Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Jauhi Agung
KETEGANGAN DI KELAS XI-A.
Di balik dinding kaca SMA Elit “Jelita Academy”, suasana kelas XI-A terasa begitu mencekam bagi Maya. Ia duduk di barisan paling depan, mencoba menulikan telinga dari bisik-bisik yang menyerap di belakangnya. Maya mencengkeram pulpennya erat-erat, berusaha fokus pada penjelasan Ibu Ratna mengenai Fisika Kuantum.
Namun, fokusnya terusik oleh tatapan tajam yang menghujam punggungnya. Di barisan belakang, geng yang dipimpin oleh Dina mulai beraksi.
“Ck, lihat deh gaya rambutnya. Sok imut banget,” cibir salah satu teman Dina dengan suara yang sengaja dikeraskan. “Dia belum tahu ya, kalau di kelas ini tidak ada yang boleh mengimbangi kecantikan dan keimutan Dina.”
“Bos Dina, mau kita apakan anak baru itu nanti?” tanya gadis lain sambil melirik sinis ke arah rambut panjang Maya yang tergerai rapi.
Dina, yang duduk dengan gaya angkuh, hanya melirik Maya dengan sudut mata yang dingin. Ia memutar-mutar pulpen mahal di jemarinya yang terawat. “Nanti kalian juga bakalan tahu,” ucapnya pelan namun penuh ancaman. “Yang jelas, selagi dia tidak mencari perhatian Agung, mungkin anak baru itu akan aman di kelas kita.”
Mata Dina beralih ke sisi kanan bangku tengah. Di sana, seorang remaja laki-laki berwajah blasteran perpaduan rahang tegas Eropa dan mata tajam Asia sedang fokus menulis. Agung, pria idaman sekolah yang dinginnya melebihi es di kutub.
Ibu Ratna yang sedang menulis rumus di papan tulis tiba-tiba berhenti. Ia mendengar gumaman berisik dari arah belakang. Dengan tatapan tegas, ia berbalik dan melirik ke arah Dina.
“Dina! Sepertinya kamu lebih tertarik mengobrol daripada mendengarkan,” tegur Ibu Ratna. “Coba jelaskan, bagaimana prinsip ketidakpastian Heisenberg bisa diterapkan dalam model atom Bohr?”
Suasana mendadak hening. Teman-teman Dina menahan napas. Namun, dengan sombongnya, Dina berdiri. Ia menjawab pertanyaan itu dengan lancar dan nada yang dibuat-buat agar terdengar pintar. Setelah selesai, ia sengaja melirik ke arah Agung, berharap sang pangeran sekolah itu akan terpaku oleh kecerdasannya.
Namun, hasilnya nihil. Agung tetap menunduk, fokus pada buku catatannya seolah-olah Dina hanyalah angin lalu. Tak ada lirikan, tak ada senyum, apalagi pujian.
Wajah Dina memerah seketika. Rasa malu menjalar ke lehernya karena diabaikan di depan kelas. Ia duduk dengan kasar, matanya kini berkilat penuh amarah yang salah sasaran. Ia justru menatap punggung Maya dengan dendam yang makin membara. Bagi Dina, kegagalan menarik perhatian Agung pasti ada hubungannya dengan kehadiran anak baru itu.
^^^
Bel peringatan pelajaran berbunyi nyaring, memecah kecanggungan pasca insiden tadi. Pak Broto, guru Sosiologi yang dikenal tegas namun objektif, melangkah masuk.
“Anak-anak, hari ini kita akan melakukan diskusi kelompok mengenai dinamika sosial. Bapak sudah membagi kelompoknya berdasarkan absensi agar adil,” ujar Pak Broto sambil menempelkan daftar nama di papan tulis.
Mata Maya membulat saat melihat namanya bersanding dengan satu nama, Agung. Di sisi lain, rahang Dina seolah jatuh. Emosinya meluap seketika.
“Din, lihat! Anak baru itu satu tim dengan Agung!” bisik Fransiska memprovokasi.
“Kalian tenang saja, aku akan menyingkirkannya,” desis Dina.
Ia berdiri dengan angkuh, berjalan pelan mendekati meja diskusi Maya dan Agung dengan langkah yang dibuat seanggun mungkin.
“Hai, May,” sapa Dina dengan nada manis yang dibuat-buat, namun matanya berkilat tajam. “Bisa tidak kamu tukar posisi denganku? Mejaku ada di sana, di pojok belakang. Kurasa kamu akan lebih nyaman di sana daripada di sini.”
Dina menunjuk ke arah gengnya yang sudah melambai dengan senyum paksa yang terlihat mengerikan. Maya, yang pada dasarnya tidak suka keributan, hanya bisa mengangguk pelan. Ia mulai menumpuk buku-bukunya, bersiap untuk mengalah.
Namun, saat kaki Maya baru saja hendak melangkah, sebuah gerakan cepat menghentikannya. Tangan Agung menyambar dan mencengkeram erat pergelangan tangan Maya.
“Sesuatu yang sudah diatur tidak boleh diganggu,” tegas Agung. Suaranya rendah, namun memiliki kekuatan yang membuat seisi kelas mendadak senyap. Matanya menatap Dina dengan ketajaman yang melebihi elang, dingin dan tidak tertembus.
Dina tersentak, wajahnya pucat pasi. “Tapi, a-aku ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu, Gung,” kilas Dina dengan alasan palsu, suaranya sedikit bergetar.
“Setelah jam pelajaran selesai, kau boleh mengatakannya. Sekarang, kembalilah ke posisimu!” perintah Agung telak.
Dina membeku. Ia tidak punya pilihan selain berbalik dengan perasaan malu yang luar biasa, diiringi tatapan kasihan dari teman sekelasnya.
Sementara itu, Maya tidak berkutik. Pergelangan tangan kurusnya masih digenggam erat oleh tangan Agung. Aura yang terpancar dari pemuda di sampingnya ini sangat mengerikan, sosok pria Alpha Dominan yang tidak membiarkan apa pun yang sudah menjadi haknya diganggu oleh orang luar.
Maya melirik sekilas ke arah tangan Agung yang kekar, lalu teringat sesuatu. “Wah, sepertinya ada Kak Arkan versi remaja di sini,” batinnya.
Cara Agung mengontrol situasi, tatapan matanya yang posesif, dan ketidaksukaannya pada bantahan benar-benar sebelas dua belas dengan Arkan.
*******
Diskusi kelompok berlangsung dengan suasana yang sangat kontras. Di satu sisi, Agung tampak begitu santai, sesuatu yang langka, bahkan sesekali ia mengetuk kening Maya dengan ujung penanya saat gadis itu salah menghitung. Interaksi intim itu bagaikan bensin yang menyiram api di hati Dina.
Begitu bel istirahat berbunyi dan Agung menghilang menuju ruang tongkrongannya, Maya segera bergegas ke kamar mandi. Ia merasa tidak nyaman dengan bantalan penyerap ASI yang ia gunakan sudah mulai penuh dan lembap. Ia harus segera menggantinya agar tidak merembes ke seragam putihnya.
Namun, saat Maya baru saja selesai mengganti breast pad dan sedang mencuci tangan, pintu toilet dibanting menutup. Klik. Pintu dikunci dari dalam.
Maya berbalik, ia sudah dikepung oleh Dina, Fransiska, Azuza, Heina, dan Meyorita.
“Dikasih hati tapi tidak tahu diri,” desis Dina tajam.
Maya tetap tenang, ia mengelap tangannya dengan tisu pelan-pelan. “Maaf, maksud Dina dan temannya yang lain apa, ya?” tanya Maya dengan wajah polos yang justru semakin menyulut emosi lawan.
BRAK! Dina mendorong tubuh mungil Maya hingga tersudut ke dinding marmer yang dingin.
“Aku peringatkan kau, jangan pernah mencari perhatian kepada Agung!”
“Aku tidak pernah mencari perhatian,” jawab Maya datar.
“Omong kosong!” Dina melu*dah tepat ke wajah Maya. Cairan itu mengenai pipinya. Maya refleks menoleh, lalu dengan tenang menghapus bekas liur itu dengan tisu di tangannya.
“Cantik-cantik air liurnya bau,” batin Maya, sama sekali tidak merasa terancam. Ia sudah menghadapi tekanan lebih kejam daripada ini sebelumnya.
Dina mencengkeram kerah baju Maya hingga kancing atasnya nyaris terlepas. “Jauhi Agung, atau kau akan menyesal!”
“Sudah itu saja?” tanya Maya santai.
“Beri pelajaran, Din! Kasih paham siapa kamu sebenarnya,” sorak teman-temannya memprovokasi.
“DIAM KALIAN SEMUA!” teriak Dina histeris, membuat suasana toilet yang kedap itu berdenging. Maya hanya menutup kedua telinganya, merasa jengah.
“Apaan sih, gadis gak jelas ini. Apa dia pikir aku mau dengan pria blasteran itu? Daripada sama pria yang belum mapan, lebih baik aku sama pria mapan seperti Kak Arkan, Yudha, atau detektif tua itu,” batin Maya membandingkan.
“Dina, kalau boleh jujur, aku tidak selera dengan pria blasteran. Tipeku cukup tinggi untuk kujadikan pasangan,” ucap Maya berani. “Jikapun Agung dekat denganku, itu hanya untuk membahas pelajaran. Tidak lebih.”
“Alah omong kosong! Gadis miskin sepertimu selalu punya alasan yang sama!” Dina mengangkat tangannya, siap mendaratkan tamparan.
Tok! Tok! Tok! Suara gedoran di pintu toilet terdengar sangat keras dan berwibawa, membuat gerakan Dina membeku.
“Siapa?!” teriak Dina kasar.
“Bu Siska.”
Mendengar nama itu, nyali geng Dina menciut. Salah satu dari mereka buru-buru membuka kunci pintu. Berdirilah seorang wanita dengan setelan kerja yang sangat rapi, dada tegap, dan bibir merah merona yang memancarkan aura tegas.
Mata Siska menajam, menatap tangan Dina yang masih mencengkeram kerah baju Maya. Maya sendiri hanya melemparkan senyum ramah kepada Siska, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Dina, aku sudah melihat semuanya dari CCTV,” suara Siska dingin dan mutlak. “Sekarang, kalian berempat ikut saya ke ruangan Pemilik Yayasan. Sekarang!”
Dina berdecak keras, wajahnya memerah padam antara malu dan marah. Sebelum melangkah pergi, ia menunjuk wajah Maya dengan telunjuknya, memberikan isyarat bahwa urusan mereka belum selesai.
...❌ Bersambung ❌...