Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~21
"Mas itu toko buahnya sudah terlewat,"
Teriak Marni ketika tak sengaja melihat toko buah di kampungnya di lewati begitu saja oleh Firman padahal mereka sengaja melewati jalan yang lebih jauh agar bisa membelinya.
"Astagfirullahaladzim, kita balik lagi."
Akhirnya pria itu pun kembali memutar balik mobilnya di simpang tiga tak jauh di depannya tersebut, beruntung ia tadi menjemput wanita itu lebih awal jadi mau bolak-balik juga tak masalah.
Kini Firman nampak membeli beberapa buah kesukaan kedua orang tuanya, pria itu juga tak lupa membeli untuk keluarga wanita pujaan hatinya tersebut.
"A-aku tidak usah mas," Marni merasa tak enak hati karena akhir-akhir ini pria itu sering membelikannya sesuatu.
"Aku beli buat Marwan dan Mahesa," tukas Firman dan jika sudah seperti itu Marni mana berani menolaknya.
"Terima kasih mas," ucapnya setelah meninggalkan toko buah tersebut.
Kini pria itu pun kembali mengendarai mobilnya dan sampai di rumahnya tepat sebelum waktunya berbuka tiba, Firman sedikit mengernyitkan dahinya ketika melihat sebuah mobil asing terparkir di halaman rumahnya.
Apakah ada tamu? namun jika dilihat dari plat mobilnya sepertinya dari luar kota atau lebih tepatnya plat ibu kota, tiba-tiba perasaannya tidak enak mungkinkah ibunya juga mengundang Kania dan keluarganya?
"Ya Allah Ummi, apa-apaan sih?" gerutunya dengan kesal dan itu terdengar begitu jelas di telinga Marni.
"Ada apa mas?" ucapnya setelah melepas safety beltnya.
Firman tersenyum padanya lalu menggeleng kecil. "Tidak apa-apa," ucapnya meyakinkan.
Ia janji akan selalu melindungi wanita itu apapun yang terjadi termasuk dari keluarga Kania jika ingin menghina wanita pujaan hatinya tersebut, karena baginya secantik dan setinggi derajat gadis itu Marni tetap yang terbaik karena ia sudah mengenalnya sejak kecil bagaimana sikap sederhananya, adabnya dan yang paling ia sukai adalah sikap sabarnya meskipun terkadang ibunya suka pilih kasih.
Paling tidak untuk mendampinginya wanita itu sudah teruji, toh jika ada kekurangan mereka juga bisa belajar bersama-sama karena sejatinya sebuah pernikahan bukanlah ajang perlombaan untuk mendapatkan pasangan yang terbaik namun baginya pernikahan adalah madrasah kehidupan yang harus sama-sama belajar sampai maut tiba.
Mereka pun segera turun dari mobilnya dan terdengar suara tertawa dari dalam rumahnya hingga membuat Marni sedikit tertegun. "Sepertinya ada tamu mas? apa kita akan berbuka puasa ramai-ramai?" ucapnya ingin tahu.
Firman langsung menarik tangan wanita itu yang terasa sangat dingin saat ini. "Ada mas, jangan khawatir." ucapnya menenangkan.
Marni pun mengangguk kecil lantas menarik tangannya dari genggaman pria itu, rasanya kurang sopan mereka datang sambil bergandengan tangan sedangkan status mereka bukan pasangan.
Firman nampak tertawa kecil menatapnya lantas segera melangkah masuk diikuti oleh wanita itu dibelakangnya, Marni terlihat memperhatikan sekitarnya dimana banyak sekali tanaman anggrek milik bu lurah. Rumah ini benar-benar asri karena selain tanaman ternyata juga ada kolam ikan koi dengan air mengalir serta suara burung berkicau yang menambah suasana alamnya semakin alami.
"Assalamu'alaikum," ucap Firman memberikan salam saat mereka baru masuk karena pintu terbuka lebar jadi keduanya tak perlu mengetuknya terlebih dahulu.
"Wa'alaikumsalam," sahut beberapa orang yang ada di dalam.
Firman pun langsung menyalami mereka satu persatu begitu juga dengan Marni, rupanya benar dugaan pria itu jika yang datang bertamu ke rumahnya adalah keluarga Kania.
"Wah lama tidak melihat nak Firman makin besar saja badannya dan tambah tampan pasti." puji ayahnya Kania, wanita yang hendak ibunya jodohkan dengan pria itu.
"Bagaimana kabarnya om?" balas Firman menanggapi.
"Tentu saja baik, om dan sekeluarga semuanya baik makanya bisa silaturahmi kemari dan Rio juga ikut datang tapi mobilnya tiba-tiba mogok paling sebentar lagi juga sampai." sahut pria itu.
Rio adalah putra pertama pria itu dan juga seumuran dengan Firman bahkan mereka pernah berkuliah di universitas yang sama meskipun berbeda jurusan.
"Mas Firman," Kania pun langsung tersenyum manis menatap pria itu namun senyumnya tiba-tiba menyurut ketika melihat wanita yang datang bersamanya tersebut.
Melihat wajah muram sang putri ibunya Kania pun langsung berbasa-basi." Ngomong-ngomong siapa mbak cantik ini kok kami baru lihat?" ucapnya sembari menatap ke arah Marni.
"Nak Marni, remaja masjid disini." tukas ibunya Firman yang langsung membuat Marni nampak menangkupkan kedua tangannya sembari sedikit membungkuk menyapanya dengan sopan.
Ayahnya Kania diam-diam terlihat memperhatikan Marni yang memang terlihat cantik, pantas saja Firman sepertinya tak terlalu tertarik dengan putrinya.
"Nak Marni kuliah atau kerja?" ucap pria paruh baya itu kemudian.
"Kalau putri bapak sedang mondok sekaligus kuliah tapi sebentar lagi juga akan lulus," terang pria itu.
"Saya ...."
"Dia mengajar ngaji di mushola dan membantu beberapa usahaku om." potong Firman hingga membuat Marni langsung menatapnya tak percaya, kenapa pria itu berbohong?
"Oh karyawan nak Firman toh," ucap ayahnya Kania yang nampak sedikit lega mendengarnya karena bagaimana pun mereka tak sederajat di bandingkan dengan putrinya.
Marni tanpa sadar nampak me re mas tangannya sendiri, perlahan ia mulai merasakan ketimpangan diantara mereka apalagi ketika mendengar para tetua itu sedang membicarakan keberhasilan bisnisnya belum lagi Kania rupanya juga seorang pebisnis di tengah menimba ilmu di pesantren.
Apakah gadis itu yang akan di jodohkan dengan Firman sesuai gosip yang beredar?
"Biar aku bantu ummi," Kania pun segera beranjak dari duduknya ketika ibunya Firman pamit untuk menata hidangan berbuka yang sebelumnya telah disiapkan oleh beberapa pekerja di rumahnya.
"Nak Marni juga boleh membantu ummi jika tak keberatan," ucap ibunya Firman saat melewati wanita itu.
Marni pun menatap Firman dan saat pria itu mengangguk kecil ia juga segera beranjak dari duduknya mengikuti wanita paruh baya serta Kania yang sedang jalan beriringan dihadapannya tersebut.
Mereka terlihat kompak bekerja sama menyiapkan hidangan berbuka puasa dan jika Marni lihat-lihat Kania sosok wanita yang lumayan rajin entah itu karena ingin mencari perhatian semata atau benar-benar tulus membantu.
Semoga saja acara berbuka ini berjalan dengan lancar dan pertemuannya dengan kedua orang tua Firman membawa kesan yang baik diantara mereka meskipun ia ragu jika keduanya akan merestui hubungannya dengan sang putra mengingat ia melihat bagaimana akrabnya ibunya pria itu dengan Kania, bahkan saking asyiknya berbicara mereka seolah melupakan keberadaannya.
Marni jadi mengingat perkataan Astuti tetangganya itu, jika menantu miskin hanya cocok berada di dapur dan menjadi keset mertuanya.
"Astagfirullahaladzim, aku mikir apa sih aku yakin ibunya mas Firman orang yang baik." gumamnya membuang jauh-jauh pikiran negatifnya tersebut.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu