NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

25. TGD.25

Masa kehamilan Shelly menjadi babak baru yang penuh warna di "Omah Tandur". Jika biasanya Shelly adalah sosok yang sangat disiplin, teratur, dan tangguh, kehamilan ini membawa sisi lain dari dirinya yang membuat Arkan—sang arsitek yang terbiasa dengan perhitungan presisi—harus belajar menghadapi variabel-variabel yang sama sekali tidak bisa diprediksi.

---

Memasuki bulan ketiga, mual di pagi hari (*morning sickness*) mulai mereda, namun digantikan oleh kepekaan indra penciuman yang luar biasa. Shelly, yang biasanya sangat mencintai aroma tanah basah setelah hujan, tiba-tiba menjadi sangat benci dengan bau tersebut.

Suatu sore, setelah hujan lebat mengguyur desa, Arkan pulang dengan wajah ceria sambil menenteng ranselnya. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di teras, Shelly yang sedang duduk di kursi goyang langsung menutup hidungnya dengan syal rajutan Ibu.

"Mas! Berhenti di situ!" teriak Shelly dengan suara sengau.

Arkan mematung, satu kakinya masih menggantung di udara. "Ada apa, Shel? Ada ular? Ada kalajengking?"

"Bau, Mas! Bau tanahnya... bau sekali! Aku nggak kuat. Mas tolong mandi sekarang, baju itu langsung masukin ke mesin cuci, jangan lewat depan aku!" Shelly berkata sambil mata yang mulai berkaca-kaca, tipikal ibu hamil yang emosinya mudah naik turun.

Arkan mengendus bajunya sendiri. "Ini kan bau tanah favoritmu, Shel? Yang dulu kamu bilang bau masa depan?"

"Sekarang itu bau masa lalu! Pokoknya bau, Mas! Cepat!"

Arkan hanya bisa menghela napas pasrah, tertawa dalam hati melihat istrinya yang biasanya rasional kini bisa menangis hanya karena aroma tanah. Ia terpaksa "mandi darurat" di kamar mandi luar dekat kantor sebelum berani memeluk istrinya.

---

Namun, tantangan terbesar bagi Arkan adalah saat fase ngidam dimulai. Ngidamnya Shelly tidak seperti ibu-ibu kota yang meminta makanan mewah di tengah malam. Sebagai anak desa yang berjiwa petani, ngidam Shelly sangat spesifik dan terkadang... berisiko bagi reputasi Arkan.

Suatu malam, sekitar pukul sebelas, Shelly mengguncang bahu Arkan yang sudah terlelap.

"Mas... Mas Arkan bangun..."

Arkan terbangun dengan sigap, "Kenapa, Shel? Perutnya sakit? Mau ke bidan?"

"Enggak, Mas. Aku... aku pengen sesuatu."

Arkan menarik napas lega, ia sudah menyiapkan mental untuk ini. "Mau apa? Martabak? Mi instan? Aku cari ke kecamatan sekarang."

Shelly menggeleng pelan, matanya berbinar di bawah lampu tidur yang remang-remang. "Aku pengen makan mangga muda, Mas. Tapi bukan mangga dari pasar."

"Terus?"

"Aku pengen mangga yang ada di pohon depan rumah Pak Kardi. Yang buahnya paling tinggi, yang kena sinar bulan langsung. Katanya kalau dimakan malam ini, rasanya beda."

Arkan terbelalak. "Shel, ini hampir tengah malam. Pak Kardi itu punya anjing penjaga, dan dia sensitif banget kalau ada suara di depan rumahnya. Masa aku harus 'mencuri' mangga milik anggota koperasimu sendiri?"

"Anak kita yang mau, Mas. Katanya kalau nggak dari pohon Pak Kardi, nanti dia ileran," Shelly mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya: bibir yang dikerucutkan.

Arkan kalah telak. Dengan berbekal senter kecil dan galah bambu, ia menyelinap menuju rumah Pak Kardi. Saat ia sedang berusaha menjolok mangga di posisi paling tinggi, tiba-tiba lampu teras rumah Pak Kardi menyala.

"Siapa itu?! Maling ya?!" teriak Pak Kardi sambil membawa senter besar.

Arkan mematung di atas pagar kayu. "Anu... Pak... Ini saya, Arkan."

Pak Kardi mengucek matanya, heran melihat arsitek kebanggaan desa sedang bertengger di pagar malam-malam. "Mas Arkan? Ngapain malem-malem nyolong mangga saya? Kalau mau ya tinggal bilang besok pagi, Mas."

"Maaf, Pak Kardi... Shelly ngidamnya pengen mangga yang kena sinar bulan malam ini juga," jawab Arkan dengan wajah memerah karena malu.

Pak Kardi bukannya marah, malah tertawa terpingkal-pingkal hingga perut buncitnya berguncang. "Oalah! Si Bos Kecil sudah mulai minta ya? Ambil, Mas! Ambil yang paling besar! Sini saya bantuin pegang senternya!"

Malam itu berakhir dengan Arkan yang membawa tiga butir mangga muda, sementara Shelly memakannya dengan lahap tanpa rasa bersalah sedikit pun, sementara Arkan masih harus menanggung malu setiap kali bertemu Pak Kardi di balai desa.

---

Ngidam Shelly tidak berhenti di makanan. Suatu siang, Arkan mendapati Shelly sedang berdiri di pinggir sawah, menatap drone penyemprot pupuk milik koperasi dengan tatapan rindu.

"Kenapa lagi, Shel?" tanya Arkan sambil memayungi istrinya.

"Mas... aku pengen denger suara drone itu dari dekat. Aku pengen suara mesinnya buat pengantar tidur siangku."

Arkan menepuk jidatnya. "Shel, suara drone itu bising, nggak ada merdu-merdunya."

"Tapi bagi aku itu suara kemajuan, Mas. Suara masa depan anak kita. Tolong bilang Danu buat terbangin dronenya di atas teras rumah kita sebentar aja."

Dan terjadilah kejadian paling aneh di desa itu: sebuah drone pertanian terbang statis di depan teras "Omah Tandur" selama lima belas menit, hanya agar Shelly bisa tidur siang dengan nyenyak sambil mendengarkan deru baling-balingnya. Warga desa yang lewat hanya bisa geleng-geleng kepala, menyebutnya sebagai "Ngidam Modern".

---

Memasuki bulan ketujuh, perut Shelly sudah sangat membuncit. Arkan semakin protektif. Ia memasang pegangan tangan tambahan di setiap sudut rumah dan memastikan lantai tidak licin sedikit pun.

Suatu malam, mereka duduk di balkon, memperhatikan bintang-bintang yang sangat jernih.

"Mas," panggil Shelly pelan sembari mengelus perutnya yang bergerak-gerak. "Aku takut."

Arkan menghentikan kegiatannya membaca jurnal arsitektur, lalu menggenggam tangan Shelly. "Takut apa, Sayang?"

"Gimana kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik? Selama ini aku cuma tahu cara merawat padi, cara ngatur orang di koperasi. Tapi merawat manusia... itu jauh lebih besar."

Arkan tersenyum, menarik kursi Shelly agar lebih dekat. "Shel, kamu tahu kenapa padi di desa ini jadi yang terbaik di provinsi? Karena kamu merawatnya dengan hati. Kamu nggak cuma kasih air dan pupuk, kamu kasih perhatian. Menjadi ibu itu kurang lebih sama. Dan ingat, kamu nggak sendiri. Ada aku, ada Bapak, ada Ibu, bahkan Pak Kardi siap jagain anak kita."

"Mas beneran siap kalau nanti rumah ini bakal berisik? Mas bakal susah fokus gambar kalau ada suara tangisan bayi," goda Shelly.

Arkan tertawa pelan. "Aku sudah latihan, Shel. Suara drone aja aku sanggup dengerin demi kamu, apalagi suara tangisan anak kita. Itu bakal jadi musik paling indah yang pernah aku denger."

Shelly menyandarkan kepalanya di bahu Arkan. "Makasih ya, Mas. Makasih sudah sabar sama semua permintaanku yang aneh-aneh selama hamil ini."

"Nggak apa-apa. Hitung-hitung ini latihan mental buat aku sebelum benar-benar jadi bapak. Tapi tolong ya, jangan ngidam pengen lihat aku nyebur ke kolam ikan tengah malem. Itu berat, Shel."

Shelly tertawa riuh. "Idemu bagus juga, Mas. Besok aku pertimbangkan ya!"

---

Momen paling mengharukan adalah saat Shelly tiba-tiba menangis karena rindu dengan suasana musim semi di Niigata, tempatnya dulu magang. Ia merindukan udara dingin dan hamparan salju yang mulai mencair di pinggir sawah.

Arkan tidak mungkin membawa Shelly yang sedang hamil tua terbang ke Jepang. Tapi, otak arsiteknya bekerja cepat. Ia memanfaatkan sistem pendingin dan pelembap udara di ruang laboratorium kecil milik Shelly.

Malam itu, Arkan mengajak Shelly masuk ke laboratorium. Di sana, Arkan sudah mengatur suhu ruangan menjadi sangat dingin. Ia menyetel proyektor yang menampilkan video pemandangan sawah di Niigata yang ia cari di internet, memenuhi seluruh dinding ruangan. Di atas meja, Arkan menyajikan teh hijau hangat dan onigiri buatannya sendiri.

"Selamat datang di Niigata, Istriku," bisik Arkan.

Shelly terpaku. Air matanya mengalir deras. Ia merasa seolah benar-benar kembali ke masa perjuangannya dulu, namun kini ia tidak lagi sendiri. Ada suami yang luar biasa dan ada nyawa baru di dalam perutnya.

"Mas... kamu..." Shelly tidak bisa melanjutkan kata-katanya.

"Aku tahu aku nggak bisa bawa kamu ke sana sekarang. Tapi aku mau kamu tahu, kemana pun pikiranmu melayang, aku akan selalu berusaha membawa duniamu jadi nyata di sini."

Malam itu, mereka duduk berpelukan di dalam ruangan dingin itu, mengenang masa lalu dan merencanakan masa depan. Di tengah masa kehamilan yang penuh dengan "drama" ngidam dan emosi yang naik turun, Shelly menyadari bahwa ia telah memenangkan lotre kehidupan. Bukan karena kesuksesan koperasinya, tapi karena memiliki pria kota yang rela menjadi "gila" demi membahagiakannya.

Janin di dalam perut Shelly menendang pelan, seolah ikut berterima kasih pada ayahnya yang hebat. Masa-masa ngidam itu menjadi bumbu manis yang memperkuat pondasi cinta mereka sebelum menghadapi momen yang paling dinantikan: hari di mana sang "Bos Kecil" akan melihat dunia untuk pertama kalinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!