"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 18 - Makan Siang, Nomor Pribadi
“Makan siang dengan saya.”
Di kepalanya, beberapa asumsi saling berkelahi.
Undangan sudah diserahkan, konfirmasi sudah diterima. Secara profesional, urusannya selesai, tapi ajakan ini- apa pun bungkusnya, jelas bukan kewajiban institusi.
“Apa saya memiliki opsi untuk menolak?”
Setya benar-benar memiliki figur wajah yang begitu menarik, terlihat bagaimana diamnya mampu melumpuhkan seluruh keberanian yang selalu Maura miliki.
“Saya tidak pernah memaksa orang lain menuruti saya. Tapi, perlu kamu tahu bahwa mereka semua akan turut serta mengikuti segala kemauannya saya. Kamu tahu kenapa?” ada jeda di sana, selaras dengan berdirinya pria itu, “karena bagi mereka saya sangatlah luar biasa.”
Maura terdiam, menatap tubuh besar yang kini menyandarkan pinggulnya ke meja dengan tangan bersendekap.
Maura menahan senyum sinis yang hampir lolos. Kepercayaan diri pria ini sudah di level yang melampaui batas wajar, tetapi anehnya, Setya tidak terdengar sombong- pria itu hanya menyatakan fakta yang selama ini memang ia alami.
"Dan Bapak mengasumsi saya adalah bagian dari 'mereka'?" tanya Maura, suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.
Setya menatapnya dalam, seolah sedang membedah lapisan-lapisan pertahanan yang dibangun Maura sejak hari pertama keduanya bertemu.
"Justru karena saya tahu kamu bukan bagian dari mereka. Orang lain akan langsung berkata 'ya' bahkan sebelum saya menyelesaikan kalimat saya."
Setya berjalan mendekat, langkahnya pelan namun mendominasi ruangan yang luas itu. "Makan siang ini bukan tentang urusan kampus. Juga bukan tentang kejadian semalam. Ini hanya... makan siang tanpa variabel yang kamu takutkan."
Maura melirik jam tangan peraknya. "Saya punya jadwal bimbingan mahasiswa satu jam lagi, Pak."
"Cukup waktu untuk makan di restoran bawah gedung ini. Kamu tidak perlu khawatir soal gosip, tempat itu privat," potong Setya cepat, seolah sudah mengantisipasi setiap alasan penolakan dari Maura.
Maura terdiam sejenak. Jika ia menolak terlalu keras, ia justru akan terlihat seperti seseorang yang masih terpengaruh oleh kejadian malam itu. Jika ia menerima, ia masuk ke dalam zona bahaya yang ia janjikan akan ia hindari. Namun, tatapan Setya seolah menantangnya untuk membuktikan bahwa ia benar-benar disiplin dalam memberi batas.
"Baik. Hanya makan siang," jawab Maura akhirnya.
Setya mengambil jasnya yang tersampir di kursi, gerakannya elegan. Sepertinya pria itu memang diciptakan saat Tuhan sedang senyum merekah dengan bagaimana kesempurnaan yang nyaris dimilikinya.
"Hanya makan siang," ulangnya dengan nada yang sulit diartikan.
Restoran di lantai dasar gedung Pradana Group itu memiliki nuansa monokrom yang kaku namun mewah dan itu sangat mencerminkan pemiliknya. Mereka duduk di sudut yang terhalang oleh dekorasi tanaman dalam ruangan yang memberikan privasi penuh.
Pelayan datang dan pergi tanpa suara, menyajikan hidangan yang Maura bahkan tidak tahu cara mengejanya. Keheningan di antara mereka terasa berbeda hanya denting alat makan yang bersentuhan dengan porselen.
"Kamu selalu seformal ini?" Setya membuka percakapan setelah menyesap air mineralnya.
"Tergantung dengan siapa saya bicara. Di depan mahasiswa, saya harus tegas. Di depan kolega, saya harus waspada. Dan di depan Bapak... saya harus sangat berhati-hati,” jawab Maura lugas.
Setya meletakkan pisau dan garpunya. "Berhati-hati agar tidak tertarik, atau berhati-hati agar tidak terlihat tertarik?"
Pertanyaan itu membuat Maura tersedak pelan. Ia segera meminum airnya, berusaha mengembalikan ketenangan wajahnya.
"Bapak terlalu percaya diri. Berhati-hati agar tidak menjadi korban reputasi Bapak yang besar itu."
Setya terkekeh pelan, sebuah suara rendah yang jarang didengar orang lain.
"Kamu menarik, Maura. Kamu satu-satunya orang yang memperlakukan saya seperti sebuah ancaman bukan sebagai CEO yang disegani."
"Karena bagi perempuan di posisi saya, pria seperti Bapak adalah ancaman bagi kedamaian hidup," balas Maura jujur.
Setya mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sorot matanya menajam. Setelah diperhatikan Setya Pradana ini memang hobi sekali mencondongkan tubuhnya pada Maura- atau pada semua orang?
"Bagaimana kalau saya katakan, saya ingin mencoba menjadi variabel yang tidak merusak? Hanya variabel yang ada, tanpa harus kamu kendalikan?"
Maura menatap mata gelap itu dan menyadari satu hal bahwa Setya Pradana tidak sedang mengajak makan siang biasa. Ia sedang melakukan negosiasi untuk masuk ke dalam hidupnya.
Maura meletakkan gelasnya dengan denting yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Ia menatap Setya dengan alis bertaut, mencoba mencari celah bercanda di wajah kaku itu, namun tidak dirinya temukan.
"Variabel yang ada tanpa dikendalikan itu namanya gangguan, Pak," balas Maura datar.
Setya tidak terlihat tersinggung. Ia justru meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu menggesernya ke arah Maura. Sebuah layar kosong di menu kontak terpampang di sana.
"Berikan nomor ponselmu," pinta Setya, bukan sebagai pertanyaan, melainkan instruksi.
Maura terdiam, matanya beralih dari ponsel mahal itu ke wajah Setya.
"Untuk apa? Undangan sudah saya serahkan, konfirmasi sudah Bapak berikan. Saya rasa komunikasi lewat kantor atau sekretaris Bapak sudah lebih dari cukup."
"Untuk jaga-jaga," jawab Setya enteng.
"Jaga-jaga untuk apa?"
Setya menyandarkan punggungnya, menatap Maura dengan kilat jenaka yang sangat tipis di matanya.
"Siapa tahu kamu tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk membeberkan aib saya malam itu ke publik. Kalau saya punya nomor pribadimu, saya bisa menemukanmu lebih cepat sebelum kamu sempat mengunggah apa pun ke media sosial."
Maura melongo. Ia merasa harga dirinya sedikit tercubit oleh alasan yang terdengar sangat tidak masuk akal sekaligus menyebalkan itu.
"Bapak pikir saya tipe orang yang suka mengumbar drama di media sosial?" tanya Maura dengan nada kesal yang mulai bocor. "Dan aib? Saya hanya menolong Bapak yang muntah-muntah karena alkohol, bukan melakukan skandal internasional."
"Tetap saja. Saya tidak suka risiko. Berikan saja atau kamu lebih memilih saya mencari tahu sendiri lewat dekan fakultasmu?" Setya mengetukkan jarinya ke meja.
Maura menghela napas panjang, bahunya naik karena rasa dongkol yang tertahan. Mengancam dengan membawa-bawa atasan benar-benar cara yang licik, meski ia tahu Setya mampu melakukannya dalam hitungan detik. Dengan gerakan kasar, Maura meraih ponsel Setya dan mengetikkan sederet angka di sana.
"Sudah," katanya sambil mengembalikan ponsel itu dengan gerakan sedikit melempar, meski ia segera menyesal karena itu tidak sopan.
Setya mengambil ponselnya, menekan tombol panggil hingga ponsel di dalam tas Maura bergetar singkat, lalu menyimpannya kembali ke saku jas.
"Bagus. Sekarang saya tahu di mana harus mencari variabel saya jika dia mencoba menghilang," ucap Setya sambil bangkit dari duduknya.
Maura mendengus pelan sambil ikut berdiri. "Bapak benar-benar menyebalkan, tahu tidak?"
Setya hanya menanggapi dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat Maura merasa bahwa kekesalannya barusan adalah kemenangan kecil bagi pria itu.
"Waktumu tinggal empat puluh menit sebelum bimbingan mahasiswa dimulai. Mari, saya antar ke depan."
Coba katakan pada Maura, siapa orang yang lebih menyebalkan dari Setya Pradana. Karena, bagi dosen muda itu tidak ada yang lebih menyebalkan, mengesalkan, menjengkelkan dibanding pria yang sedang mengantarnya ke depan gedung itu.