Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Bunny kau tampak manis"
"Bunny, kenapa kau tampak manis sekali?" bisik Galen dengan suara rendah yang menggetarkan udara di antara mereka. Tatapannya yang gelap seolah ingin mengunci Rea tepat di tempatnya berdiri.
Mendengar pujian yang begitu tiba-tiba, Rea merasa wajahnya meledak karena malu. Jantungnya berdegup tidak keruan. Tanpa sanggup menjawab sepatah kata pun, Rea segera berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju kamarnya.
Bruk!
"Aduhhh!" Rea meringis kesakitan. Karena terlalu terburu-buru dan gugup, dahi mungilnya menghantam pintu kayu kamar dengan sangat keras. Ia terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
Melihat kecerobohan istrinya, Galen tidak bisa menahan diri untuk tidak menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Ia berjalan perlahan mendekat, suara langkah sepatunya terdengar tegas di atas lantai marmer.
"Bunny, hati-hati. Sudah saya katakan, jangan terburu-buru," ucap Galen sambil berlutut di depan Rea.
Tanpa menunggu persetujuan, Galen langsung menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Rea dan mengangkatnya dalam satu gerakan mantap. Ia menggendong Rea masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan tumit kakinya.
"Mas... turunkan Rea, dahi Rea cuma sedikit merah," cicit Rea canggung, tangannya secara refleks melingkar di leher Galen agar tidak jatuh.
Galen tidak menjawab. Ia membaringkan Rea di atas ranjang yang empuk, namun ia tidak langsung menjauh. Galen mengunci posisi Rea dengan menumpukan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu, menatapnya dari atas dengan intensitas yang membuat Rea sulit bernapas.
Galen menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Rea. "Biarkan saya melihatnya," desisnya, suaranya pelan dan dalam. Jempolnya dengan lembut menyentuh dahi Rea yang sedikit memerah. "Lain kali, jika ingin menghindar, menghindarlah ke arahku. Pintu ini hanya benda mati, tapi aku... aku akan selalu ada di sini untukmu."
Rea hanya bisa menatapnya, terdiam dalam kehangatan sesaat yang menyelimuti mereka. Tatapan intens Galen membuatnya sulit bernapas, dan dalam keheningan itu, Rea menyadari bahwa perasaannya terhadap Galen semakin rumit dan sulit untuk dijelaskan.
Galen masih mengunci tubuh Rea di bawahnya, tatapannya tajam dan penuh intensitas. Napas pria itu terasa panas di kulit wajah Rea, bukan karena gairah, melainkan ketegangan yang pekat.
"Sekarang berikan ucapan terima kasihmu, Bunny," bisik Galen rendah, suaranya terdengar sangat menuntut, tidak memberinya ruang untuk menolak.
Rea yang gemetar hanya bisa menjawab lirih, "Te-terima kasih, Mas Galen..."
"Bukan itu, Bunny," potong Galen cepat, sorot matanya semakin intens. "Saya ingin kesetiaan. Itu yang saya inginkan darimu."
Mata Rea membulat, memahami bahwa yang Galen inginkan jauh lebih dalam dan menakutkan daripada sekadar sentuhan fisik. Ini tentang kendali, tentang kekuasaan, dan Rea merasa terperangkap dalam jaringnya.
Galen mencondongkan tubuhnya, bukan untuk mencium, tapi untuk berbisik di telinga Rea, "Ingat, kau milikku, Rea. Sepenuhnya." Desisannya dingin, sebuah ancaman yang terbalut dalam kata-kata posesif.
Ia baru menjauh saat melihat ekspresi terkejut dan sedikit ketakutan di wajah Rea. Menempelkan dahinya pada dahi Rea sebentar, Galen menatap mata bulat istrinya yang kini tampak sayu dan berkaca-kaca, bukan karena gairah, tapi karena realisasi akan posisi dirinya.
"Itu cara berterima kasih yang benar pada suamimu, Rea," desis Galen dengan suara serak. Ia lalu bangkit berdiri dengan santai, seolah tidak baru saja menjerat Rea dalam labirin emosi yang kompleks.
"Sekarang tidurlah. Atau saya akan memastikan kau mengerti ucapan terima kasih yang sebenarnya," ancam Galen dengan seringai tipis yang sangat berbahaya.
Rea segera menarik selimut sampai menutupi hidungnya, wajahnya panas bukan main, bukan karena malu, tapi karena syok dan ketidakberdayaan. Ia hanya bisa menatap punggung Galen yang berjalan keluar kamar dengan gagah, meninggalkan Rea sendirian dengan ketakutan dan kebingungan.