NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:101
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Kamar Rembulan.

Masih berkisah tiga tahun yang lalu ...

Sesampainya Reynand di mansion sore hari, dirinya tidak langsung beristirahat di kamarnya yang terletak di lantai tiga, melainkan singgah ke lantai dua dimana kamar Rembulan berada. Dia ingin mencari jejak sang keponakan barangkali ada petunjuk walau sekecil apa pun.

Sudah setahun dia tidak mendiami rumah kedua orangtuanya karena menjalani pengobatan alternatif kedua di negara timur yaitu China. Negara tersebut masyhur akan pengobatan tradisional sejak negara tersebut berdiri. Dia sudah bosan minum obat syaraf dan operasi secara kimiawi. Dua tahun lalu, dia menolak untuk operasi kesekian kalinya jadi kedua orangtuanya mengajak berobat ke negara Panda tersebut.

Sebenarnya dia tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya dan bermaksud rehat dari berbagai macam treatment pengobatan namun bundanya memaksanya untuk pergi. Akhirnya dia mengalah demi melihat senyum terbit di wajah wanita yang telah menghadirkannya ke dunia. Tidak ingin mengecewakan sang bunda yang terlihat antusias agar dirinya sembuh. Jadi mereka berangkat ke China dan tinggal di apartemen milik keluarga disana.

Dengan menaiki lift yang ada di mansion seorang diri, dia sampai di lantai dua dimana kamar Rembulan dan Calvin berada. Sedangkan kedua orangtuanya, lantai satu. Para ART ada di paviliun belakang bagi yang single. Bagi yang double (menikah) diberi fasilitas perumahan dengan metode mengangsur dekat kediaman Ambrosia.

Sejak dia yang memimpin perusahaan, dia banyak memberikan fasilitas untuk kenyamanan para pegawai termasuk memiliki hunian sederhana dan layak baik single maupun yang sudah berkeluarga. Dengan harapan dapat meningkatkan kinerja.

Reynand memasuki kamar keduanya dengan menggunakan kunci cadangan berupa kartu magnetik. Sengaja dia buat tiga, satu untuk pemilik kamar dan satu dipegang kepala ART (guna keperluan membersihkan kamar) dan satu kartu dipegang dirinya.

Tretttt!

Trekkk!

Pintu pun terkuak dan dia leluasa masuk ke dalam kamar yang terlihat rapi. Tampak dinding hanya dihiasi jam.

"Tak ada foto pernikahan ataupun foto pribadi!" gumamnya kaget setelah memindai seisi ruangan.

Dia pun melihat meja rias yang tampak bersih di permukaanya.

"Tak ada tanda keberadaan gadis itu seperti make up, sisir blow, hair dryer dan sebagainya ciri khas wanita!" gumamnya pada diri.

Reynand pun semakin penasaran. Dibukanya lemari pakaian yang tak terkunci. Ternyata hanya berisi pakaian pria berupa jas kerja, pakaian tidur dan santai milik keponakannya.

"Loh! Mengapa tak ada pakaian Rembulan? Semua hanya pakaian Calvin!" unggahnya semakin terkejut.

Tentu saja dia heran melihat isi lemari dan kamar dari keponakannya. Mereka sepasang suami isteri, lazimnya berbagi tempat penyimpanan. Selain itu, dia pun tak mungkin mengecek kamar keponakannya satu persatu apalagi keduanya sudah menikah, di masa lalu.

Dia tahu perbuatannya salah dan tidak seharusnya dilakukan. Entah mengapa, ada rasa penasaran yang mendorongnya untuk memeriksa kamar keponakannya karena. Untuk menuntaskan rasa penasarannya, dia menghubungi kepala ART kediaman Ambrosia. Merupakan pelayan senior, kisaran 53 tahun. Beberapa menit kemudian, pria paruh baya menghampiri tuan mudanya di lantai dua.

"Ada apa mas Rey, tidak menjelaskan di telepon!" tanyanya dengan kalem dan berwibawa.

"Paman Henry tahu tidak? Di kamar ini tidak ada jejak Rembulan. Seharusnya dia tidur bersama suaminya, kan!?" tanya Reynand to the poin.

Sesaat Henry terdiam kemudian berkata tanpa ada yang mesti ditutupi di depan pemimpin masa depan Ambrosia group.

"Maaf mas Rey, mas Calvin memang tidur di kamar ini tapi neng Rembulan tidak disini!" ungkapnya jujur.

"Maksudnya!?" tanya terkejut Reynand.

"Mari saya akan tunjukkan untuk lebih jelasnya!" ucap pelayan senior sambil memegangi kursi roda sang tuan muda.

Lantas Henry membawa Reynand menuju luar mansion. Tepatnya mengarah ke paviliun ysng terletak di belakang. Beberapa maid yang berada di daerah itu berbisik di telinga kawannya. Hal itu jelas menarik atensi sang juragan.

"Paman! Mengapa mereka berbisik satu dengan lainnya. Tidak aneh, kan? Kalau saya sebagai salah satu pemilik rumah memeriksa propertinya. Mereka sangat tidak sopan sekali, menggosipkan atasan yang menggaji mereka!" sarkas pria muda itu terhadap sikap bawahannya.

Mendengar nada marah di dalam suara majikan mudanya ini, segera dia menanggapi dengan hati-hati.

"Iya mas, nanti setelah ini, saya akan menindak mereka lebih tegas lagi!" ucapnya sambil terus mendorong kursi roda ke tempat tujuan.

Banyak kamar besar yang dilalui dan itu memancing tanda tanya dirinya kemana sebenarnya Henry akan membawanya. Hatinya mencelos, mengatakan bahwa ada yang tidak beres menimpa Rembulan sebelum kecelakaan.

Keduanya sampai di depan pintu kamar ujung berukuran 3x3 meter. Diakuinya dalam hati, dia kurang memperhatikan kehidupan kedua keponakannya setelah mereka menikah walau satu rumah. Penyebabnya, karena kesibukan kerja serta pengobatan, walaupun hasilnya tidak memuaskan.

"Paman, bukankah ini gudang!?" tanya Reynand keheranan karena mengenali ruang kecil tersebut.

Henry tidak banyak bersuara. Dia bergegas membuka kamar terkecil dari semua ruangan mansion yang terkunci.

Trekkk! (Suara kunci terbuka).

Ceklek! (Tuas pintu bergerak).

Kamar kecil itu pun terkuak. Aroma pengap dan debu dari dalam kamar, menguar dan berpendar di udara, menyesakkan pernafasan siapapun yang menghirupnya.

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

Paman Henry menutup hidungnya karena aroma khas kamar tertutup tercium sedangkan Reynand terbatuk.

"Ini ... adalah bekas gudang. Biasanya bekas mainanku di masa kecil disimpan olehmu disini tapi mengapa terlihat seperti kamar tidur. Dikemanakan mainannya? Kamar siapa ini!?" tanya Reynand terkejut begitu memasuki ruangan yang disulap menjadi kamar tidur.

Diamatinya kamar tersebut dengan seksama. Suhunya sangat panas dan pengap. Tingginya 2.5 meter. Di sisi kiri ada jendela persegi kecil berkaca transparan. Ada kasur dan satu bantal di lantai tanpa dipan, lepet dan bau sampai dia menutup hidung. Tak ada kipas angin apalagi AC. Lemari pakaian usang yang pintunya sudah copot. Meja rias berisi pernak-pernik khas wanita.

Nyesss!

Ada perasaan tak enak merayap di relung kalbunya demi melihat kamar yang dulunya bekas gudang. Kalaulah ditempati, ini sangat tidak layak. Dirinya tak ingin berprasangka terlebih dahulu!

"Tanpa memberitahu, atas perintah nyonya besar, semua mainan masa kecil mas Rey sudah disumbangkan ke tempat yang membutuhkan dan semenjak itu kosong melompong serta terkunci.

"Setelah tuan dan nyonya besar mendampingi mas Rey berobat keluar negeri, rumah dikendalikan mbak Ellena dan keluarganya. Setelah itu, kamar ini menjadi kamar neng Rembulan selama setahun ini!" ungkap Henry tanpa menutupi dan cukup jelas di telinga Reynand.

Henry menyematkan kata penghormatan di depan nama sesuai asal-usul daerah majikannya (mas, mbak berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Neng, Aden berasal dari Jawa Barat).

Elena berasal dari Jawa Tengah maka panggilan pada pasangannya mengikuti. Rembulan berasal dari Jawa Barat maka dipanggil Neng.

Deg!

Reynand sangat terkejut mendengar penuturan kepala maidnya. Matanya membola. Tidak menyangka bahwa dugaannya menjadi kenyataan!

"Apaaaa!? Yang benar saja paman. Mengapa bisa terjadi!?" serunya marah.

Reynand memukul pegangan kursi. Tangannya mengepal erat sampai memutih.

"Paman! Jelaskan semua ini bisa terjadi!? Di ruang kerjaku! Aku tak nyaman berada di tempat ini!" unggahnya dengan kemarahan yang tertahan.

Ketika kursinya diputarkan secara otomatis, rodanya tidak bisa bergerak lancar. Dilihatnya, ujung bantal tersangkut di jeruji roda. Dengan sigap, Henry menyingkirkan bantal kumal itu ke tengah kasur. Mata Reynand yang mengarah ke bawah menangkap sebuah benda bersampul cokelat.

"Paman! Apa itu? Berikan padaku!" ucapnya memerintah.

Henry pun bergegas mengambil benda bersampul coklat. Setelah ditelaah ternyata sebuah buku catatan. Sekilas sudah terisi tinta biru pudar dan sebagian kecil masih bersih tanpa tulisan.

"Sepertinya buku catatan milik neng Rembulan!" tebak sang butler pada tuan mudanya tanpa sempat membaca huruf di depan sampul.

Henry segera memberikan buku catatan tersebut pada Reynand tanpa berkeingin tahu isi di dalamnya. Dan pria muda yang masih menahan marah, menerima buku bersampul tersebut.

"Diary!" gumamnya sesaat setelah membaca tulisan di depan sampul.

Dia pun menaruh diary yang diduga milik ponakannya dan menyelipkan di sisi kursi. Dirinya pun menyuruh sang butler pergi dari kamar pengap ini. Dan beberapa waktu, keduanya telah sampai di ruang kerja lantai tiga.

"Nah, paman! Mulailah bercerita!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!