NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Berondong / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga / Komedi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Lydia menatap pantulan dirinya di cermin. Sudah lama ia tidak merasa se antusias ini menjalani hari, bahkan sampai memakai riasan wajah.

Sebenarnya, ia tidak terbiasa menjadi pengangguran. Ia lebih suka lelah karena seharian bekerja, dibandingkan harus lelah karena tidak melakukan apa-apa. Namun, keadaan yang memaksanya.

Tidak mudah kembali bekerja di perusahaan yang memecatnya karena alasan personal. Pasti itu akan berpengaruh terhadap kinerjanya. Jadi, ia memutuskan untuk tidak kembali.

"Sekarang aku malah dekat dengan orang yang sudah memecatku," kekehnya pelan.

Alasannya antusias saat ini bukan karena pekerjaan, melainkan seseorang yang akan mengajaknya makan siang di luar, Arion.

Sejak hari itu, Lydia dan Arion semakin dekat. Bahkan, sering menghabiskan waktu bersama. Arion melakukan pendekatan sebagaimana mestinya, bukan lagi sekadar memberi barang-barang mewah.

Belum ada status yang mengikat mereka. Namun, tidak dapat dipungkiri Lydia merasa bahagia setiap kali menghabiskan waktunya bersama Arion.

"Sumringah banget muka lo, mentang-mentang mau ketemu Arion," ujar Rina memasuki kamar Lydia sambil memakan keripik kentang.

Sudah seminggu Rina menginap di apartemen Lydia dan menjadi saksi betapa bahagianya Lydia setiap kali pergi bersama Arion.

"Gue kan suka menyebar senyuman," sahut Lydia, masih dengan senyuman di bibirnya.

"Lo suka menyebar senyuman?" tanya Rina tidak percaya Lydia mengatakan itu.

Bukan apa-apa, Lydia itu termasuk orang yang jarang tersenyum. Bahkan, Lydia sering dikira judes karena setelan wajahnya. Bisa-bisanya sekarang Lydia mengaku sering menyebar senyuman.

"Memang benar kok," sahut Lydia.

Tepat saat itu, suara bel terdengar, yang menandakan Arion sudah datang menjemputnya. Padahal, Lydia sudah meminta agar Arion menunggu di lobi, daripada repot naik turun menjemputnya.

Arion dan Lydia masih menjadi tetangga apartemen. Namun, karena Arion sedang magang di Adhivara Grup, Lydia memintanya menunggu di lobi. Sayangnya, laki-laki itu memaksa naik.

"Berondong lo sudah jemput tuh," kata Rina dengan nada meledek.

"Gue pergi dulu," ujar Lydia sambil meraih tas yang sudah ia siapkan. Ia tidak membalas ledekan Rina karena Arion sedang menunggunya.

Rina menggeleng melihat sahabatnya yang sedang kasmaran. Ia masih sendiri, tapi Lydia dengan mudahnya mendapatkan pengganti Marvin.

"Tega banget gue ditinggalin sama keripik kentang," ucapnya sambil berpura-pura sedih menatap keripik kentang, lalu setelah itu memakannya.

Hidup sebagai jomblo memang tidak mudah, tapi lebih tidak mudah lagi jika hidup tanpa makanan. Lagipula, keripik kentang jelas lebih enak dinikmati dibandingkan memiliki pasangan.

***

Senyuman Lydia pudar saat melihat siapa yang datang. Bukan Arion, melainkan Wulan, sekretaris pribadi Marvin, yang entah ada angin apa tiba-tiba datang ke apartemennya.

"Sedang apa kamu di sini?" tanyanya dingin.

Ia tidak memiliki masalah dengan Wulan, namun ia juga tidak bisa bersikap ramah pada orang yang berkaitan dengan Marvin.

"Saya diminta Pak Marvin ke sini—"

"Saya sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengan bos kamu," sela Lydia, sebelum Wulan menyelesaikan kalimatnya.

"Tapi Pak Marvin sakit, Bu. Beliau sedang membutuhkan Anda sekarang," ujar Wulan, meminta pengertian.

Ia sudah jauh-jauh ke sana, dan tidak mungkin pergi tanpa hasil apa pun.

"Saya tidak peduli," tegas Lydia. Suasa hatinya langsung buruk karena kedatangan orang yang tidak diinginkan.

Arion yang melihat mereka dari kejauhan bergegas menghampiri dan bertanya apa yang terjadi.

"Ada apa, Kak?" tanya Arion pada Lydia yang tubuhnya bergetar akibat emosi.

"Tolong suruh dia pergi," ucap Lydia sambil meraih tangan Arion.

Arion menatap Wulan. Ia masih belum mengerti yang terjadi, Lydia tidak menjelaskan apa pun. Tapi ia tetap menurutinya.

"Pergilah. Jangan membuat keributan di apartemen orang lain," suruhnya pada Wulan, meski tidak tahu persis apa yang perempuan di depannya itu lakukan di apartemen Lydia.

"Saya tidak berniat membuat keributan. Kedatangan saya ke sini hanya untuk meminta Bu Lydia menemui Pak Marvin," jelas Wulan, menolak untuk pergi.

Rahang Arion seketika mengeras mengetahui itu. Sekarang bukan hanya Lydia yang emosi, Arion pun ikut emosi menghadapi Wulan.

Ia menatap Lydia untuk bertanya siapa sebenarnya orang di depan mereka. Berani sekali meminta Lydia menemui Marvin.

"Dia sekretaris pribadi Marvin," ucap Lydia menjawab tatapan bertanya Arion terhadapnya. Sudah sedekat itu mereka sampai Lydia tahu arti tatapan Arion.

Setelahnya, Arion kembali menatap Wulan. Emosinya semakin memuncak setelah mengetahui siapa lawan perempuan di depannya itu.

"Apa hak kamu memaksa Kak Lydia menemui Marvin?" tanya Arion. Rahangnya sudah semakin mengeras sekarang.

"Saya tidak berniat memaksa. Tapi sekarang Pak Marvin membutuhkan Bu Lydia. Beliau sedang dirawat di rumah sakit," sahut Wulan, tidak merasa sedang memaksa siapapun.

Ia hanya menjalankan perintah bosnya untuk datang ke apartemen Lydia dan meminta Lydia datang ke rumah sakit.

"Tapi itu bukan urusan saya. Kami sudah lama selesai," ujar Lydia menegaskannya kembali. Ia tidak suka dihubungkan dengan Marvin hanya karena Marvin mantannya.

Keributan itu mengundang orang lain datang. Rina dan Liam menghampiri mereka. Di lantai itu ada empat unit apartemen, tapi hanya tiga yang terisi, sehingga keributan tersebut tidak sampai hanya mereka yang datang.

"Lydia, ada apa? Kenapa lo belum pergi?" tanya Rina keluar dari apartemen Lydia.

Ketika matanya menangkap kehadiran Wulan, ia langsung paham situasi. Tanpa menunggu jawaban, ia menghampiri Wulan yang berkemungkinan menjadi sumber keributan.

"Lo ngapain di sini? Belum cukup bos lo nyakitin sahabat gue, hah?" ujar Rina berniat menjambak rambut Wulan.

Liam yang melihat itu dengan sigap menahan kedua tangan Rina agar tidak terjadi kekerasan di sana. Ia tidak tahu ada masalah apa, namun ia tidak pernah mentolerir kekerasan.

"Jangan melakukan kekerasan di sini," ucap Liam mengingatkan Rina.

Liam yang suka membuat kehebohan bersama sahabatnya mendadak serius sekarang, seakan itulah jati dirinya yang sebenarnya.

"Dengar, urusan saya bukan dengan kalian," ucap Wulan tanpa takut sedikitpun, meskipun ia sendirian di antara orang yang memihak Lydia.

Tujuannya hanya satu, membuat Lydia menemui Marvin. Sebentar juga tidak apa-apa, asalkan Lydia mau diajak ke rumah sakit.

Ia kemudian menatap Lydia yang sedang ditenangkan oleh Arion.

"Saya tahu Anda kecewa, tapi Anda tidak lupa dengan kebaikan Pak Marvin selama ini, kan?" tanyanya.

Lydia harus ingat bagaimana Marvin memperlakukannya selama ini. Perlu diakui, Marvin memang salah, tapi kesalahan itu terjadi bukan tanpa sebab.

"Pak Marvin yang merawat Anda saat Anda sakit, tanpa peduli meskipun ia merasa lelah. Tapi Anda bahkan tidak ingin menjenguknya sekarang?"

Lydia terdiam. Memang benar Marvin yang merawatnya setiap kali ia sakit. Namun, itu sudah berlalu sekarang, ia sudah memiliki kehidupan lain yang tanpa ada Marvin di dalamnya.

"Gak usah menyudutkan Lydia," semprot Rina tidak terima Wulan menyudutkan sahabatnya.

"Lo gak tahu usaha dia buat bantu perusahaan bos lo yang hampir bangkrut."

Rina hampir saja menyerang Wulan, jika saja Liam tidak kembali menghalanginya.

"Lepasin gue!" ucap Rina menepis tangan Liam.

Sayangnya, Liam tidak semudah itu ditepis. Laki-laki itu dengan mudah menghalanginya.

Rina yang belum menyerah tetap melakukan pembelaan, meski dengan Liam sebagai penghalang.

"Jangan cuma lihat dari sudut pandang Marvin. Gue tahu dia bos lo, tapi lo juga harus lihat sudut pandang Lydia sebagai sesama perempuan. Lydia sudah terlalu sakit buat sekedar ketemu Marvin."

1
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Resa05: bakal jadi pembaca setia, semoga ceritanya seru terus ya thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!