Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Masih di area GBK.
Kenzo berjongkok di depan Naya, lengannya bertumpu santai di sandaran kursi roda. Tatapannya jatuh ke Naya yang lagi fokus makan jajanan, pipinya sedikit menggembung.
Dia senyum kecil.
Tenang. Hangat.
Seolah dunia pagi itu cuma selebar jarak mereka berdua.
Naya memegang jajanan kecil di tangannya. Baru saja dia mau memasukkannya ke mulut—
Kenzo bergerak cepat.
Tangannya meraih pergelangan Naya, lembut tapi sigap, lalu tanpa aba-aba… jajanan itu malah masuk ke mulut Kenzo.
“Eh—” Naya terdiam.
Kenzo mengunyah santai, matanya sedikit menyipit nakal.
“Gemes.”
Naya bengong.
Otaknya blank sepersekian detik.
Lalu… panas.
Pipinya langsung terasa hangat. Jantungnya? Jangan ditanya—rame sendiri kayak lomba lari.
“Kenapa?” tanya Kenzo sambil mencondongkan badan sedikit.
Naya refleks menggeleng cepat.
“NG-nggak apa-apa.”
Kenzo menatap wajah Naya lebih dekat, lalu tersenyum kecil.
“Pipi kamu merah.”
“Eh, nggak,” Naya buru-buru mengelak. “Panas doang.”
Padahal dalam hati: salting parah.
Kenzo cuma tertawa pelan, jelas nggak percaya.
Dia berdiri, lalu meraih pegangan kursi roda.
“Mau keliling dulu nggak? Aku dorong.”
“Sekalian aja,” lanjutnya santai. “Mumpung lagi di luar.”
Naya menatap sekeliling sebentar—langit cerah, angin sejuk, suasana tenang.
Lalu dia mengangguk kecil.
“Ayo.”
Kenzo mulai mendorong kursi roda perlahan menyusuri jalur pejalan kaki. Langkahnya tenang, jaga ritme biar Naya nyaman.
Sesekali Naya melirik ke samping.
Kenzo ada di sana—dekat, nyata, dan hangat.
Dan entah kenapa…
GBK pagi itu terasa lebih luas,
lebih cerah,
dan lebih aman dari biasanya. 💗
Beberapa menit kemudian, roda kursi Naya berhenti pelan.
Langkah Kenzo ikut melambat saat Naya mendadak menoleh ke kiri. Matanya berbinar, fokus ke satu titik.
“Iih… ada pancake lohh,” ucap Naya spontan, nadanya ringan tapi penuh antusias.
Tangannya sedikit menunjuk, lalu dia mendongak. Kepalanya menengadah, matanya naik mencari wajah Kenzo di belakangnya—cara khas Naya kalau lagi minta sesuatu tanpa benar-benar minta.
“Ayo beli,” katanya lagi, kali ini lebih lembut. Manja. Nggak disembunyiin.
Kenzo menunduk menatapnya dari atas. Wajah Naya terlihat kecil dari sudut itu. Pipi agak kemerahan kena angin pagi, mata bening, ekspresi polos tapi… berbahaya.
Tanpa aba-aba.
Kenzo menunduk.
Bukan buat jawab.
Tapi buat mengecup kening Naya—singkat, hangat, refleks.
Naya langsung diam.
Detik itu juga, jantungnya kayak lupa cara berdetak normal.
Dibikin salting mulu dehh… batin Naya panik sendiri, napasnya mendadak pendek.
“Ayo, Princess,” ucap Kenzo santai, seolah nggak baru aja bikin sistem saraf Naya korslet.
Naya buru-buru menunduk lagi. Kedua tangannya refleks naik nutupin wajahnya, berusaha nyembunyiin senyum yang sudah kelewat ketara.
“Dangerous, Kenzo,” gumamnya kecil, suaranya ketawa tapi gemetar.
Kenzo terkekeh pelan dari belakang.
“Kenapa?”
'Hati gue jadi nggak tenang,' batin Naya dalam hati—dan kali ini dia tahu, ini bukan karena pancake.
Kenzo mulai mendorong lagi kursi roda itu ke arah penjual pancake. Langkahnya santai, tangannya stabil di pegangan kursi, seolah dunia pagi ini memang milik mereka berdua.
Dan Naya?
Masih sibuk nenangin jantungnya sendiri—sambil berharap pagi ini jangan cepat selesai.💓
Beberapa detik setelah itu, Naya masih belum berani mendongak.
Tangannya tetap menutup wajah, jari-jarinya terasa hangat—entah karena cuaca pagi atau karena detak jantungnya sendiri yang belum mau turun.
Dia bikin jantung gue lari ke tempat lain, batin Naya.
Nggak berisik. Nggak dramatis. Tapi kacau.
Setiap gerakan kecil Kenzo—cara dia berdiri di belakang, cara napasnya terdengar dekat, cara suaranya barusan manggil Princess—semuanya kayak dorongan kecil yang bikin dada Naya makin nggak karuan.
Pelan-pelan, Naya nurunin tangannya. Matanya masih nunduk, tapi senyum kecil itu nggak bisa ditahan.
“Ken…” panggilnya lirih.
“Hm?” jawab Kenzo, nada suaranya dekat.
“Jangan gitu mulu deh,” kata Naya, setengah protes setengah pasrah.
Kenzo berhenti mendorong. Sedikit menunduk biar sejajar sama wajah Naya.
“Gitu gimana?” tanyanya polos—terlalu polos buat orang yang jelas-jelas tau efeknya.
Naya menghela napas pelan.
“Bikin aku… deg-degan terus.”
Kenzo tersenyum tipis. Bukan senyum jahil, tapi lembut.
“Berarti masih hidup,” katanya pelan.
Dan jantung Naya?
Yang tadinya lari ke mana-mana—sekarang kayak balik.
'Pacaran emang bahaya, I'm sorry mommy,' naya tertawa dalam hati yang masih lari di tempat.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...