Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—11
Arumi terlalu lelah hanya untuk mengusir Bumantara dari kontrakan nya, dan akhirnya ia membiarkan laki-laki itu tinggal, tapi hanya di sofa, tak akan ia biarkan Bumantara memasuki area kamar pribadi nya.
"Arumi, Anda membiarkan tamu sendirian di luar, seharusnya Anda membawa saya kedalam kamar," ujar Bumantara sambil mengetuk pintu kamar Arumi yang terkunci.
"Persetan dengan mu," sahut Arumi pelan, ia tidak seberani itu untuk menjawab dengan lantang, karena ia masih malu dengan kelakuan nya di atas sofa bersama laki-laki yang sedang dengan gencar nya mengetuk pintu kamarnya.
Satu jam yang lalu.
Di atas sofa, Arumi duduk di atas pangkuan Bumantara, dengan wajah yang dia tenggelam kan ke dada keras Bumantara, dia masih syok dengan kejadian diluar kontrakan. Dan ... Dia justru merasa kenyamanan saat duduk di pangkuan, dengan tangan yang melingkar memeluk tubuh besar itu dengan erat, bahkan dia menghirup semua wangi maskulin milik Bumantara.
"Apa Anda merasa nyaman, Arumi?" tanya Bumantara sambil menekan pinggang Arumi, lalu mencium kepala Arumi.
Arumi yang tersadar dengan tingkah laku nya, terperanjat, sambil melepaskan pelukan nya, ia ingin beranjak dari tubuh Bumantara, tapi ia justru dipeluk Bumantara dengan erat, sehingga ia kembali terjatuh diatas tubuh besar itu.
"Lepas... Bumantara," kata Arumi sambil mencoba mendorong dada Bumantara, meski sulit, pipi nya bahkan terasa memanas.
"Hm, jangan bergerak Arumi ... Anda tau betapa sulit nya saya mengendali kan diri disaat dalam keadaan seperti ini," ucap Bumantara dengan suaranya yang sudah terdengar parau dan dalam, membuat Arumi secara spontan menghentikan gerakan nya, dia bahkan tidak bergerak saat Bumantara mengusap punggung sampai pinggang nya.
Arumi justru merasa nyaman dan hangat. Boleh kah ia hanya sebentar saja dalam keadaan seperti ini bersama murid nya?
Arumi cukup merasa lelah dengan keadaannya, mengetahui penghianat Dipta adalah sebuah beban untuk nya, ia terlalu percaya, dan ia yang terlalu mudah memberikan hatinya kepada laki-laki itu.
"Seharusnya kamu pulang, Bumantara. Dan ... biarkan aku sendirian di sini, aku juga butuh istirahat siang hari ini, pekerjaan ku sudah cukup menguras emosi. Lalu dengan kehadiran dan kejadian tadi seakan-akan kalian sedang ingin mencabut nyawa ku secara perlahan," gumam Arumi pelan.
Hening beberapa menit.
Bumantara tetap menunggu kelanjutan ucapan Arumi, namun yang terdengar hanyalah suara napas yang teratur, karena penasaran Bumantara menelengkan kepalanya, sehingga dia bisa melihat jika Arumi ternyata tertidur.
"Ternyata nyawa mu sedang tertidur, baby," lirih Bumantara, tersenyum sambil tangan nya yang tetap mengusap belakang Arumi, dan Bumantara juga memejam matanya, ia mulai mengikuti jejak Arumi dengan keadaan sama seperti tadi — Arumi ada di dalam pelukan nya.
Arumi menepuk wajah nya yang terasa panas saat mengingat sore itu di sofa. "Sial, kenapa harus di ingat sih. Dan ... kenapa juga tubuh pria itu bisa besar, tegap, dia terlihat gagah," lirih Arumi, bersemu malu.
Arumi merebahkan tubuh nya di atas kasur, dengan musik gedoran pintu dari Bumantara di luar sana. Sangat gigih.
"Arumi, saya membawa makan malam. Keluarlah, Anda jangan mengurang diri disana, dan apa Anda tidak takut dengan suara saya yang mungkin saja terdengar sampai luar kontrakan ini," ujar Bumantara, dan itu menyadarkan Arumi.
Benar. Dia masih ada komplek kontrakan yang mana suara sekeras apa pun akan terdengar. Arumi dengan terpaksa bangkit dari rebahan nyamannya, lalu membuka kan pintu kamar, hingga tatapan nya dengan Bumantara bertemu.
Sialnya, Arumi terpaku menatap wajah tegas namun sorot mata itu terlihat teduh, membuat Arumi salah tingkah. Arumi berdeham sambil menghindar tatapan, lalu melangkah kan kakinya melewati tubuh besar itu.
"Kapan kamu pulang, Bumantara? Di sini bukan tempat yang sesuka hati kamu untuk bisa tinggal," kata Arumi sambil berjalan kearah sofa, melihat sofa itu kembali membuat Arumi mengingat kelakuan nya yang dengan enteng tidur diatas tubuh laki-laki.
"Kenapa saya harus pergi? Bukan nya Anda yang mengajak saya masuk ke ruangan sempit ini," sahut Bumantara dengan santai sambil mengikuti langkah kaki kecil itu, sedari tadi Bumantara selalu salah fokus dengan kedua benda yang bergerak seiring dengan langkah kaki pendek Arumi.
Arumi yang mendengar kata sempit, menjadi kesal sehingga ia menghentikan langkah kakinya. "Makanya itu kamu pergi aja. Lagian aku enggak pernah ajak kamu masuk ke kontrakan sempit ini, bahkan sampai menginap. Enggak pernah. Dan enggak mau."
Arumi meninggal kan kata formal nya, sehingga dia bisa berbicara dengan santai seperti itu, Bumantara yang mendengar itu, tersenyum, lalu memajukan langkah kakinya. Berdiri di sebelah Arumi, lalu berkata, "Hm, memang aku yang ingin masuk, Arumi."
Dan alhasil pipi Arumi merona, ia malu karena baru menyadari nya, bahkan dengan suara berat Bumantara semakin membuat nya malu.
"Arumi, saya tadi hanya membeli kan makanan ini. Apa Anda suka?" tanya Bumantara sambil membuka bungkusan nasi uduk bersama lauk pauk nya.
Arumi menoleh, setelah menetralkan ritme jantung dan juga pipi memanas nya.
Arumi berdeham, "Kamu beli nya di depan gang sana yah, Bumantara?"
Arumi mendudukkan bokong nya di sebelah Bumantara, karena sofa itu memang hanya muat untuk dua orang.
"Iya, karena hanya di sana saya bisa mendapat kan makanan secara cepat, Arumi," jawab Bumantara sambil mendorong piring Arumi, lalu menuangkan air kedalam gelas Arumi.
Arumi yang melihat perlakuan manis dari Bumantara menjadi gugup, entah kenapa dengan jantung nya menjadi berdegup tak terkira, perutnya bergejolak, darah berdesir membuat pipi nya kembali merona.
"Makasih," cicit Arumi sambil mengambil piring nya dengan cepat, lalu menunduk ia tidak ingin Bumantara melihat pipinya.
Arumi merasa aneh dengan dirinya, jangan sampai ia terpesona dengan semua yang di lakukan Bumantara dan juga ... Wajah tampan itu, karena itu tidak benar. Bumantara adalah siswa yang harus ia didik dan mengajarnya dengan baik di sekolah, bukannya memasuk kan Bumantara kedalam ke kehidupan pribadi nya — umur juga menjadi masalah, karena sangat jauh berbeda, Bumantara yang 17 dan ia yang 27 tahun, sangat jauh berbeda.
"Jangan makan seperti itu Arumi. Nanti Anda tersedak..." Baru saja Bumantara memperingati, Arumi sudah tersedak.
"Uhuk ... uhuk ...." Arumi menepuk-nepuk dada nya sambil terbatuk-batuk.
Bumantara yang melihat itu langsung saja meletakan piring nya, lalu dengan sigap mengambil gelas Arumi dan juga tidak lupa menepuk pelan punggung Arumi.
"Minum ini, baby," ujar Bumantara sambil menyodorkan gelas air minum itu ke mulut Arumi. Arumi yang baru meminum air itu kembali menjadi tersedak lagi, saat mendengar panggilan Bumantara yang terasa asing di telinga nya.
"Hei ... Ada apa dengan mu Arumi. Kamu harus pelan-pelan meminum nya, jangan grasak-grusuk, Arumi," tegur Bumantara, khawatir, ia kembali mengusap punggung dan membantu Arumi kembali minum.
"Sudah. Sudah. Aku sudah baikan kok. Sana minggir," usir Arumi pelan, lalu sedikit menjauh dari Bumantara, perubahan dan cara Bumantara berbicara membuat nya tidak fokus.
Rasa aneh mulai menjalar ke sanubarinya. Apakah ia semudah itu memiliki perasaan? Bukannya dulu ia sangatlah sulit untuk hal yang seperti itu. Kenapa sekarang perasaan nya berkata hal lain, ia harus menghindari Bumantara, jika tidak, ia akan terjerat dan terjatuh kepada siswa nya. Dan itu salah!
...
Bersambung....