Pada kehidupan sebelumnya Ashilla dipaksa menikah dengan seorang pria yang dikabarkan kejam dan diduga sadis namun secara tegas Ashilla melawan keinginan ayahnya itu sehingga ia malah dibebankan hutang yang sangat besar karna sudah dibesarkan oleh keluarga Clinton namun tidak membalas budi.
Bertahun-tahun kemudian saat ia hendak membayar hutang tersebut, ibu tirinya datang dan memaksanya untuk menanggung kesalahan atas putrinya yang menabrak seseorang saat mengendarai mobil dengan ugal-ugalan.
Saat itulah kehidupannya hancur, untungnya waktu kembali berputar pada hari dimana semua tragedi tersebut belum terjadi dan kali ini Ashilla bertekad untuk menikahi pria tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Dia adalah Calon Suamiku
Setelah Ken pergi, Miller dengan ramah menanyai Ashilla tentang kejadian hari ini.
“Aku menemukan anak kucing yang terluka di jalan saat Tuan Ken secara kebetulan menghampiriku karna sedang bertengkar dengan Camila, dia mengadopsinya dan dengan baik hati mengantarku pulang,” jawab Ashilla datar.
Miller mengangguk, lalu bertanya, “Bukankah kau pergi ke konser bersama Camila?”
Ashilla menatap Camila yang wajahnya langsung pucat.
“Camila menganggap aku pembawa sial, jadi dia pergi sendiri setelah mobil mogok.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada dingin, “Aku sebenarnya ingin mengadopsi kucing itu, tapi mungkin kalian tidak menyukainya, jadi Tuan Ken menawarkan diri untuk mengambilnya..”
Wajah Miller dan Laura mengeras.
Laura berkata lembut, “Camila hanya impulsif. Tidak perlu melibatkan Tuan Ken.”
“Apa dia orang luar?” Ashilla tersenyum tipis. “Bukankah aku akan menikah dengan keluarga Adam? Secara otomatis, dia adalah calon suamiku.”
Ia menatap Miller.
“Camila bilang aku pembawa sial. Aku tidak butuh saudari seperti itu.”
Ashilla lalu berbalik dan pergi.
Miller melotot ke arah Camila dan mengumpat pelan, “Kau lebih pandai membuat masalah daripada membantuku!”
Laura menahan diri, lalu menepuk Kaison agar menyusul ayahnya.
Kaison mendengus kesal, tetapi akhirnya pergi juga.
***
Di lain sisi, begitu ibu dari Ken meneleponnya berkali-kali sepanjang perjalanannya, dan saat Ken akhirnya tiba di rumah dengan anak kucing di dalam pelukannya, amarah Kanara sudah berada di ambang ledakan.
Akan tetapi, sebelum kemarahan itu benar-benar meledak, Ken dengan cerdik menyesuaikan posisi anak kucing di lengannya, membuat keberadaannya langsung terlihat jelas oleh orang lain.
Benar saja, begitu Kanara melihat bola bulu kecil itu tergeletak manis di lengan putranya, amarahnya seketika tergantikan oleh keterkejutan.
“Dari mana kucing itu berasal?” tanya Kanara dengan nada bingung. Beberapa detik kemudian, ia tersadar dan meninggikan suara, “Jangan bilang kau ingin memelihara kucing?”
Putranya yang selama ini hanya peduli pada pekerjaan, tak punya minat apa pun dalam hidup, kini ingin memelihara kucing?
Ken sudah menyiapkan jawabannya. Dengan tenang ia berkata, “Aku hanya membantu memelihara kucing milik orang lain.”
“Siapa!?” Kali ini Kanara terdengar jauh lebih bersemangat. Ia sangat paham dengan misofobia yang diderita Ken.
Siapa yang cukup berani meminta Ken membesarkan seekor kucing untuknya? Bahkan teman yang tumbuh bersamanya mungkin tak akan berani melakukan hal semacam ini.
Ken mengganti sepatunya, lalu berkata kepada pengurus rumah tangga yang juga tampak penasaran, “Aku punya beberapa perlengkapan kucing di mobil. Tolong minta seseorang untuk menurunkannya.”
Setelah itu, barulah ia menoleh ke Kanara dan menambahkan, “Kucing ini milik Ashilla.”
Jawaban itu benar-benar di luar dugaan Kanara. Ia terdiam sejenak, lalu tak mampu menahan diri untuk menggoda putranya yang telah lama melajang—seseorang yang selama ini ia khawatirkan akan hidup sendirian.
“Apa kalian sudah berhubungan secara pribadi? Sampai-sampai kau mau memelihara kucing untuknya. Ini kemajuan yang bagus, bukan?”
Pada titik ini, Kanara telah sepenuhnya melupakan kemarahannya karena Ken tak menjawab telepon, dan justru berubah menjadi penuh rasa ingin tahu.
Ken menjawab dengan jujur, “Tidak. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya hari ini.”
“Hanya kebetulan bertemu, lalu kau langsung membawa pulang kucingnya?” Kanara jelas tak mempercayainya. “Ini baru pertemuan kedua, dan kau—seorang pengidap misofobia—bersedia memelihara kucing untuk orang lain?”
Mengingat misofobia Ken, Kanara kembali merasa jengkel. Saat Ken masih kecil, ia pernah dengan susah payah membangun kamar anak yang penuh warna. Ia bahkan menyewa desainer ternama untuk mendesain ruangan yang ceria, penuh imajinasi, dan sangat mahal.
Namun, Ken yang saat itu baru berusia enam tahun, setelah mengucapkan terima kasih dengan sopan, justru meminta ayahnya, untuk mengecat ulang seluruh dinding dan langit-langit menjadi putih keesokan harinya. Semua mainan, bantal, dan seprai berwarna-warni pun disingkirkan atau diganti.
Kamar anak yang indah itu seketika berubah menjadi ruang sederhana yang menyerupai bangsal rumah sakit.
Saat Kanara mengetahuinya, ia hampir meledak seperti ikan buntal. Ketika ia menanyakan alasannya, Ken hanya menatapnya datar dan berkata, “Lebih bersih seperti ini.”
Hal serupa terjadi berkali-kali. Misofobia Ken semakin parah hingga Kanara akhirnya menyerah setelah berulang kali mencoba “memperbaikinya”.
Namun, setiap kali Ken bertingkah karena misofobianya, Kanara tetap tak bisa menahan keinginan untuk kembali “menggelembung”.
Kini, Ken justru memelihara kucing—sesuatu yang nyaris tak masuk akal. Di saat yang sama, sebagai seorang ibu, Kanara tak bisa menahan sedikit rasa sedih, seolah sedang mengalami kisah klasik “anak menikah lalu melupakan ibunya”.
Ken sama sekali tidak menyadari kecemburuan ibunya. Baginya, bukan karena Ashilla adalah pemilik kucing maka ia memelihara anak kucing itu.
Sebaliknya, status Ashilla sebagai pemilik kucing justru memberinya alasan yang sah untuk melakukannya.
Dengan keyakinan penuh, ia berkata, “Lagipula, aku harus terbiasa memelihara kucing setelah menikah nanti. Anggap saja ini latihan.”
"Wah.. sepertinya kau benar-benar menyukai Ashilla.."