Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Aku menyukaimu
Zella berusaha menyapu air matanya. Dia segera meraih tisu yang ada di depannya. "Maaf ... aku cengeng kalau ingat perjuangan Ayahku yang tak pernah lelah berusaha membahagiakanku."
Abi menatap haru pada sosok wanita di depannya. Ternyata perkataan Zella malam itu pada Rihana bukan sekedar cerita Zella tentang putrinya bernama Tifa. Namun cerita itu Zella alami sendiri, di mana rasa kecewa perlahan berubah jadi kasih sayang saat dirinya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menerima kasih sayang dari sosok yang menggores kekecewaan itu.
"Aku tak sabar bertemu Ayahmu. Aku ingin belajar banyak hal, khusus aku ingin bertanya padanya bagaimana mencurahkan kasih sayang pada anak yang telah dia kecewakan dulu. Karena aku juga telah mengecewakan kedua anakku."
"Harapanmu sebentar lagi terwujud. Lihat Miko keluar dari ruangan itu." Zella menunjuk kearah Miko yang berlari menuju mobil.
"Zella."
Panggilan itu membuat Zella kembali menoleh pada Abi. "Iya?"
"Maafkan aku."
"Maaf untuk apa?" Zella semakin serius menatap Abi.
"Maafkan aku, sepertinya aku akan menarik keinginanku yang berniat membatalkan pernikahan kita. Aku--" Entah mengapa berat bagi Abi untuk menyampaikan perasaannya.
"A-aku menyukaimu. Maksudku aku membutuhkan kamu untuk menjalani hidup selanjutnya. Bersedia menjadi istriku?"
Zella membatu, dia bingung apakah ini hal baik karena ini yang dia usahakan agar bisa membebaskan Ayahnya, atau hal yang berlawanan.
"Anjani benar. Kamu istimewa. Hanya sebentar berbicara serius denganmu, membuat mataku terbuka dan bisa melihat hal yang tak ku lihat sebelumnya."
Zella masih membeku.
Abi membuang napas kesal, banyak hal yang ingin dia ungkapkan pada Zella, namun supirnya sudah masuk mobil dan tersenyum padanya.
"Permisi Tuan Abi, dan Nyonya Zella. Kalian sudah mendapat izin berkunjung. Barang bawaan Nyonya Zella juga sudah lolos pemeriksaan. Kita bisa langsung masuk sekarang."
Zella masih bungkam, entah mengapa mengetahui Abi menerimanya membuat tubuhnya seakan mengambang di udara. Rasanya dirinya seperti orang gila. Satu sisi berharap batal, tapi juga membutuhkan Abi.
"Denger kan apa kata Miko?"
Ucapan Abi menyadarkan Zella. Zella meraih tas dan bersiap turun. "Maaf, pikiranku masih loading. Aku memikirkan bagaimana keadaanmu jika masuk ruang besuk. Di sana pasti panas dan hanya ada kipas angin tak ada AC."
Dari mana ide ini? Kok aku cerdas banget ya? Zella memuji dirinya sendiri, merasa puas dengan perkataanya barusan.
"Semoga pertemuan 10 menitku dengan Ayahmu bisa aku cukupkan. Jujur aku tak yakin bisa jauh dari pendingin udara berlama-lama. Sedang daftar pertanyaan untuk Ayahmu, ku rasa begitu panjang" ucap Abi.
Zella turun dari mobil, sedang pikirannya berkecamuk memikirkan kondisi Abi jika kepanasan. Sedang di belakangnya Abi sudah keluar dari mobil dibantu oleh Miko. Tanpa Zella sadari Abi mengekor dengan kursi roda yang meluncur pelan tepat di belakang Zella.
Zella terus mengayunkan sepasang kakinya, namun matanya terus menyisir area sekitar lapas. Matanya tiba-tiba terfokus pada toko elektronik yang ada di seberang lapas. Seketika sebuah ide menyala di kepalanya. Zella merasa sangat antusias dan langsung berbalik badan. Zella tidak menyangka kalau Abi berada tepat di belakangnya. Di luar kendalinya dia tersandung kaki Abi dan terjatuh ke pangkuan Abi.
Melihat kejadian di depan matanya, Miko dengan sigap menahan kursi roda itu agar tidak oleng karena menahan bobot tambahan yang tiba-tiba. Dia berusaha tidak merusak momen langka itu.
Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka dibuat tersenyum melihat adegan itu, rasanya mereka diajak menonton adegan romantis sebuah sinetron secara live.
Zella sangat terkejut dengan posisinya saat ini, dia langsung bangkit dan memastikan Abi tidak cedera karena tertimpa bobot tubuhnya. "Maaf, saya tidak tahu kalau Anda di belakang saya," sesal Zella.
"Kamu ada yang sakit?" Abi memastikan keadaan Zella.
"Nggak, aku nggak apa-apa." Zella berusaha terlihat baik-baik saja, walau pantatnya terasa nyeri karena mendarat di atas besi penyangga tangan di sisi kursi roda Abi. "Apa tuas kontrolnya rusak karena tertimpa aku?"
Abi mengotak-atik tuas kendali kursi rodanya. "Semua aman. Kamu jangan khawatirin kursi rodaku. Kursi roda rusak tinggal ganti. Tapi kalau dirimu cedera itu adalah masalah besar."
"Ayo kita ke dalam, pasti Ayahmu menunggu kita," ajak Abi.
"Kalian duluan masuk ya, aku ada perlu sebentar!" Tanpa menunggu jawaban Abi, Zella langsung berlari pergi menjauh.
Abi terus memandang kearah Zella semakin menjauh, entah mengapa dirinya ingin sekali mengulangi kejadian barusan.
"Tuan, apakah ada yang sakit?" tanya Miko.
"Am--" Abi berusaha terlihat santai. "Kita langsung masuk saja. Tunggu Zella di dalam, kesempatan bagus kan bisa bertemu Ayahnya di saat Zella tak ada." Abi meluncur pelan dengan kursi rodanya. Tangannya tetap siaga pada pengendali kursi rodanya, sedang di kepalanya terus terbayang kejadian jatuh.
Abi dan Miko sampai di ruang besuk. Miko mengarahkan Abi mendekati seorang lelaki yang terasa familiar baginya.
"Dia Pak--"
"Bagas!" ucap Abi memotong ucapan Miko.
"Ada banyak nama Bagas di dunia ini, aku nggak nyangka Bagas legendaris kepercayaan Kakek Anda adalah Bagas Ayah Zella," gumam Miko.
"Hai om Bagas, apa om ingat aku?" sapa Abi.
Yang disapa barusan terlihat sangat syok melihat sosok penyapanya. "Rakha? Apakah aku mimpi? Aku melihat Rakha putra Yusuf Fadhila?"
"Iya, aku Rakha Abimayu putra Yusuf Fadhila," sahut Abi.
"Kemana saja kamu? Dulu mendengar kematian Ayahmu aku berusaha mencarimu! Mengapa aku baru sekarang menemukanmu?" Bagas menangis haru melihat sosok Abi yang biasa dia panggil Rakha.
"Om tidak menemukan aku, tapi aku yang menemukan om!"
Bagas meringis melihat keadaan Abi saat ini. "Ku rasa aku sudah sangat terlambat untuk menjagamu, apa yang terjadi padamu?"
"Tidak ada kata terlambat, sebab dulu om Bagas berpindah tugas. Keadaanku sekarang memang sudah nasib. Om Bagas jangan sedih."
Bagas meminta petugas keamanan untuk melepas borgolnya sebentar, dia menerangkan alasannya melepas borgol itu. Petugas yang berjaga melihat keadaan Abi menjadi pertimbangan mereka untuk mengabulkan permintaan Bagas. Setelah borgol terlepas, Bagas langsung memeluk pemuda yang duduk di kursi roda itu.
"Kemana para penjaga yang bertugas menjagamu? Mengala sampai terjadi hal buruk padamu,?? Mengapa mereka membiarkan kamu seperti ini??" Bagas meraung sedih melihat keadaan Abi seperti itu.
"Ayah mengenal Abi?"
Pertanyaan itu membuat Bagas melepaskan Abi dari dekapannya. Bagas dan Abi menatap heran pada Zella. Pandangan keduanya tertuju pada barang yang Zella peluk.
"Kamu pergi membeli itu?" tanya Abi.
"Buat apa kamu beli itu?" tanya Bagas.
Zella menatap Abi dan Bagas bergantian. Zella bingung menjawab pertanyaan siapa lebih dulu, karena pertanyaan itu meluncur diwaktu yang berbarengan.
Bagas perlahan berdiri, dia menyapu air mata yang membasahi pipinya. "Buat apa AC portabel itu? Ayah tak membutuhkan itu," ucap Bagas.
"Aku tak membeli ini buat Ayah." Zella meletakan barang yang baru dia beli. "Ini buat calon suami aku." Zella langsung menarik kursi roda Abi, memastikan arah AC portabel yang dia beli pas dengan posisi Abi.
"Apa?? Calon suami?!" Bagas dibuat terkejut dengan jawaban Zella. "Sejak kapan kamu mengenal Rakha? Bagaimana bisa dia akan menikah denganmu??"
"Rakha? Siapa itu?" Zella tak faham ucapan Ayahnya.
"Laki-laki yang di kursi roda itu adalah Rakha! Rakha Abimayu!" ucap Bagas.
"Tunggu, pertanyaan aku tadi lebih dulu, Ayah belum jawab, Ayah mengenal Abi?" Zella mengulang pertanyaannya.
"Dia cucu kesayangan majikan Ayah dulu. Ayah salah satu petugas keamanan yang ada di sana." Bagas berusaha mengatur napasnya. Mengetahui Abi calon suami Zella hal yang sangat mengejutkan baginya.
"Sekaran jawab pertanyaan Ayah, bagaimana bisa kamu dan Rakha bahkan akan menikah? Sejak kapan kalian saling mengenal?" tanya Bagas.
"Kenapa Ayah menanyakan bagaimana bisa aku dan Abi akan menikah? Aku perempuan, Abi Laki-laki antara kami tak ada ikatan saudara jika kami menikah wajar bukan?" Zella menatap serius pada Ayahnya.
"Kalau Abi perempuan dan aku perempuan, baru Ayah bingung kenapa bisa kami akan menikah, karena ini dilarang di negara ini." lanjut Zella.
Bagas menghela napas panjang, wajahnya nampak frustasi dengan jawaban Zella. Sedang Abi berusaha menahan tawanya. Dia tak habis pikir, bahkan Ayah kandungnya saja tak luput dari rasa kesal dengan kelakuan Zella.