Setelah laporan lengkap dari orang kepercayaan mereka diterima, keyakinan pasangan suami istri itu semakin menguat. Latar belakang Vara bersih. Masa lalunya memang kelam, namun justru dari sanalah terlihat keteguhan dan ketulusan hatinya.

Sore itu, Nicholas dan Melani duduk bersantai di taman belakang rumah. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, menemani obrolan serius yang terasa hangat.

“Pa,” panggil Melani pelan, “bagaimana pendapat Papa kalau kita menyatukan Arga dengan Vara?”

Nicholas menoleh, menatap istrinya sejenak sebelum tersenyum kecil.

“Papa setuju, Ma. Setelah kita cari tahu, dan melihat sendiri bagaimana Vara memperlakukan Luna… Papa yakin dia perempuan yang tepat.”

Melani tersenyum lega.

“Yang jadi pertanyaan sekarang,” lanjut Nicholas, “bagaimana dengan Arga? Apa dia mau?”

Melani terkekeh pelan.

“Papa tenang saja. Anak Papa itu kelihatannya dingin, tapi hatinya tidak sekeras sikapnya. Mama yakin dia punya perasaan pada Vara, hanya saja dia belum menyadarinya.”

Nicholas mengangguk setuju.

“Papa juga merasakannya. Mama saja yang atur mana baiknya.”

“Sebentar lagi Arga dan Luna pulang,” ucap Melani penuh semangat.

“Kita sampaikan saja keinginan kita.”

“Sabar, Ma,” tahan Nicholas lembut.

“Nanti saja setelah makan malam. Arga pasti masih lelah.”

Melani tersenyum malu.

“Iya juga. Mama terlalu bersemangat. Sudah lama mama ingin punya menantu.”

Tak lama kemudian, suara mobil terdengar memasuki halaman. Orang yang mereka bicarakan akhirnya pulang.

“Kakek! Nenek!” panggil Luna ceria begitu masuk kedalam rumah. Namun tak ada jawaban.

Luna mengernyit kecil.

“Bi, kakek dan nenek ke mana?” tanyanya.

“Ada di taman belakang. Non,” jawab bibi.

“Terima kasih, Bi!” seru Luna, lalu berlari kecil menuju taman.

“Nenek!” panggilnya riang begitu melihat Melani dan Nicholas.

Luna menghampiri mereka sambil membuka tas kecil yang dibawanya.

“Nek, ini Kak Vara bikin kue. Luna sengaja simpan buat nenek dan kakek.”

Melani tersenyum hangat, menerima kotak kue itu.

“Kamu dekat sekali dengan Kak Vara, ya?”

“Iya, Nek,” jawab Luna tanpa ragu.

“Luna sayang Kak Vara dia sangat baik.”

Melani menatap cucunya penuh arti.

“Kalau misalnya Om Arga dan Kak Vara menikah… Luna setuju?”

Mata Luna langsung berbinar.

“Setuju banget, Nek! Itu harapan terbesar Luna.”

Melani tertawa kecil, lalu menoleh pada suaminya.

“Kamu dengar sendiri, kan, Kek? Kita buat Om Arga dan Kak Vara menikah.”

Nicholas hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu mencicipi kue buatan Vara.

“Enak,” komentarnya singkat.

Di kejauhan, Arga berdiri memperhatikan. Ia tak mendengar percakapan mereka, namun melihat senyum Luna, senyum yang jarang muncul kecuali bersama Vara.

---

Hari mulai berganti malam. Lampu-lampu rumah mulai menyala menerangi sekeliling rumah. Menciptakan suasana hangat yang jarang benar-benar disadari Arga selama ini.

Arga dan Luna turun bersamaan menuju ruang makan. Luna menggenggam tangan Arga erat, langkah kecilnya mengikuti langkah Arga di anak tangga.

“Om,” panggil Luna pelan.

“Iya?” Arga menoleh.

“Luna mau tanya… boleh?”

Nada suara Luna terdengar ragu.

Arga tersenyum tipis.

“Boleh. Mau tanya apa?”

Luna terdiam sejenak, lalu menggeleng cepat.

“Eeem… nanti saja deh. Kita makan dulu. Luna sudah lapar.”

Arga hanya menghela napas kecil, menggeleng pelan melihat tingkah keponakannya yang sering membuatnya heran sekaligus gemas.

Di ruang makan, Nicholas dan Melani sudah menunggu.

“Kakek, Nenek,” sapa Luna ceria.

“Ayo, kita makan, Luna pasti sudah lapar.” Ucap Melani sambil tersenyum.

“Iya, Nek.”

Luna naik ke kursinya sendiri. Dengan cekatan ia mengambil piring, lalu mendekat ke sisi neneknya.

“Nek, Luna mau nasi segini saja,” ucapnya sambil menunjuk piringnya.

Melani mengambilkan nasi sesuai permintaan cucunya, lalu menyendokkan lauk favorit Luna, ayam bakar dan tumis sayur.

“Sudah cukup?” tanya Melani lembut.

“Cukup, Nek. Terima kasih,” jawab Luna sopan.

Arga memperhatikan pemandangan itu tanpa berkata apa-apa. Seketika kelebat bayangan Vara muncul ketika bersama Luna. Lalu Arga menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, merasa aneh dengan pikiran nya.

Makan malam berlangsung tenang. Tak ada percakapan berat, hanya bunyi sendok dan piring yang saling beradu pelan.

Setelah makan, mereka berpindah ke ruang keluarga. Arga duduk di sofa, Nicholas di seberangnya, sementara Melani mengambil tempat di samping suaminya. Luna duduk di lantai, membuka buku gambarnya, mulai mewarnai seperti biasa.

“Arga,” panggil Melani lembut.

“Kamu sibuk?”

“Tidak, Ma. Paling nanti cuma cek email,” jawab Arga.

“Ada apa?”

“Mama ingin bicara sebentar.” Melani diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

“Arga,” Melani menghela napas kecil,

“mama ingin kamu segera menikah.”

Arga refleks menegakkan tubuhnya ke depan.

“Menikah?”

Ia tertawa kecil tanpa suara.

“Ma, aku belum kepikiran ke sana. Lagipula aku belum punya calon.”

“Kalau menunggu kamu kepikiran sendiri,” sahut Melani cepat namun tetap lembut,

“sampai mama tidak ada pun kamu belum tentu menikah.”

Nicholas ikut angkat suara.

“Mama kamu benar. Kami ini tidak muda lagi, Arga. Sampai kapan kamu mau seperti ini? Luna juga butuh sosok ibu.”

Arga terdiam. Pandangannya tanpa sadar beralih ke Luna yang sedang serius mewarnai, lidah kecilnya menjulur karena terlalu fokus, terlihat lucu.

“Mama dan papa tau kan, mencari pendamping itu tidak mudah,” ucap Arga pelan.

“Wanita yang terlihat baik saja bisa berpura-pura, contoh nya Julia.”

Melani mengangguk pelan menyetujui ucapan putranya.

“Tapi mama yakin kali ini tidak salah. Calon itu sudah ada, kamu saja yang tidak menyadarinya.”

Arga mengerutkan kening.

“Siapa? Vara?"

Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya, tanpa sempat dipikirkan.

Melani tersenyum.

“Nah, kamu tahu.”

Arga terdiam. Tanpa disadari ucapan nya menjebak dirinya sendiri.

Tiba-tiba suara kecil menyela tanpa menoleh.

“Nenek, Luna pernah lihat om melamun sambil nyebut nama Kak Vara,” ucap Luna santai, tetap sibuk dengan crayon di tangannya.

“Tapi omnya nggak mau ngaku.”

Udara mendadak terasa lebih sunyi.

“Bagaimana?” Melani tersenyum penuh arti.

“Kalau bukan perasaan, lalu apa?”

Arga menghela napas panjang.

“Terserah Mama dan Papa,” ucap Arga akhirnya.

Kali ini Arga tidak menolak permintaan orang tuanya, biasa nya Arga akan menolak mentah-mentah, jika mamanya membahas masalah pernikahan.

Mata Melani berbinar.

“Jadi om mau menikah sama Kak Vara?”

Luna berdiri tiba-tiba.

“yee... Luna punya tante!”

“Besok pulang kerja, langsung bawa dia ke sini.” Ucap Melani.

Arga hanya mengangguk pelan.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin menolak.

1
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
erviana erastus
maksud bertopeng kan persahabatan 🤣 satu keluarga matre
Rian Moontero
lanjoooott👍👍😍
erviana erastus
habis kau jalang
erviana erastus
giliran ada yg tulus sama luna dicurigai lah yg kek julia dipercaya ... kekx kecelakaan kakax arga ulah bapakx julia 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!