"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"Kau menyiapkan sarapan lagi?" tanya Leana sembari duduk di meja makan, menyambar satu buah apel.
"Hm, makanlah setelah menghabiskan apel itu," jawab Jimmy.
Ponsel milik Jimmy yang berada di atas meja makan tiba-tiba bergetar. Jimmy menggeser tombol hijau lalu meletakkan ponsel itu dengan posisi berdiri.
Wajah Diego muncul di layar, urat-urat di lehernya menonjol seperti kabel listrik yang hampir putus.
"Jimmy! Apa kau melihat foto yang baru saja anak buahku kirim?!" teriak Diego tanpa salam.
"Foto yang mana, Diego?" ucap Jimmy dengan tenang sembari menyesap kopinya.
"Foto leher putriku. Ada tanda merah di sana, Jim! Di sana!" Diego memukul meja. "Anak buahku baru saja mengirimkan hasil zoom-in kamera pengintai di lift pintu masuk apartemenmu kemarin malam!"
Leana yang sedang mengunyah roti selai coklat hampir tersedak. Ia refleks memegang lehernya. Leana ingat, hanya Jimmy yang berani meninggalkan tanda seperti itu padanya.
Sementara Jimmy tetap memasang wajah tembok, meskipun sebenarnya, dada pria itu berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Lalu?" tanya Jimmy singkat.
"Lalu?! Kau tanya lalu?!" Diego semakin histeris. "Ada bajingan yang sudah berani menandai putriku seperti hewan ternak! Siapa pria itu, Jim? Siapa?! Aku sudah mengecek daftar pria yang didekati Leana. Si Rian, model berwajah cantik itu, dia bahkan tidak berani memegang tangan Leana saat di depan kamera. Si pengusaha muda itu juga pengecut! Tidak mungkin mereka punya nyali sebesar itu untuk menggigit leher seorang Frederick!"
Jimmy melirik Leana dari sudut matanya. Leana menggigit bibir, menahan tawa sekaligus ngeri melihat ayahnya memaki-maki pria yang sebenarnya sedang duduk dengan tenang di depannya.
"Mungkin itu hanya alergi makanan, Diego," balas Jimmy datar.
"Alergi matamu! Aku ini sudah memimpin organisasi ini selama tiga puluh tahun, Jimmy! Aku tahu bedanya alergi udang dan bekas hisapan pria yang kelaparan!" Diego memaki dalam bahasa Italia yang sangat kasar. "Pria itu pasti seorang pengecut yang sangat licik! Dia berani menyentuh putriku di bawah pengawasanmu! Dia pasti merasa dirinya hebat, merasa dirinya paling jantan di dunia ini karena bisa menaklukkan putriku!"
Leana menunduk, bahunya bergetar hebat karena menahan tawa. Pria licik yang di maki Diego ada di depannya.
"Pria itu memang sangat menggoda dan bersemangat, Pa," pancing Leana dengan nada polos yang dibuat-buat.
"Tutup mulutmu, Leana!" bentak Diego di layar. "Kau juga sama saja! Kenapa kau biarkan pria rendahan itu menyentuhmu? Jimmy, aku ingin kau mencari bajingan ini. Aku ingin kau menemukannya, ikat dia di kursi, dan potong lidahnya! Pria yang sudah berani mencium leher putriku harus tahu rasanya kehilangan bagian tubuh yang ia gunakan untuk berbuat maksiat itu!"
Jimmy berdeham pelan, membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.
"Kau ingin aku memotong lidahnya?"
"Ya! Dan kirimkan fotonya padaku! Aku bersumpah, jika aku tahu siapa pria itu, aku sendiri yang akan memastikan dia tidak akan pernah bisa ereksi lagi seumur hidupnya! Dia pasti pria tua mesum yang tidak tahu diri! Beraninya dia mendekati gadis muda dan menawan seperti Leana!"
Jimmy memijat pelipisnya. Kata-kata pria tua mesum itu terasa menampar wajahnya dengan telak.
"Dengar, Diego. Aku akan menyelidikinya. Tapi bagaimana jika pria itu ternyata bukan orang sembarangan?"
"Aku tidak peduli! Mau dia presiden sekalipun, kalau dia berani menaruh bibirnya di kulit Leana, dia harus mati! Tapi anehnya..." Diego mereda sejenak, tampak berpikir. "Siapa pria yang cukup gila untuk berani melakukan itu di bawah pengawasanmu? Kau adalah orang paling waspada yang kukenal. Kecuali..."
Jimmy menelan ludah dan Leana menahan napas.
"Kecuali pria itu sangat cerdik dan tahu kapan kau sedang lengah, bajingan itu pasti memanfaatkan situasi saat kau sedang di kamar mandi atau sedang tidur! Oh, aku bersumpah, kalau bertemu dengannya, aku akan mengulitinya hidup-hidup!" lanjut Diego.
"Tenanglah, Pa. Mungkin pria itu melakukannya karena dia sangat mencintai putrimu ini?" sela Leana sengaja ingin membakar amarah Diego.
"Cinta?! Itu bukan cinta, itu nafsu! Hanya binatang yang meninggalkan jejak seperti itu agar orang lain tahu kau miliknya!" Diego menunjuk ke arah kamera. "Jimmy! Aku beri waktu 24 jam. Temukan pria itu. Aku tidak mau tahu! Dan kau, Leana, pakai syal! Tutupi tanda menjijikkan itu lain kali! Aku tidak sudi melihat putriku terlihat seperti sudah dilahap oleh serigala!"
Klik!
Panggilan terputus. Dan tawa Leana meledak seketika.
"Hahaha! Binatang kelaparan? Pria tua mesum? Pengecut licik? Wah, Jimmy, papa punya banyak sebutan baru untukmu!" ejek Leana.
Jimmy menyandarkan punggung, wajahnya yang tadi kaku kini terlihat sangat frustrasi. Ia menatap Leana dengan tatapan tajam yang membuat tawa Leana perlahan surut.
"Kau pikir ini lucu?" tanya Jimmy.
"Sangat lucu! Kau dengar kan? Papa ingin memotong lidahmu dan memastikan kau tidak bisa berfungsi lagi?" Leana menjulurkan lidahnya menggoda.
Jimmy tiba-tiba berdiri, membuat kursi meja makan itu berderit. Ia berjalan memutari meja dan berhenti tepat di belakang Leana. Ia membungkuk, menempelkan wajahnya di dekat telinga Leana, sementara tangannya mencengkeram pinggiran meja, mengurung posisi gadis itu.
"Ayahmu benar tentang satu hal, Lea," bisik Jimmy dengan suara yang membuat bulu kuduk Leana meremang.
"A-apa itu?"
"Aku memang binatang kelaparan saat bersamamu," ucap Jimmy seraya mengecup pelan ceruk leher Lena. "Dan jika dia ingin memotong lidahku, maka aku akan memastikan lidah ini sudah mencicipi setiap inci tubuhmu."
Leana menelan ludah, keberaniannya mencair seketika digantikan oleh gairah yang kembali tersulut.
"Kau tidak takut pada papa?"
"Aku lebih takut jika aku harus terus menahan diri. Apalagi melihatmu disentuh pria lain," batin Jimmy seraya menjauhkan wajahnya, kembali ke wajah dinginnya yang semula.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁