Di pesantren Queen Al-Falah, Abigail, seorang Ning yang dingin dan penuh talenta, lebih memilih kopi dan kesibukan pondok daripada cinta. Ia adalah permata yang tersembunyi di balik sikap judes dan penampilannya yang sederhana. Namun, takdir berkata lain ketika sang kakek menjodohkannya dengan seorang Gus Abdi Ndalem, partnernya dalam tim multimedia dan hadroh. Di antara jadwal padat, sholawat, dan misteri masa lalu, Abigail harus membuka hatinya untuk cinta yang tak pernah ia duga. Mampukah ia menemukan kehangatan di balik dinginnya ndalem dan kerasnya hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blue_era, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malang Kembali Memanggil, Bentakan dan Kepergian yang Membara
[Keesokan harinya, Bijel sarapan pagi karena rencananya ia ingin pergi ke Malang lagi untuk menyelesaikan urusan di sana. Ia pergi ke ndalem tengah mencari Kang Resya. Seperti hari sebelumnya, ia kembali berdebat panjang dengan Kang Resya karena Kang Resya tidak mengizinkan Bijel membawa mobil, dengan alasan Bijel tidak izin kepada siapapun, tidak jelas dengan siapa ia pergi, dan tujuannya pun tidak jelas.]
Ning Abigail: (dengan nada dingin) "Kang Resya, saya mau pinjam kunci mobil lagi."
Kang Resya: (dengan nada sopan namun tegas) "Maaf, Ning, tidak bisa. Ning Abigail belum izin sama Abah Yai atau Abi, kan?"
Ning Abigail: (dengan nada tidak sabar) "Saya mau ke Malang, ada urusan penting. Nggak perlu izin sama siapapun!"
Kang Resya: (dengan nada khawatir) "Tapi, Ning, kondisi Ning Abigail kan belum sepenuhnya pulih. Sebaiknya istirahat saja di pesantren. Lagipula, Ning Abigail mau pergi dengan siapa? Tujuannya apa?"
Ning Abigail: (dengan nada membentak) "Bukan urusanmu! Saya mau pergi dengan siapa dan mau kemana itu bukan urusanmu! Cepat berikan kunci mobilnya!"
Kang Resya: (dengan nada tegas) "Maaf, Ning, saya tidak bisa memberikan kunci mobilnya kalau Ning Abigail tidak memberikan alasan yang jelas dan mendapat izin dari keluarga."
Ning Abigail: (dengan nada marah) "Kamu ini siapa berani mengatur-atur saya?! Saya ini Ning Abigail! Cepat berikan kunci mobilnya atau saya adukan kamu ke Abah Yai!"
Kang Resya: (dengan nada pasrah) "Tapi, Ning..."
[Perdebatannya panjang lebih panjang dr lalu keributan itu memancing sebagian para santri keluar dari asrama putra, lalu Faiq menghampiri ke arah kang Resya dan bijel adik sepupunya itu disana, Faiq sangat kenal dg sikap dan watak adik sepupunya itu, Faiq jengah akhirnya ia membentak adik sepupunya dg nada suara tegas lebih dingin dr biasanya dan terlihat lebih marah]
[Perdebatan tersebut semakin panjang dan sengit, bahkan lebih panjang dari hari sebelumnya. Keributan itu memancing perhatian sebagian santri yang keluar dari asrama putra. Kemudian, Faiq menghampiri Kang Resya dan Bijel, adik sepupunya itu. Faiq sangat mengenal sikap dan watak adik sepupunya itu. Karena sudah jengah, Faiq akhirnya membentak adik sepupunya dengan nada suara yang tegas, lebih dingin dari biasanya, dan terlihat sangat marah.]
Gus Faiq: (dengan nada tegas dan dingin) "Bijel! Cukup!"
Ning Abigail: (terkejut) "Mas Faiq?"
Gus Faiq: (dengan nada marah) "Kamu ini kenapa selalu membuat masalah?! Kamu tahu kan kalau kamu itu baru sembuh dari sakit?! Kenapa kamu nekat mau pergi ke Malang lagi?!"
Ning Abigail: (dengan nada membantah) "Ini bukan urusanmu, Mas!"
Gus Faiq: (dengan nada lebih keras) "Ini urusanku! Kamu itu adik sepupuku! Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa! Kalau kamu mau pergi ke Malang, kamu harus izin dulu sama keluarga! Jangan seenaknya sendiri!"
[Ditengah perdebatan dg Faiq bijel mengambil kunci mobil dg paksa dr tangan kang Resya lalu ia lolos lagi ia langsung menuju perjalanan ke malang, sampai malang menyelesaikan urusannya.]
[Di tengah perdebatan dengan Faiq, Bijel dengan cepat dan paksa merebut kunci mobil dari tangan Kang Resya. Tanpa menghiraukan bentakan dan peringatan dari Faiq, ia langsung berlari menuju mobilnya dan pergi menuju Malang untuk menyelesaikan urusannya.]
Kang Resya: (dengan nada menyesal) "Maaf, Gus Faiq, saya tidak bisa mencegah Ning Abigail."
Gus Faiq: (menghela napas, dengan nada khawatir) "Sudahlah, Kang. Bukan salahmu. Aku yang akan bertanggung jawab. Ya Allah, kenapa Bijel jadi seperti ini?"
Santri 1: (berbisik kepada santri lainnya) "Wah, ngeri banget tadi Ning Abigail dimarahi Gus Faiq."
Santri 2: "Iya, baru kali ini lihat Gus Faiq semarah itu."
Santri 3: "Semoga Ning Abigail baik-baik saja."
[Gus Faiq merasa sangat khawatir dan bersalah atas kepergian Ning Abigail. Ia tahu bahwa Ning Abigail memiliki masalah yang sangat berat, namun ia tidak tahu bagaimana cara membantunya. Ia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ning Abigail dan membantunya mengatasi semua masalah yang sedang dihadapinya.]
[Setelah menyelesaikan urusannya di Malang, Ning Abigail kembali menuju pesantren Queen Al-Falah dengan perasaan campur aduk. Ia merasa lelah, marah, dan juga bersalah karena sudah membuat semua orang khawatir. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya dan meminta maaf kepada mereka.]