Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luck in Disguise
"Kau ini pecandu kopi, ya?"
Andy tertawa, menutup pintu coffee shop sambil memindai keadaan sekitar. Masker yang menutupi wajahnya pun diturunkan setelah yakin aman. Di belakang counter, Sena sedang membersihkan mesin kopi. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Andy.
"Sembilan iced americano, 4 latte, dan 6 frappucino."
"Ya Tuhan..." Sena menghentikan pekerjaannya. "Kau mau membelikan untuk semua orang di perusahaan?"
Andy mengedik. "Bisa kan buatkan?"
"Ini akan memakan waktu," balas Sena.
"Tidak masalah." Andy tersenyum, bersandar ke counter. "Kan ada aku yang akan menemani."
Sena menaikkan alisnya. "Siapa yang bilang aku butuh ditemani?"
"Aku."
Sena mendengus. "Ayolah, jangan bercanda." Dia berbalik, mulai menyiapkan beberapa cup berbeda untuk pesanan Andy.
"Jam berapa kau selesai bekerja?"
Sena tersentak, meletakkan kedua tangan di depan dada. "Apa kau sedang menggodaku sekarang?"
"Hah? No, aku hanya--God, aku hanya ingin main denganmu." Andy menyugar rambut menggunakan jari, lalu memakai kembali topinya. Dia menatap Sena lekat, tetapi suara mesin kopi terlalu bising memenuhi udara. Sena berdiri di belakang benda itu, memberinya senyum ramah layaknya kepada pelanggan.
"Kedengarannya oke," katanya, setelah suara mesin kopi berhenti. Dia berpindah ke sisi lain counter.
"Aku selesai pukul sembilan."
Sena menyipitkan mata. "Kau menungguku untuk mengundangmu ke apartemenku?"
"...ya,"
Sena terdiam sejenak. "Datanglah kalau sudah senggang," ujarnya kemudian.
"Baiklah," balas Andy, seraya tersenyum lebar.
"Temanku akan ada di rumah, tapi dia orang baik, jadi tidak perlu khawatir."
"Oh, siapa namanya?"
"Go Hana." Sena kembali sibuk dengan mesin kopi yang bising, membuat percakapan mereka terhenti.
Sena terkekeh saat melihat Andy begitu sabar menanti kebisingan itu usai. Matanya mengikuti ke mana Sena pergi, terkagum-kagum pada kemampuan Sena berkutat dengan mesin-mesin besar itu. Andy yakin dia tidak bisa melakukan hal yang sama. Sudah pasti akan ada sesuatu yang rusak, begitu ia mencobanya untuk kali pertama.
"Kau bekerja seharian?" Andy bertanya ketika mesin kopi berhenti meraung, Sena menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Tidak. Aku ada kelas dalam beberapa jam ke depan."
Andy mengangguk. "Berapa lama kelasmu akan berlangsung?"
"Hm..." Sena bergumam selagi ia membersihkan bagian mesin kopi yang ternoda. "Tiga jam."
"Tiga jam?" Andy setengah berseru. Sorot matanya sudah cukup menjelaskan bahwa ia menaruh kekaguman atas dedikasi Sena terhadap kuliahnya. Di saat orang lain mungkin sudah puas setelah menyelesaikan S1, Sena masih saja memiliki semangat belajar demi meraih gelar S2.
"Tidak pasti setiap hari. Ada beberapa kelas yang hanya berlangsung selama 2 sampai 2,5 jam. Tiga jam itu durasi paling lama." Sena menjelaskan. Setelah berkutat dengan mesin-mesin kopi, dia akhirnya selesai dengan semua pesanan Andy.
"Terima kasih," kata Andy. Diangkutnya cup-cup kopi dalam bag. Lambaian tangannya jadi penanda perpisahan, disertai senyuman hangat dan janji untuk bertemu lagi segera.
Sena gegas membersihkan keseluruhan area mesin kopi serta peralatan yang digunakannya membuat pesanan, langsung setelah tak dilihatnya lagi Andy dalam pandangan.
Tidak perlu lama berselang sejak kepergian Andy, pintu coffee shop kembali terbuka. Sena yang bahkan masih membelakangi pintu, praktis membalikkan badan dan menyapa pelanggan selanjutnya itu dengan ramah. Ia tersenyum pada pelanggan yang merupakan seorang perempuan berusia akhir 20-an, memakai dress merah terang sedikit di bawah lutut, mengenakan heels tujuh senti, rambut cokelat diblow, serta riasan yang sedikit lebih tebal daripada kebanyakan orang yang ditemuinya sehari-hari.
"Bisa saya bantu pesanannya?" tanya Sena.
Perempuan itu mengalihkan pandangan dari daftar menu di atas counter. Ia menatap Sena sebentar, kemudian menunjuk salah satu menu yang sudah dia putuskan.
Sena menunduk, mendapati hari ramping perempuan itu tertuju pada gambar frappucino.
"Frappucino satu, ada lagi?" tanyanya ramah.
"Tidak, itu saja." Perempuan itu menyodorkan kartu, dan Sena menerimanya dengan lihai.
Langkah-langkahnya memang selalu begitu. Menyambut pelanggan, menginput pesanan, memproses pembayaran, kemudian...
Oh, damn it...
Tangan Sena membeku saat akan menggesek kartu. Karena dia baru saja menyadari ada sesuatu yang salah dengan transaksinya sebelum ini. Dia... dia lupa menginput dan menagih pembayaran untuk semua pesanan Andy.
Matilah dia...
"Ada masalah apa? Kartu saya tidak berfungsi?"
"Oh!" Sena tersentak, cepat-cepat menarik kembali kesadarannya. "Tidak, tidak. Saya segera proses pembayarannya." Dia menggesek kartu, lalu mengembalikan kepada si empunya.
"Terima kasih, mohon menunggu," ucapnya sopan.
Pelanggan perempuan itu menatapnya aneh selama beberapa detik, kemudian melenggang pergi ke salah satu meja terdekat, menanti pesanannya dibuat.
Sena langsung mengerjakan apa yang ada di depan matanya. Urusan Andy, akan dia pikirkan nanti. Sudah jelas pelanggan yang ada saat ini harus dia layani lebih dulu. Entahlah bagaimana urusannya nanti, sejak pesanan Andy cukup banyak dan God, dia tidak ingat dengan jelas apa saja yang dipesan lelaki itu.
"Silakan," katanya seraya menyerahkan pesanan yang sudah jadi. Pelanggan perempuan itu mengambil pesanannya, berterima kasih sekadarnya, kemudian pergi.
Sesegera mungkin setelah pelanggan itu keluar dari coffee shop dan Sena memastikan tidak ada pelanggan lain yang masuk, dia mengeluarkan ponsel.
^^^Andy, ada masalah kecil di sini^^^
Oh, ada apa?
^^^Sepertinya kita melupakan sesuatu yang penting dalam pesananmu^^^
Hah?
Tidak. Pesananku lengkap, aku membawa semuanya
^^^Andy...^^^
^^^Kau belum membayar pesanannya ^^^
Oh, shit!
Kau benar
Dude, maafkan aku. Aku benar-benar lupa
Apa itu akan mendatangkan masalah besar bagimu nanti?
^^^Yah... Sebenarnya bukan masalah besar kalau kau hanya pesan satu ^^^
^^^Tapi, kau pesan hampir 20 cup dan aku tidak ingat apa saja yang kau pesan ^^^
Baiklah, tunggu sebentar ya
Aku akan mengirim seseorang untuk membayar, sekaligus membantumu menginput pesanan
^^^Mengirim siapa?^^^
Logan
^^^HAH?^^^
^^^Kau mengirim siapa?^^^
Haha kenapa kau heboh sekali?
Logan. Aku akan mengirimnya ke sana
^^^Andy what the hell?^^^
^^^Yang benar saja? Dari semua orang, kau mengirim Logan?^^^
Kenapa memangnya?
Santai saja, dia baik
^^^...^^^
Logan sedang ke sana
Beritahu aku jika ada masalah lain
Sebelum Sena sempat membalas lagi, pintu coffee shop sudah lebih dulu terbuka. Seorang pria dengan rambut cokelat gelap masuk, matanya yang kecil mengintip dari balik impitan beanie dan masker. Tidak sulit bagi Sena untuk mengenali bahwa itu adalah Logam. Mau setertutup apa pun penampilnya, bahkan jika wajahnya tertutup penuh tanpa menyisakan matanya pun, Sena tetap akan mengenali pria itu karena... karena...
"Ini." Tanpa berbasa-basi, Logan memberikan kartu dan selembar kertas note kecil padanya.
Sena sedikit gemetar saat menerimanya. Di tengah ketelitiannya menginput pesanan, dia sesekali melirik ke arah Logan. Ini seperti mendapat jackpot untuk kali kesekian. Bayangkan... Setelah bertemu lagi dengan teman baiknya, sekarang dia juga bisa bertatap muka langsung dengan seorang Logan Lee, biasnya.
"Jadi, kau adalah teman masa kecil Andy di Kanada dulu?" Logan bertanya tiba-tiba.
Sena tersentak, sedikit tidak siap. "Oh ... ya, benar." Bahkan saat menjawab pun, terasa kikuk.
"Dia sering membicarakan soal dirimu. Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, Lara." Logan tampak berusaha menyebut namanya dengan benar, menekankan huruf r yang masih kedengaran samar. "Aku Logan."
"Aku tahu kau Logan," celetuk Sena, terkekeh kecil. "Senang bertemu denganmu. Kau bisa memanggilku Sena saja."
Logan mengangguk dan melangkah mundur. "Oke, Sena," katanya. "Sampai bertemu lagi!" pungkasnya sembari melambaikan tangan lalu melangkah pergi.
Sena balas melambai, bahkan sampai Logan tidak nampak lagi. Kemudian lengkungan di bibirnya naik lebih tinggi. Hari itu pun, dia menjalani pekerjaannya dengan perasaan senang luar biasa.
Bersambung....