Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teknik KonMari
Meskipun penuh dengan aturan aneh, Pesta Rakyat itu menjadi yang paling berkesan. Warga merasa sangat dihargai karena antrean berjalan sangat rapi, tidak ada drama rendang habis atau rebutan es krim.
Pesta rakyat di jalanan perumahan Harmoni itu benar-benar menjadi tontonan gratis yang lebih seru dari drama TV. Warga yang biasanya rebutan prasmanan sekarang antri rapi kayak mau naik wahana di Disneyland.
Tania muter-muter bawa tongkat narsisnya, sesekali menyapa penonton setianya.
"Hallo guys, sumpah! Ini nikahan paling gokil yang pernah gue datengin," kata Tania ke arah ponselnya. Gue kasih lihat ya, "Ini stan bakso. Lihat tuh, ada papan pengumuman: 'Estimasi antre 3,2 menit'. Gila nggak sih? Sepupu Gue, Aruna, bener-bener dapet jodoh 'Kulkas dua pintu' yang super teliti."
Tania mengarahkan kamera ke pelaminan. "Tuh, lihat pengantin prianya, Mas Gavin. Dia lagi benerin posisi dasinya pake penggaris, kayaknya. Eh, bercanda deng! Tapi serius dia ganteng banget, tapi sayang kaku banget. Kayak robot tapi versi oppa korea."
Jumlah penonton levelnya melonjak drastis. Komentar pun banjir. "Salfok sama papan informasi di gerobak es dogernya. Niat banget!"
"Kak, nanya dong. Itu kalau mau nambah kerupuk harus pake surat izin nggak?
Itu adalah salah dua komenan pada live streamingnya Tania.
Tania tertawa membaca komentar dari pengikut setianya. "Viral kan? Apa gie bilang," gumam Tania. Dia semangat karena yang nonton livenya tembus sejuta penonton.
*****
Disebuah kamar kos yang berantakan, Rian, sang mantan mokondo, lagi tiduran sambil makan mie instant di dalam cup. Pas lagi asyik scrolling, dia nggak sengaja masuk ke live Tania.
"Lho, ini kan si Tania. Kok rame banget?" gumam Rian.
Begitu kamera Tania menyorot Aruna yang pakai gaun cantik dan Davin yang gagah, Rian langsung keselek mie.
"Hah? Aruna nikah?" matanya melotot. "Sama siapa itu? Necis amat dandanannya. Mobilnya yang didepan rumah itu ya? Sial, kok Aruna bisa dapet yang begini? Dulu sama gue aja mau makan bakso aja harus gue yang dibayarin."
Rian makin panas hati baca komentar-komentar yang muji Gavin setinggi langit. Dia iseng ngetik komentar pake akun palsunya. "Paling juga cowoknya kaku, nggak bisa diajak bercanda,"
Tapi dalam hati, Rian cuma bisa gigit jari. Dia sadar Aruna yang dulu sering ia manfaatin sekarang sudah punya "pelindung" yang kualitasnya jauh diatas dia.
Di atas pelaminan Gavin lagi merhatiin Bu Tejo yang lagi ambil sate.
"Runa, lihat. Bu Tejo ambil sate tujuh tusuk. Padahal di protokol saya sarankan lima tusuk agar distribusi protein merata ke semua tamu." kata Gavin.
"Mas, biarin aja sih. Kan stoknya tadi sudah kamu lebihin dua puluh persen buat cadangan, kan?" Sambil tersenyum manis ke tamu Aruna menjawab.
"Iya sih. Tapi secara estetika, piringnya jadi nggak seimbang. Saya khawatir saus kacangnya tumpah ke karpet jalanan." kata Gavin lagi.
"Udah ah, Mas. Mending kamu lihat tuh si Tania. Dia lagi live promosiin kamu. Katanya kamu itu 'Robot ganteng tersertifikasi'." kata Aruna.
"Tersertifikasi? Saya belum pernah ikut sertifikasi ketampanan. Tapi kalau dia bilang begitu untuk meningkatkan statistik penontonnya, saya ijinkan." kata Gavin sambil membetulkan letak kacamatanya.
Tiba-tiba Tania lari ke arah pelaminan. "Kak Aruna, Mas Gavin. Sapa followers gue dong! Ini ada sepuluh ribu orang yang nonton.!"
Gavin menatap kamera dengan datar. "Hallo semuanya. Terima kasih sudah menonton sistem manajemen pernikahan kami. Mohon jangan ditiru dirumah jika Anda tidak memiliki perangkat lunak audit yang mumpuni."
"Hahaha! Tuh kan, bener-bener auditor sejati! Kak Aruna selamat ya, fix kamu dapat aset terbaik tahun ini!" kata Tania.
Malam itu dibawahnya lampu-lampu cantik, semua orang bahagia. Kecuali Rian, yang akhirnya memilih mematikan ponselnya karena nggak kuat melihat mantan pacarnya hidup jauh lebih makmur dan teratur.
Malam yang seharusnya romantis bagi pasangan baru itu ternyata berubah menjadi komedi situasi. Rencana Gavin untuk melakukan "inisiasi hubungan rumah tangga" terhambat oleh realita keluarga besar yang masih menempel di rumah mereka.
Pukul 23.30, Gavin dan Aruna akhirnya berhasil masuk ke kamar pengantin mereka yang beraroma bunga melati. Gavin baru saja hendak melepaskan dasinya dan menatap Aruna dengan dalam.
"Akhirnya Runa, secara statistik probabilitas kita untuk berdua saja meningkat drastis setelah tamu terakhir pulang," kata Gavin.
Aruna tersenyum malu, "Iya Mas, akhirnya sepi ju..."
"TOK TOK TOK!
"Na, Aruna! Ini Bibi, minta tolong dong si Jems badannya agak anget, ada termometer nggak di kamar kamu? Di luar nggak ketemu!"
Gavin menghela napas panjang. Ia membuka pintu, memberikan termometer digital presisinya, lalu mengunci pintu lagi. Baru saja ia duduk di samping Aruna, pintu digedor lagi.
"Mbak Runa, password wifi, apa ya? Kuota aku habis mau upload foto tadi," teriak sepupu Aruna.
Gavin gregetan, menarik napas panjang. Dia sangat kesal karena selalu ada gangguan.
Setelah interupsi kelima dari keponakan yang mencari selimut, Gavin akhirnya menyerah. Ia merebahkan tubuhnya di samping Aruna yang sudah lemas karena tertawa.
"Runa, efisiensi malam ini sudah hancur total. Ada terlalu banyak variabel eksternal yang tidak terkendali. Saya mengusulkan kita tidur saja dan menjadwalkan ulang 'Ritual' ini saat rumah sudah kembali steril." kata Gavin.
"Setuju Mas. Tidur yuk, aku juga udah cape banget," kata Aruna sambil menarik selimut.
Keesokan paginya matahari masuk lewat celah gorden. Gavin sudah bangun sejak subuh, mandi dan sudah rapi dengan kaos polo yang disetrika licin. Sementara Aruna baru saja mengumpulkan nyawanya.
Gavin berdiri di depan lemari pakaian Aruna yang terbuka lebar. Wajahnya terlihat pucat, seolah baru saja melihat laporan keuangan yang rugi besar.
"Runa, kamu harus lihat ini." kata Gavin.
"Kenapa sih, Mas. Masih pagi juga..." kata Aruna sambil menguap.
"Ini namanya bencana logistik," kata Gavin sambil menunjuk ke dalam lemari. "Kenapa ada kaos kaki di antara tumpukan piyama? Dan ini kenapa bajunya digulung-gulung kayak bola kasti? Secara struktur kain, ini akan merusak serat-seratnya Runa."
Aruna bangkit dari tempat tidur, garuk-garuk kepala. "Aduh itu kemarin buru-buru pas mau pindahan, Mas. Yang penting kan ketemu pas mau di pakai."
"Tidak bisa. Hidup kita sekarang sudah menjadi satu entitas. Saya tidak bisa membiarkan ada 'area kumuh' di dalam kamar ini. Sesuai prosedur, hari ini kita akan melakukan audit lemari tahap satu". seru Gavin.
"Mas, kita baru nikah sehari lho! Masa mau langsung audit lemari?" kata Aruna
Gavin mulai mengeluarkan baju-baju Aruna dan menyusunnya di kasur. "Justru karena baru sehari, kita harus setel standarnya dari awal. Lihat ini, kaos oblong warna merah ditaruh disebelah kemeja putih. Kalau luntur, siapa yang mau bertanggung jawab secara administratif?"
Aruna tertawa geli, "iya, iya, Bapak Auditor. Terus sekarang aku harus gimana?"
"Kamu duduk disitu. Saya akan kategorikan baju-baju ini berdasarkan warna, fungsi dan frekuensi penggunaan. Kamu cukup bilang mana yang masih layak pakai dan mana yang mau didonasikan." kata Gavin sambil terus mengeluarkan seisi lemari.
"Gavin, kamu beneran mau rapiin semuanya?" tanya Aruna.
Mata Gavin berbinar senang, "Ini adalah terapi bagi saya, Runa. Melihat pakaian yang tersusun berdasarkan gradasi warna pelangi adalah puncak kebahagiaan visual saya."
Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat suaminya yang sangat semangat melipat baju dengan teknik konMari tapi versi lebih kaku.
"Ya udah Mas. Habis ini jangan lupa mengaudit isi dapur ya, siapa tahu ada garam yang posisinya nggak simetris sama gula." kata Aruna.
Tanpa menoleh, Gavin sibuk melipat. "Itu sudah masuk dalam agenda jam sepuluh nanti, Sayang."
Aruna tersenyum, biarpun kaku, setidaknya dia punya suami yang rajin beres-beres tanpa disuruh. Nasib punya suami auditor," pikirnya senang.
Bersambung....