"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 04
Beberapa menit kemudian, Seno kembali. Setelan nya tak berubah, hanya saja kerah bajunya di buka dua kancing, hingga terlihat bulu- bulu halus di dada nya.
Sementara Indira masih tetap bertahan di sana, hanya berdiri dengan wajah yang menunjukkan kebingungan seolah tekanan yang di ciptakan Seno tak memberikan nya ruang untuk pergi. Seno menatapnya, dari atas sampai bawah.
Indira masih mengenakan gaun kebaya nya, ia tak sempat salin. Hanya make up di wajahnya saja yang sempat ia hapus tadi, yang justru semakin menunjukkan kecantikan alami miliknya.
Namun Seno tak peduli. Di ambilnya bantal dan guling, lalu setengah melayang di sampirkannya ke arah gadis itu, hingga sempat mengenai wajah Indira barulah ia tangkap dengan tangan.
"Kau tidur di sana, kasur ini sepenuhnya milik ku! " tekannya, sambil menunjuk sofa yang berada di sudut ruangan, beberapa langkah dari ranjang.
Indira mengikuti arah telunjuk sang pria, lantas ia hanya mengangguk saja. Sekilas menghela nafas lega, karena Seno tak berniat melakukan apapun padanya-- karena sesuai ritual pengantin, malam ini harusnya adalah malam pertama mereka.
Tapi karena pernikahan ini sama- sama tak di harapkan dari kedua belah pihak, tidak ada ritual yang seperti itu dan mereka tidak harus menjalani nya, yang justru membuat Indira merasa lega luar biasa. Karena mereka hanya menjalani pernikahan ini di atas kertas, selebihnya tetap menjalani kehidupan masing-masing.
Namun seolah bisa membaca pikiran Indira-- Seno melirik nya, lalu berdeham pelan yang membuat Indira sontak terperanjat dan tubuhnya bergetar sesaat.
Indira ragu- ragu untuk berbalik, dan saat dilihat nya, laki-laki itu sudah bersedekap dada dengan gaya angkuhnya.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan... kau pikir aku tidak akan meminta hakku? "
Ucapan itu sontak membuat nafas Indira tertahan. Jantungya berdegup keras, telinganya berdenging. Jemarinya refleks mencengkram ujung kebaya, tubuhnya menegang seketika.
Seno melangkah mendekat, tapi berhenti dalam jarak aman. Tatapannya menyisir wajah Indira dengan dingin, seolah sedang menilai sesuatu yang tak berharga.
"Tenang saja, " katanya kemudian, nada suaranya rendah, sinis. "Aku tidak sebodoh itu. "
Indira mengangkat wajahnya perlahan. Bola matanya bergetar, namun ekspresi wajahnya tak gentar. Tetap memaksa untuk menatap lurus.
"Apa maksud mu....? " tanyanya pelan. Ia tahu ada maksud di balik perkataan pria yang sama sekali belum pernah ia kenal dengan baik namun sudah menjadi suaminya itu.
Sementara Seno setengah mendengus kasar. "Aku tak sebodoh itu untuk tidak memberikan nafkah lahir dan batin padamu. "
Deg! Indira membeku seketika, sementara Seno melanjutkan ucapannya lagi.
"Kau pikir setelah memberikan uang mahar 2 milyar kepada orang tua mu aku tidak akan mendapatkan apa- apa? "
Seno melangkah mendekat lagi, kali ini lebih berani, tidak menahan sedikit pun ayunan langkahnya. Dan ketika jarak mereka hanya dipisahkan satu inci, tangan kekar pria itu meraih pinggang ramping sang wanita, membuat si empunya tersentak hingga bergetar pelan.
Indira bisa merasakan nafas hangat Seno yang menerpa wajahnya ketika pria itu kembali membuka mulut nya.
"Dengan tubuh mu... adalah bayarannya yang setimpal." bisik Seno lebih seperti belati yang menusuk indera pendengaran Indira.
Hening sejenak di antara mereka, hanya terdengar dua detak jantung yang saling berlomba tanpa mereka sadari.
"Bukankah transaksi ini baru akan menguntungkan? " bisik Seno lagi.
Dan sukses membuat hati Indira mencelos. Seolah-olah pria itu sedang mengingat kan diri nya jika dia hanyalah barang transaksi ayahnya, yang tak memiliki hak apa- apa dalam hidupnya sendiri.
Indira menelan ludah, dadanya terasa nyeri. Seperti diremas dari dalam, namun alih- alih menangis, ia justru mendongak dengan ekspresi yang lebih tegak dan mata menyala.
"Kalau itu tujuan mu, " ucapnya lirih tapi jelas. "Maka kau sudah berhasil menyakiti ku sejak awal. "
Pria ini ternyata sama saja, sama seperti sikap Ryan yang tak pernah ditunjukkan ke orang tuanya. Yakni sama- sama menginginkan tubuhnya dan tujuan yang sama untuk menikahinya.
Rasanya pedih, mendapatkan pria yang sama dua kali. Seperti tinggal di neraka yang tak ada ujungnya.
Sementara Seno terdiam sejenak. Untuk seperkian detik--sangat singkat-- raut wajahnya berubah. Sebenarnya apa yang diucapkan nya tadi hanya gertakan nya saja, tanpa menyangka kalau gadis itu benar-benar ke trigger hanya dengan ucapan itu.
"Bagus, " balasnya. "berarti kau memang tahu diri. "
Ia lantas berbalik, berjalan ke atas ranjang, lalu duduk di sana dengan santai, seolah kamar itu memang sepenuhnya miliknya.
"Kita akan tinggal serumah, tampil sebagai pasangan sempurna di depan publik. Kau akan menjadi istri CEO Barata group. Kau akan mendapatkan fasilitas, status dan nama besar. "
Tatapan Seno kembali mengarah ke Indira, tampak tajam dan mengunci.
"Tapi jangan harap kau akan mendapatkan cinta. Jangan harap akan ada perlindungan, dan jangan pernah berpikir bahwa kau bisa kabur. "
Indira mengepalkan tangannya. "dan kalau aku tidak bisa bertahan? "
Seno tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk meremang. "Bertahanlah, " katanya ringan. "Karena ini harga yang harus kau bayar. "
Hening kembali menyelimuti kamar itu. Indira lalu berjalan ke arah sofa, meletakkan bantal dan guling seperti yang di perintahkan. Ia duduk perlahan, punggungnya tegak meski tubuhnya gemetar.
"Mulai malam ini, " ucapnya pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "aku tidak punya siapa- siapa selain diriku sendiri. " lalu mulai merebahkan dirinya dan memakai selimut.
Seno masih bisa mendengar nya. Ia memejamkan matanya sesaat, lalu merebahkan tubuh di ranjang, membelakangi Indira.
"Selamat datang di neraka, nyonya Barata, " ucapnya dingin. Bernada sarkas.
Lampu kamar kemudian di redupkan. Dan sebenarnya malam itu diantara mereka sama- sama tak ada yang benar-benar terlelap karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu menunjukkan jam tiga pagi ketika Seno tiba-tiba terbangun. Ia menggeliat pelan dengan masih mengumpulkan kesadaran nya.
Karena sudah terlanjur membuka mata, akhirnya pria berbadan atletis itu memutuskan untuk beranjak dari kasur, sedikit menggerakkan otot- otot nya yang kaku, karena sebenarnya ia tak terbiasa tidur di kasur yang kecil itu, apalagi busanya yang terasa tak nyaman.
Ia jadi mempertanyakan, bagaimana bisa gadis itu tidur di kasur tak layak seperti ini sehari- harinya?
Menggeleng pelan karena berpikir yang tidak penting, membuat netra Seno justru tidak sengaja menangkap gadis yang justru sangat lelap tidur di atas sofa kecil itu.
Menatap diam dalam sejenak, wajah yang tampak tenang dalam tidur nya itu. Membuat perasaan Seno malah tak karuan.
Menggeleng keras, jangan sampai ia merasa iba untuk nya. Buru- buru Seno mengalihkan wajah dan memutuskan keluar untuk mencari udara segar.
Namun begitu keluar dari kamar, indera pendengaran nya yang tajam menangkap suara tangis dari ruangan sebelah.
Dan ia ingat, ruangan itu adalah kamar yang di tempati kakaknya. Dan begitu menengok pintu kamarnya yang tak tertutup ia bisa melihat jelas kakaknya yang sedang menangis terisak- isak.
"Kak.... " panggil Seno dengan getir.
Rania yang menyadari keberadaan adiknya, lekas mengusap air matanya.
Sorot mata Seno mengelam, di dekati nya sang kakak yang duduk sendiri di sisi ranjang.
Pria itu berjongkok di hadapan sang kakak.
Rania memaksakan senyumnya, mengusap lengan sang adik. "Kau tidak bisanya tidur? "
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, kak. Apa yang kau pikirkan hingga menangis dan membuat matamu bengkak seperti ini? "
"Aku... memikirkan Ryan, Sen... "
Ucapan kakaknya membuat darah Seno kembali mendidih. tangannya mengepal. "Lagi- lagi kau memikirkan si breng* sek itu, untuk apa lagi kak? "
"Jangan seperti itu, Sen. Bagaimana pun dia kakak ipar mu. "
Garis wajah Seno langsung mengeras, memerah padam. "Aku tak habis pikir, setelah semua yang dia lakukan kenapa kau masih membela nya, kak? bahkan apa yang kulakukan pun sepertinya tak ada artinya di mata mu. "
Bukannya menjawab, Rania malah semakin tergugu. "Kakak tidak bisa meninggalkan, Sen... tidak bisa, karena kakak mencintai nya... "
Seno membuang muka, berdecak. Lagi-lagi alasan klasik itu.
Dan memang benar agaknya jika cinta membuat seseorang buta, itu sebabnya ia sama sekali tak ingin merasakan perasaan menyebalkan seperti itu.
Karena dia sudah melihat orang-orang tersayang nya menderita karena cinta.
Almarhumah ibunya... dan sekarang ia tidak ingin kehilangan kakanya karena hal yang sama.
*****
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah