Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Produksi Tanpa Jantung
Studio A&A Pictures biasanya menjadi tempat paling berenergi di Jakarta saat produksi berlangsung. Namun, pagi ini, suasananya lebih mirip pemakaman yang dipaksakan untuk tetap berjalan. Tanpa kehadiran Adelia di sisi monitor, studio itu terasa kehilangan gravitasi.
Arlan tiba dengan mata yang lebih cekung dari biasanya. Ia tidak menyapa siapa pun. Ia langsung duduk di depan layar, meninjau ulang jadwal syuting yang kini ia pegang sendiri. Tidak ada lagi suara lembut yang mengingatkannya untuk minum air, tidak ada lagi pengingat jadwal yang presisi, dan tidak ada lagi filter antara amarahnya dan para kru.
"Di mana daftar panggil figuran?" tanya Arlan dengan nada tajam kepada asisten sutradara.
"Biasanya Mbak Adelia yang memegang draf finalnya, Mas. Kami hanya punya salinan lama," jawab asisten itu dengan suara bergetar.
"Cari! Jangan mengandalkan orang yang sudah tidak ada di sini!" bentak Arlan.
Ketegangan di set meningkat sepuluh kali lipat. Arlan mencoba melakukan semuanya sendirian—mengatur logistik, memeriksa anggaran, sekaligus mengarahkan visi artistik. Namun, kenyataan pahit mulai menghantamnya: Adelia bukan sekadar "pengurus administrasi". Adelia adalah otak yang memastikan Arlan bisa menjadi seniman tanpa harus terganggu oleh kebisingan duniawi.
Reihan Malik berdiri di sudut set, mengamati Arlan yang mulai kehilangan kendali. Arlan berkali-kali salah menyebutkan nomor adegan, dan konsumsinya terhadap kopi sudah di luar batas wajar.
"Kita tidak bisa syuting kalau sutradaranya sedang mengalami gangguan saraf," bisik Reihan pada penata kamera.
Saat adegan dimulai, Arlan terus-menerus menghentikan pengambilan gambar. "Cut! Pencahayaannya sampah! Siapa yang mengatur gel biru di sana?"
"Itu permintaan Mas Arlan sendiri tadi pagi," jawab penata cahaya, mulai berani membela diri.
Arlan terdiam. Ia ingat sekarang. Ia yang memintanya, tapi ia lupa mengapa. Biasanya, Adelia akan mendebatnya jika ia mengambil keputusan impulsif yang merusak estetika.
Sekarang, tidak ada yang berani mendebatnya. Semua orang hanya mengangguk, dan hasilnya adalah kekacauan kreatif.
Di sisi lain kota, Adelia duduk di sebuah kafe kecil, menatap ponselnya yang bisu. Ia tahu jadwal syuting hari ini adalah adegan tersulit—perpindahan tiga lokasi dalam dua belas jam. Ia tahu persis di mana letak potensi kegagalannya. Tangannya gatal ingin mengirim pesan pada tim logistik, namun ia menahannya. Arlan telah mengusirnya. Arlan ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Adelia. Bukan dari Arlan, melainkan dari Sandra.
"Adel, Arlan mengamuk di set. Dia memecat dua orang kru logistik siang ini karena masalah katering yang terlambat. Produksi terhenti. Jika GlobalStream tahu syuting hari ini gagal, mereka akan mengirim auditor."
Adelia memejamkan mata. Rasa sakit di hatinya bertarung dengan rasa tanggung jawabnya. Ia telah berjanji pada Hendra Wijaya untuk memastikan film ini selesai agar utang Arlan lunas. Jika produksi ini hancur sekarang, pengorbanannya menemui Hendra akan sia-sia.
Kembali di studio, Arlan terduduk di lantai di balik monitor. Ia menutupi wajahnya dengan tangan. Ia merasa seperti mesin yang kehabisan oli. Gesekan emosi dan beban kerja membuatnya panas dan hampir meledak. Ia melihat kursi kosong di sampingnya—kursi Adelia. Di sana masih tertinggal sebuah syal rajut milik Adelia yang tertinggal.
Arlan mengambil syal itu, menghirup aroma parfum Adelia yang masih tersisa. Kemarahan yang tadinya membara kini berubah menjadi rasa rindu yang menyesakkan. Ia sadar, ia bisa membuat film tanpa Adelia, tapi ia tidak bisa menikmati prosesnya. Tanpa Adelia, film ini hanyalah kumpulan gambar tanpa jiwa.
"Mas Arlan," panggil asistennya ragu-ragu. "Ada seseorang di depan. Dia bilang dia punya dokumen izin lokasi cadangan yang kita butuhkan karena lokasi pelabuhan tiba-tiba ditutup."
Arlan mendongak. "Siapa?"
"Dia tidak mau menyebutkan nama. Dia hanya menitipkan ini."
Arlan membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat izin lokasi di sebuah gudang tua milik kenalan lama Adelia, lengkap dengan rincian biaya yang sudah dibayar lunas. Di pojok dokumen, ada catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal:
"Selesaikan apa yang sudah kamu mulai, Naga. Jangan biarkan mereka menang."
Arlan meremas dokumen itu. Air mata jatuh di atas kertas tersebut. Ia menyadari bahwa meski ia telah mengusir Adelia, Adelia tetap menjaganya dari kejauhan. Adelia tetap menjadi perisainya, bahkan ketika sang ksatria telah menghunuskan pedang ke arahnya.
"Semuanya!" Arlan berdiri, suaranya kembali bertenaga, namun kali ini ada nada kerendahan hati yang baru. "Kita pindah lokasi ke Gudang C. Kita punya waktu empat jam untuk mengejar kehilangan hari ini. Lakukan dengan benar. Untuk film ini... dan untuk seseorang yang sudah memberikan jalan ini bagi kita."
Syuting berlanjut, namun Arlan tahu, ini hanyalah napas buatan. Ia harus menemukan cara untuk membawa jantungnya kembali ke studio sebelum produksi ini benar-benar mati rasa.
Pertaruhan Terakhir
Gudang tua itu terasa dingin, namun ritme kerja di dalamnya mulai stabil. Meski begitu, Arlan merasa seperti memimpin orkestra di tengah badai; dia tahu lagu apa yang sedang dimainkan, tapi dia merindukan harmoni yang hanya bisa diberikan oleh satu orang.
Dokumen izin lokasi di tangannya terasa berat—sebuah pengingat bahwa di balik kemandirian yang dia agungkan, Adelia masih menjadi fondasi yang menopang pijakannya.
"Mas Arlan, adegan terakhir untuk malam ini siap," lapor asisten sutradara.
Arlan menatap layar. Reihan Malik sudah berada di posisinya, namun Arlan tidak meneriakkan kata "Action". Ia justru berdiri dan meletakkan pelantang suaranya.
"Tunggu sebentar. Reihan, kru... saya butuh waktu satu jam. Jangan ada yang meninggalkan set," ujar Arlan tegas namun tenang.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Arlan menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraan itu menuju kantor pusat Lux-Apex. Amarahnya kini telah mendingin, berganti dengan tekad yang lebih tajam dari sekadar emosi sesaat. Jika Adelia telah mempertaruhkan integritasnya demi dia, maka Arlan akan mempertaruhkan seluruh kariernya demi kebebasan mereka berdua.
Arlan tiba di gedung pencakar langit itu tepat saat Hendra Wijaya bersiap untuk pulang. Di lobi yang sepi, sang paman menatap keponakannya dengan senyum pemenang.
"Datang untuk berlutut, Arlan? Atau untuk setuju mengubah akhir ceritanya?" tanya Hendra, merapikan setelan jasnya.
"Aku datang untuk menawar," sahut Arlan dingin. Ia melempar sebuah dokumen ke atas meja resepsionis. "Itu adalah surat pengalihan seluruh hak royalti pribadiku atas film ini—bukan sepuluh persen seperti yang dijanjikan Adelia, tapi seratus persen hak milikku sebagai sutradara dan penulis."
Hendra tertegun sejenak, matanya berkilat penuh minat. "Seratus persen? Itu angka yang sangat besar untuk sebuah film yang diprediksi akan meledak secara global. Kamu yakin?"
"Ada syaratnya," potong Arlan. "Batalkan kontrak pribadi yang kamu paksakan pada Adelia. Lepaskan dia dari segala tanggung jawab hukum atas studio ini. Dan yang paling penting... hapus klausul sensor kreatifmu. Biarkan aku merilis film ini sesuai visiku yang asli."
Hendra tertawa kecil. "Kamu bersedia menjadi sutradara miskin asalkan filmmu tetap murni dan wanitamu bebas? Kamu benar-benar persis seperti ibumu. Terlalu idealis."
"Setidaknya aku punya sesuatu yang tidak pernah kamu miliki, Hendra," Arlan melangkah maju, menatap mata pamannya dengan keberanian yang tak tergoyahkan. "Aku punya orang yang rela hancur demi melindungiku. Dan aku tidak akan membiarkan dia hancur sendirian."
Hendra terdiam cukup lama. Ia melihat dokumen itu, lalu melihat wajah Arlan. Sebagai seorang pebisnis, tawaran seratus persen royalti adalah keuntungan yang terlalu manis untuk ditolak, bahkan jika itu berarti dia harus melepaskan kendalinya atas konten kreatif.
"Baik," Hendra menandatangani dokumen pembatalan kontrak Adelia di tempat. "Dia bebas. Dan filmmu... silakan buat sesuai keinginanmu. Aku akan mengambil uangnya, dan kamu akan mengambil 'seni'-mu."
Arlan menyambar dokumen kebebasan Adelia dan segera pergi tanpa menoleh lagi.
Ia memacu mobilnya bukan kembali ke set, melainkan ke kafe kecil tempat Adelia sering menghabiskan waktu saat sedang sedih. Ia menemukan Adelia masih di sana, duduk di pojok ruangan dengan laptop yang tertutup, menatap rintik hujan di jendela.
Arlan duduk di depannya tanpa suara. Adelia tersentak, matanya yang sembab menatap Arlan dengan campuran antara rasa takut dan rindu.
"Arlan? Syutingnya—"
"Syutingnya berjalan berkat izin lokasi yang kamu berikan," potong Arlan lembut. Ia meletakkan dokumen pembatalan kontrak dari Hendra di atas meja. "Kamu bebas, Adel. Kontrak pribadimu dengan Hendra sudah batal. Aku sudah menyelesaikan urusannya."
Adelia membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. "Bagaimana caranya? Apa yang kamu berikan padanya?"
"Semua royaltiku," jawab Arlan jujur. "Aku tidak butuh uangnya, Adel. Aku hanya butuh studionya bersih dari bayang-bayang mereka, dan aku butuh kamu kembali."
Adelia menatap Arlan dengan tidak percaya. "Kamu memberikan semuanya? Arlan, itu hasil kerja kerasmu selama bertahun-tahun!"
"Kerja keras itu tidak ada artinya kalau aku kehilangan kamu," Arlan meraih tangan Adelia, kali ini tidak ada penolakan. "Aku minta maaf karena telah bersikap kasar. Aku minta maaf karena egoku membutakan aku dari pengorbananmu. Kamu tidak menipuku, kamu menjadi satu-satunya orang yang percaya padaku saat aku sendiri hampir menyerah."
Adelia menangis, namun kali ini adalah tangis kelegaan. "Aku hanya tidak mau kamu kalah dari mereka, Arlan."
"Kita tidak akan kalah. Kita akan menyelesaikan film ini, kita akan merilisnya, dan dunia akan melihat kebenaran yang kita buat," Arlan berdiri dan mengulurkan tangannya. "Ayo pulang ke studio, Adel. Jantung produksinya sedang menunggu detaknya kembali."
Adelia tersenyum di balik air matanya, menyambut tangan Arlan. Malam itu, di bawah sisa-sisa hujan Jakarta, mereka kembali ke studio bukan hanya sebagai sutradara dan produser, tapi sebagai dua jiwa yang telah melewati api dan keluar sebagai emas yang lebih murni.