Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuh.
Aku menatap Gio, menunggu kelanjutan kalimatnya, berharap barusan itu cuma salah ucap.
"Udah nggak ada gimana maksudnya?" tanyaku, suaraku bergetar. "Mas, ada apa sebenarnya?"
Gio menelan ludah. Matanya tidak berani lama-lama bertemu dengan mataku.
"Maya bunuh diri, Mbak."
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa aba-aba. Dadaku langsung terasa kosong, seperti udara di sekitarku mendadak tersedot habis.
"Enggak," kataku cepat, hampir refleks. Aku menggeleng, satu langkah mundur. "Enggak mungkin."
Kata-kataku terdengar lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri.
"Dia nggak mungkin bunuh diri," lanjutku, nadaku mulai naik. "Dia bahagia Mas, dia cerita ke aku. Dia seneng banget mau nikah. Dia-"
Ingatan itu muncul begitu jelas sampai rasanya menyakitkan.
Maya bilang hidupnya lagi di fase paling bagus.
Maya bilang, ‘Sekarang aku malah pengen hidup lama, Ren.’
Tanganku mulai gemetar.
"Dia bahkan bilang dia nggak pengen mati," suaraku pecah. "Orang yang ngomong kayak gitu mana mungkin tiba-tiba bunuh diri?"
Aku sadar mataku sudah panas, air mata jatuh tanpa bisa aku cegah. Arven bergerak cepat. Lengannya melingkar di bahuku, menarikku mendekat ke sisinya. Telapak tangannya menekan punggungku, menahan tubuhku yang mulai goyah.
"Seren, aku di sini," bisiknya, rendah dan tegas.
Aku menoleh lagi ke Gio, napasku tersengal.
"Kapan?" tanyaku. "Kapan kejadiannya, Mas?"
Gio menghela napas panjang, bahunya turun seperti menanggung beban yang terlalu berat.
"Hari Minggu," jawabnya pelan. "Hari Minggu kemarin."
Aku terdiam. Hari Minggu, hari saat aku janjian dengan Maya di mall.
Hari saat ia mengirim pesan, bilang nggak bisa datang karena ada urusan. Aku bener-bener ingat pesan itu, aku membukanya beberapa kali.
"Enggak mungkin," kataku sambil menggeleng keras. Tanganku mencengkeram lengan Arven. "Enggak mungkin. Hari itu dia ngechat aku, Mas. Dia bilang dia nggak bisa datang. Katanya ada urusan. Cara ngetiknya normal."
Suaraku berubah menjadi isakan.
"Kalau dia udah mau bunuh diri," lanjutku tersedu, "kenapa dia masih ngechat aku? Kenapa dia masih mikirin aku?"
Tubuhku mulai bergetar hebat. Aku merasa bersalah dengan cara yang paling menyakitkan. Seolah ada yang aku lewatkan begitu saja.
"Harusnya aku sadar," kataku di sela tangis. "Harusnya aku ngerasa ada yang aneh. Aku temennya, tapi aku nggak ngapa-ngapain."
Tangisku pecah. Nafasku tersendat, suaraku berantakan. Aku menutup wajahku, tidak sanggup menahan semua yang menyerbu kepalaku sekaligus.
Arven tidak tahan melihatku runtuh begitu saja. Ia memelukku penuh, erat, satu tangannya menopang kepalaku ke dadanya. Tangannya yang lain mengusap punggungku perlahan, berulang.
"Bukan salah kamu," katanya tegas, suaranya sedikit lebih keras dari biasanya. "Dengerin aku, Seren. Bukan salah kamu."
Aku menggeleng di dadanya, tangisku semakin menjadi. "Aku harusnya ada buat dia Ven."
"Shh," Arven menunduk, bibirnya hampir menyentuh rambutku. "Tarik napas, pelan-pelan. Aku pegang kamu."
Aku benar-benar histeris sekarang. Tanganku gemetar tanpa bisa dikendalikan, kakiku lemas. Kalau Arven tidak menopangku, entah apa yang terjadi mungkin aku sudah jatuh terduduk di tempat.
Di hadapanku, suara Gio terdengar lagi, lirih, penuh kelelahan.
"Saya juga, Mbak," katanya. "Saya nggak percaya tunangan saya bisa bunuh diri. Dia kelihatan ceria banget. Kami nggak ada masalah besar."
Aku mengangkat kepala sedikit, mataku merah dan basah.
"Terus kenapa?" bisikku. "Kenapa bisa sejauh itu?"
Gio menggeleng pelan. "Saya juga masih nyari jawabannya. Tapi polisi udah yakin. Semua bukti katanya mengarah ke bunuh diri."
Kalimat itu tidak menenangkanku sama sekali. Justru sebaliknya. Dadaku terasa semakin sesak. Ada sesuatu yang terasa salah, tapi aku belum tau itu apa.
Arven mengeratkan pelukannya lagi, seolah menyadari tubuhku mulai kehilangan tenaga.
"Cukup," katanya pelan, lebih ke arahku daripada ke Gio. "Kita duduk dulu."
Ia menuntunku menjauh sedikit dari keramaian, membiarkanku bersandar penuh padanya. Aku menempelkan wajahku ke dadanya, menangis tanpa suara, kelelahan.
Di tengah hangat tubuh Arven, rasa sakit itu tidak hilang. Tapi setidaknya, aku tidak sendirian menahannya.
Dan di balik isakanku, satu pikiran terus berdenyut pelan, mengganggu.
Maya nggak mungkin bunuh diri
.
.
.
.
Sejak hari itu, semuanya terasa melambat.
Bukan dunia di sekitarku yang berubah, tapi aku. Aku seperti berjalan di dalam air, berat, lamban, dengan kepala penuh dengung yang tidak mau berhenti.
Aku tidak ingat jelas bagaimana kami pulang malam itu. Yang kuingat hanya lengan Arven yang terus ada di sekelilingku, dan langkahnya yang sengaja disesuaikan denganku, seolah takut aku akan jatuh kalau ia berjalan terlalu cepat.
Di apartemen, aku duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Tanganku dingin, jari-jariku masih gemetar kecil.
Arven berjongkok di depanku lagi, seperti pagi itu. Ia melepas jaketku pelan, menaruhnya di kursi, lalu menggenggam kedua tanganku.
"Kamu di sini," katanya lembut. "Sama aku."
Aku menatapnya, lalu tanpa sadar aku menangis lagi. Kali ini lebih pelan, lebih lelah.
"Aku nggak ngerti," kataku lirih. "Aku bener-bener nggak ngerti."
Arven tidak menjawab. Ia hanya menarikku ke dalam pelukan. Aku membiarkan tubuhku jatuh ke dadanya, membiarkan berat badanku sepenuhnya ditahan olehnya.
Malam itu aku tidak makan. Arven tidak memaksa. Ia hanya membawakan air, duduk di sampingku, dan memastikan aku minum sedikit demi sedikit. Ketika aku akhirnya berbaring, ia tetap di sana, menyelimuti tubuhku, menepuk punggungku perlahan sampai napasku lebih teratur.
Aku tertidur dengan wajah menghadap dadanya, jari-jariku mencengkeram kausnya seperti anak kecil yang takut kehilangan.