Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah melepasnya yang kesekian, Panca menghempaskan tubuhnya di samping tubuh Lidia. Wanita itu melenguh saat rudal yang sudah mengobrak abrik goa hangat miliknya di lepas sang pemilik. Bagas keduanya nampak naik turun seperti orang habis berlatih jauh.
"Makasih sayang." Panca mengecup kening Lidia dan menyelimuti tubuh mereka yang sama - sama toples.
"Bapak gila, ini masih pagi. Rasanya aku malas untuk bekerja hari ini." protes Lidia dengan wajah pura - pura masam.
"Tapi kamu sukakan?" goda Panca sambil memeluk kekasihnya itu. Lidia merasakan benda kenyal berotot mengenai bagain belakangnya, begitu hangat.
"Bapak ini ih..." ujar Lidia dengan wajah malu - malu.
"Kamu begitu menggoda Lidia, baru kali ini aku merasa sebahagia ini." Panca mencium rambut Lidia dan menikmati aroma yang begitu membuatnya candu.
"Trus kalau sama Wulan bapak ga bahagia gitu?" ada rasa nyeri di sudut hatinya saat mengatakan itu.
"Ga usah bahas orang lain, saat kita berdua mending kita bicarakan diri kita aja." tepis Panca tak suka membahas istrinya.
"Loh kok gitu."
"Kalau masih bahas dia, aku akan kembali membuat kamu berteriak kejebak dan meluapkan dia." ancam Panca terdengar dari nada suaranya jika ia tak menyukai pembahasan tentang istrinya saat berada di dekat Lidia.
"Saya mau tanya, pak?" Lidia memutar tubuhnya menghadap Panca dan menatap mata elang yang selalu membuatnya menghipnotis.
"Silahkan."
"Apa bapak mencintai saya?" pertanyaan itu melintas begitu saja meski ia tau jawabannya akan terasa menyakitkan.
"Tentu aku mencintai kamu, yang. Kalau aku tak cinta ngapain aku selalu berada di sisi kamu."
"Bapak ga lagi bohongkan?" tanya Lidia sambil terus menatap mata Panca.
"Beneran, sumpah aku itu udah lama menyukai kamu tapi kamunya aja yang respek. Padahal saya sudah memberi sinyal - sinyal cinta tapi kamu tidak menangkapnya. Maaf bila di awal aku sedikit kasar." nampak di mata Panca tak ada kebohongan, ada binar cinta di sana tapi bagi Lidia itu bagaikan racun yang akan membunuhnya pelan - pelan.
Dengan berat hati Panca harus meninggalkan Lidia, karna siang ini harus meeting dengan klien. Tadinya Lidia bersikukuh ikut karna tangung jawab tapi Panca melarang.
"Saya itu harus professional pak, masa saya libur lagi. Harusnya saya yang mendampingi bapak meeting." protes Lidia.
"Ga apa - apa, kami pasti capek. Kamu beristirahat aja di rumah biar saya dan asisten saya yang menangani pekerjaan hari ini." Panca membelai pipi Lidia lembut dan mengecup bibir merah merekah tanpa lipstik sekilas.
"Makasih ya, pak. Saya jadi ga enak."
"Kalau gitu saya jadi malas berangkat, apa saya batalin aja meeting haru ini? Biar aku di sini menemani kamu seharian." goda Panca membuat Lidia gelagapan.
"Ga, ga perlu pak. Bapak berangkat aja, baiklah saya akan istirahat. " buru - buru Lidia nyuruh Panca pe4gi sebelum lelaki itu berubah pikiran. Bisa - bisa dirinya akan semakin lelah nantinya.
Ada senyum di sudut bibir Panca, ia begitu bahagia melihat wajah panik kekasihnya. Andai meeting siang ini tak penting sudah tentu iaakan membatalkan.
Ponsel Panca berdering dan tertera nama istrinya, Wulan pasti bertanya kenapa ia tidak pulang kerumah tadi malam. Panca memilih abai nanti saja di kantor baru ia jawab panggilan telpon Wulan, bathinya.
Setelah Panca pergi Lidia turun dari ranjang untuk sarapan, perutnya terasa sangat lapar. Untung tadi Panca sudah memesan sarapan untuk dirinya. Lelaki itu memang selalu bisa di andalkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?