Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*16
"Kakak."
Kedua kakaknya malah menjawab dengan serentak. "Iya."
Seketika, Bisma kesal akan ulah Avin yang ikut menjawab panggilan Aina barusan. Sikunya langsung menyenggol Marvin dengan keras.
"Aduh! Kamu ngapain? Sakit tahu." Keluh Avin sambil menyentuh lengannya yang terasa sakit akibat ulah Bisma barusan.
"Kak Avin ngapain ikut-ikutan? Yang adik panggil bukan kamu, tapi aku. Jangan ikut menjawab."
Setelahnya, Bisma langsung beranjak mendekat. Dia raih tangan Aina untuk yang kedua kalinya. Kali ini,dia tidak akan membiarkan siapapun merebut adik bungsu ini dari tangannya.
"Adik, aku kakak keduamu. Namaku Bisma. Panggil kak Bisma ya. Atau, kakak kedua juga boleh. Terserah kamu saja mau panggil yang mana. Yang penting, kamu bahagia."
Aina tersenyum lebar. "Kak Bisma."
Bisma benar-benar bahagia. Seketika, tubuh Ain dia bawa ke dalam pelukannya. "Adik, kamu adalah adikku. Jangan pernah pergi lagi. Tetaplah di samping ku."
Beberapa saat berpelukan, Bisma kembali berucap. "Katakan padaku apapun yang kamu inginkan. Selagi aku bisa memberikannya, pasti akan aku berikan."
Ucapan itu memancing Avin datang mendekat.
"Apaan sih? Jangan berlebihan kamu."
"Ain, jika kamu ingin apapun, katakan saja sama kak Avin. Kakak pertama yang akan memberikan apa yang kamu inginkan. Karena kakak punya banyak koneksi untuk mendapatkan apapun."
"Eh ... kalian kok malah mendahului papa? Kalian tidak bisa bicara seperti itu. Papa lah yang berhak memenuhi apapun yang Aina inginkan."
Ketiga pria yang ada di rumah tersebut malah berdebat untuk memenuhi keinginan Ain. Sang mama yang sudah diam sejak tadi, sekarang tidak bisa diam lagi.
"Cukup ...! Apa yang kalian perdebatkan? Jangan buat putriku merasa tidak nyaman."
"Ayo, Nak! Kembali lanjutkan istirahat kamu lagi. Nanti, biar mama yang urus mereka bertiga. Katakan sama mama apapun yang membuat kamu tidak nyaman ya."
Aina mengangguk pelan. Sebelum beranjak, dia sempatkan diri untuk melihat satu persatu wajah dari tiga pria yang ada di depannya. Mereka semua tersenyum manis pada Aina. Mereka benar-benar bahagia.
Aina pun masuk kamar setelah berpamitan pada papa dan kedua kakaknya. Di kamar, di tengah-tengah kebahagiaan yang sedang dia rasakan, tiba-tiba, batinnya terusik kembali.
Tangan Ain menyentuh pelan perutnya yang masih datar. 'Anakku.'
'Sekarang, aku sudah punya keluarga. Tapi, bagiamana kalau mereka tahu apa yang telah terjadi dengan aku di masa lalu? Apakah, apakah mereka bisa menerima masa laluku yang, tidak. Aku punya calon anak bukan karena hubungan terlarang yang tidak jelas. Melainkan, karena .... '
Batin Ain kembali terusik. Saat ingat masa lalu yang sangat menyakitkan. Goresan pilu itu sebenarnya masih terasa dengan sangat jelas walaupun saat ini, dia sedang di sapa oleh kebahagiaan. Kebahagiaan karena telah bertemu dengan keluarga yang sangat mencintainya.
*
"Avin, kenapa kamu tiba-tiba ajak kami bicara di sini, Nak?"
"Ma, pa, Bisma. Aku mau berbagi cerita tentang masa lalu adikku."
"Masa lalu adik? Apa yang sudah terjadi dengan adik saat kita belum menemukan dirinya, kak Avin? Katakan dengan cepat. Aku sangat penasaran."
"Iya, Vin. Apa yang sebenarnya terjadi dengan adikmu? Katakan sekarang juga!" Papanya angkat bicara.
Sang mama langsung memperlihatkan wajah sedih. "Katakan, Vin! Apa kesedihan yang telah adikmu lalui selama ini? Katakan dengan cepat, jangan membuat jantung mama berdebar terlalu lama."
Avin langsung melepas napas berat secara perlahan. Sepertinya, beban duka terlihat dengan sangat jelas di raut wajah itu.
"Saat tahu dia adikku, aku langsung kirimkan seseorang untuk menyelidiki perjalanan hidup Ain. Dan ternyata, hidup adikku cukup sulit, Ma, Pa."
Avin langsung menceritakan secara perlahan apa saja yang bisa ia selidiki tentang kehidupan Aina. Perlahan tapi pasti, mata mereka semua berkaca-kaca ketika kata demi kata yang Avin keluarkan untuk menceritakan kisah perjalanan hidup yang Ain lalui.
Sementara yang lain berkaca-kaca, sang mama malah sudah menjatuhkan air mata dengan derasnya saat mendengar cerita perjalanan hidup putri tercinta. Satu tangan Camelia terus mencengkram dada yang terasa sesak akibat kisah sedih yang putrinya lalui.
"Ya Tuhan, putriku. Kenapa hidup putri bisa sangat sulit, Tuhan?"
"Maafkan papa, Nak. Papa tidak bisa diandalkan sebagai orang tua. Papa tidak menjagamu dengan baik."
"Pa, Ma. Masih ada lagi yang belum kalian ketahui," ucap Avin pelan.
"Apa lagi?" Mereka menjawab serentak.
"Aina sudah menikah siri sebelumnya. Namun, pria yang menikah dengan adikku punya latar belakang yang sangat kuat. Orang bayaran ku tidak bisa menembusnya. Jadi, kita tidak bisa menyelidiki siapa dia. Yang bisa aku ketahui hanya tentang Aina saja."
Mata Bisma menatap Avin dalam-dalam.
"Apa maksud, kak Avin? Jangan bilang, pria itu telah menyakiti adikku. Jika benar, sekalipun dia punya latar belakang yang luar biasa, aku pasti akan berusaha mencari dia untuk membalaskan rasa sakit yang dia berikan pada adikku."