NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Baskara melangkah gontai meninggalkan lorong rumah sakit.

Dunianya yang biasanya kokoh kini runtuh berkeping-keping.

Setiap langkahnya terasa berat, dihantui oleh bayangan malam enam tahun lalu.

Ia berdiri di area parkir yang sepi, di bawah guyuran hujan gerimis puncak yang dingin.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merogoh ponselnya dan menghubungi Pramudya, pengacara kepercayaannya.

"Pram," suara Baskara terdengar parau, nyaris tak dikenali.

"Iya, Tuan Baskara? Ada masalah dengan proyek?"

"Dengarkan aku baik-baik. Aku ingin kamu menyusun dokumen pengalihan aset malam ini juga. Seluruh sahamku di BSG, properti di Jakarta, Singapura, dan Kanada, serta seluruh tabungan pribadiku, pindahkan semuanya atas nama Swari Aruna. Jadikan dia pemilik tunggal. Dan untuk Alex dan Alexandria, buatkan dana perwalian yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun hingga mereka dewasa."

Pramudya terdiam di seberang telepon saat mendengar perkataan dari Baskara.

"Tuan, Anda sadar apa yang Anda katakan? Itu berarti Anda melepaskan seluruh kekuasaan Anda."

"Aku tidak butuh kekuasaan itu, Pram. Aku hanya butuh mereka hidup layak jika aku tidak ada lagi, Pram. Dan setelah dokumen itu siap, temui aku di kantor polisi Jakarta Pusat besok pagi. Aku akan menyerahkan diri atas kasus pemerkosaan enam tahun lalu."

Setelah menutup telepon, Baskara jatuh terduduk di aspal yang basah.

Ia menangis tersedu-sedu, sebuah pemandangan yang tak pernah disaksikan oleh siapa pun.

Rasa bersalah itu kini lebih mematikan daripada tumor apa pun.

Dua jam kemudian, Swari dipindahkan ke ruang ICU.

Tubuhnya dipenuhi kabel dan monitor yang berbunyi teratur.

Baskara masuk setelah mengenakan baju steril dan ia duduk di samping ranjang Swari, menatap wajah pucat wanita yang tanpa sengaja telah ia hancurkan hidupnya dua kali.

Ia meraih tangan Swari yang terbalut perban, menciumnya dengan penuh takzim dan penyesalan.

"Swa, maafkan aku. Aku adalah iblis yang kamu cari. Aku pria yang merusak malammu enam tahun lalu. Aku tidak tahu harus bagaimana menebusnya, bahkan jika aku memberikan nyawaku sekalipun, itu tidak akan cukup."

Baskara menempelkan dahi Swari ke dahinya dan kembali menangis.

"Aku akan pergi, Swa. Aku akan menerima hukuman yang seharusnya aku terima sejak dulu. Aku sudah menitipkan segalanya pada Navy dan Ratri untuk menjagamu dan anak-anak kita."

Baskara menghapus air matanya dan keluar dari ruang ICU.

Ia memutuskan sebelum ke kantor polisi, ia menuju ke villa untuk melihat Alex dan Alexandria untuk terakhir kalinya.

Sesampainya di villa miliknya, Baskara melihat Alex dan Alexandria yang tertidur pulas.

"Papa minta maaf, Alex, Alexandria." ucap Baskara sambil mencium kening mereka.

Kemudian ia bangkit dan memanggil Yudha yang sedang berdiri di dekat pintu.

"Jaga mereka, Yudha. Besok pagi mama akan membawa mereka." ucap Baskara.

Yudha menganggukkan kepalanya sambil menatap wajah Baskara yang tidak seperti biasanya.

Setelah itu Baskara kembali masuk dan melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi untuk menyerahkan diri

Sementara itu di tempat lain dimana lampu monitor di ruang ICU berkedip teratur, seirama dengan detak jantung Swari yang masih lemah.

Swari membuka matanya perlahan-lahan dan menatap langit-langit ruang ICU.

Langit-langit putih dan bau antiseptik yang tajam menyambut kesadarannya.

Di samping tempat tidurnya, Navy dan Ratri tampak sangat layu.

Begitu melihat Swari sadar, Ratri langsung menggenggam tangannya dengan isak tangis yang tertahan.

"Mbak... Mas..." suara Swari parau.

"Swa, syukurlah kamu sudah sadar," bisik Navy sambil mengusap air matanya.

Seorang pria berpakaian rapi, Pramudya sang pengacara, melangkah maju.

Wajahnya penuh rasa prihatin sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal dan sebuah surat tulisan tangan yang tampak bercak air mata.

"Nona Swari, saya Pramudya, kuasa hukum Tuan Baskara. Beliau meminta saya menyerahkan ini begitu Anda sadar. Ini adalah dokumen pengalihan seluruh aset BSG dan kekayaan pribadi beliau atas nama Anda dan dana perwalian untuk Alex dan Alexandria," jelas Pramudya.

Swari menerima surat itu dengan tangan gemetar.

Ia membaca baris demi baris tulisan tangan Baskara yang tegas namun bergetar.

Swari, maafkan aku. Aku adalah iblis yang kamu cari. Aku pria yang merusak malammu enam tahun lalu di bawah bayang bendera putih tahlilan suamimu. Aku tidak tahu kalau wanita itu kamu, Swa. Sampai Mbak Ratri menceritakannya tadi di depan ruang operasi. Aku tidak pantas mendapatkan maafmu, apalagi cintamu. Saat kamu membaca ini, aku mungkin sudah berada di kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan semuanya. Harta ini tidak bisa mengganti jiwamu yang hancur, tapi biarlah ini menjadi jaminan agar Alex dan Alexandria tidak pernah kekurangan sepeser pun. Selamat tinggal, ratuku. BS

"T-tidak..." Swari menangis sesenggukan hingga dadanya yang diperban terasa sesak.

Surat itu langsung basah oleh air mata Swari.

"Kenapa, Swa? Apa isinya?" tanya Ratri panik.

"Mas Navy, Mbak Ratri. Baskara, dia pelakunya," bisik Swari di tengah tangisnya yang pecah.

Navy dan Ratri terkejut bukan main, tubuh mereka kaku seketika.

Namun, di balik rasa benci yang seharusnya ia rasakan, Swari teringat bagaimana Baskara memeluk Alex semalam.

Ia teringat bagaimana pria itu mengecup kening Alexandria dengan penuh kasih, dan bagaimana ia mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan mereka dari Dimas.

"Mas Navy, temani aku! Aku tidak mau dia ke kantor polisi!" seru Swari sambil mencoba bangkit, mengabaikan selang infus yang tertarik.

"Swa, kamu masih sakit! Dia pria yang sudah menghancurkanmu!" Navy menahan pundak adiknya.

"Tapi dia juga yang menyelamatkan aku, Mas! Dia ayah dari anak-anakku! Aku tidak mau Alex dan Alexandria kehilangan ayahnya lagi setelah mereka baru saja memanggilnya 'Papa'. Tolong, Mas, tolong bawa aku ke sana atau telepon dia! Aku tidak mau dia menyerah seperti ini!"

Swari mencengkeram lengan Navy dengan sisa kekuatannya.

Di dalam hatinya yang terluka, ada sebuah kebenaran yang lebih perih dari penyakitnya.

Ia telah jatuh cinta pada pria yang seharusnya paling ia benci.

Navy menghela nafas panjang dan mengambil kursi roda.

Ia mendorong kursi roda dan memasukkannya ke dalam mobil.

"Mas, ayo cepat. Kita harus cepat sampai ke kantor polisi."

Navy melihat ketakutan dan rasa cinta Swari kepada Baskara.

Ia pun segera melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.

Disisi lain dimana cahaya lampu biru-merah dari mobil patroli yang terparkir di depan kantor polisi Jakarta Pusat memantul di wajah Baskara yang kaku.

Ia berdiri di depan pintu masuk, menggenggam dokumen identitasnya dengan tangan yang tak berhenti gemetar.

Bagi Baskara menyerahkan diri adalah satu-satunya cara agar ia bisa bernapas kembali tanpa dicekik rasa bersalah. Namun, tepat saat kakinya baru akan melangkah melewati ambang pintu, sebuah teriakan parau membelah kebisingan jalanan.

"BASKARA!!"

Baskara menoleh dengan cepat mendengar suara yang memanggilnya.

Jantungnya seolah berhenti berdetak melihat sebuah mobil MPV berhenti mendadak di area parkir.

Navy keluar dengan wajah tegang sambil menurunkan kursi roda dari bagasi dan membantu Swari yang masih mengenakan baju rumah sakit dengan selimut melilit tubuhnya.

Swari duduk di kursi roda itu, selang infus di tangannya tampak berdarah karena ia terus meronta.

Wajahnya yang pucat pasi kini basah oleh air mata amarah.

"Swa, kenapa kamu di sini?" bisik Baskara, suaranya tercekat.

Ia berlari mendekat, namun tertahan oleh tatapan tajam Navy.

Swari mencengkeram pegangan kursi rodanya hingga buku jarinya memutih.

"Kamu jahat, Bas! Kamu benar-benar pria paling jahat yang pernah aku temui!" teriak Swari, suaranya pecah di tengah isak tangis.

Baskara berlutut di aspal, tepat di depan kursi roda Swari.

Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata wanita yang telah ia hancurkan.

"Aku tahu, Swa. Aku jahat. Aku iblis itu. Karena itulah aku di sini. Aku akan membayar setiap detik penderitaanmu selama enam tahun ini di dalam sana."

"Membayar?" Swari tertawa getir di sela tangisnya.

"Dengan cara meninggalkan kami lagi? Kamu pikir dengan masuk penjara, semua lukaku sembuh? Kamu pikir dengan memberikan semua hartamu, Alex dan Alexandria akan berhenti bertanya mana Papa mereka?"

Swari memukul bahu Baskara dengan tangan yang tidak terinfus.

Pukulan yang lemah bagi Baskara, namun terasa seperti tusukan sembilu di jiwanya.

"Kamu pengecut, Baskara Surya! Kamu kabur ke penjara karena kamu tidak sanggup melihat wajahku setiap hari! Kamu tidak sanggup melihat Alex yang setiap inci wajahnya adalah cermin dari dosamu!"

Baskara mendongakkan kepalanya dengan matanya yang memerah menatap Swari dengan luka yang dalam.

"Lalu aku harus bagaimana, Swa? Aku tidak sanggup hidup dengan kenyataan bahwa pria yang kamu benci setengah mati adalah aku. Aku tidak pantas berada di sisimu!"

"Itu hakku untuk memutuskan!" bentak Swari.

Ia meraih kerah kemeja Baskara, memaksa pria itu mendekat hingga dahi mereka bersentuhan.

"Dengar, Baskara. Aku membencimu. Aku sangat membencimu sampai rasanya aku ingin mati saat membaca suratmu. Tapi..."

Swari terisak hebat, tubuhnya yang lemah berguncang.

"Tapi aku lebih benci fakta bahwa aku mencintaimu. Aku benci fakta bahwa Alex dan Alexandria butuh kamu. Jika kamu masuk ke kantor polisi itu sekarang, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku. Kamu akan membunuhku untuk ketiga kalinya!"

Baskara terpaku saat mendengar kalimat "aku mencintaimu" dari bibir Swari yang merupakan hukuman sekaligus pengampunan yang paling menyakitkan.

Tanpa peduli lagi pada keberadaan Navy atau polisi yang mulai memperhatikan mereka, Baskara langsung merengkuh tubuh Swari.

Ia memeluk wanita itu dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di bahu Swari yang rapuh.

Keduanya menangis tersedu-sedu di depan kantor polisi, melepaskan beban rahasia enam tahun yang selama ini menjadi tembok berduri di antara mereka.

"Jangan pergi, kumohon jangan pergi..." bisik Swari parau di dalam dekapan Baskara.

Baskara mencium puncak kepala Swari berkali-kali.

"Maafkan aku, ratuku. Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, menjadi samsak amarahmu, menjadi penebus dosamu, sampai kamu sendiri yang memintaku pergi."

Navy yang berdiri di belakang mereka, membuang muka sambil menghapus air mata.

Ia benci pada apa yang dilakukan Baskara dulu, namun ia tidak bisa menutup mata bahwa adiknya hanya bisa pulih jika pria itu ada di sana untuk menjahit kembali kepingan hati yang ia pecahkan sendiri.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!