Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memupuk kesabaran
Setelah keluar dari area pencucian, ia menjemur pakaian di suatu tempat yang sudah di persiapkan. Karna merasa lelah Ruoling berhenti sebentar di bawah naungan pohon sambil menatap hamparan tanah lapang di depannya dengan tidak percaya.
Rumput hijau tumbuh rapi seperti permadani alam, berkilau di pagi yang belum sepenuhnya menguap. Udara di sana terasa sejuk dan bersih serta jauh dari hiruk-pikuk istana yang penuh akan sesak.
"Ini tidak adil, kenapa jemurannya harus ada di tempat yang seindah ini?" Angin lembut menyentuh wajah Ruoling membuatnya memejamkan mata sejenak.
Ruoling menarik napas panjang, kalau saja tidak mengingat masih ada hukuman yang harus di jalaninya maka dirinya enggan meninggalkan tempat ini.
Dengan memaksakan diri Ruoling melanjutkan langkahnya menuju tempat jemuran yang ada di depan sana. Hari itu baru dimulai, dan ia masih punya satu tugas lagi—menggantikan pekerjaan pelayan lain di paviliun pembuatan obat herbal.
Dia di buat lagi-lagi terkejut melihat tempat jemurannya lebih indah dengan angin yang sedikit kencang hingga membuat jemuran yang berisi pakaian yang di gunakan semua orang penting di istana seolah terbang.
Hal yang sama juga terjadi di saat Ruoling ada di sana, pelayan yang menjemur menghentikan pekerjaannya hanya untuk menatapnya dengan berbagai ekspresi yang di abaikannya.
Ruoling lagi-lagi mengabaikan dengan menjemur pakaian di antara tiang-tiang kayu tertancap kokoh yang cukup jauh dari pelayan itu berdiri.
Kain-kain kerajaan berwarna lembut berkibar perlahan, disentuh angin yang berembus tenang dari arah perbukitan. Setiap helai kain seolah menyimpan ketenangan, mengayun seirama dengan alam.
Sesekali, Ruoling menarik napas panjang. Tempat itu memberinya rasa nyaman—sebuah sudut sunyi di balik megahnya Kerajaan.
"Akhirnya selesai sudah,” gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya agar semangat. “Sekarang tinggal menjalani hukuman terkahir untuk hari ini.”
Ruoling lalu melangkah melewati jalan setapak yang sama. Matahari mulai muncul dari balik atap istana, membuat bayangan memanjang di sepanjang koridor.
Sebelum mencapai paviliun herbal, langkahnya terhenti. Di taman kecil di samping ruang baca Kaisar, ia melihat sosok yang sangat familiar.
Ruoyi duduk di bangku batu bersama Kaisar. Di sana tidak ada pengawalan atau pengawal. Mereka tampak sangat bebas dan bahagia dengan Gadis itu memegang buku, sesekali mengangkat kepala mendengar menjawab Kaisar.
Senyum masih setia di wajah wajah adiknya hingga membuat Kaisar menepuk kepalanya dengan lembut, membuat Ruoling yang memperhatikan mereka dari jauh hanya bisa berdiam di tempatnya.
Dari banyaknya korban karna racun itu hanya beberapa yang selamat termasuk Ayah dan Ruoyi, adik satu-satunya.
Namun sayangnya hal itu membuat adiknya trauma—ketakutan melihat kaisar, terisak setiap kali nama ibunya disebut, berteriak setiap kali orang mendekatinya—tapi semua itu dulu sekarang adiknya sudah mulai sembuh.
Gadis itu bahkan terlihat begitu dekat dengan ayah mereka berbeda dengan dulu, tapi hal itu membuat Ruoling senang. Walaupun setelah kejadian itu semua orang termasuk ayah dan Ruoyi tidak pernah memandang Ruoling sama, seolah ikut membencinya sejak masalah yang menimpa ibunya.
Ayah mereka tidak pernah memanggilnya, apalagi menegur atau bertanya kabarnya lagi. Ruoling merasakan sesuatu menghangat di dada. Rasa bangga. Bahagia untuk Ruoyi. Namun di balik itu, ada rasa lain yaitu Iri.
“Cukup.” Ruoling menutup mata sebentar dan menarik napas dalam. “Ini bagus. Ruoyi sudah normal kembali. Itu yang penting.”
Ruoling membuka mata kembali. Senyumnya kecil, sangat tipis sambil menatap keduanya sekali lagi sebelum memutuskan untuk berbalik.
Tidak ada gunanya berdiri di sana lebih lama lagi. Ia hanya akan terlihat seperti orang asing atau orang yang pantas di kasihani karna menjadi dampak akan kesalahan ibunya.
Ruoling tidak membutuhkan hal itu karna sampai detik ini ia masih percaya kalau ibu tidak bersalah.
Dia memasuki area paviliun herbal. Aroma daun kering, bunga yang digiling, dan rempah-rempah memenuhi udara. Para senior, junior dan pelayan yang bertugas sebagai pembantu di sana menatapnya dengan mata terbuka lebar—tidak percaya melihat putri kerajaan datang membawa daftar pekerjaan yang biasa di lakukan pelayan yang di lukainya.
"Tunjukkan pekerjaan hari ini," katanya datar pada seseorang berpakaian seorang Senior apoteker di sini.
Senior itu sesaat tidak mengatakan apa-apa hanya menatap bahan obat-obatan yang belum di olah dengan cukup lama. "Tadi pagi Permaisuri memanggilku dan dia berpesan memperlakukanmu sama seperti seorang pelayan pembantu di sini," ungkapnya.
"Tapi kau juga harus ingat, nyatanya aku berbeda dengan mereka."
"Aku hanya mengikuti keinginan Permaisuri," balasnya. "Di sini jika tidak ada yang mengikuti aturanku maka mendapatkan hukumannya."
"Tapi aku bukan–"
"Hari ini… mengambil akar ginseng, menata ulang rak obat, dan memotong daun kering yang baru dijemur," kata wanita itu sambil mengulurkan kertas.
Ruoling hendak marah karna ketidak kesopanan wanita itu padanya pada akhirnya menghela nafas kasar lalu mengambil kertas itu dan mencari bahan obat-obatan tanpa bertanya lebih jauh.
Ia mengabaikan tatapan mengejek serta bisik-bisik dari berbagai arah. Ruoling hanya ingin hari ini cepat selesai dan semoga saja persediaan kesabarannya masih banyak.